
.
.
.
Menjelang Wafat
Sebelum lanjut pada kisah wafatnya Sayyidah Khadijah di bulan Ramadhan, ada baiknya mengenal lebih dulu siapa itu Khadijah. Khadijah adalah sosok wanita yang tidak akan pernah tergantikan di hati Rasulullah ﷺ. Ia adalah wanita yang paling pertama mendampingi Rasul di saat banyak orang meragukan bahkan mencacinya. Qatadah, Az-Zuhri, ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, Ibnu Ishaq menyatakan, “Khadijah adalah orang yang pertama beriman kepada Allah dari laki-laki maupun perempuan dan tidak ada yang menyatakan selain itu.”
Ibnul Atsir menyatakan, “Khadijah adalah yang Allah tetapkan masuk Islam pertama kali, tidak ada laki-laki maupun perempuan yang mendahuluinya.” (Dinukil dari Ummahat Al-Mukminin, hlm. 174).
Imam Adz-Dzahabi menyatakan pula, “Khadijah Ummul Mukminin adalah orang yang pertama kali beriman pada (ajaran) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membenarkannya sebelum yang lainnya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 2:109)
Khadijah adalah istri yang paling mulia dan dicintai Rasul. Rasul sangat menyanjung kemuliaan Khadijah hingga membuat istrinya yang lain merasa cemburu. Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ – قَالَتْ – فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ « مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ »
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”
Nabi ﷺ lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad, 6:117. Syaikh Syuaib Al-Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih.)
__ADS_1
Sebagaimana diuraikan Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal dalam Khadijah (2014), "Sayyidah Khadijah hanya berdzikir kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya, mengharapkan ridha dan rahmat-Nya, serta mengosongkan hatinya dari segala sesuatu yang berbau duniawi. Sementara Nabi Muhammad dengan setia dan penuh kasih sayang mengunggui belahan hatinya tersebut yang tengah terbaring sakit. Tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut beliau kecuali doa kebaikan untuk Sayyidah Khadijah.
"Ketika ajal Sayyidah Khadijah sudah dekat, orang-orang terdekat, keluarga, dan kerabatnya hadir untuk meringankan pertemuannya dengan Allah.
"Beberapa saat sebelum meninggal, perempuan pertama yang mengakui kenabian Muhammad itu menyampaikan permintaan terakhirnya. 'Ya Rasulullah Aku memohon maaf kepadamu, jika selama menjadi istrimu aku belum berbakti kepadamu,' kata Khadijah رضي الله عنه seperti dikutip Tim Hikmah detikcom dari Kitab Al-Busyro fi manaqib sayyidati khodijah Al Kubro halaman 16.
"Mendengar perkataan sang istri, Rasulullah menjawab, 'Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dakwah Islam sepenuhnya.'"
Detik-detik saat Khadijah رضي الله عنه merasa ajalnya semakin dekat, wanita mulia itu memanggil Fathimah Az-zahra رضي الله عنه dan berbisik, “Fathimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.”
Mendengar permintaan terakhir Khadijah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ menjawab,"Wahai Khadijah, Allah ﷻ menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga."
Melihat air mata Rasulullah ﷺ turun, ikut menangis pula semua orang yang ada di situ. Saat itu, Malaikat Jibril AS. turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril AS. dan kemudian bertanya. “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fathimah, Ali, dan Hasan,”. Kemudian Jibril berhenti berkata dan menangis.
Rasulullah bertanya, "Kenapa Ya Jibril?" “Cucumu yang satu, Husain (Putra Sayyidina Ali) tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” sahut Jibril.
Rasulullah ﷺ berkata di dekat jasad Khadijah. "Wahai Khadijah, istriku sayang, demi Allah, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Maha Mengetahui semua amalanmu.
"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?”
__ADS_1
Tersedu Rasulullah ﷺ mengenang istrinya semasa hidup. Seluruh kekayan Khadijah رضي الله عنه diserahkan kepada Rasulullah ﷺ untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah رضي الله عنه. Tetapi ketika Khadijah رضي الله عنه hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah رضي الله عنه. Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah رضي الله عنه ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.
Rasulullah ﷺ kemudian berdoa kepada Allah ﷻ .
“Ya Allah, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijah, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?"
Tiba-tiba Sayyidina Ali berkata,
“Aku, Ya Rasulullah!”
Sang Ummul Mukminin itu meninggal dunia saat berusia 65 tahun.Menjelang usianya yang ke 65 tahun, atau tiga tahun sebelum hijrah Nabi, Khadijah رضي الله عنه menutup mata menghadap Rabbnya. KematianKhadijah رضي الله عنه membuat Rasulullah bersedih. Telah pergi teman sejatinya dalam hidup untuk menemui Rabb. Rasulullah ﷺ menyebut tahun meninggalnya Siti Khadijah رضي الله عنه sebagai “Tahun dukacita”.
Demikianlah kisah wafatnya Ummul Mukminin Khadijah رضي الله عنه di bulan Ramadhan. Ummul Mukminin Khadijah رضي الله عنه adalah wanita mulia di surga yang telah ditetapkan langsung oleh Allah ﷻ . Semoga kita semua dapat meneladani kemuliaan Ummul Mukminin Khadijah رضي الله عنه.
Aamiin ya Rabbal alamin....
.
.
.
__ADS_1