
.
.
.
Kita kembali lagi ke masa kecil Rasulullah ﷺ Readers...
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya yang berjudul Sejarah Hidup Muhamad diceritakan oleh Ummu Aiman, Beliau ﷺ dibawa pulang ke Makkah. Beliau ﷺ pulang dengan dengan tangis dan hati yang pilu. Beliau ﷺ merasakan hidup yang makin sunyi.
Kakek Abdul Mutthalib رضي الله عنه memang sangat mencintainya. Tetapi walaupun begitu, kesedihan sebagai anak Yatim Piatu itu bekasnya masih sangat mendalam dalam jiwanya sehingga di dalam Qur'an pun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi ﷺ akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu:
اَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيۡمًا فَاٰوٰى
وَوَجَدَكَ ضَآ لًّا فَهَدٰى
"Bukankah engkau dalam keadaan Yatim Piatu? Lalu diadakan-Nya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkan-Nya jalan itu?" (Qur'an, 93: 6-7)
Perasaan kasih sayang di dalam sanubari terhadap cucunya yang kini Yatim Piatu semakin terpupuk, cucunya yang harus menghadapi cobaan yang baru di atas luka lamanya.
Hatinya bergetar oleh perasaan kasih sayang yang tak pernah dirasakannya, sekalipun terhadap anak-anaknya sendiri. Ia tidak ingin cucunya hidup sebatang kara. Bahkan ia lebih mengutamakan cucunya dari pada anak-anaknya.
Ibnu Hasyim berkata, "Ada sebuah dipan yang diletakkan di dekat ka'bah untuk Abdul Muthalib. Kerabat-kerabatnya biasa duduk di pinggiran dipan itu, ketika Abdul Muthalib keluar ke suatu tempat, tak seorang pun diantara mereka yang berani duduk di dipan itu, sebagai penghormatan terhadap dirinya.
"Suatu hari ketika Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam masih menjadi seorang anak kecil yang montok, Beliau duduk di atas dipan itu. Tapi paman-paman Beliau langsung memegang dan menahan agar Beliau ﷺ tidak dapat duduk di dipan tersebut.
"Tatkala Abdul Mutthalib melihat kejadian ini, ia berkata, 'Biarkanlah anakku ini. Demi Allah, sesungguhnya dia akan menduduki kedudukan yang agung.'
"Kemudian Abdul Mutthalib duduk bersama Beliau di atas dipannya sambil mengelus punggung Beliau dan senantiasa merasa gembira terhadap apa pun yang Beliau lakukan."
__ADS_1
Pada usia delapan tahun lebih dua bulan sepuluh hari usia Rasulullah ﷺ, kakek Beliau رضي الله عنه meninggal di Mekkah. Sebelum meninggal, Abdul Mutthalib رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ sudah berpesan menitipkan pengasuhan sang cucu kepada pamannya, Abu thalib رضي الله عنه (Saudara kandung ayah Beliau).
Kini Rasulullah ﷺ berada dalam asuhan pamannya yang juga sangat mencintainya. Abu Thalib merawatnya bersama anak-anaknya yang lain, bahkan lebih disayangi dan dimuliakan.
Begitu seterusnya Abu Thalib رضي الله عنه selalu di sisi Rasulullah ﷺ, merawatnya, melindungi dan membelanya, bahkan hingga Beliau ﷺ di angkat menjadi Rasul. Hal tersebut berlangsung kurang lebih selama 40 tahun.
Suatu ketika Abu Thalib رضي الله عنه hendak melakukan ekspedisi dagang ke Syam bersama kafilah Quraisy. Kala itu, Muhammad ﷺ masih berumur 12 tahun berkata, "Pamanku, kepada siapa engkau akan menitipkanku? Mengapa tidak kau ajak aku? Sementara aku tidak memiliki pelindung selain mu."
Perkataan Nabi Muhammad ﷺ itu menjadikan Abu Thalib رضي الله عنه terharu. Maka diangkatnya tubuh Nabi Muhammad ﷺ dan didudukkannya di atas hewan yang ditungganginya. Keduanya pun bersama-sama menempuh perjalanan ke negeri Syam.
Sesampainya di perkampungan Bushra yang waktu itu masuk wilayah negeri Syam, dan merupakan ibu kota Hauran yang juga merupakan ibu kotanya orang-orang Arab, sekali pun di bawah kekuasaan orang-orang Romawi.
Di negeri itu ada seorang Rahib yang dikenal dengan sebutan Buhaira, nama aslinya adalah Georgeus.
Nama Buhaira dalam bahasa Suryani berarti lautan luas. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, kata Buhaira/Buhaira berasal dari bahasa Arab yang berarti terpilih. Jadi, nama itu sebenarnya adalah nama gelar baginya, sedangkan nama baptisnya adalah Segeus atau Gergeus.
Dalam kitab Sirah Nabawiyyah karya Muhammad Ridha dijelaskan, Buhaira dikenal sebagai seorang pendeta yang menguasai ilmu falak dan perbintangan.
Buhaira juga memiliki seorang murid setia bernama Mudzhib. Di kemudian hari, Mudzhib ini pun menjadi guru dari Salman al-Farisi sebelum dia masuk Islam.
Dari atas Biaranya, Buhaira melihat fenomena alam yang tak biasa yang mengikuti kelompok Nabi Muhammad ﷺ. Buhaira atau Bahira saat itu terheran-heran melihat sebuah kafilah dagang yang datang dari Makkah, kafilah ini sudah sering lewat, tapi kali ini tidak seperti biasanya.
Di atas mereka, ada awan yang menaungi perjalanan rombongan Nabi ﷺ. Ketika mereka berhenti di bawah sebuah pohon, awan itu pun berhenti. Pendeta ini memandangi rombongan ini seakan mencari sesuatu dari mereka.
Buhaira kemudian mengutus seorang muridnya untuk mengundang dan menjamu makan rombongan Abu Thalib رضي الله عنه dengan maksud untuk memperhatikan satu per satu orang yang manakah yang telah membawatanda-tanda ke-Nabiannya itu?
Semula Nabi Muhammad ﷺ tidak pergi ke rumah sang Rahib, dan selaku anak kecil ia tinggal untuk menunggu barang dagangan pamannya itu. Setelah Buhaira tidak menemukan yang dicarinya, maka bertanyalah ia kepada Abu Thalib رضي الله عنه , “Adakah di antara tuan-tuan yang belum datang ke mari? Saya ini akan menjamu semuanya.”
“Ada seorang anak kecil, kemenakan saya sendiri, dia sedang menunggu barang dagangan,” sahut Abu Thalib رَحِمَهُ ٱللَّٰهُ .
__ADS_1
"Bawalah dia ke mari sekali pun dia masih kanak-kanak”. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ datang ke tempat Rahib itu.
Ketika Nabi Muhammad ﷺ memasuki ruang perjamuan, sang Rahib langsung terpana dengan cahaya ke-Nabian yang memancar dari tubuh Rasulullah ﷺ.
Dia mendekat, lalu memegang tangan Rasulullah ﷺ yang masih anak-anak sambil berkata, “Ini adalah pemimpin dunia dan Rasul Tuhan semesta alam, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta."
Beberapa sesepuh Quraisy bertanya, “Engkau tahu dari mana?”
"Saat kalian datang, pohon dan batu menunduk sujud. Kedua-duanya tidak sujud (kepada manusia) selain kepada seorang Nabi."
Lalu Buhaira memeriksa pundak Beliau ﷺ. Buhaira kemudian menemukan tanda kenabian itu. Yakni di antara kedua pundaknya, dan Buhaira pun mencium tanda tersebut.
"Dan saya juga mengetahui dia (sebagai Nabi) dari 'Khatam An-Nubuwah' yang ada di pundaknya….”
Tanda kenabian yang satu ini disebut dengan Khatam An-Nubuwwah yang dia bawa sejak lahir. Khatam An-Nubuwwah artinya stempel kenabian. Tanda ini adalah tahi lalat berwarna hitam kekuning-kuningan. Sebahagian ulama mengatakan disitu tertulis “Muhammad rasul utusan Allah."
Buhaira pun berpesan pada, Abu Thalib رضي الله عنه yang kala itu membawa Rasulullah ﷺ untuk berdagang untuk menjaga keponakannya itu. Sebab, keponakannya itu dikatakan bukanlah orang biasa.
Andaikata diketahui oleh orang Yahudi, bahwa anak inilah yang akan menjadi Rasul di kemudian hari, tentulah mereka berusaha untuk membunuhnya. Orang Yahudi mempunyai sifat busuk hati, dan mereka menginginkan orang yang menjadi Rasul itu hendaknya dari kalangan Bani Israil saja, jangan dari bangsa lain (Arab).
Abu Thalib رضي الله عنه tampak ketakutan dengan peringatan itu. Dia yakin bahwa apa yang dikatakan Buhaira itu benar. Maka dari itu, segera setelah urusan perdagangannya selesai, Abu Thalib رضي الله عنه segera membawa Muhammad ﷺ pulang. Sesulit apa pun beban hidupnya, Abu Thalib رضي الله عنه tidak pernah lagi pergi berdagang ke tempat jauh demi melindungi keponakannya itu.
Dalam kesusasteraan Byzantium disebutkan, Buhaira adalah seorang rahib Yahudi beraliran Nastur. Dia menganut ajaran Arius dan Nustur, di mana sekter ini tidak menerima doktrin ketuhanan Yesus bahkan pantang menyebut Yesus sebagai Tuhan. Sekter ini percaya, baik itu Yesus maupun Maryam adalah manusia yang merupakan perwujudan dari kalimat luhur.
Di kemudian hari, Muhdzib pun berkata bahwa Buhaira gurunya mati di tangan orang Yahudi yang jahat. Buhaira terbunuh sebagai korban kelicikan beberapa orang Yahudi tersebut.
.
.
__ADS_1
.