
.
.
.
Bertahun-tahun kemudian, Nabi Muhammad ﷺ telah tumbuh dewasa. Pemuda mulia ini menjadi seorang pedagang, mengikuti jejak kaumnya.
Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ sudah dikenal dengan julukan Al-Amin, Muhammad yang jujur, Muhammad yang benar. Dalam perilaku sehari-hari maupun berniaga, Nabi Muhammad ﷺ selalu menjunjung tinggi kejujuran.
Al Mubarakfurry menyebutkan, dalam berdagang, Rasulullah ﷺ dikenal oleh kalangan pedagang sebagai representasi nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Hingga gelar Al-Amin melekat padanya di usia remaja.
Pekerjaan pertama Rasulullah ﷺ yaitu memimpin kafilah dagang milik Khadijah ّٰرضي الله عنه ke pusat perdagangan Habshah di Negeri Syam.
Menurut buku Hikmah Kisah Nabi dan Rasul karya Ridwan Abdullah Sani dan Muhammad Kadri (2021:275), pada saat itu ada pedagang kaya-raya bernama Khadijah ّٰرضي الله عنه yang ingin mengirim dagangannya ke negeri Syam. Ia membutuhkan seseorang yang bisa dipercaya untuk mengawas rombongan dagang tersebut.
Kemudian, Khadijah رضي الله عنه mendengar ada seorang pemuda yang terkenal dengan kejujuran dan budi pekertinya. Khadijah رضي الله عنه pun meminta Nabi Muhammad ﷺ untuk menjadi pemimpin rombongan dagang ke negeri Syam.
Khadijah رضي الله عنه tidak mempedulikan status Nabi Muhammad ﷺ yang belum memiliki pengalaman memimpin dan mengatur rombongan dagang. Hal ini karena ia merasa yakin bahwa Muhammad adalah orang yang jujur dan paham mengenai seluk beluk dunia perdagangan.
Bersama dengan Maysarah (orang kepercayaan Khadijah), Beliau ﷺ pergi berdagang ke negeri Syam. Memang sudah menjadi tradisi bagi penduduk Mekkah untuk mengantar rombongan dagang beramai-ramai hingga batas kota.
Nabi Muhammad ﷺ selallu bersikap jujur dan tidak menutupi cacat pada barang dagangannya. Apabila kondisinya bagus, maka ia akan bilang bagus. Begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga menggunakan standar harga yang berlaku di masyarakat dalam menentukan harga jual barang dagangannya, tidak mengambil banyak keuntungan yang tak wajar. Prosesi tawar-menawar harga pun tak jarang dilakukan Muhammad dengan teknik komunikasi yang santun kepada calon pembeli.
Beliau ﷺ pun mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Seluruh barang dagangan telah habis terjual. Kepulangan Nabi Muhammad ﷺ ke Mekkah disambut dengan penuh antusias oleh para penduduk. Hal ini pun membuat Khadijah رضي الله عنه merasa gembira atas keputusannya memilih Nabi Muhammad ﷺ karena reputasi sifat kejujurannya itu. Apalagi Beliau berhasil menjual seluruh barang dagangan mereka.
Kafilah dagang Khadijah رضي الله عنه di Negeri Syam mengalami laba yang cukup besar, bahkan diluar ekspektasinya. Keputusan Khadijah رضي الله عنه memilih Muhammad ﷺ sebagai pemimpin kafilah dagang menjadi keputusan tepat. Ia pun terus bermitra dengan Rasulullah ﷺ dalam menjalankan perniagaan dan menunjuknya sebagai tangan kanannya.
Selain menceritakan kisah Nabi Muhammad ﷺ berdagang di Negeri Syam, suatu hadist juga menyebutkan anjuran hal-hal yang dilakukan saat berdagang agar barang dagangannya halal dan berkah. Berikut ini adalah hadis tentang tata krama berdagang yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Artinya: “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memiliki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532)
****
Menurut Maysarah, sepanjang bersama pemuda bernama Muhammad ini, ia melihat keluhuran akhlak, kecerdasan, dan kemampuan komunikasi yang tidak ia dapati dari pedagang manapun.
Disamping itu, wajah Rasulullah ﷺ senantiasa meneduhkan siapapun yang memandangnya.
Seperti yang sudah Author tuliskan di bab selanjutnya tentang pertemuan Rasulullah ﷺ dengan seorang Rahib yang mengetahui tanda-tanda kenabian pada Muhammad ﷺ bernama Buhaira, ternyata ada satu pendeta lain yang juga mengetahui tanda-tanda kenabian itu. Dalam kitab Al-Barzanji, selain Buhaira juga dikisahkan Pendeta Nasrani yang juga telah mengetahui tanda-tanda kenabian pada Muhammad ﷺ. Pendeta itu bernama Nastura.
Pendeta Nastura mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad ﷺ ketika waktu Nabi berusia 25 tahun, ketika Beliau bepergian bersama Maysaroh.
Dikisahkan ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia 25 tahun, beliau melakukan perjalanan ke Bushra (Syam) untuk berdagang menjual barang dagangan milik Khadijah رضي الله عنه.
__ADS_1
Ketika itu, Beliau ﷺ ditemani salah seorang pembantu laki-laki Khadijah رضي الله عنه yang Bernama Maysaroh untuk membantu Nabi ﷺ berdagang.
Sewaktu di perjalanan, Nabi ﷺ singgah di bawah pohon rindang dekat gereja seorang Pendeta Nasrani yang bernama Nastura.
Rahib Nastura mengetahui tanda-tanda kenabian orang yang singgah di bawah pohon rindang dekat gerejanya.
Hal tersebut diketahuinya dari keanehan yang terjadi yakni bayang-bayang pohon rindang tersebut condong ke arah Nabi ﷺ untuk melindunginya dari panasnya terik matahari.
Atas kejadian tersebut, Rahib Nastura meyakini bahwa orang tersebut nantinya akan menjadi seorang Nabi. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam kitab Al Barzanji:
فَنَزَلَ تَحْتَ شَجَرَةٍ لَّذَى صَوْمَعَةِ نَسْطُوْرَا رَاهِبِ النَّصْرَانِيَّةِ فَعَرَفَهُ الرَّهِبُ اِذْ مَالَ اِلَيْهِ ظِلُّهَا الْوَارِفُ وَاَوَاهُ
“Maka kemudian Nabi turun/singgah di bawah pohon di gerejanya Nastura, yaitu seorang rahib atau pendeta Nasrani, Maka Rahib Nastura mengetahui ketika bayang-bayang pohon itu condong kepada Nabi dan melindunginya,"
Kemudian Pendeta Nastura berkata, “Tidaklah singgah di bawah pohon ini kecuali seorang Nabi yang memiliki sifat bersih." Kemudian Nastura bertanya kepada Maesaroh untuk mencari kejelasan tanda-tanda kenabian, “apakah pada kedua mata Muhammad ada semacam warna merah yang khas?”
Maesaroh menjawab, “Ya.”
Khadijah رضي الله عنه menaruh perhatian kepada apa yang diceritakan Maysarah, bagaimana cara perniagaan Nabi Muhammad ﷺ dan kejujurannya. Beliau ﷺ juga sangat disukai oleh pembeli, di manapun berada.
Bahkan, dalam beberapa riwayat diceritakan bahwa apa yang dijual Nabi Muhammad ﷺ seringkali dibeli oleh langganannya dengan harga lebih tinggi, karena mereka begitu menyukai Nabi Muhammad ﷺ.
.
__ADS_1
.
.