7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 4.8


__ADS_3

.


.


.


Al-Imam Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliky Al-Hasani menceritakan peristiwa agung ini (Pembedahan Hati Rasulullah ﷺ) dalam Kitab Al-Anwaarul Bahiyyah dan Dzikrayaat wa Munaasabaat. Suatu malam Nabi Muhammad ﷺ berada di Hijir Ismail dekat Ka'bah, saat itu Beliau ﷺ berbaring di antara paman Beliau ﷺ Sayyiduna Hamzah, dan sepupu Beliau ﷺ Sayyiduna Jakfar bin Abi Thalib.


Tiba-tiba Malaikat Jibril AS., Mikail AS. dan Israfil AS. menghampiri Beliau ﷺ lalu membawanya ke arah sumur Zamzam. Setibanya di sana mereka merebahkan tubuh mulia Rasulullah ﷺ untuk dibelah dadanya oleh Jibril AS.


Dalam riwayat lain disebutkan suatu malam atap rumah Nabi ﷺ terbuka, kemudian Jibril AS. turun membelah dada Beliau ﷺ sampai di bawah perut Beliau ﷺ, lalu Jibril AS. berkata kepada Mikail AS, "Datangkan kepadaku nampan dengan air Zamzam agar aku bersihkan hatinya dan aku lapangkan dadanya."


Perlu diketahui bahwa penyucian ini bukan berarti hati Nabi ﷺ kotor. Justru Nabi ﷺ sudah diciptakan oleh Allah  ﷻ dengan hati yang paling suci dan mulia. Hal ini tidak lain untuk menambah kesucian di atas kesucian dan untuk lebih memantapkan dan menguatkan hati Beliau ﷺ.


Apalagi Beliau ﷺ akan melakukan suatu perjalanan agung penuh hikmah serta sebagai kesiapan untuk berjumpa dengan Allah 'Azza wa Jalla.


Ketika dada Beliau ﷺ dibelah, Jibril mengeluarkan hati Beliau ﷺ lalu membasuhnya tiga kali. Kemudian didatangkan satu nampan emas dipenuhi hikmah dan keimanan. Jibril AS. menuangkannya ke dalam hati Beliau ﷺ, maka penuhlah hati Rasulullah ﷺ dengan kesabaran, keyakinan, ilmu dan kepasrahan penuh kepada Allah  ﷻ , lalu ditutup kembali oleh Jibril AS.


Dalam hadist disebutkan, sebelum Rasulullah ﷺ melakukan Isra dan Mi’raj, dadanya dibedah. Beliau ﷺ bersabda, “Kemudian hatiku dikeluarkan, lalu dicuci dengan air zamzam, lalu dikembalikan ke tempatnya, dan diisi dengan keimanan dan hikmah....” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).


Demikian kisah operasi pembersihan hati Nabi Muhammad sebelum melakukan perjalanan Isra Mi'raj.


Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqih Sirah-nya berkomentar, ini melambangkan persiapan yang harus dilakukan sebelum beliau berangkat menjalankan Isra dan Mi’raj. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan, pembedahan dan pencucian hati ini terjadi tiga kali.

__ADS_1


Pertama, saat beliau masih kanak-kanak, hidup di kampung dalam asuhan Halimatus Sa’diyah. Kedua, ketika beliau menerima wahyu untuk diangkat menjadi nabi dan rasul. Dan, ketiga saat beliau hendak melakukan Isra dan Mi’raj. (Fathul Bari Juz 11 Bab Mi’raj hal 216)


Tentu peristiwa pembedahan dada dan pencucian hati ini memberikan banyak pelajaran kepada kita. Setidaknya, ada enam pelajaran penting.


Pertama, siapa yang ingin naik dan menjadi manusia mulia, hendaknya membersihkan hati.


Persiapan untuk naik dalam rangka menggapai kemulian dan derajat yang tinggi bukanlah berbekal harta, kekuatan raga, atau ilmu pengetahuan. Tapi, yang terpenting adalah kebersihan hati, kebeningan jiwa, dan keluhuran budi.


Harta sering kali membuat manusia lupa. Kekuatan raga sering kali membuat manusia angkara murka. Dan, ilmu pengetahuan sering kali membuat manusia sombong. Harta, kekuatan raga, dan ilmu pengetahuan hanya berguna bila dimiliki orang yang hatinya bersih.


Sudah terbukti, tanpa hati yang baik, harta, rupa, dan ilmu hanya semakin membuat celaka manusia.


Kedua, hati mentukan baik buruknya manusia. Mengapa hati yang dibersihkan? Bukan kepala, mata, atau kaki?


Sepanjang sejarah manusia, kehidupan ini selalu terpuruk sesungguhnya bukan karena persoalaan krisis ekonomi. Bukan pula karena rendahnya ilmu pengetahuan. Juga, bukan karena kelemahan fisik. Melainkan, karena rusaknya akhlak dan moralitas manusia.


“Maka, apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena, sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (al-Hajj: 46).


Ketiga, hati adalah hakikat manusia. Di situlah Allah  ﷻ melihat dan menilai. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak melihat kepada tubuh kamu dan juga rupa kamu. Tetapi, Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kamu.” (HR Muslim).


Keempat, kekuatan hati paling dahsyat. Memang kekuatan harta penting. Kekuatan fisik dan senjata juga penting. Tapi, kekuatan sejati seorang pemimpin dan orang-orang mulia yang membuatnya abadi dan dicintai adalah kekuatan karena kebersihan hatinya.


Kelima, pendidikan hati harus di atas pendidikan intelektual dan jasmani. Isra dan Mi’raj dengan prosesi pembedahan dada dan pencucian hati seharusnya menyadarkan kepada kita bahwa pendidikan hati yang terpenting.

__ADS_1


Kita telah salah memuja wajah, ilmu pengetahuan, dan teknologi dengan memarjinalkan bahkan melupakan pendidikan hati. Maka, yang lahir adalah anak-anak bangsa terdidik yang cantik, tampan, dan berderet gelar juga banyak hartanya.


Namun, sayangnya tak memiliki hati. Mereka bukan menebar kebaikan, melainkan membuat onar dan kemaksiatan.


Keenam, hati harus selalu bersih dan sehat. Dalam hidup ini harta boleh berkurang, bahkan hilang. Rupa juga pasti berubah dan sirna.


Kesehatan jasmani pasti takkan bisa bertahan. Tak mengapa. Asal hati selalu bersih dan sehat. Karena, hanya hati yang bersih dan sehat itulah yang selamat dan diterima Allah.


“Di hari kiamat nanti harta dan anak-anak tidak berguna lagi. Kecuali, orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu’ara: 88-89).


Itulah makna yang terkandung dalam peristiwa pembedahan hati Rasulullah ﷺ.


Setelah penyucian hati baginda Rasulullah selesai, Jibril kemudian menyiapkan Buraq lengkap dengan pelana dan kendalinya. Binatang ini berwarna putih, lebih besar dari himar lebih rendah dari baghal. Dia berjalan sejauh pandangan matanya, panjang kedua telinganya, jika turun dia mengangkat kedua kaki depannya. Buraq diciptakan dengan dua sayap pada sisi pahanya untuk membantu kecepatannya.


Untuk kisah selengkapnya akan Author uraikan di bab selanjutnya.


Semoga bermanfaat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2