7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 5.3


__ADS_3

.


.


.


Kaum musyrik Quraisy merasa kecewa dan menyesal luar biasa, setelah Nabi lolos dari kepungan mereka. Mereka tidak lagi berpikir terhadap Ali رضي الله عنه yang sedang tidur menggantikan Nabi ﷺ. Pikiran mereka hanya tertumpu pada 'Muhammad telah lolos dan harus dikejar sampai ketemu.'


Orang-orang musyrik Quraisy terus mencari Nabi ﷺ, dengan menggunakan ahli-ahli jejak padang pasir, sampai kemudian mendekati Gua Tsur, tempat persembunyian Nabi ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه.


Pada saat orang-orang Quraisy itu naik ke Bukit Tsur dan mengamati gua itu, saat itu merupakan detik-detik yang menegangkan. Abu Bakar رضي الله عنه melihat kaki-kaki mereka, sehingga beliau berbisik kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, sekiranya mereka melihat ke bawah telapak kakinya, pasti akan melihat kami."


Nabi Menjawab, “Wahai Abu Bakar apa kamu kira bahwa kita ini hanya berdua, ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita."


Itulah kenangan di Gua Tsur, yang mencekam dan menegangkan. Hari-hari berikutnya, dirasakan agak lega, tidak begitu mengkhawatirkan. Peristiwa itu diabadikan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:


إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيۡهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٖ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِيَ ٱلۡعُلۡيَاۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

__ADS_1


"Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami". Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Taubah, 9:40).


Maka mereka berkata, "Seandainya dia memasuki gua ini, niscaya sarang laba-laba itu tidak akan ada lagi di mulutnya."


Mulanya mereka sudah mengira Nabi bersembunyi di gua itu, tetapi setelah mereka melihat di mulut gua itu terdapat sarang laba-laba, di sampingnya ada dua ekor burung dara sedang mengerami telurnya dan ada dahan-dahan pohon yang menutup lubang gua itu, mereka yakin gua itu tidak mungkin ada penghuninya. Mereka terlampau percaya terhadap perhitungan rasionya, sehingga berkeyakinan demikian.


Tidak ada yang mengetahui persembunyian Nabi di Gua Tsur, kecuali keluarga Abu Bakar yaitu Abdullah putera beliau, kedua puterinya Asma’ dan ‘Aisyah serta pembantu setianya Amir bin Fuhaira.


Tinggal di Dalam Gua Tsur Selama Tiga Malam Nabi ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه tinggal di dalam gua Tsur selama tiga malam, dari malam Jumat, Sabtu, hingga malam Ahad.


Selama tinggal di gua Tsur, Abdullah putra Abu Bakar membantu perjalanan hijrah keduanya dengan memberikan informasi berita tentang orang-orang Quraisy. Sedangkan Amir bin Fuhairah, bekas budak Abu Bakar, memberikan minuman dari perahan susu kambing yang ia gembalakan.


Sementara itu, kaum Quraisy semakin menjadi-jadi kegilaannya manakala mengetahui Rasulullah ﷺ lolos dari rencana keji yang telah mereka siapkan.


Kala itu yang mereka lakukan adalah memukuli Ali dan menyeretnya ke Ka’bah dan mengurungnya sesaat sebagai upaya untuk mendapatkan informasi tentang Rasulullah ﷺ. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.


Setelah tiga hari berada di Gua Tsur, Nabi ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه pergi berhijrah ke Madinah dengan mengendarai dua ekor unta yang telah disiapkan Abu Bakar رضي الله عنه. Segala persiapan dan bekal untuk perjalanan telah disiapkan oleh Asma’ dan Aisyah, kakak beradik puteri Abu Bakar yang sangat setia membela Nabi.

__ADS_1


Selain menyediakan dua ekor unta, Abu Bakar menyiapkan uang sebanyak lima sampai enam ribu dirham. Itulah sisa kekayaan yang dimilikinya. (Said Ramadhan, Fiqh al-Sirah, hal. 83).


Perjalanan Nabi dan Abu Bakar melewati jalan yang sulit yang tidak bisa dilalui orang, untuk menghindari pengawasan kaum musyrikin Quraisy. Para sahabat Nabi yang lain berhijrah secara sembunyi-sembunyi, kecuali Umar ibn al-Khattab, seorang pahlawan yang dijuluki Singa Padang Pasir.


Umar ibn al-Khattab رضي الله عنه, setelah mengetahui para sahabat Nabi berhijrah langsung menghunuskan pedangnya mengumumkan kepada orang-orang Quraisy bahwa beliau akan berhijrah. Setelah melakukan shalat dua rakaat di Masjid Haram beliau berangkat dan tidak ada seorangpun yang berani mengganggu.


Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, setelah menyelesaikan amanatnya, berhijrah dengan berjalan kaki. Di siang hari yang panas menyengat beliau bersembunyi di balik gunung-gunung batu. Malam harinya melakukan perjalanan, sampai berjumpa dengan Nabi di Quba, kota kecil dekat Madinah. Di sanalah Nabi dan para sahabatnya membangun masjid yang pertama kali, dinamai masjid Quba.


Abdullah bin Uraiqit dari Banu Du'il dan Amir bin Fuhaira diminta sebagai penunjuk jalan. Keduanya membawa Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar dengan hati-hati sekali ke arah selatan kemudian menuju Tihama di dekat pantai Laut Merah.


Ketika malam senin, awal Rabi’ul Awwal 1 H atau bertepatan dengan 16 September 622 Masehi. Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه beserta penunjuk jalannya itu sepanjang malam dan siang berada di atas kendaraan. Tidak lagi mereka pedulikan kesulitan dan rasa lelah. Mereka hanya percaya bahwa Allah  ﷻ akan menolong mereka.


Sementara itu, di sisi yang lainnya, orang Quraisy mengadakan sayembara, 'Siapa saja yang dapat membawa Nabi Muhammad ﷺ, hidup atau mati, hadiah besar dan jabatan tinggi menantinya.'


Hal ini menarik hati masyarakat pada waktu itu, termasuk Suraqa bin Malik yang sudah mengetahui perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar رضي الله عنه.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2