7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 5.2


__ADS_3

.


.


.


Saat itu, orang-orang Quraisy yang mengepung rumah Rasulullah ﷺ tetap menunggu hingga waktu yang tepat dan menjelang tiba waktu tersebut, tanda-tanda kegagalan sudah nampak bagi mereka. Seorang laki-laki yang tidak ikut dalam pengepungan tersebut datang dan melihat mereka sedang berada di pintu rumah Nabi ﷺ.


Orang tersebut kemudian menanyai mereka, “Apa gerangan yang kalian tunggu?” Mereka menjawab, “Muhammad.” Dia berkata, “Sungguh telah sia-sia dan merugilah kalian. Demi Allah, dia (muhammad) telah melewati kalian dan menaburkan tanah ke atas kepala kalian, lalu pergi.”


Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak melihatnya!” Mereka bangkit sambil mengusap tanah yang menempel di kepala mereka.


Untuk meyakinkan, mereka mengintip dari arah pintu dan melihat sosok yang mereka sangka Muhammad ﷺ. Mereka pun masih tetap menunggu hingga pagi menjelang. Ali رضي الله عنه bangun dari tempat tidur. Melihat hal ini, mereka menjadi linglung lalu menanyai Ali رضي الله عنه perihal Muhammad ﷺ. Dia menjawab, “Aku tidak mengetahui tentangnya.”


Rasulullah ﷺ meninggalkan rumah beliau pada malam tanggal 27 Shafar tahun 14 kenabian, bertepatan 12 atau 13 September 622 Masehi.


Rasulullah ﷺ telah mengetahui bahwa orang-orang Quraisy akan berupaya keras untuk mencarinya dan jalan yang pertama kali akan disisir oleh mereka adalah jalan utama kota Madinah yang menuju ke arah utara. Oleh karena itu, beliau memilih jalan yang berlawanan arah yaitu jalan yang terletak di selatan Mekkah, yang menuju arah Yaman. Beliau menempuh jalan ini sepanjang 5 mil, hingga akhirnya sampai ke sebuah bukit yang dikenal dengan bukit Tsur atau Jabal Tsur, bukit yang tinggi dan jalannya terjal.


Peristiwa itu terekam dalam Kitab Fatkhul Bari. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad itu kemudian ditetapkan sebagai awal penanggalan Hijriah.


Menurut riwayat para ulama pakar tarikh yang masyhur, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab Ra ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijriah.

__ADS_1


Nabi ﷺ memberitahukan Abu Bakar رضي الله عنه bahwa harus pergi hijrah malam itu dan beliaulah yang ditetapkan sebagai sahabat untuk menyertainya. Dengan ketetapan itu, Abu Bakar رضي الله عنه merasakan kebahagiaan yang luar biasa, bahagia bercampur haru, sehingga air matanya menetes, deras sekali.


Tidak ada yang mengetahui persembunyian Nabi ﷺ di Gua Tsur, kecuali keluarga Abu Bakar yaitu; Abdullah putera beliau, kedua puterinya Asma’ dan ‘Aisyah serta pembantu setianya Amir bin Fuhaira.


Tugas Abdullah sehari-hari berada di tengah-tengah orang Quraisy, untuk menyadap informasi mengenai sikap mereka terhadap Muhammad ﷺ. Amir bertugas menggembalakan ternak milik Abu Bakar, untuk menghapus jejak apabila Abdullah mengirimkan makanan di Gua Tsur, menyiapkan susu dan daging. Asma’ dan ‘Aisyah memasak menyediakan makanan di rumah kemudian diantarkan oleh Abdullah untuk Nabi dan ayahnya.


Untuk mencapai gua, jalan sulit didaki, dan banyak bebatuan. Kondisi ini membuat kaki Rasulullah ﷺ lecet. Ketika tiba di mulut Gua Tsur, Abu Bakar رضي الله عنه berkata, ”Demi Allah, jangan engkau masuk dulu sebelum aku masuk. Jika ada sesuatu di dalamnya, biarlah aku yang mengalaminya saja.”


Kemudian ia memasuki gua dan menyapu dan menemukan beberapa lubang di sisinya. Ia merobek sepotong pakaiannya dan menutup lubang dengan itu. setelah dirasa aman, kemudian ia menyuruh Rasulullah untuk masuk ke dalam gua.


Di dalam gua, mereka sepakat untuk bergantian berjaga. Dalam tidurnya, Nabi Muhammad SAW melabuhkan kepalanya di pangkuan sang sahabat. Kaki Nabi ﷺ terlihat melepuh bengkak, karena Beliau ﷺ berjalan tanpa alas kaki.


Di dalam gua yang dingin dan remang-remang,tiba-tiba seekor ular mendesis keluar dari salah satu lubang yang belum ditutup oleh Abu Bakar رضي الله عنه. ia menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur Rasulullah ﷺ. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan Kekasih Allah  ﷻ itu.


Abu Bakar رضي الله عنه tak kuasa menahan isak tangis ketika rasa sakit itu tak tertahankan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah ﷺ yang tengah berbaring.


Rasulullah ﷺ terusik dan berkata, "Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini?"


"Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun,” jawab Abu Bakar رضي الله عنه


“Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?” bertanya Rasulullah SAW dengan bersahaja.

__ADS_1


“Seekor ular, baru saja menggigit saya, wahai Rasulullah, dan bisanya menjalar begitu cepat ke dalam tubuhku."


Lalu Nabi Muhammad ﷺ berbicara kepada sang ular itu ”Wahai ular Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?” Dialog Rasulullah dengan sang Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar رضي الله عنه, berkat mukjizat Beliau.


“Ya hamba mengerti Ya Rasulullah, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga firdaus,'


Kata sang ular, 'Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,' lanjut sang ular.


Apa kata Allah SWT Tuhan Semesta Alam? 'Silakan pergi ke gua Tsur, tunggu di sana, kekasih-Ku akan datang pada waktunya,’


“Ribuan tahun aku menunggu di sini. Aku digodok oleh kerinduan untuk berjumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin bertemu Engkau, Wahai Rasulullah."


“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah ﷺ, dan sang ular dari gua Tsur pun memandang wajah Nabi Muhammad ﷺ, Kekasih Tuhan Semesta Alam penuh dengan rasa cinta dan rindu yang mendalam.


Selanjutnya tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki Abu Bakar رضي الله عنه, dengan mengagungkan nama Allah  ﷻ Sang pencipta alam semesta, Nabi Muhammad ﷺ mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah  ﷻ , seketika rasa sakit itu hilang tak berbekas.


Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar رضي الله عنه yang beristirahat dan Rasulullah ﷺ berjaga.


Abu Bakar رضي الله عنه menggeleng kuat, ketika Nabi Muhammad ﷺ menawarkan pangkuannya untuk beristirahat. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2