7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 7.4


__ADS_3

.


.


.


Sesudah shalat subuh, umat Islam melihat Rasulullah ﷺ berangsur sehat. Panglima Usama bin Zaid mohon diri pada Rasulullah pergi berangkat melaksanakan tugas yang diberikan Rasulullah kepadanya. Setelah Nabi mengijinkan, berangkatlah Usamah ke Juruf, tempat tentara Islam berkemah. Dan sampailah Usamah di Juruf.


Sakit Rasullullah ﷺ semakin parah sampai-sampai Beliau ﷺ pingsan beberapa kali. Fathimah رضي الله عنه yang terus mengamati kondisi baginda Rasûlullâh ﷺ berkata, “Alangkah berat penderitaanmu, wahai ayahku!” Mendengar ungkapan hati Fathimah رضي الله عنه , Rasullullah ﷺ meyakinkan beliau رضي الله عنه,


لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ


"Sesungguhnya setelah ini, tidak ada lagi penderitaan yang akan mendera bapakmu."


Meskipun Beliau ﷺ sedang mengalami sakit parah, Beliau ﷺ sering sekali memberikan wasiat kepada para Sahabatnya terutama wasiat tentang shalat. Bahkan wasiat tentang shalat merupakan wasiat terakhir, ketika Beliau ﷺ mengalami sakaratul maut. Beliau ﷺ mengucapkannya dengan terbata-bata seraya menahan sakit:


الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَاتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ


"Perhatikanlah shalat kalian… Perhatikanlah shalat kalian… Dan hendaklah kalian bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam urusan budak-budak kalian."


Pada hari Senin pagi, Abdurrahman bin Abu Bakr رضي الله عنه, memasuki kamar Aisyah رضي الله عنه . Saat itu ia melihat Rasullullah ﷺ dalam keadaan sakit keras sehingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu lagi untuk berucap. Abdurrahman bin Abu Bakr رضي الله عنه masuk sambil membawa siwak dan sedang menggunakannya.  


Rasullullah ﷺ melihat apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr رضي الله عنه sembari bersandar pada Aisyah رضي الله عنه. Ketika melihat Rasulullah ﷺ terus memandangi dan memperhatikan Abdurrahman bin Abu Bakr رضي الله عنه, Aisyah رضي الله عنه memahami bahwa Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ingin bersiwak. Untuk memastikan dugaan ini, Aisyah رضي الله عنه bertanya kepada Rasulullah ﷺ,


آخُذُهُ لَكَ


"Apakah engkau ingin aku ambilkan engkau siwak itu?"


Rasullullah ﷺ memberikan isyarat dengan anggukan kepala. Aisyah رضي الله عنه mengambilkan siwak itu dan menyerahkannya kepada Beliau ﷺ . lalu Rasullullah ﷺ  bersiwak dengannya, sementara dihadapan Beliau ﷺ ada sebuah wadah air yang terbuat dari kulit. Rasullullah ﷺ memasukkan tangannya kedalam air yang ada dihadapannya lalu mengusap wajahnya dengan air tersebut, sembari mengatakan,


لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ. اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ


"Tidak ada illah yang diibadahi dengan hak selain Allâh. Sesungguhnya kematian memiliki sakarat. Ya Allâh! Bantulah aku menghadapi sakaratul maut ini!"


Aisyah رضي الله عنه juga mendengar Rasulullah ﷺ berdo’a,


مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا


"Mereka bersama orang-orang yang Allah berikan nikmat padanya daripada para nabi dan orang-orang sholeh dan mereka adalah sebaik-baiknya teman."

__ADS_1


Aisyah رضي الله عنه juga mendengar Rasullullah ﷺberdoa sambil bersandar pada Aisyah رضي الله عنه,


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَألْـحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى


"Wahai Allah! Ampunilah dosaku! Karuniakanlah rahmat-Mu kepadaku dan angkatlah aku ke ar-Rafiqul A’la (masukkanlah aku ke dalam surga bersama orang-orang terbaik)."


Beliau ﷺ mengucapkan doa-doa itu, padahal Beliau ﷺ adalah seorang Rasul yang dijamin akan masuk surga, bagaimana dengan kita???


Ketika berada di atas pangkuan Aisyah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ pingsan selama kurang lebih satu jam, lalu siuman. Saat itu Rasullullah ﷺ memandang ke atap, lalu Rasullullah ﷺ mengangkat kepala Beliau ﷺ dan bersandar pada badan Aisyah رضي الله عنه . Rasullullah ﷺ  mengangkat kedua tangan Beliau yang mulia seraya terus memanjatkan doa,


اللَّهُمَّ الرَّفِيْقَ الأَعْلَى


 "Ya Allah! Masukkanlah aku ke syurga."


Pada hari itu juga, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya turun ke bumi menemui Rasulullah ﷺ dengan berpakaian sebaik-baiknya. Allah menyuruh Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah ﷺdengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka dia dibolehkan masuk. Tetapi jika Rasulullah tidak mengizinkannya, dia tidak boleh masuk dan hendaklah dia kembali saja.


Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah  ﷻ . Dia menyamar sebagai seorang biasa. Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah, Malaikat Maut pun berkata: “Assalamualaikum wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!”


Fatimah pun keluar menemuinya dan berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit.”


Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi, “Assalamualaikum, bolehkah saya masuk?”


Fatimah menjawab, “Seorang lelaki memanggil Rasulullah. Saya katakan kepadanya bahwa Rasulullah dalam keadaan sakit. Kemudian dia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma.”


Rasulullah bersabda, “Tahukah kamu siapakah dia?”


Fatimah menjawab, “Tidak wahai Rasulullah.”


Lalu Rasulullah menjelaskan, “Wahai Fatimah, dia adalah pengusir kelezatan, pemutus keinginan, pemisah jamaah dan yang meramaikan kubur." Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “masuklah, wahai Malaikat Maut.”


Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan, “Assalamualaika ya Rasulullah.”


Rasulullah ﷺ pun menjawab, “Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?”


Malaikat Maut menjawab, “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan. Jika tidak, saya akan pulang.”


Rasulullah bertanya, “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan Jibril?”


Jawab Malaikat Maut, “Saya tinggalkan dia di langit dunia.” Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril datang lalu duduk di samping Rasulullah ﷺ .

__ADS_1


Maka bersabdalah Rasulullah, “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat?”


Jibril menjawab, “Ya, wahai kekasih Allah.”


Seterusnya Rasulullah bersabda, “Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?”


Jibril pun menjawab, “Bahawasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu.”


Rasulullah bersabda, “Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?”


Jibril menjawab lagi, “Bahawasanya pintu-pintu Surga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu.”


Rasulullah ﷺ bersabda lagi, “Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang disediakan Allah untukku?”


Jibril menjawab, “Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti.”


Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: “Segala puji dan syukur aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang kabar yang menggembirakan aku.”


Jibril bertanya, “Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?”


Rasulullah ﷺ menjawab, “Tentang kegelisahanku. Apakah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang membaca Alquran sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperoleh orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”


Jibril menjawab, “Saya membawa kabar gembira untuk Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah berfirman, 'Aku telah mengharamkan surga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.'”


Maka berkatalah Rasulullah ﷺ, “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku.” Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah ﷺ.


Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang akan memandikan Rasulullah dan siapakah yang akan mengafaninya?”


Rasulullah ﷺ menjawab, “Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Surga.”


Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah ﷺ.


Sumber:


Ensiklopedia Shirah Nabawi


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2