7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 4.6


__ADS_3

.


.


.


Banyak orang di sana merasa bahwa ini adalah hukuman ilahi atas pemboikotan kejam mereka. Kemudian, di bulan Muharram tahun kesepuluh, lima umat non-Muslim di Makkah yang menentang pemboikotan tersebut berkumpul. Mereka memutuskan akan melakukan sesuatu untuk membantu dalam mengakhiri pengepungan.


Hal ini dilakukan karena tidak semua kaum Quraisy menyetujui perjanjian tersebut. Diantara tokoh yang kontra terhadap kesepakatan itu adalah Hisyam bin ‘Amru dari suku Bani ‘Amir bin Lu-ay. Dialah yang secara sembunyi-sembunyi sering menyuplai bahan makanan kepada Bani Hasyim.


Suatu saat Hisyam menemui Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumiy yang merupakan anak dari ‘Atikah binti ‘Abdul Muththalib, untuk mengajaknya melakukan upaya pembatalan pemboikotan. Ditemuinya pula Muth’im bin ‘Adiy yang menyepakati pula hal itu, namun ia meminta tambahan orang, maka Hisyam menemui Abu al-Bukhturiy bin Hisyam. Ia pun meminta tambahan orang, maka Hisyam menemui Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad dan mengajaknya pula untuk melakukan pembatalan pemboikotan. Mereka semua kemudian bersepakat untuk berkumpul esok hari di pintu Hujun dan berjanji akan melakukan pembatalan terhadap shahifah.


Ketika paginya, mereka pergi ke tempat perkumpulan. Zuhair datang dengan mengenakan pakaian kebesaran lalu mengelilingi ka’bah tujuh kali kemudian menghadap ke khalayak seraya berkata, “Wahai penduduk Mekkah! Apakah kita tega bisa menikmati makanan dan memakai pakaian sementara Bani Hasyim binasa; tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah! aku tidak akan duduk hingga shahifah yang telah memutuskan rahim dan zhalim ini dirobek!”.


Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut, “Demi Allah! engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!”.

__ADS_1


Lalu Zam’ah bin al-Aswad memotongnya, ”Demi Allah! justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu”.


Setelah itu, Abu al-Bukhturiy menimpali, “Benar apa yang dikatakan Zam’ah ini, kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya”.


Berikutnya, giliran al-Muth’im yang menambahkan: “Mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis didalamnya”.


Hal ini juga diikuti oleh Hisyam bin ‘Amru yang menimpali seperti itu pula.


Abu Jahal kemudian berkata dengan kesal, ”Urusan ini telah diputuskan di tempat selain ini pada malam dimusyawarahkannya saat itu!”


Saat itu Abu Thalib tengah duduk di sudut Masjidil Haram. Dia datang ke tempat itu atas dasar pemberitahuan Rasulullah ﷺ kepadanya bahwa Allah  ﷻ telah mengirim rayap-rayap untuk memakan semua tulisan shahifah yang berisi pemboikotan kecuali tulisan nama Allah  ﷻ di dalamnya.


Orang-orang Quraisy berkata kepadanya, “Kalau begitu, engkau telah berbuat benar”.


Apa yang disampaikan Abu Thalib itu didengar orang-orang dan juga Abu Jahal serta para pemimpin Makkah pun setuju dengan kesepakatan itu. Lalu Al-Muth’im bangkit menghampiri piagam dan siap merobeknya.

__ADS_1


Dia melihat rayap-rayap telah memakan isinya, kecuali penggalan tulisan “Bismika Allahuma” (dengan asma-Mu ya Allah), dan setiap bagian yang ada kata “Allah” juga tidak termakan rayap.


Sungguh, kaum musyrikun telah melihat tanda yang agung sebagai bagian dari tanda-tanda kenabian Beliau ﷺ, akan tetapi mereka tetaplah sebagai yang difirmankan oleh Allah  ﷻ ,


وَاِنْ يَّرَوْا اٰيَةً يُّعْرِضُوْا وَيَقُوْلُوْا سِحْرٌ مُّسْتَمِرٌّ


“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”(QS. Qamar:2)


Mereka berpaling dari ayat ini, mengingkari kebesaran Allah  ﷻ dan kekufuran mereka semakin menjadi-jadi.


Dan boikotpun dinyatakan berakhir dan kaum Muslim kembali ke rumah mereka di Mekkah. Setelah cobaan yang panjang dan menantang ini, beberapa kembali dengan kesehatan yang sangat buruk. Termasuk istri Nabi Khadijah رضي الله عنه dan pamannya Abu Thalib رضي الله عنه, yang saat itu berusia sekitar 80 tahun. Mereka berdua meninggal tak lama setelah pengepungan berakhir.


Demikianlah kisah pemboikotan Nabi Muhammad ﷺ dan umat Islam selama di Mekkah. Semoga peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi kita semua.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2