
.
.
.
Sebelum Abu Thalib (Paman Nabi Muhammad ﷺ) meninggal,
Kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap umat Islam karena semakin banyak pemuka-pemuka Quraisy yang masuk ke agama Islam. Diantaranya adalah Umar bin Khattab رضي الله عنه dan Hamzah bin Abdul Mutthalib رضي الله عنه yang tidak lain adalah paman Beliau ﷺ.
Umar bin Khattab
Sosok Umar bin Khattab رضي الله عنه sebelum masuk islam adalah seorang pemuda yang mandiri dan pemberani. Ketika Umar رضي الله عنه masih kanak-kanak, ia sudah diberi tanggung jawab oleh orang tuanya untuk memelihara domba dan unta, sebagaimana orang Quraisy pada umumnya. Umar ikut orang tuanya berdagang ke luar negeri.
Ketika Umar رضي الله عنه menginjak dewasa, ia sudah teruji keberaniannya. Dia pernah menjadi pemenang pacuan kuda di lapangan pasar Ukaz dan banyak lagi lomba-lomba yang pernah diikutinya. Umar رضي الله عنه memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki anak lainnya. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, ia sering menjadi duta dalam setiap peristiwa penting dengan suku-suku lain di tanah Arab.
Tak hanya itu saja, berkat keberaniannya Umar رضي الله عنه sangat disegani di suku-suku Arab. Berbagai suku di Arab bahkan memberi julukan kepada Umar sebagai 'Singa Padang Pasir'. Umar رضي الله عنه juga diberi gelar atau julukan 'Al Faruq' karena tegas dalam memisahkan antara kebenaran dan kebatinan.
Karena keberanian dan kecerdikan Umar رضي الله عنه itulah Rasulullah berdoa untuknya, "Ya Allah kuatkanlah agama Islam dengan salah satu dari dua Umar (Umar bin Khattab dan Amru bin Hisyam/Abu Jahal)".
Umar bin Khattab رضي الله عنه dikenal sebagai sosok yang temperamental dan jago gulat. Pasar Ukaz menjadi saksi ketangguhannya kala itu. Sifatnya berubah tatkala ia memeluk Islam pada bulan Dzulhijjah tahun 6 kenabian.
__ADS_1
Umar bin Khattab رضي الله عنه termasuk orang yang menentang ajaran Rasulullah ﷺ.
Diceritakan dalam buku Kisah Hidup Umar ibn Khattab رضي الله عنه oleh Mustafa Murrad, saat Rasulullah ﷺ mengumumkan misi kenabiannya, Umar saat itu tengah berusia 27 tahun. Sebagaimana para pembesar Quraisy lainnya, Umar رضي الله عنه menganggap seruan kenabian sebagai kegilaan yang menentang kepercayaan nenek moyang.
Sehingga tidak heran jika pada masa awal dakwah Rasulullah ﷺ, Umar رضي الله عنه sangat membenci dan memusuhinya serta para pengikutnya.
Pada suatu ketika, Umar رضي الله عنه berpapasan dengan Nu'aim bin Abdullah saat dalam perjalanan ingin membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Nu'aim yang melihat kerut dan muram di wajah Umar رضي الله عنه kemudian bertanya, "Ada apa denganmu, Umar?"
"Aku mencari dan menginginkan Muhammad, lelaki yang mencerai-beraikan keturunan Quraisy, yang meruntuhkan impian mereka, menghilangkan agama leluhur merena, menyerapahi tuhan-tuhan sesembahan mereka. Aku akan membunuh Muhammad," jawab Umar رضي الله عنه geram.
"Demi Allah, nafsumu telah menipu dirimu sendiri. Tidakkah kau melihat bahwa anak cucu Bani Manaf tidak akan meninggalkanmu begitu saja. Mereka masih ada di atas bumi ini. Lalu kau akan membunuh Muhammad, salah seorang cucu Bani Manaf itu? Tidakkah kau melihat sanak keluargamu sendiri dan kepada merekalah seharusnya kau tegakkan perkaramu itu?"
Mendengar hal itu Umar رضي الله عنه lantas berkata, "Siapa kau maksud dari sanak keluargaku?"
"Anak pamanmu, Sa'd bin Zaid dan saudari kandungmu, Fathimah. Demi Allah, keduanya telah memeluk Islam dan mengikuti ajaran agama yang dibawa Muhammad. Temuilah keduanya," seru Nu'aim.
Begitu sampai di rumah, ia mendapati Fathimah bersama Sa'd dan Khabbab bin al-Art tengah membaca lembaran-lembaran Al-Qur'an. Khabbab sedang membacakan surah Thaha di hadapan keduanya.
Mengetahui Umar رضي الله عنه datang, Khabbab lantas bersembunyi ke samping rumah. Fathimah pun bergegas menyembunyikan lembaran-lembaran suci itu di bawah pahanya.
Umar رضي الله عنه yang sempat mendengar lantunan ayat yang dibaca Khabbab lantas bertanya, "Suara apa yang baru saja aku dengar?"
"Kami tidak mendengar apa-apa," jawab keduanya.
"Tidak, aku mendengarnya. Jangan sembunyikan apapun dariku. Demi Tuhan, akau mendengar kabar jika kalian berdua telah mengikuti ajaran Muhammad dan mengingkari ajaran leluhur kita," ucap Umar رضي الله عنه.
__ADS_1
Umar رضي الله عنه lalu mendekati Sa'd bin Zaid yang juga suami adiknya itu dan memukulnya hingga terpelanting. Fathimah yang saat itu melihatnya kemudian berdiri melindungi dan memeluk suaminya. Umar lantas memukul adiknya sampai bersimpah darah.
"Ya! Kami berdua telah memeluk agama Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Umar, lakukan saja apa yang kau mau. Islam tetap tidak akan pernah lepas dari hati kami," tegas Fathimah.
Umar رضي الله عنه lalu tertegun mendengar kata-kata Fathimah. Ketika melihat darah bercucuran dari tubuh adiknya itu, ia menyesali perbuatannya dan menahan amarahnya. Ia kemudian meminta lembaran-lembaran Al-Qur'an yang dibaca Fathimah dan suaminya.
Fathimah sempat menolak untuk memberikan lembaran tersebut karena khawatir akan dihancurkan oleh kakaknya. Kemudian, Umar رضي الله عنه pun berjanji tidak akan merusak dan akan mengembalikannya begitu selesai membacanya.
Ketika Umar رضي الله عنه hendak mengambil dan membaca lembaran itu, Fathimah berkata, "Saudaraku! Engkau dalam keadaan tidak suci atas kemusyrikan dan kekafiranmu. Dan tidaklah menyentuh lembaran itu kecuali orang-orang yang tersucikan."
Umar رضي الله عنه lantas mandi besar dan mengambil lembaran Al-Qur'an lalu membaca surah Thaha. "Alangkah eloknya kalimat-kalimat ini, betapa mulianya ajaran-ajaran yang dikandungnya. Sungguh tak ada manusia yang mampu membuat kalam seindah ini," tutur Umar رضي الله عنه yang cakap dalam sastra Arab ini.
Mendengar perkataan Umar رضي الله عنه tersebut, Khabbab yang semula bersembunyi lalu keluar dan berkata, "Demi Allah, wahai Umar, sesungguhnya aku sangat berharap engkaulah lelaki yang dimaksud dalam doa Rasulullah. Kemarin aku mendengar Muhammad berdoa, 'Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua lelaki ini, al-Umar al-Hakam ibn Hisyam atau Umar ibn Khattab.'"
Umar رضي الله عنه yang mendengar ucapan Khabbab itu lantas bergegas ingin menemui Rasulullah ﷺ dan memeluk Islam di hadapannya. Tak lupa ia mengambil pedangnya dan menyarungkannya.
Pada waktu itu, Rasulullah ﷺ tengah berada di rumah pengungsian Arqam (Bait al-Arqam) di Bukit Shafa bersama Hamzah رضي الله عنه, Abu Bakar رضي الله عنه, Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, dan beberapa sahabat.
Betapa terkejutnya Hamzah رضي الله عنه melihat dari celah pintu ada Umar رضي الله عنه yang sedang berdiri menjinjing pedangnya. Hamzah رضي الله عنه lantas mengatakannya kepada Rasulullah ﷺ.
"Izinkanlah dia masuk. Bila bermaksud baik, kita akan menyambutnya. Bila bermaksud buruk, kita akan memenggalnya dengan pedangnya sendiri," kata Rasulullah ﷺ saat itu.
.
.
__ADS_1
.