7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 3.2


__ADS_3

.


.


.


Suatu hari Khadijah رضي الله عنه merasa pesimis, apa mungkin pemuda tersebut mau menikahinya? Mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40 tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena Khadijah sendiri telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang sebelumnya telah gigih melamarnya.


Maka di saat ia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya itu, tiba-tiba muncullah seorang temannya bernama Nafisah binti Munabbih.


Selanjutnya ia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembunyikan oleh Khadijah رضي الله عنه tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya.


Nafisah layaknya konselor mencoba membesarkan hati Khadijah رضي الله عنه dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya


Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah رضي الله عنه, ia langsung menemui Muhammad ﷺ hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya seorang Nafisah melempar dadu cinta kepada lelaki terpercaya itu.


Khadijah رضي الله عنه tak langsung menemui Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang bermartabat. Nafisahlah yang kemudian menemui Nabi Muhammad ﷺ dan menceritakan perasaan kepada Beliau ﷺ.


"Wahai Muhammad, sekarang engkau telah mejadi pemuda terhormat, terpandang dan dewasa, namun mengapa engkau belum juga menikah?"


"Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah.


“Wahai Muhammad, aku Nafisah binti Munyah. Aku datang membawa berita tentang seorang perempuan agung, suci, dan mulia. Ia wanita yang sempurna, sangat cocok denganmu. Kalau kau mau, aku bisa menyebut namamu di sisinya,” kata Nafisah kepada Muhammad, dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018).


Kala itu Nabi tak langsung menjawab lantaran masih menimbang.

__ADS_1


“Siapa wanita itu?”


Sontak Nafisah binti Muniyah menjawab: “Siti Khadijah binti Khuwailid.”


“Aku bersedia jika dia bersedia.” Jawab Beliau ﷺ.


Tidak menunggu lama, Nafisah binti Muniyah mendatangi Siti Khadijah رضي الله عنه untuk mengabarkan berita gembira tersebut.


Begitupun dengan Nabi Muhammad ﷺ. Beliau ﷺ segera menemui pamannya, Abu Thalib untukرضي الله عنه menyampaikan niatnya meminang Siti Khadijah رضي الله عنه. Mendengar ungkapan dari keponakannya, Abu Thalib رضي الله عنه menyetujuinya. Abu Thalib رضي الله عنه, Hamzah رضي الله عنه, dan keluarga yang lainnya kemudian pergi menuju kediaman Amr bin Asad selaku paman dan wali Siti Khadijah رضي الله عنه untuk meminang Siti Khadijah رضي الله عنه.


Dengan maskawin 20 ekor unta muda, Nabi Muhammad ﷺ menikahi Siti Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنه. Wali dari Siti Khadijah diwakili oleh pamannya yang bernama Amr bin Asad, sedang dari pihak Nabi Muhammad ﷺ oleh Abu Thalib رضي الله عنه dan Hamzah رضي الله عنه. Perbedaan usia yang cukup jauh (sekitar 15 tahun), serta kesenjangan ekonomi  yang lebar antara mereka berdua  tidak menghalangi Nabi Muhammad ﷺ dan Siti Khadijah رضي الله عنه membangun rumah tangga yang penuh berkah.


Imam Ja’far ash-Shadiq mengatakan, “Manakala Nabi Muhammad ﷺ hendak menikahi Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنه, Abu Thalib رضي الله عنه dengan rombongan keluarganya bersama-sama mendatangi Waraqah bin Naufal, paman Khadijah. 


Sesudah bertemu dan berbicara sedikit, Abu Thalib رضي الله عنه menyampaikan kata-kata lamaran, "Al-hamdu li rabb hadza al-bait (segala puji bagi pemilik rumah ini) yang telah menjadikan kita sebagai keturunan Ibrahim AS. dan keluarga besar Ismail AS. 


“Kemudian, laki-laki anak saudara saya ini (Muhammad) adalah pemuda Quraisy yang terkemuka dan sangat dikenal kebaikannya. Tidak ada seorang pun yang bisa menyamai kebesarannya. Tidak pula ada seseorang yang lebih adil darinya, meskipun ia seorang miskin yang tidak punya harta, yakni sesuatu yang pada saatnya akan hilang, suatu naungan yang lenyap. 


"Anak muda ini tertarik pada Khadijah sebagaimana Khadijah juga tertarik kepadanya. Kami datang kepadamu untuk melamar/meminang ia (Khadijah) dengan persetujuan dan atas perintahnya.


"Mas Kawinnya aku yang akan menanggung dengan uangku sendiri, sebanyak yang kalian minta, baik tunai maupun tempo. Dan, ia (Muhammad) anak yang hebat, berakhlak mulia, cerdas dan jenius.”


Sesudah Abu Thalib رضي الله عنه menyampaikan kalimat lamaran itu, paman Khadijah (seorang pendeta) menyambut dengan ucapan terbata-bata. Ia menjawab dengan singkat dan mengulang-ulang. Khadijah رضي الله عنه kemudian menyela dengan mengatakan:


يا عَمَّاه، إنّك وَإنْ كُنتَ أَوْلَى بِنَفْسِى مِنِّى في الشُّهُوْدِ، فَلَسْتَ أَوْلَى بِي مِنْ نَفْسى، قَدْ زَوَّجْتُكَ يا محمد نَفْسِى، والمَهْرُ عَلَيَّ في مالي، فَأْمُرْ عَمَّكَ فَلْيَنْهَرْ نَاقَةً فَلْيُولِمْ بِهاَ، وادْخُل على أهْلكَ

__ADS_1


“Pamanku meskipun engkau lebih utama dariku untuk menyampaikan kesaksian ini, tetapi engkau tidak lebih utama dariku untuk kepentingan diriku sendiri. Muhammad, aku menikahkan diriku denganmu.


"Maskawinnya dariku sendiri. Suruhlah pamanmu untuk menyembelih Unta lalu walimah tasyakkuran, dan masuklah kepada keluargamu.”


Abu Thalib mengatakan, “Saudara-saudara sekalian, saksikanlah! Ia (Khadijah) telah menerima pinangan Muhammad, dan ia yang memberikan mahar dari hartanya sendiri.” 


Sebagian orang Quraisy yang hadir dan menyaksikan acara ini mengatakan, “Wah, ini aneh sekali, mahar/maskawin, kok, dari perempuan, dari harta sendiri.”


Mendengar ucapan tersebut, Abu Thalib رضي الله عنه geram. Lalu ia mengatakan, “Jika mereka seperti keponakanku ini, laki-laki akan diminta mahar yang tinggi. Jika seperti kalian, niscaya kalian tidak akan menikahkannya kecuali dengan mas kawin yang tinggi, mahal.”


Sesudah itu, Abu Thalib رضي الله عنه kemudian menyembelih onta untuk walimah. Dan Rasulullah ﷺ masuk kamar bersama istrinya, Khadijah رضي الله عنه.


Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa salah satu maskawinnya ialah 20 unta betina dan 40 ekor kambing.


Pada hari itu, Abu Thalib رضي الله عنه mengucapkan kutbahnya yang terkenal sebagaimana berikut.


“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai anak cucu Ibrahim keturunan Ismail berasal dari Ma’ad, dan lahir dari kalangan Mudhar. Dia telah menjadikan kita sebagai pengurus Bait-Nya (Ka’bah) dan pelindung tanah sucinya. Dan dia telah menjadikan untuk kita Ka’bah yang diziarahi dan tanah suci yang aman, serta Dia pulalah yang menjadikan kita sebagai pemimpin manusia.


"Kemudian sesungguhnya keponakanku ini, Muhammad ibn Abdillah tiada seorang pun yang dapat mengimbanginya dalam hal kehormatan, kemuliaan, dan keutamaannya. Bila dalam hal harta benda, tidak banyak yang dimilikinya, maka sesungguhnya harta itu adalah bayangan yang pasti lenyap karena ia merupakan penghambat dan pinjaman yang pasti dikembalikan.


"Dia, demi Allah, sesudah peristiwa ini memiliki berita yang besar dan kedudukan yang agung. Dan dia telah datang kepada kalian untuk melamar putri kalian Khadijah, dan dia telah memberikan maskawin untuknya sebanyak demikian itu.”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2