7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 3.5


__ADS_3

.


.


.


'Fatimah yang selalu berseri', begitulah makna dari nama Fatimah az-Zahra رضي الله عنه , putri kesayangan Rasulullah ﷺ. Fatimah رضي الله عنه merupakan putri bungsu Nabi Muhammad ﷺ dan Khadijah ra.


Aisyah رضي الله عنه berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ketika aku dalam perjalanan ke langit, aku dimasukkan ke surga, lalu berhenti di sebuah pohon dari pohon-pohon surga. Aku melihat yang lebih indah dari pohon yang satu itu, daunnya paling putih, buahnya paling harum. Kemudian, aku mendapatkan buahnya, lalu aku makan. buah itu menjadi nuthfah di sulbi-ku. Setelah aku sampai di bumi, aku berhubungan dengan Khadijah, kemudian ia mengandung Fatimah. Setelah itu, setiap aku rindu aroma surga, aku menciumi Fatimah". (Tafsir Ad-Durrul Mantsur tentang surat Al-Isra’: 1; Mustadrak Ash-Shahihayn 3: 156).


Saat itu, berita tentang 'Muhammad calon utusan terakhir' pun mulai berhembus. Hal ini membuat orang-orang kafir Quraisy tidak senang bahkan mereka menyangkal isu tersebut.


Wanita Quraisy mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak waras. Dampaknya, mereka menganggap Khadijah رضي الله عنه menentang agama nenek moyang, lataran ia mendukung suaminya itu sepenuh kemampuan. Kebencian itu menjadikan mereka mengucilkan Khadijah رضي الله عنه.


“Khadijah engkau pengkhianat! Kami benci pada sikapmu yang meninggalkan adat istiadat nenek moyang kita. Sejak menikah dengan Muhammad, engkau tidak mendengarkan kata-kata kami dan menghina keyakinan kita. Ingatlah, Khadijah! Kami tidak sudi lagi menolongmu dan keluargamu jika kalian dalam kesulitan. Kami tak akan pernah mendatangi rumahmu lagi!”


 


Khadijah رضي الله عنه begitu kaget, begitu bencinya para wanita itu kepadanya. Namun, Khadijah رضي الله عنه tetap sabar karena ia meyakini suaminya.

__ADS_1


Ucapan wanita Quraisy tersebut bukan hanya sebatas basa-basi belaka. Ucapan itu mereka buktikan. Mereka menjauhi Khadijah رضي الله عنه.


Perih hati Khadijah رضي الله عنه, sahabatnya yang dulu selalu menemaninya, namun kini tak ada yang datang untuk menolongnya.


Khadijah رضي الله عنه yang saat itu tengah hamil merasakan sakit menjelang persalinannya. Ia meminta bantuqn kepada sahabat-sahabatnya untuk menemaninya selama proses melahirkan. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang sudi menemaninya.


“Wahai Khadijah sahabatku, jangan bersedih,” Telinga Khadijah menangkap bisikan lembut seorang wanita.


Khadijah membuka mata perlahan-lahan. Beberapa wanita cantik dengan wajah bercahaya berdiri di hadapannya.


Mata mereka memancarkan keteduhan hingga Khadijah رضي الله عنه merasa damai saat berpandangan dengan mereka. “Ya Allah, siapakah mereka?” ucap Khadijah رضي الله عنه dalam batinnya.


Khadijah رضي الله عنه terpana, selama hidupnya ia hanya mendengar nama Sarah dalam cerita saja.


“Aku adalah Asiyah binti Muzahim,” kata wanita satunya lagi.


“Aku adalah Maryam binti Imran. Engkau mengenalku, bukan?” kata wanita lainnya.


“Dan aku, Syafuriya binti Syu’aib, Istri Musa,” kata wanita selanjutnya.

__ADS_1


Wanita tersebut mengulaskan senyum penuh kedamaian seketika terhiburlah hati Khadijah رضي الله عنه. Lenyaplah kesedihannya berganti dengan keharuan.


Laksana para Bidan, wanita-wanita dari surga itu menghibur Khadijah رضي الله عنه dengan cerita hidup mereka sembari menyentuh tangan, perut, punggung, dan mengurut seluruh tubuh Khadijah رضي الله عنه. Sakit yang dirasakan Khadijah رضي الله عنه berangsur hilang. Dengan sentuhan kelembutan mereka pula, lahirlah bayi perempuan dari rahim Khadijah رضي الله عنه. Bayi itu memancarkan sinar keagungan.


Dalam keadaan lemah, Khadijah رضي الله عنه melihat para Bidadari masuk ke rumahnya dengan membawa kendi-kendi air dari telaga Kautsar. Maryam lalu memandikan tubuh mungil Fatimah رضي الله عنه dengan air itu lalu membungkusnya dengan selembar kain putih yang lebih lembut dari kapas. Ia lumuri tubuh Fatimah رضي الله عنه dengan wewangian dari surga yang lebih wangi dari minyak kesturi.


“Ambillah bayi ini, Khadijah, bayi yang suci dan disucikan, yang cerdas dan diberkahi. Ia dan keturunannya diberkahi”.


Air mata Khadijah رضي الله عنه mengalir karena haru. Sungguh bahagia hatinya mendapatkan kemuliaan yang tak terduga.


Setelah semuanya selesai, wanita-wanita itu berpamitan. Rumah Khadijah رضي الله عنه kembali sepi.


Kelahiran Fatimah رضي الله عنه begitu disambut gembira oleh Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ kemudian menamainya dengan nama Fatimah dan julukannya Az-Zahra, sedangkan kuniyahnya ialah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya). Menurut Rizem Aizid dalam bukunya berjudul The Great Sahaba, Fatimah az-Zahra RA juga memiliki nama lain, seperti Shiddiqah, Zahra, Mubarakah, Radhiyah, Mardhiyah, Thahirah, Zakiyah, dan Muhaddatsah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2