7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 1.2


__ADS_3

...Sebelum lanjut, Author ingin menceritakan dahulu tentang kisah dari ayah dan ibu Rasulullah ﷺ...


▪ Ayah Rasulullah ﷺ


Abdullah رضي الله عنه adalah pemuda yang berwajah tampan dan gagah. Kegagahan dan parasnya banyak menarik perhatian gadis-gadis Mekkah.


Apalagi setelah mereka tahu bahwa nyawa Abdullah رضي الله عنه telah ditebus dengan 100 ekor unta, suatu jumlah yang luar biasa yang tidak pernah dialami seorang pun sebelumnya.


Walaupun banyak gadis yang berusaha menggodanya, kesopanan Abdullah رضي الله عنه tetap terjaga.


Kisah sebelumnya


Abdul Mutthalib رضي الله عنه sangat berkeinginan untuk memiliki anak lelaki yang banyak. Dia butuh tenaga untuk mengurus air bagi para tamu yang hendak berziarah ke Ka'bah. Sampai-sampai, ia bernazar jika memperoleh sepuluh anak lelaki kemudian tidak memperoleh anak lagi. Setelah mereka besar, salah satu di antaranya akan disembelih untuk dijadikan persembahan. (Pada waktu itu, hal ini sudah menjadi hal yang lumrah)


Apa yang menjadi keinginan Abdul Mutthalib رضي الله عنه dikabulkan. Ia memperoleh sepuluh anak dan setelah itu tak punya anak lagi. Setelah mereka dewasa, Abdul Mutthalib رضي الله عنه  memanggil semua anak lelakinya demi meluluskan nazarnya. Setiap anak lelaki menuliskan namanya di atas qid-h (anak panah). Semua anak panah diambil oleh Abdul Mutthalib رَحِمَهُ ٱللَّٰه ُ  dan dibawa kepada juru qid-h di tempat berhala Hubal yang berdiri di tengah Ka'bah.


Juru qid-h kemudian mengocok anak panah itu. Nama yang keluar akan disembelih untuk dijadikan persembahan bagi Hubal. Tak disangka, nama Abdullah رضي الله عنه keluar. Dia lantas membawa anak muda itu untuk disembelih di dekat sumur Zamzam.


Abdul Mutthalib رضي الله عنه menuntun Abdullah menuju sebuah tempat di dekat sumur Zamzam yang terletak di antara dua berhala Isaf dan Na’ila.


Di tempat itulah biasanya orang-orang Mekah melakukan pengorbanan hewan untuk Dewa-dewa mereka.


Namun, masyarakat semakin keras menghalangi Abdul Mutthalib رضي الله عنه melakukan niatnya. Akhirnya, kekerasan hatinya pun luluh.


“Baiklah, tetapi apa yang harus kulakukan agar berhala tetap berkenan kepadaku?” tanya Abdul Mutthalib رضي الله عنه.


"Kalau penebusannya dapat dilakukan dengan harta kita, kita tebuslah," kata Mughirah bin Abdullah dari suku Makhzum. Setelah diadakan perundingan, mereka sepakat menemui seorang dukun di Yatsrib.


“Berapa tebusan kalian?” tanya dukun wanita itu.


“Sepuluh ekor unta.”


Abdul Mutthalib رضي الله عنه pun disarankan untuk mengundi kembali antara Abdullah رضي الله عنه dengan sepuluh ekor unta. Jika undian yang keluar adalah nama Abdullah رضي الله عنه , maka undian diulang dengan menambahkan 10 unta lagi dan seterusnya hingga Allah  ﷻ meridhoi pengorbanan Abdul Mutthalib رضي الله عنه.


“Kembalilah ke negeri kalian. Sediakan tebusan 10 ekor unta! Kemudian undi antara unta dan anak itu. Jika yang keluar nama anakmu, tambahlah jumlah untanya, kemudian undi lagi sampai nama unta yang keluar.”


Mereka pulang dengan lega dan segera mengundi dengan anak panah. Ternyata yang keluar adalah nama Abdullah رضي الله عنه. Mereka menambahkan tebusan unta dan mengundi lagi. Hingga lemparan ke sepuluh, nama yang keluar masih saja Abdullah رضي الله عنه . Sesuai dengan aturan maka jumlah unta harus ditambah ke lipatannya. Abdul Mutthalib رضي الله عنه  harus menambah unta hingga seratus ekor.


Sampai lemparan berikutnya, keluarlah nama unta sebagai undian.


“Dewa sudah berkenan,” seru orang-orang.


“Tidak,” bantah Abdul Mutthalib رضي الله عنه, “harus dilakukan sampai 3 kali.”

__ADS_1


Akhirnya, setelah 3 kali dikocok, yang keluar adalah nama unta. 100 ekor unta itu pun disembelih sebagai pengganti nazar dan dibiarkan begitu saja tanpa disentuh manusia karena mereka beranggapan bahwa unta itu untuk Dewa.


Diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa Beliau ﷺ bersabda, “Aku adalah anak dua orang yang disembelih.”


Yang dimaksud oleh Beliau ﷺ adalah Nabi Ismail nenek moyangnya, dan Abdullah رضي الله عنه ayahnya.


Selamatlah Abdullah رضي الله عنه dari persembahan. Abdullah رضي الله عنه pun kembali dalam aktivitasnya seperti sedia kala. Membantu ayahnya dalam menyambut tamu dan mengelola sumur Zamzam di Makkah.


......................


Pernikahan Abdullah رضي الله عنه dengan Aminah  رضي الله عنه , dengan mengutip riwayat Ibnu Ishaq رضي الله عنه, Ibnu Katsir رضي الله عنه dalam Al-Bidâyah wan Nihâyah mengisahkan, sekali waktu Abdul Mutthalib رضي الله عنه pergi bersama Abdullah رضي الله عنه  untuk bertemu Wahab bin Abdu Manaf رضي الله عنه, Ayah Siti Aminah. Di tengah perjalanan mereka bertemu seorang perempuan bernama Ummu Qannal, saudara perempuan Waraqah bin Naufal. Ada yang mengatakan namanya Qutailah, ada pula yang menyebut namanya Fathimah binti Murrin al-Khtas’amiyah. Rupanya dia bukan perempuan sembarangan, melainkan pandai membaca kitab suci sebagaimana Waraqah bin Naufal.


Saat itu, Abdul Mutthalib رضي الله عنه menggandeng tangan putranya menuju rumah Wahb bin Abdul Manaf رضي الله عنه. Wahb رضي الله عنه mempunyai seorang putri bernama Aminah  رضي الله عنه. Abdul Mutthalib رضي الله عنه  sudah sepakat dengan Wahb رضي الله عنه  untuk menikahkan putra-putri mereka.


Di tengah jalan, seorang gadis cantik menegur Abdullah رضي الله عنه.


“Engkau akan pergi ke mana, wahai Abdullah?”


“Aku akan pergi bersama ayahku.”


Tanpa memedulikan Abdul Mutthalib رضي الله عنه, gadis itu berkata, “Kulihat engkau memang dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta yang akan disembelih. Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahi diriku sekarang juga.”


Abdullah رضي الله عنه terperangah. Ia menatap gadis itu dengan gugup. Dilihat dari pakaiannya yang dipenuhi perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan.


Ketika Abdullah رضي الله عنه  menoleh kepada ayahnya, Abdul Mutthalib رضي الله عنه memberi isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris sang gadis. Abdullah رضي الله عنه pun mentaati ayahnya.


“Aku bersama ayahku. Aku tak kuasa menolak kehendaknya dan berpisah dengannya.”


Abdullah رضي الله عنه kembali berjalan bersama ayahnya. Hatinya dipenuhi rasa iba dan simpati kepada gadis yang ditinggalkannya.


Hari itu juga, Abdul Mutthalib رضي الله عنه datang ke rumah Wahb bin Abdul Manaf رضي الله عنه dan menjodohkan Abdullah dengan Aminah  رضي الله عنه.


Keesokan harinya, Abdullah رضي الله عنه bertemu lagi dengan gadis yang kemarin. Abdullah رضي الله عنه menyapanya, “Mengapa engkau tidak menyapaku seperti kemarin?”


Gadis itu menjawab dengan ketus, “Sinar berseri-seri yang kemarin kulihat pada wajahmu sudah tidak ada lagi. Karena itu, sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu!”


Sinar berseri-seri yang dimaksud menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Abdullah رضي الله عنه kepada putranya.


Ketika Abdullah رضي الله عنه dijodohkan dengan Aminah  رضي الله عنه , gadis itu tidak dapat lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.


▪ Ibu Rasulullah ﷺ


Aminah  رضي الله عنه kala itu merupakan seorang gadis yang memiliki sifat yang baik. Bahkan ia merupakan gadis yang paling baik keturunan dan kedudukannya pada kalangan suku Quraisy. Kebaikan hati dan sikapnya membuat banyak orang yang tertarik dengan gadis cantik ini.

__ADS_1


Kebaikan hatinya dan sifatnya dalam kalangan suku Quraisy ini memiliki daya tarik tersendiri. Maka dari itu, perempuan ini menjadi pilihan Abdul Mutthalib رضي الله عنه untuk dijadikan sebagai menantunya.


Jadi Aminah  رضي الله عنه pada saat itu merupakan satu-satunya wanita pilihan Abdul Mutthalib رضي الله عنه, ayah Abdullah yang juga merupakan sang kakek dari Nabi Muhammad ﷺ.


Dari perjodohan tersebut, akhirnya Abdullah رضي الله عنه menyetujui dan mau menikahi Siti Aminah binti Wahb  رضي الله عنه.


Dalam berbagai macam riwayat, Abdullah رضي الله عنه merupakan seorang lelaki yang memiliki tubuh yang tegap dan wajahnya tampan. Karena ketampanannya tersebut, maka banyak perempuan yang jatuh hati kepada Abdullah رضي الله عنه. Sampai pada akhirnya pernikahan Abdullah رضي الله عنه dan Aminah  رضي الله عنه ini membuat para wanita yang menyukai Abdullah رضي الله عنه tersebut merasa patah hati.


Abdullah رضي الله عنه  dan Aminah  رضي الله عنه pun menikah. Musim semi tahun 570 Masehi tiba. Di samping itu, Abdul Mutthalib رضي الله عنه juga melamar Hala , putri pamannya yang akan melahirkan Hamzah ( Kisahnya akan Author ceritakan di bab berikutnya ya...)


Tak lama setelah pernikahan Abdullah رضي الله عنه  dan Aminah رضي الله عنه, akhirnya tibalah musim semi. Sementara itu, padang-padang rumput sudah banyak tumbuh dengan bunga-bunga yang harum. Batang-batang gandum di Yaman tumbuh menjulang tinggi dan dedaunan kurma di kota Thaif kembali bersemi.


Bagi masyarakat penduduk Mekkah, musim semi merupakan salah satu musim yang menjadi tanda kebebasan. Kemudian, pada musim inilah mereka akan memulai perdagangan mereka ke Suria.


Kebersamaan Abdullah رضي الله عنه dan Aminah  رضي الله عنه hanya berlangsung selama beberapa hari saja, sekitar 10 hingga 15 hari.


Abdullah رضي الله عنه memutuskan untuk pergi berdagang untuk mencari nafkah ke Suria. Sehingga, mau tidak mau Abdullah رضي الله عنه harus meninggalkan istrinya.


Mendengar keputusan suaminya, Aminah  رضي الله عنه merasa sedih dan berat. Bahkan, rasanya Aminah  رضي الله عنه  tidak rela ditinggal suaminya pergi berdagang ke Makkah. Akan tetapi, keputusan Abdullah رضي الله عنه  sudah bulat ingin melangsungkan rencananya berdagang. 


Pada saat akan berangkat berdagang, Aminah  رضي الله عنه memandangi kepergian Abdullah رضي الله عنه dengan rasa khawatir dan sendu. Aminah  رضي الله عنه menatap kepergian Abdullah رضي الله عنه seakan-akan tatapannya tersebut merupakan detik-detik terakhir ia bisa memandang wajah suaminya yang sangat ia cintai.


Dalam urusan perdagangan musim semi ini, Abdullah رضي الله عنه juga sempat singgah di Gaza. Selanjutnya ia juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat saudara-saudara ibunya yang ada di kawasan Madinah.


Pada saat sedang berada di kawasan Madinah, Abdullah رضي الله عنه tertimpa cobaan sakit. Karena sakit tersebut, ia tidak dapat melanjutkan perjalanan pulang ke Mekkah.


Sedangkan, kawan-kawan Abdullah رضي الله عنه bisa pulang ke Mekkah untuk mengabarkan pada keluarganya di Makkah jika Abdullah رضي الله عنه sedang dalam keadaan sakit.


Mendengar kabar jika Abdullah رضي الله عنه sakit, sang ayah Abdul Mutthalib رضي الله عنه  mengutus anak sulungnya yang bernama Harits, untuk menjemput Abdullah رضي الله عنه ٱللَّٰهُ yang ada di Madinah. Sang ayah perintahkan untuk membawa pulang ke Mekkah apabila kondisi Abdullah رضي الله عنه sudah membaik.


Setelah sampai ke Madinah, Harits terkejut karena mendengar kabar kematian Abdullah رضي الله عنه. Bahkan proses pemakaman Abdullah juga telah selesai.


Harits diberi tahu jika Abdullah رضي الله عنه sudah wafat dan dikuburkan setelah kafilah berangkat ke Makkah.


Al-Harits kembali ke Makkah dengan membawa kabar pilu dan sedih. Tidak diragukan lagi, kabar tersebut menyayat hati Abdul Mutthalib رضي الله عنه dan Aminah رضي الله عنه.


Abdullah رضي الله عنه wafat meninggalkan istri, Aminah  رضي الله عنه yang tengah mengandung buah hatinya. Disebutkan bahwa Aminah رضي الله عنه baru menyadari kalau haidnya terhenti sebulan setelah kepergian suaminya ke Syam dan Gaza untuk berdagang.


Semua merasa bersedih atas kepergian Abdullah رضي الله عنه untuk selama-lamanya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2