
.
.
.
Sehubungan dengan makna firman-Nya, "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa aslinya) pada waktu yang lain." (An-Najm: 13), Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi ﷺ telah melihat Jibril AS.
Mujahid juga mengatakan Rasulullah ﷺ telah melihat Jibril AS dalam bentuknya yang asli sebanyak dua kali. Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah dan Ar-Rabi ibnu Anas serta lain-lainnya.
"(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya." (QS An-Najm: 16)
Ibnu Katsir mengatakan Sidratul Muntaha itu diliputi oleh para malaikat seperti halnya burung-burung gagak (yang menghinggapi sebuah pohon), dan Sidratul Muntaha diliputi oleh Nur Tuhan Yang Maha Agung, diliputi pula oleh beraneka warna yang hakikatnya tidak aku ketahui.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Masud yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjalani Isra, sampailah Beliau ﷺ di Sidratul Muntaha yang ada di langit yang ketujuh. Dari situlah berhenti semua yang naik dari bumi, lalu diambil darinya; dan darinya pula berhenti segala sesuatu yang turun dari atasnya, lalu diambil darinya. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Bahwa yang meliputinya itu adalah kupu-kupu emas. Dan Rasulullah ﷺ diberi tiga perkara, yaitu sholat lima waktu, ayat-ayat yang terakhir dari surat Al-Baqarah, dan diberi ampunan bagi orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun dari kalangan umatnya, yang semuanya itu merupakan hal-hal yang pasti.
Imam Muslim meriwayatkan hadits ini secara munfarid (tunggal). Abu Jafar Ar-Razi telah meriwayatkan dari Abu Hurairah atau lainnya Abu Jafar raguyang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ menjalani Isra, sampailah Beliau ﷺ di Sidratul Muntaha, lalu dikatakan kepadanya, "Inilah Sidrah," dan tiba-tiba Sidrah diliputi oleh cahaya Tuhan Yang Maha Pencipta, lalu diliputi pula oleh para malaikat yang pemandangannya seperti burung-burung gagak yang menghinggapi sebuah pohon. Maka Allah ﷻ berbicara kepadanya di tempat itu. Untuk itu Allah ﷻ berfirman, "Mintalah!"
Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid terkait surat An-Najm, ayat16 ini bahwa dahan-dahan Sidrah terdiri dari mutiara, yaqut, dan zabarjad. Maka Muhammad ﷺ melihatnya dan melihat Tuhannya dengan mata hatinya.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa pernah ditanyakan, "Wahai Rasulullah, sesuatu apakah yang engkau lihat menutupi Sidrah itu?"
Nabi SAW menjawab, "Aku melihat kupu-kupu emas menutupi Sidratil Muntaha, dan aku melihat pada tiap-tiap daunnya terdapat malaikat yang berdiri seraya bertasbih menyucikan Allah ﷻ ."
Penglihatan (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya . (QS An-Najm: 17)
Ibnu Abbas رضي الله عنه mengatakan bahwa pandangan mata Nabi ﷺ tidak ditolehkan ke arah kanan dan tidak pula ke arah kiri.
dan tidak (pula) melampauinya (An-Najm: 17). Yakni melampaui dari apa yang diperintahkan kepadanya. Ini merupakan sifat yang agung yang menggambarkan keteguhan hati dan ketaatan, karena sesungguhnya Nabi ﷺ tidak berbuat melainkan berdasarkan apa yang diperintahkan kepadanya, tidak pula pernah meminta lebih dari apa yang diberikan kepadanya.
Firman Allah ﷻ , cSesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar." (QS An-Najm: 18)
Menurut Ibnu Katsir, ayat tersebut semakna dengan firman-Nya:
"agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami."(QS Al-Isra: 1) yang menunjukkan akan kekuasaan dan kebesaran Kami.
Berdasarkan kedua ayat ini sebagian ulama ahli sunnah wal jamaah mengatakan bahwa penglihatan di malam itu tidak terjadi, karena Allah ﷻ menyebutkan dalam firman-Nya, "Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar." Ibnu Katsir mengatakan seandainya dia melihat Tuhannya, niscaya hal tersebut diberitakan dan orang-orang pun mengatakan hal yang sama.
__ADS_1
...
Setelah sampai ke Sidratul Muntaha, malaikat Jibril AS hanya mendampingi Beliau ﷺ sampai di depan pintu Sidratul Muntaha kemudian Beliau ﷺ menghadap Allah ﷻ sendirian untuk menerima wahyu sholat. Allah ﷻ mewajibkan kepada Beliau ﷺ shalat lima puluh kali.
Beliau ﷺ kembali lagi hingga bertemu dengan Nabi Musa AS.
"Apa yang diperintahkan kepadamu?"
"Shalat lima puluh kali." jawab Beliau ﷺ.
"Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melakukannya. Kembalillah menemui Rabb-mu dan mintalahkeringanan kepada-Nya bagi umatmu." ucap Nabi Musa
Beliau ﷺ memandang ke arah Jibril AS untuk meminta pendapatnya. Maka Jibril AS mengisyaratkan dengan berkata. "Itu benar, jika memang Engkau menghendaki."
Bersama Jibril AS, Beliau ﷺ naik lagi hingga menghadap Allah ﷻ yang Maha Perkasa yang tetap berada di tempat-Nya. (Begitulah yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dalam beberapa jalan).
Jumlah shalat pun dikurangi sepuluh. Kemudian Beliau ﷺ turun dan bertemu Nabi Musa AS kemudian menyampaikan kabar kepadanya.
"Kembalilah lagi menemui Rabb-mu dan mintalah keringanan kepada-Nya."
Begitulah Beliau ﷺ mondar mandir menemui Nabi Musa AS dan Allah ﷻ , hingga shalat itu di tetapkan lima kali.
Setelah beberapa saat, ada seruan yang terdengar, "Kewajiban dari-Ku telah Kutetapkan dan telah Kuringankan bagi hamba-Ku."
.....
Doa Malam Isra' Mi'raj
Ada doa-doa malam Isra' Mi'raj yang bisa dibaca dan diamalkan, berikut uraiannya:
Saat memasuki bulan Rajab, Rasulullah mencontohkan untuk membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allâhumma bârik lanâ fî rajaba wasya‘bâna waballighnâ ramadlânâ ((HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).
__ADS_1
Artinya: "Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan."
Pada siang dan malam Isra' Mi'raj, dianjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan memperbanyak ibadah, dzikir dan doa kepada Allah ﷻ.
Doa yang dianjurkan dibaca pada malam dan siang Isra Miraj,
Allohumma thohhir lisaanii minal kadzibi wa qolbii minan nifaaqi wa ‘amalii minar riyaa-i wa bashorii minal khiyaanati fa innaka ta’lamu khoo-inatal a’yuni wa maa tukhfish shuduuru.
Artinya, "Ya Allah, sucikanlah lisanku dari dusta, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, sucikanlah amalku dari riya, sucikanlah penglihatanku dari khianat, sesunguhnya Engkau mengetahui pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh hati."
Doa Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sebagai seorang khalifah yang sangat patuh dan taat akan perintah Allah ﷻ dan Rasul-Nya, beliau juga sangat memuliakan bulan ini dengan membaca doa malam pertama bulan Rajab yaitu:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰی مُحَمَّدِ وَآلِهِ مَصَابِيۡحِ الۡحِكۡمَۃِ, وَمَوَالِيَ النِّعۡمَۃِ, وَمَعَادِنِ الۡعِصۡمَۃِ,وَاعۡصِمۡنِيۡ مِنۡ كُلِّ سُوۡءٍ, وَلَا تَأۡخُذۡنِيۡ عَلَی غِرَّۃٍ, وَلَا عَلَی غَفۡلَۃٍ ,وَلَا تَجۡعَلۡ عَوَاقِبَ أَمۡرِيۡ حَسۡرَۃً وَنَدَامَۃً, وَارۡضَ عَنِّيۡ,فَإِنَّ مَغۡفِرَتَكَ لِلظّالِمِيۡنَ,وَأَنَامِنَ الظَّالِمِيۡنَ,اَللّٰهُمَّ اغۡفِرۡلِيۡ مَالَايَضُرُّكَ,وَأَعۡطِنِيۡ مَالَايَنۡفَعُكَ,فَإِنَّكَ الۡوَاسِعَۃُ رَحۡمَتُهُ الۡبَدِيۡعَۃُ حِكۡمَتُهُ,فَأَعۡطِنِيۡ السَّعَۃَ وَالدَّعَۃَ,وَالۡأَمۡنَ وَالصِّحَّۃَ,وَالشُّكۡرَ وَالۡمُعَافَاۃَ وَالتَّقۡوَی,وَأَفۡرِغِ الصَّبۡرَ وَالصِّدۡقَ عَلَيَّ وَعَلَی أَوۡلِيَآءِكَ,وَأَعۡطِنِيۡ الۡيُسۡرَ,وَلَاتَجۡعَلۡ مَعَهُ الۡعُسۡرَ,وَاعۡمُمۡ بِذَالِكَ أَهۡلِيۡ وَوَلِدِيۡ وَإِخۡوَانِيۡ فِيۡكَ وَمَنۡ وَلَدَنِيۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِيۡنَ وَالۡمُسۡلِمَاتِ وَالۡمُوءۡمِنِيۡنَ وَالۡمُوءۡمِنَاتِ
Artinya: “Ya Allah, limpahkan rahmat ta'dzim kepada Muhammad dan keluarganya yang menjadi pelita-pelita hikmah, pemilik kenikmatan, sumber perlindungan. Jagalah kami sebab (keberkahan) mereka dari keburukan. Dan jangan engkau ambil kami dalam kondisi tertipu, tidak pula dalam keadaan lupa.
Jangan jadikan akhir urusan kami sebagai penyesalan. Ridhailah kami. Sesungguhnya ampunan-Mu bagi orang-orang yang zalim, dan aku bagian orang yang zalim itu.
Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang tidak pernah bisa membahayakan-Mu, berilah aku sesuatu yang memang tak ada manfaatnya sama sekali untuk-Mu. Sesungguhnya Engkau itu maha luas rahmat-Nya. Hikmahnya yang sangat indah.
Berikan kami kelapangan dan ketenteraman, keamanan dan kesehatan, serta rasa syukur, selamat sentosa dan ketakwaan. Berikan kesabaran dan kejujuran kepada kami dan orang-orang yang Engkau cintai. Berikan kami pula kemudahan yang tidak ada kesulitannya sama sekali.
Semoga itu semua juga Engkau berikan bagi keluarga kami, anak kami, saudara-saudara kami seagama. Dan Engkau berikan kepada orang tua yang telah melahirkan kami, dari muslimin muslimat, mu'minin mu'minat." (Syekh Abdul Qadir bin Shalih al-Jilani, al-Ghun-yah, Dārul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1997, juz 1, halaman 328-329).
Beliau ﷺ mendapatkan perintah untuk mengerjakan shalat wajib 5 waktu, yang menjadi titik penting perjalanan beliau dalam malam tersebut.
Isra dan Mikraj adalah bukti kekuasaan Allah ﷻ mampu melampaui segalanya tanpa terbatas ruang dan waktu. Mikraj dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai gambaran insan kamil (manusia sempurna) yang mencapai titik penghambaan mutlak kepada Tuhannya.
.
.
__ADS_1
.