7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 7.3


__ADS_3

.


.


.


Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, bahwasanya dia berkata, “Ketika ajal Rasulullah sudah dekat, Rasulullah mengumpulkan kami di rumah Aisyah, kemudian Rasulullah memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda, 'Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu.


'Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah. Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah. Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan surga itu bagi orang orang yang bertakwa."


"Kemudian kami bertanya: “Bilakah ajal Rasulullah ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, 'Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadirat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyila.'


"Kami bertanya lagi, Siapakah yang akan memandikan Rasulullah ya Rasulullah?” Rasulullahmenjawab, 'Salah seorang ahli bait.'


"Kami bertanya, Bagaimana nanti kami mengafani Rasulullah ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, 'Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah.'


"Kami bertanya, 'Siapakah yang mensalatkan Rasulullah di antara kami?' Kami menangis dan Rasulullah pun turut menangis.


"Kemudian Rasulullah bersabda, 'Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku. Kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku. Maka yang pertama-tama mensalatkan aku adalah sahabatku Jibril AS. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tentaranya. Kemudian masuklah kamu dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mulai salat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua.'"


Diriwayatkan dari 'Ubaidullah bin 'Abdillah rرضي الله عنه, Saya mendatangi 'Aisyah r.a., saya berkata kepadanya, "Sudikah engkau menceritakan tentang sakit Rasulullah?"


Dia menjawab, "Ya, setelah Nabi sakit parah, beliau bertanya, 'Apakah orang orang sudah shalat?' Kami menjawab, 'Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.'


"Beliau berkata, 'Ambilkan air untukku di bejana itu!'


"Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu, beliau berusaha untuk bangun, tetapi beliau pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya, 'Apakah orang orang sudah shalat?'


"Kami menjawab, 'Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.'


"Beliau bersabda, 'Ambilkan air untukku di bejana itu!'


"Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu, beliau berusaha bangun, tetapi beliau pingsan kembali. Setelah siuman, beliau bertanya, 'Apakah orang orang sudah shalat?'

__ADS_1


"Kami menjawab, 'Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.'


"Beliau bersabda, 'Ambilkan air untukku di bejana itu!'


"Kami pun melaksanakannya, lalu beliau mandi. Setelah itu beliau berusaha untuk bangun, tetapi beliau pingsan kembali. Setelah siuman, beliau bertanya, 'Apakah orang orang sudah shalat?'


"Kami menjawab, 'Belum, mereka sedang menunggu engkau wahai Rasulullah.'"


"Aisyah berkata, 'Waktu itu orang orang sedang berdiam di masjid menunggu Rasulullah mengerjakan shalat isyanya yang terakhir. Lalu Rasulullah mengutus seseorang kepada Abu Bakar agar dia mengimami orang orang shalat berjamaah. Utusan itu pergi kepadanya dan memberitahukan bahwa Rasulullah memerintahkannya untuk mengimami orang orang shalat berjamaah.


"Lalu Abu Bakar رضي الله عنه seorang yang sangat halus perasaannya, berkata, 'Wahai 'Umar, shalatlah bersama orang orang menjadi imam!'


"Umar berkata, 'Engkaulah yang lebih berhak menjadi imam.'


Ubaidullah berkata, "Saya menemui Abdullah bin Abbas r.a dan berkata kepadanya, 'Maukah saya sampaikan kepada engkau mengenai cerita Aisyah tentang sakit Nabi?'


"Dia menjawab, 'Ya, sampaikanlah kepadaku!'


"Lalu saya ceritakan hadits Aisyah itu kepadanya, tetapi dia sama sekali tidak menyangkalnya, tetapi dia berkata, 'Apakah Aisyah menyebutkan nama orang yang bersama 'Abbas itu?'


"Abdullaj bin Abbas berkata, 'Dia adalah Ali.'"


(HR. Muslim)


Sehari menjelang Rasulullah ﷺ wafat yaitu pada hari Minggu, penyakit Rasulullah ﷺ semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah selesai mengumandangkan adzannya, dia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah, kemudian memberi salam: “Assalamualaikum ya Rasulullah?” Kemudian dia berkata lagi, “Assolah yarhamukallah,”


Fatimah menjawab: “Rasulullah dalam keadaan sakit.”


Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid. Ketika bumi terang disinari matahari siang, maka Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu dia berkata seperti perkataan yang tadi.


Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh dia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah bersabda, “Saya sekarang berada dalam keadaan sakit. Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam salat.”


Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata, “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?” Kemudian dia memasuki masjid dan memberitahu Abu Bakar agar Beliau menjadi imam dalam salat tersebut. Ketika Abu Bakar melihat ke tempat Rasulullah ﷺ yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, dia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu dia menjerit dan akhirnya pingsan. Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi bising sehingga terdengar oleh Rasulullah.

__ADS_1


Rasulullah ﷺ bertanya, “Wahai Fatimah, suara apakah yang bising itu?”


Fatimah menjawab, "Orang-orang menjadi bising dan bingung karena Rasulullah tidak ada bersama mereka.” Kemudian Rasulullah memanggil Ali bin Abi Talib dan Abbas sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka Rasulullah berjalan menuju ke masjid. Rasulullah salat dua rakaat.


Setelah itu Rasulullah melihat kepada orang ramai dan bersabda, “Ya ma aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah. Sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua, setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah  ﷻ karena aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."


Lalu Abu Bakar menjadi imam dalam beberapa hari itu, sedangkan Abu Bakar waktu itu sedang mengimami orang orang shalat berjamaah. Setelah Abu Bakar melihat Beliau, dia mundur dari tempatnya, tetapi Nabi memberi isyarat agar dia tetap di tempatnya.


Lalu Beliau berkata kepada dua orang yang memapahnya agar Beliau didudukkan di samping Abu Bakar. Lalu Beliau pun didudukkan di samping Abu Bakar, ketika itu Abu Bakar berdiri mengikuti shalat Nabi ﷺ, orang orang mengikuti shalat Abu Bakar, sedangkan Nabi ﷺ mengerjakan shalat sambil duduk."


Shalat itu adalah shalat terakhir yang dilaksanakan oleh Rasulullah ﷺ dengan berjama’ah bersama para Sahabatnya.


Setelah itu, sakit yang mendera Rasulullah ﷺ  semakin parah. Tiga hari menjelang wafat, Rasulullah ﷺ bersabda,


أَحْسِنُوْا الظَّنَّ بِاللهِ


"Berbaik sangkalah kalian kepada Allâh! berbaik sangkalah kalian kepada Allâh!"


Kemudian seakan Beliau ﷺ merasakan sakit yang luar biasa, sehingga Ummul Mukminin Aisyah رضي الله عنه mengatakan  bahwa beliau رضي الله عنه tidak pernah melihat orang yang merasakan sakit yang lebih berat daripada Beliau ﷺ.


Dalam kondisi ini, Abu Said al-Khudri رضي الله عنه berkata, “Aku masuk ke rumah Aisyah رضي الله عنه untuk menemui Rasullullah ﷺ, dan di saat itu Rasulullah ﷺ  sedang merintih merasakan sakit yang luar biasa. Aku meletakkan kedua tanganku ke tubuh Rasulullah ﷺ yang sedang menggunakan selimut dan aku mendapati panas tubuh Rasulullah ﷺ sangat tinggi sekali. Abu Said Radhiyallahu anhu mengatakan, “Alangkah berat sakitmu, wahai Rasullullah.” Kemudian Rasullullah ﷺ bersabda,


إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ


"Begitulah kita. Ujian kita dilipat gandakan dan pahala kita juga dilipat gandakan."


.


.


.


Jujur... setelah sampai di bab ini, Author tidak dapat menggambarkan perasaan yang sedang Author rasakan saat ini. Hanya sebuah tangis yang tertahan yang bisa mewakili segala gejolak rasa saat menguraikan kisah Beliau yang berulangkali pingsan, saat Beliau hendak melaksanakan sholat.

__ADS_1


Shallahu 'ala Muhammad, wa 'ala ali Muhammad.


__ADS_2