7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 3. Istri-istri Rasulullah ﷺ


__ADS_3

.


.


.


Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنه berasal dari keluarga terpandang, Bani Hasyim. Khadijah رضي الله عنه lahir pada sekitar tahun 555 di Mekkah, Arab Saudi. Ia adalah putri dari Khuwailid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah.


Mekkah, tahun 68 sebelum hijrah atau bertepatan dengan tahun 555 Masehi adalah tahun yang istimewa bagi keluarga  Khuwailid bin Asad. Karena di tahun itu lahir seorang bayi perempuan cantik di tengah-tengah keluarga Khuwailid bin Asad.


Bagi masyarakat suku Quraisy waktu itu, mempunyai anak perempuan merupakan sebuah aib. Banyak dari mereka yang mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka, bahkan sebelum sang bayi merasakan udara dunia.


Namun tidak demikian dengan Khuwailid bin Asad. Kehadiran bayi perempuan ditengah keluarganya, disambut dengan sukacita. Khuwailid bin Asad menamai putrinya Siti Khadijah رضي الله عنه. Nama lengkap sang bayi itu adalah Siti Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al Qurasyiyah al Asadiyah.


Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang terpandang dan bergelimang harta, tidak menjadikan Siti Khadijah رضي الله عنه sebagai sosok yang sombong. Justru keistimewaan yang ada pada dirinya membuatnya rendah hati.


Tahun 575 Masehi, ibunda Siti Khadijah meninggal dunia. 10 tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia. Menjadi yatim-piatu beserta harta warisan yang berlimpah bagi sebagian manusia bisa menjadikan diri terlena dan berfoya-foya.


Namun tidak demikian dengan Siti Khadijah رضي الله عنه. Justru kematian kedua orang tuanya membuatnya tumbuh menjadi wanita mandiri. Siti Khadijah رضي الله عنه melanjutkan tradisi keluarganya sebagai pedagang. Tangan dingin Siti Khadijah رضي الله عنه membuat bisnis keluarganya berkembang pesat.

__ADS_1


Cantik, kaya, dan dari keluarga terpandang membuat Siti Khadijah رضي الله عنه menjadi 'Bunga' di Mekkah. Banyak bangsawan dan saudagar kaya berebut ingin meminangnya. Namun yang mampu memenangkan persaingan nan ketat tersebut adalah Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi. Pasangan ini dikarunia dua orang anak yang diberi nama Halah dan Hindun.  Namun sayang, pernikahan itu tidak panjang usianya. Abu Halah meninggal dunia dengan meninggalkan anak dan harta yang banyak untuk Siti Khadijah رضي الله عنه.


Menyandang predikat janda muda nan kaya di kota seperti Mekkah tentu bukan hal yang mudah untuk dijalani bagi seorang Siti Khadijah رضي الله عنه. Namun, kecerdasan dan kepandaiannya dalam bergaul dan memanfaatkan peluang, menjadikan seorang Siti Khadijah رضي الله عنه wanita karier yang cemerlang masa depannya.


Ternyata setangguh apa pun Siti Khadijah رضي الله عنه, ia tetap saja seorang perempuan yang butuh perlindungan seorang laki-laki. Apalagi dengan bisnis yang semakin berkembang pesat, membuat Siti Khidijah رضي الله عنه merasa sudah saatnya untuk memulai lagi biduk rumah tangga. Diantara sekian banyak pinangan yang datang kepadanya, Siti Khadijah رضي الله عنه memutuskan untuk menerima pinangan Atiq bin ‘Aid Al-Makhzumi. Namun, lagi-lagi Allah  ﷻ menguji kekuatan mental Siti Khadijah رضي الله عنه Suami keduanya pun meninggal dunia.


Kembali dalam kesendirian membuat Siti Khadijah رضي الله عنه menjadi wanita yang kuat. Banyak sebenarnya pinangan yang datang kepadanya. Tapi Siti Khadijah رضي الله عنه menolak semua pinangan itu dengan halus. Siti Khadijah memilih untuk berkonsentrasi pada bisnis dan mengurus putra-putrinya.


Membesarkan anak-anak dan mengurus perdagangan sendirian tidaklah mudah. Meskipun tekad kuatnya selalu membara, dalam hatinya ia merasa kesepian. Ia membutuhkan seorang pendamping setelah sekian tahun hidup menjanda.


Sebagai janda kaya yang berperangai luhur, tidak sedikit pemuka kaum Quraisy yang ingin memperistrinya. Mereka menawarkan mas kawin yang tinggi, namun Khadijah رضي الله عنه selalu menolaknya.


Hingga akhirnya ia bermimpi yang sama berulang kali. Suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya, serta memancarkan sinarnya ke semua tempat, hingga seluruh Mekkah bercahaya.


Waraqah berkata, “Takwil dari mimpimu ialah kelak engkau akan menikah dengan seorang Nabi akhir zaman.”


Mendengar itu Khadijah رضي الله عنه sangat bahagia. Ia berharap mimpi itu menjadi kenyataan. Sampai akhirnya ia berjumpa dengan Nabi Muhammad ﷺ.


Suatu hari ketika rombongan kafilah melewati rumahnya, Khadijah رضي الله عنه mencari-cari pemuda tersebut. Ia melihat pemuda itu yang paling bersinar di antara banyaknya kerumunan orang. Seketika, hati Khadijah رضي الله عنه berdebar-debar. Cahaya yang terpancar dari pemuda itu membawa ketenangan dan keteduhan bagi hatinya. Khadijah رضي الله عنه akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada pemuda tersebut. Pemuda yang masih menjadi kerabatnya.

__ADS_1


Khadijah رضي الله عنه begitu memendam perasaannya. Ia tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia merindukan pemuda berawalan huruf 'Mim' itu. Ia begitu senang mendengarkan para pembantunya menceritakan kebaikan Muhammad ﷺ .


Baginya, semua benda yang berawalan 'Mim' membuat hatinya berdesir.


Baginya, setiap pandangan yang ia lihat tertulis 'Mim' di sana.


Baginya, awan di langit melukiskan huruf 'Mim' setiap saat.


Baginya, angin yang menerpa dirinya akan membisikkan kata 'Mim'. Seolah-olah alam semesta begitu mengerti kerinduan Khadijah رضي الله عنه.


Kemudian Khadijah رضي الله عنه ingin menyerahkan urusan perdagangan kepada orang lain. Pembantunya mengusulkan Abu Thalib رضي الله عنه dan keponakannya yang terkenal jujur dalam mengelola perdagangan. Namun, karena alasan sudah tua, akhirnya Abu Thalib رضي الله عنه menyuruh sang keponakan untuk mengambil alih. Dengan perintah tersebut, pemuda yang akhirnya diketahui Khadijah رضي الله عنه sebagai Muhammad ﷺ, pergi ke kediaman Khadijah رضي الله عنه. Kontrak kerja pun terjadi. Muhammad akan menjadi pemimpin kafilah dagangnya menuju Syam.


Sebenarnya hal itu hanyalah siasat dari Khadijah رضي الله عنه untuk mendekati sang pujaan hati.


Kisahnya sudah Author tuliskan di bab sebelumnya ya...


Untuk kelanjutannya akan Author tulis di bab selanjutnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2