
...Jika pada bab sebelumnya Author menceritakan tentang kegembiraan dan kisah tentang Abu Lahab, di bab ini Author menceritakan tentang kisah ibu susuan Nabi Muhammad ﷺ....
Sayyidah Aminah رضي الله عنه selanjutnya menyerahkan persusuan Nabi Muhammad ﷺpada Tsuwaibahُ رضي الله عنه. Saat itu, Tsuwaibah رضي الله عنه ُdikisahkan berprofesi sebagai ibu yang menyusukan bayi. Namun persusuan Nabi ﷺ pada Tsuwaibah رضي الله عنه hanya beberapa hari. Tsuwaibah رضي الله عنه juga menyusui bayinya sendiri yang bernama Masruh.
Tsuwaibah رضي الله عنه merupakan salah seorang budak perempuan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib, paman Nabi Muhammad ﷺ. Tsuwaibah رضي الله عنه memiliki peran yang ‘Cukup strategis’ ketika Nabi Muhammad ﷺ baru saja dilahirkan.
Dialah orang yang pertama kali memberikan kabar tentang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ kepada Abdul Mutthalib رضي الله عنه ketika kakek Nabi tersebut tengah thawaf di Ka’bah. Dia juga yang mengabari Abu Lahab mengenai kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Abu Lahab kemudian memerdekakan Tsuwaibah رضي الله عنه karena gembira atas kelahiran keponakannya yang tidak lain adalah Nabi Muhammad ﷺ.
Tidak hanya itu, mengutip buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury, 2012) Tsuwaibah رضي الله عنه adalah wanita pertama –setelah Sayyidah Aminahُ رضي الله عنه yang menyusui Nabi Muhammad ﷺ. Sebelumnya, Tsuwaibah رضي الله عنهُ juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthallib (Paman Nabi) dan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi.
Disebutkan dalam buku Muhammad Rahmat bagi Wanita (Samiyah Menisi, 2016), Tsuwaibah ُرضي الله عنه menyusui Nabi Muhammad ﷺ selama beberapa hari setelah kelahirannya (Menurut satu riwayat selama seminggu).
Karena jasanya itu, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah melupakan Tsuwaibah رضي الله عنهُ . Nabi Muhammad ﷺ terus mencari dan menjalin hubungan baik dengan Tsuwaibah رضي الله عنهُ selama di Makkah. Begitupun Sayyidah Khadijah رضي الله عنهُ yang begitu menghormati Tsuwaibah رضي الله عنه.
Bahkan, sebagaimana keterangan dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), Nabi Muhammad ﷺmengirimkan segala kebutuhan Tsuwaibah رضي الله عنه , mulai dari makanan hingga pakaian, hingga ia wafat tahun ke-7 H.
Tsuwaibah رضي الله عنهُ hanya memiliki satu anak, yaitu Masruh. Pada saat Tsuwaibah رضي الله عنه meninggal, Nabi Muhammad ﷺ sedang berada di Khaibar. Setelah mendapatkan kabar wafatnya Tsuwaibah رضي الله عنهُ , Nabi Muhammad ﷺ menanyakan keadaan Masruh.
“Apa saja yang dikerjakan anaknya, Masruh,” kata Nabi Muhammad ﷺ. Namun ternyata, Masruh telah meninggal lebih dahulu.
Sehingga ketika meninggal, Tsuwaibah رضي الله عنهُ tidak memiliki keluarga. Demikian cara Nabi Muhammad ﷺ menghormati dan membalas orang yang berjasa dalam hidupnya. Beliau ﷺ begitu menghormati, berlaku lemah lembuh, menjalin hubungan baik, dan bahkan memenuhi kebutuhannya selama hidupnya. Itu dilakukan Nabi Muhammad ﷺ karena Tsuwaibah رضي الله عنهُ pernah menyusuinya sewaktu kecil.
*****
__ADS_1
Selang beberapa waktu, pihak keluarga Nabi Muhammad ﷺ pun mencarikan ibu susuan untuknya. Kebiasaan menitipkan anak pada ibu susuan di desa ini menjadi hal lumrah bagi masyarakat Arab pada zaman dulu.
Hal tersebut bertujuan agar anak-anaknya tumbuh di lingkungan pedesaan yang udaranya masih bersih dan menjauhkan anak dari penyakit yang ada di kota. Juga agar anak memiliki fisik dan jiwa yang kuat.
Selain itu, berada di lingkungan dengan bahasa Arab yang fasih. agar anak dapat berbicara bahasa yang asli, bahasa Arab Kaum Badui sejati, bahasa yang belum rusak karena belum dipengaruhi bahasa asing. Dengan demikian, anak dapat bertutur kata dengan bahasa Arab yang baik dan dialek Arab yang asli serta fasih.
Oleh karena itu, Abdul Mutthalib رضي الله عنههُ mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Rasulullah ﷺ, Abdul Mutthalib رضي الله عنههُ memilih seorang wanita dari kabilah Bani Sa'ad bin Bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzuaib ( Halimatus Sa'diyah ) رضي الله عنهُ sebagai wanita penyusu Beliau ﷺ. Suami Halimah bernama al-Harits bin Abdul Uzza yang berjuluk Abu Kabsyah, dari kabilah yang sama.
Di sana, Rasulullah ﷺ memiliki banyak saudara sesusuan, yaitu; 'Abdullah bin al-Harits, Anisah binti al-Harits, Hudzafah atau Judzamah binti al-Harits (dialah yang berjuluk asy-Syaima' yang kemudian lebih populer menjadi namanya dan yang juga merawat Rasulullah serta Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib, saudara sepupu Rasulullah).
Halimatus Sa'diyah رضي الله عنه merasakan adanya keberkahan dan kisah-kisah yang aneh lainnya sejak kehadiran Rasulullah ﷺ di tengah keluarganya. Ibnu Ishaq رضي الله عنه berkata; "Halimah pernah berkisah, bahwasanya suatu ketika ia pergi ke luar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan.
"Ketika itu tempat mereka sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua.
"Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar. Aku kembali pergi ke luar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit.
"Akhirnya kami sampai juga ke Makkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun di antara kami ketika disodorkan untuk menyusui Rasulullah melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang Yatim.
"Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan beliau bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?
"Kami semua tidak menyukainya karena hal itu. Akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku.
"Tatkala kami semua sepakat akan berangkat pulang, aku berkata kepada suamiku, 'Demi Allah! Aku tidak sudi pulang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan.'
__ADS_1
"'Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi Yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku.'
"Lalu suamiku berkata,'Tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan.'
"Akhirnya aku pergi ke rumah Beliau dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain selain Beliau.
"Setelah itu, aku pulang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika Beliau kubaringkan di pangkuanku dan menyodorkan ****** susuku ke mulutnya supaya meminum ASI yang ada seberapa Beliau suka.
"Beliau pun meneteknya hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang pula.
"Kemudian keduanya tertidur dengan pulas padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut.
"Suamiku mengontrol onta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan.
"Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku, 'Demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah? Kamu telah mengambil manusia yang diberkahi.'
"Aku berkata, 'Demi Allah! Aku berharap demikian.' Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta Rasulullah ﷺ di atasnya."
.
.
.
__ADS_1
Semoga bermanfaat untuk kita semua. Aamiin...