
.
.
.
Nabi Muhammad ﷺ kecil lalu dibawa dalam gendongan Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ untuk kembali ke Mekkah dan diserahkan kepada kakeknya, Abdul Mutthalibُ رضي الله عنههُ . Abdul Mutthalib رضي الله عنههُ memeluk cucunya sepenuh kasih. Anak Yatim Piatu itu semakin terjal jalan hidupnya.
Sayyidah Aminah رضي الله عنهٰهُ wafat dan dimakamkan di Al-Abwa. Setelah itu, Nabi diasuh kakeknya Abdul Mutthalib رضي الله عنههُ selama dua tahun dilanjutkan oleh saudara ayahnya atau Paman Nabi yaitu Abu Thalib رضي الله عنههُ .
Sebelum lanjut, sebaiknya kita lebih mengenal tentang sosok Ummu Aiman.
Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ adalah seorang Budak berkulit hitam pekat yang di tinggalkan Abdullah رضي الله عنههُ untuk menemani Sayyidah Aminah رضي الله عنهٰهُ selama Abdullah رضي الله عنههُ pergi berdagang.
Sebagaimana kebanyakan sahabat yang lebih dikenal dengan kun-yahnya dibanding nama aslinya, demikian juga Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ . Nama aslinya adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amr bin Hishn. Kun-yahnya terambil dari anaknya yang bernama Aiman bin Ubaid. Sehingga kun-yahnya Ummu Aiman (ibunya Aiman). Namun putranya yang paling masyhur dan seorang sahabat yang utama adalah Usamah bin Zaid رضي الله عنههُ (Ibnu Abdil Bar: al-Isti’ab, 1/578).
Ia termasuk orang yang pertama-tama memeluk Islam. Turut berhijrah ke Habasyah dan Madinah. Dan ia adalah wanita yang berbaiat dengan Rasulullah ﷺ (Ibnul Atsir: Asadul Ghabah, 7/325).
Di antara peristiwa menarik dari kebersamaan Rasulullah ﷺ dengan Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ adalah saat salah seorang putri Rasulullah akan wafat. Rasulullah ﷺ mendekapnya di dadanya. Kemudian Beliau ﷺ letakkan tangannya pada putrinya. Lalu nyawanya dicabut saat dalam pelukan Rasulullah ﷺ.
Melihat hal itu, Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ menangis. Rasulullah ﷺ bertanya, “Wahai Ummu Aiman, apakah kau menangis padahal Rasulullah ada di sisimu?”
__ADS_1
Ummu Aiman menjawab, “Bagaimana bisa aku tidak menangis sementara Rasulullah menangis.”
Rasulullah mengatakan, “Sungguh aku menangis (bukan karena musibah) tapi ini adalah kasih sayang," Beliau ﷺ melanjutkan, “setiap saat seorang mukmin dalam kondisi yang baik. Nyawanya terpisah dari badannya sedang dia memuji Allah.” (Sunan an-Nasai, Bab fil Buka’ ‘alal mayyit 1843. Al-Albani mengomentarinya shahih).
Rasulullah memanggil Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ dengan “Wahai Ibu.”
Saat memandang Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ , Nabi berkata, “Ini adalah bagian dari keluargaku.”
Rasulullah ﷺ pun pernah bersabda "Ummu Aiman adalah 'Ibuku' sesudah 'Ibuku'."
Dari Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ , Nabi ﷺ menasihati keluarganya dengan mengatakan,
“Jangan menyekutukan Allah degan sesuatu apa pun. Walaupun engkau dibunuh atau dibakar. Jangan durhakai kedua orang tuamu. Jika engkau diperintah untuk memisahkan antara keluarga dan duniamu, lakukanlah. Jangan meminum khamr. Karena khamr itu kunci segala keburukan. Jangan kalian bersengaja meninggalkan shalat. siapa yang melakukan hal itu, maka dia telah melepaskan diri dari perlindungan Rasul-Nya.” [Shahih at-Targhib 571].
Bersama Para Sahabat
Anas bin Malik رضي الله عنه mengatakan, “Orang-orang biasa memberi Nabi kurma, hingga Bani Quraizah dan Bani Nadhir ditaklukkan. Keluargaku menyuruhku untuk menemui Nabi, lalu aku bertanya tentang apa yang orang-orang berikan atau sebagian yang mereka berikan. Pemberian itu sebagiannya diberikan Nabi kepada Ummu Aiman.
"Ummu Aiman pernah datang dan aku gantungkan baju di leherku. Ia berkata, ‘Jangan. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar kecuali Dia (Allah ﷻ ). Beliau tidak memberi kalian karena Beliau telah memberiku.' Sementara Nabi mengatakan, 'Bagianmu sejumlah ini.' Ummu Aiman berkata, 'Tidak demi Allah hingga sepuluh kali lipatnya.' Ini menunjukkan kedekatan Nabi dengan Ummu Aiman."
Setelah Nabi Muhammad ﷺ menikah dengan Siti Khadijah رضي الله عنهٰهُ , Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ dibebaskan sebagai bentuk penghormatan. Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ yang menikah dengan Zaid bin Haritsah رضي الله عنههُ adalah salah satu Assabiqunal Awwalun yang menyertai Rasulullah sepanjang hidupnya. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang mereka namai Aiman رضي الله عنه.
__ADS_1
Suatu hari, setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar رضي الله عنه berkata pada Umar رضي الله عنه , “Mari kita pergi berkunjung ke tempat Ummu Aiman. Sebagaimana dulu Nabi biasa mengunjunginya.” Saat keduanya tiba di sana, terlihat Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ sedang menangis. Keduanya berkata, “Apa yang membuatmu menangis? Apa yang ada di sisi Allah lebih baik untuk Rasul-Nya.”
Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ berkata, “Aku menangis bukan karena tidak mengetahui yang ada di sisi Allah lebih baik untuk Rasul-Nya. Tapi tangisku itu karena terputusnya wahyu dari langit.”
Ucapan Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ ini pun membuat Abu Bakar رضي الله عنه dan Umar رضي الله عنه terrenyuh. Lalu keduanya menangis bersama Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ (Shahih Muslim: Bab Min Fadhail Ummu Aiman radhiallahu ‘anha (6472), 7/144).
Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ radhiallahu ‘anha mengatakan,
ما رأيت رسول الله شكا صغيرًا ولا كبيرًا جوعًا ولا عطشًا، كان يغدو فيشرب من ماء زمزم، فأعرض عليه الغداء فيقول: لا أريده أنا شبع
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah mengeluhkan yang sedikit atau banyak. Saat lapar maupun kenyang. Beliau melewati pagi harinya dengan meminum air zam-zam. Kemudian ditawarkan makanan, beliau berkata, ‘Aku tidak menginginkannya. Aku kenyang.'"
Ummu Aiman رضي الله عنهٰهُ berkata di hari terbunuhnya Umar رضي الله عنههُ , “Hari ini, Islam menjadi lemah.” (al-Haitsami: Majmu’ az-Zawaid, 9/418).
Para sejarawan berbeda pendapat tentang wafatnya. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ummu Aiman wafat lima bulan setelah wafatnya Nabi. Ada pula yang menyebut enam bulan. Ada yang menyatakan, ia masih hidup setelah terbunuhnya Umar bin al-Khattab.”
.
.
.
__ADS_1