
.
.
.
Ketika orang Quraisy mengadakan sayembara dengan hadiah seratus ekor unta bagi orang yang dapat menyerahkan Nabi Muhammad ﷺ, terdengar kabar bahwa ada rombongan tiga orang sedang dalam perjalanan, mereka yakin itu adalah Muhammad dan sahabatnya.
Suraqah bin Malik bin Ju’syum, salah seorang dari Quraisy, juga ingin memperoleh hadiah seratus ekor unta. Tetapi ia ingin memperoleh hadiah seorang diri saja. Ia mengelabui orang-orang dengan mengatakan bahwa itu bukan Muhammad.
Tetapi diam-diam ia menyuruh pembantunya untuk menyiapkan kuda dan perlengkapannya. Ketika tidak ada orang yang melihatnya, ia segera memacu kendaraannya ke pesisir yang ditunjukkan orang tersebut.
Suraqah mengendarai kuda yang cepat, sehingga ia bisa mengejar rombongan hijrah Nabi ﷺ tersebut dan jaraknya semakin dekat. Nabi ﷺ tetap tenang, sementara Abu Bakar رضي الله عنه yang duduk di boncengan unta Nabi ﷺ, terlihat cemas dan berkali-kali melihat ke belakang.
Setelah jaraknya makin dekat, tiba-tiba kuda Suraqah terjerembab jatuh, Nabi ﷺ terus saja berjalan tanpa memperdulikan Suraqah yang mengejarnya. Setelah berhasil mendekati lagi, Suraqah menyiapkan anak panahnya, tetapi lagi-lagi kudanya terjerembab, sementara Nabi ﷺ terus berjalan.
Masih juga penasaran, setelah berhasil membebaskan kudanya, ia mengejar lagi, tetapi untuk ketiga kalinya, kudanya terjerembab dan kali ini diikuti dengan debu yang bertaburan di udara. Sadarlah Suraqah bahwa orang yang dikejarnya bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Setelah berhasil membebaskan kudanya dan tidak ada lagi niat untuk menangkap atau membunuh Nabi ﷺ, ia berhasil mendekati rombongan beliau ﷺ dan memanggilnya.
Setelah berhadapan dengan Nabi ﷺ, ia meminta maaf dan memohon untuk tidak diapa-apakan. Ia juga menawarkan untuk memberikan perbekalan yang dibawanya.
Nabi ﷺ memaafkannya, tetapi menolak pemberiannya, hanya saja beliau ﷺ meminta untuk merahasiakan pertemuannya itu. Sesaat kemudian Nabi ﷺ berkata pada Suraqah, “Wahai Suraqah, bagaimana perasaanmu jika engkau memakai dua gelang Kisra? Kisra bin Hurmuz?” Suraqah tercengang tak mengerti.
Nabi Muhammad ﷺ tersenyum memandang ekspresi Suraqah, tetapi beliau ﷺ tidak menjelaskan lebih lanjut. Kemudian beliau ﷺ meninggalkannya meneruskan perjalanan hijrah.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab, datang ghanimah dari Persia yang telah dikalahkan oleh pasukan muslimin. Umar teringat akan kisah Nabi ﷺ bersama Suraqah, ia mencari dua gelang Kisra di antara tumpukan ghanimah itu. Setelah ditemukan, Umar memanggil Suraqah dan berkata, “Pakailah dua gelang ini, naiklah ke mimbar dan angkat tanganmu, lalu katakan, Maha benar Allah dan Rasul-Nya.”
Setelah menempuh perjalanan 7 hari, Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه sampai di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madinah.
Masjid Quba inilah masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah ﷺ atas dasar takwa setelah kenabian.
Pada Jum’at pagi beliau ﷺ berangkat dari Quba’ menuju ke Madinah. Ketika sampai di perkampungan Bani Salim bin Auf, waktu shalat Jum’at tiba. Nabi Muhammad melaksanakan shalat jumat di sana. Inilah Jum’at dan khutbah yang pertama dalam Islam.
Rasulullah ﷺ Memasuki Kota Madinah Usai shalat Jumat, 13 Rabiul Awwal, 1 H atau bertepatan 27 September 622 Masehi, Rasulullah ﷺ memasuki kota Madinah, dan sejak itu kota Yatsrib berganti nama menjadi Madinah.
__ADS_1
Hari itu merupakan hari bersejarah. Penduduk kota Madinah bergemuruh dengan pekikan tahmid (pujian) dan taqdis (penyucian) menyambut kedatangan Rasulullah ﷺ.
Di Madinah, Nabi ﷺ membentuk masyarakat orang-orang yang percaya dan membentuk aliansi politik dan sosial dengan suku-suku setempat. Salah satunya mempersatukan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Hal ini memungkinkan beliau ﷺ untuk menyebarkan Islam dan membangun fondasi kuat untuk agama.
Di kota Yatsrib yang kemudian menjadi Madinah al-Rasul atau kota Nabi, umat Islam dan seluruh penduduk kota telah bersiap-siap menerima kedatangan seorang Muhajir besar, Nabi akhir zaman dan Rasul yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Kota ini bagaikan lautan yang bergolak, menumpahkan gelombangnya menerpa pantai
Semua orang, besar dan kecil, pria wanita, kaya miskin menyatu dalam suasana bahagia, gembira bercampur haru, menyambut kedatangan seorang pemimpin yang mereka dambakan.
Mereka sudah menunggu di jalan yang akan dilalui Nabi Muhammad ﷺ dan genderang pun gemuruh dengan alunan musik padang pasir yang khas, pemuda-pemudi Madinah yang gagah dan cantik. Orang-orang tua dan anak-anak menyambut kedatangan Nabi dengan alunan syair:
طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا مِنْ ثَنِيَّاتِ الْوَدَاعِ وَجَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا مَا دَعىَ للهُ دَاعِ أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ
Artinya, "Telah terbit bulan purnama, menerangi kami dari celah bukit Wada’i Patutlah kami bersyukur, karena da’i penyeru ke jalan Allah itu telah berseru Wahai yang dibangkitkan kepada kami, engkau datang dengan perintah yang dipatuhi."
.
.
__ADS_1
.