
Beberapa peristiwa lain yang dialami Nabi Muhammad ﷺ adalah berikut.
* Melihat jin Ifrit yang mengikuti Nabi ﷺ dengan membawa obor.
Sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu Mas‘ud, pada malam itu, Nabi ﷺ didatangi jin Ifrit yang membawa obor api di tangannya. Ada pula yang berpendapat bahwa Nabi ﷺ didatangi jin Ifrit pada malam isra-mi’raj kala itu, Beliau ﷺ kemudian membaca ayat-ayat Al-Quran. Namun, tak ada reaksi apa-apa kecuali jin itu semakin mendekat. Maka malaikat Jibril AS. menawarkan kepadanya, “Maukah jika aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang jika engkau membacanya, maka ia akan jatuh tersungkur dan obornya akan mati?” (HR. Malik, an-Nasa’i, ath-Thabrani, dan yang lain).
Kemudian malaikat mengajarkan beberapa kalimat. Setelah Nabi ﷺ membacanya, jin Ifrit itu langsung tersungkur dan obornya pun padam. Berikut adalah doa yang diajarkan malaikat Jibril AS. kepada Nabi ﷺ untuk mengusir jin tersebut.
أَعُوذُ بِوَجْهِ اللَّهِ الْكَرِيمِ، وَبِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا. وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ طَوَارِقِ اللَّيْلِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ.
A‘ûdzu biwajhillâhil karîm, wabikalimâtillâhit-tâmmâtil-latî lâ yujâwizuhunnâ barrun wa fâjirun, min syarri mâ yanzilu minas-samâ’i, wa min syarri ma ya‘ruju fîhâ, wa min syarri mâ dzara’a fil-ardhi, wamin syarri ma yakhruju minhâ, wa min syarri fitanil-laili wan-nahâri, wamin syarri thawâriqil-laili, wamin syarri kulli thârinin illâ thâriqan yathruqu bi khairin, yâ rahmân.
Artinya: Aku berlindung dengan dzat Allah yang maha mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampuainya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit, dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi, dari keburukan fitnah-fitnah siang dan malam, dari keburukan petaka-petaka malam, dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai Zat yang maha penyayang. Demikian ijazah doa pengusir jin dari malaikat Jibril AS. kepada Rasulullah ﷺ Semoga kita mendapatkan berkah doa ini, terutama tatkala menghadapi gangguan jin.
* Nabi ﷺ kemudian melintasi sekelompok yang bercocok tanam, lantas langsung memanen hasilnya. Ini adalah gambaran umat yang berjihad fi sabilillah.
* Nabi ﷺ kemudian mencium aroma harum Masyitoh, yang memegang teguh keyakinannya kepada Allah ﷻ , meski ia dan anak-anaknya dihukum dengan dimasukkan ke dalam panci raksasa oleh Fir'aun.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa ketika Nabi ﷺ menjalani Isra melewati suatu tempat yang baunya sangat harum. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, "Bau harum apakah ini?" Jibril menjawab, "Masyitoh binti Fir'aun dan anak-anaknya."
Siti Masyitoh merupakan pembantu Raja Fir'aun pada masa Nabi Musa AS. Siti Masyitoh bertugas merawat putri Fir'aun.
Di kalangan Istana Raja Fir'aun, ternyata ada beberapa pengikut Nabi Musa AS. dan beriman kepada Allah ﷻ . Selain Masyitoh, juga ada Siti Asiyah yang tidak lain istri Raja Fir'aun.
Jibril AS. melanjutkan kisahnya, bahwa Pada suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir'aun. Tak disangka, sisir tersebut terjatuh dari tangannya, maka Masyitoh pun mengambilnya sambil mengucapkan Bismillah, "Dengan menyebut asma Allah."
__ADS_1
Ucapan Siti Masyitoh itu kemudian terdengar anak perempuan Fir'aun dan bertanya, "Sebutlah nama ayahku."
Masyitah berkata, "Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan ayahmu adalah Dia."
Anak perempuan Fir'aun bertanya, "Apakah ada Tuhan selain ayahku?" Masyitoh berkata, "Benar. Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan ayahmu adalah Allah."
Mendengarnya, sang putri pun segera beranjak dari tempat duduknya menuju kediaman sang ayah. Ia segera melaporkan apa yang baru saja didengarnya dari lisan Masyithah. Sementara Masyithah mengabarkan kepada keluarganya untuk bersiap diri mendapat hukuman Fir'aun.
Fir'aun marah bukan kepalang ketika mendengar kabar dari sang putri. Ia pun segera memanggil Masyithah ke hadapannya. Tanpa keraguan, Masyithah pun pergi memenuhi panggilan raja.
"Apa kau meyembah sesuatu selain aku?" tanya Fir'aun dengan suara menggelegar, seluruh istana dibuat takut dengan amarahnya. Namun tanpa gentar, Masyithah menjawab ringan, "Ya, saya menyembah Allah. Allah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan segala sesuatu," kata Masyithah.
Geram, Fir'aun pun menyuruh pengawalnya untuk mengikat Masyithah kemudian menaruh seekor ular besar di hadapannya. Namun, Masyithah tak bergidik. Bertambah marahlah emosi Fir'aun. Ia pun segera memanggil tangan kanannya, Hamman, untuk mengeksekusi mati keluarga Masyithah.
Hamman kemudian segera mengumpulkan beberapa pengawal untuk menangkap Masyithah dan keluarganya. Ia pun kemudian memerintahkan pengawal lain untuk membuat lubang besar untuk diisi air panas layaknya kawah bara dari gunung api. Ia bermaksud merebus hingga mati Masyithah dan keluarganya.
Mereka melihat kubangan besar berisi air mendidih yang siap melepuhkan tubuh mereka. Namun, hati mereka tak gentar dengan siksaan dari seorang manusia. Mereka memilih beriman kepada Allah, Tuhan seluruh manusia.
Sebelum dilempar ke air mendidih, mereka ditanya oleh Hamman apakah masih akan terus mengimani Allah dan enggan menuhankan Fir'aun. Namun, jawaban mereka selalu sama acap kali ditanya, "Allah adalah Tuhanku, Tuhan Fir'aun, dan Tuhan seluruh alam. Kami akan terus beriman kepada Allah sekalipun harus terjun ke kawah mendidih".
Maka, bulatlah keputusan Hamman untuk memasak mereka hidup-hidup dalam kubangan air yang mendidih. Suami Masyitahlah yang pertama kali mendapat giliran. Tubuhnya langsung dilalap air yang mendidih, tinggal seonggok daging gosong tak bernyawa. Melihat eksekusi keji tersebut, Hamman terbahak-bahak dan terus menghina orang-orang yang beriman kepada Allah.
Masyithah terus di atas ketegarannya mengimani Allah. Setelah sang suami, giliran anak-anaknya. Satu per satu, mereka dipaksa masuk ke air mendidih yang apinya menjilat-jilat. Semuanya dilakukan di hadapan Masyithah. Hingga tinggallah tersisa Masyithah dan seorang anaknya yang masih bayi. Ia menggendong bayi itu erat-erat. Hatinya masih tegar diatas agama Allah. Maka, diseretlah ia dan bayinya mendekati air yang teramat panas itu.
Ketika hampir memasuki kubangan air, tiba-tiba syetan membisikkan keraguan di dalam hatinya. Keraguan dengan merasa sedih dan kasihan pada sang bayi yang belum sempat tumbuh dewasa melihat dunia, bayi yang baru lahir tanpa dosa.
__ADS_1
Masyithah pun menghentikan langkahnya menuju ajal, ia terus saja memandangi bayinya yang merah dengan perasaan sedih yang mendalam. Melihatnya, Hamman sempat berpikir Masyithah akan mencabut kata-katanya dan akan kembali menuhankan Fir'aun. Ia pun girang karena merasa ancamannya pada Masyithah berhasil.
Anehnya anak Masyitoh ini dapat berbicara padahal masih bayi. Kuasa Allah SWT itu membuat hati Siti Masyitoh kembali mantap dan yakin dengan imannya.
Saat itu, bayi Siti Masyitoh mengatakan, "Hai ibuku, ceburkanlah dirimu ke dalamnya. Janganlah takut, karena sesungguhnya engkau berada dalam jalan yang benar."
_Nabi SAW bersabda, "Ada empat orang bayi yang masih dalam buaian dapat berbicara, yaitu anak Masyitah, saksi Nabi Yusuf, teman Juraij dan Isa putra Maryam a.s."_
Setelah anaknya diceburkan ke kuali besar oleh pengawal Raja Fir'aun, giliran Siti Masyitoh yang diceburkan.
Masyitoh berkata, "Saya mempunyai sebuah permintaan kepadamu." Fir'aun berkata, "Sebutlah permintaanmu."
Masyitah berkata, "Kamu kumpulkan tulang-tulangku dengan tulang-tulang anakku di suatu tempat."
Fir'aun menjawab, "Baiklah, saya turuti permintaanmu, mengingat kamu mempunyai hak pada kami."
Tanpa ragu, Siti Masyitoh pun masuk dalam kuali yang mendidih.
Siti Masyitoh dan anak-anaknya pun mati dalam keadaan syahid. Harum semerbak menyeruak dari dalam kuali yang mendidih itu.
Setelah itu, Fir'aun memenuhi permintaan Siti Masyitoh dengan mengumpulkan tulang belulang mereka dan dikuburkan dalam suatu tempat.
Kisah Masyithah disebut dalam sebagian hadist Rasulullah ﷺ tentang Isra mi'raj yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Thabrani. Hadis tersebut datang dari Hammad bin Salamah dari Atha' bin Saib. Dalam perjalanan Isra Mi'raj ke Masjidil al-Aqsa, Rasulullah ﷺ melewati sebuah daerah yang aromanya sangat harum semerbak seperti harum kasturi.
.
__ADS_1
.
.