
.
.
.
Pada akhirnya, Nabi Muhammad ﷺ mencapai Sidratul Muntaha.
Cerita perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad ﷺ terdapat dalam surah Al-Najm ayat 13-18, Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)
Artinya:
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Ibnu Katsir mengutip Imam Ahmad dari Ibnu Masud رضي الله عنه sehubungan dengan makna ayat ini: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha.
Bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda, :Aku melihat Jibril (dalam rupa aslinya), ia memiliki enam ratus sayap, dari bulu-bulu sayapnya bertebaran beraneka warna mutiara dan yaqut." Ibnu Katsir mengatakan sanad hadis ini jayyid (baik) lagi kuat.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Ibnu Masud رضي الله عنه yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Jibril datang kepadaku dengan mengenakan pakaian yang bertaburan penuh dengan mutiara."
__ADS_1
Di sisi lain, Ibnu Katsir juga memaparkan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ismail yang mengatakan bahwa Masruq datang kepada Aisyah رضي الله عنه, lalu bertanya: "Wahai Ummul Muminin, apakah Muhammad telah melihat Tuhannya?"
Aisyah رضي الله عنه menjawab, "Subhanallah, sesungguhnya bulu kudukku berdiri mendengar pertanyaanmu itu, lalu di manakah akalmu dari tiga perkara yang barang siapa mengatakannya, maka sesungguhnya dia telah berdusta. Yaitu orang yang mengatakan kepadamu bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, maka sesungguhnya dia telah berdusta."
Kemudian Aisyah رضي الله عنه membaca firman Allah ﷻ, "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu." (QS Al-Anam: 103)
Dan firman Allah SWT, "Dan tiada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir." (QS Asy-Syura: 51) Dan barang siapa yang mengatakan kepadamu bahwa dirinya mengetahui apa yang akan terjadi besok, maka sesungguhnya dia telah berdusta.
Kemudian Aisyah رضي الله عنه membaca firman-Nya, "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim." (QS Luqman: 34), hingga akhir ayat.
Dan barang siapa yang menceritakan kepadamu bahwa Muhammad telah menyembunyikan sesuatu, maka sesungguhnya dia telah berdusta. Kemudian Aisyah membaca firman-Nya, "Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS Al-Maidah: 67) Akan tetapi, dia hanya melihat Jibril dalam rupanya yang asli sebanyak dua kali.
Selanjutnya Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari dari Masruq yang mengatakan bahwa ketika ia ada di hadapan Aisyah رضي الله عنه, ia bertanya bahwa bukankah Allah ﷻ telah berfirman, "Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang." (QS At-Takwir: 23) Dan firman Allah SWT, "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain." (QS An-Najm: 13)
Begitu pula menurut apa yang telah diketengahkan oleh Bukhari dan Muslim di dalam kitab sahih masing-masing melalui hadis Asy-Syabi dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abdullah ibnu Syaqiq yang menceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Abu Dzar, bahwa seandainya dirinya menjumpai Rasulullah ﷺ tentulah dia akan bertanya.
Abu Dzar bertanya, "Pertanyaan apakah yang akan engkau ajukan kepada Beliau?"
Aku menjawab, "Apakah dia pernah melihat Tuhannya?"
__ADS_1
Abu Dzar berkata, "Aku telah menanyakan hal itu kepada Beliau, lalu Beliau ﷺ menjawab, 'Sesungguhnya aku telah melihat-Nya berupa nur (cahaya), lalu mana mungkin aku dapat melihat-Nya?'
Demikianlah menurut bunyi teks yang ada pada Imam Ahmad.
Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini melalui dua jalur dengan dua lafaz. Dari Abu Dzar yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?"
Nabi SAW menjawab "Yang kulihat hanya nur, mana mungkin aku dapat melihat-Nya."
Al-Khalal telah meriwayatkan suatu pendapat yang menilai hadits ini mengandung kelemahan, bahwa Imam Ahmad pernah ditanya tentang hadits ini, maka ia menjawab, "Aku masih tetap menganggapnya berpredikat munkar," tetapi aku tidak mengetahui apa alasannya.
Ibnu Abu Hatim juga meriwayatkan dari Abu Dzar yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ telah melihat Tuhannya dengan pandangan hatinya dan tidak melihat-Nya dengan pandangan matanya.
Ibnu Khuzaimah berupaya membuktikan bahwa hadits ini munqati (ada mata rantai perawi yang terputus). Sedangkan Ibnul Juzi menakwilkan hadis ini dengan pengertian bahwa barangkali Abu Dzar menanyakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ sebelum Beliau menjalani Isra. Karena itulah maka Abu Dzar رضي الله عنه menjawab Abdullah ibnu Syaqiq dengan jawaban tersebut. Tetapi seandainya Abu Dzar menanyakan hal itu kepada Nabi ﷺ setelah peristiwa" Isra, niscaya Nabi ﷺ akan menjawabnya dengan jawaban positif (ya).
Ibnu Katsir mengatakan takwil Ibnul Juzi dinilai lemah karena sesungguhnya Aisyah رضي الله عنه telah menanyakan hal itu sesudah peristiwa Isra. Ternyata jawaban Beliau ﷺ tidak menguatkan bahwa Beliau ﷺ telah melihat-Nya dengan terang-terangan. Dan mengenai orang yang berpendapat bahwa Nabi ﷺ berbicara kepada Aisyah رضي الله عنه disesuaikan dengan kemampuan daya tangkapnya, atau berupaya untuk menyalahkan pendapat Aisyah رضي الله عنه.
Seperti Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Tauhid-nya, maka sesungguhnya dia sendirilah yang keliru, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
.
.
__ADS_1
.