7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu

7 Bab Untuk Lebih Mencintai-Mu
Bab 7.2


__ADS_3

.


.


.


Pada tanggal 29 Shafar tahun 11 Hijriah, bertepatan dengan hari Senin, Rasulullah ﷺ menghadiri prosesi pemakaman jenazah di Baqi'. Dalam perjalanan pulang dari Baqi', tiba-tiba Beliau ﷺ merasakan pusing di kepala dan panas tubuhnya langsung melonjak, hingga orang-orang bisa melihat tanda suhu badan Beliau melalui urat-urat nadi di kepala.


Beliau ﷺ sakit selama 13 atau 14 hari, dan tetap shalat bersama di mesjid selama 11 hari dari masa sakitnya itu


Minggu terakhir sebelum Rasulullah ﷺ wafat, sakitnya semakin bertambah parah, sampai-sampai Beliau ﷺ bertanya kepada istrinya, "Di mana giliranku besok? di mana giliranku besok?"


Mereka faham, apa yang Beliau maksudkan, maka mereka memberi kebebasan kepada Beliau untuk memilih. akhirnya Beliau memutuskan untuk berpindah ke rumah Aisyah رضي الله عنه. Beliau berjalan dengan dipapah Al Fadhl bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib hingga tiba di rumah Aisyah رضي الله عنه. Beliau berada di sana pada pekan terakhir dari kehidupan Beliau.


Sementara itu, Aisyah رضي الله عنه terus-menerus membacakan mu'awwidzat dan doa-doa yang dihapalkan dari Rasulullah ﷺ sambil meniup ke tubuh Beliau dan mengusap-usap tangan Beliau, mengharapkan barakah.


Pada hari Rabu, tepatnya lima hari sebelum Rasulullah ﷺ wafat, suhu badan Beliau semakin tinggi, sehingga Beliau semakin demam dan menggigil. Beliau bersabda, "Guyurka air dari manapun ke tubuhku, agar dapat menemui orang-orang dan memberikan nasehat kepada mereka."


Mereka mendudukkan Beliau di atas bejana cucian lalu mengguyur air ke tubuh Beliau, hingga Beliau bersabda, "Cukup, cukup."


Setelah merasa agak ringan, Beliau masuk mesjid dengan kepala yang diikat, hingga duduk di atas mimbar, lalu berpidato di hadapan orang-orang yang duduk di hadapan Beliau, "Kutukan Allah  ﷻ dijatuhkan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka menjadi mesjid." dalam riwayat lain disebutkan, "Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena menjadikan kuburan para nabi mereka menjadi mesjid." Lalu Beliau melanjutkan, "Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah."

__ADS_1


Kemudian Beliau bersabda, "Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara sahabatku semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qisas kepadaku sebelum ia melakukannya di hari kiamat nanti,” kata Nabi ﷺ


Rasululllah ﷺ bahkan mengulangi kalimat itu hingga tiga kali. Para sahabat terdiam, karena memang tidak ada. Tapi ternyata ada seorang sahabat berdiri, sosok itu bernama Ukasyah.


Ukasyah lantas cerita, ia dulu bersama Nabi di perang badar dan entah disengaja atau tidak, kata Ukasyah, cambuk untuk untuk untanya menjuntai mengenai diri tubuh Ukasyah. Waktu itu Nabi ﷺ berada di samping Ukasyah dan sama-sama naik unta.


“Aku tidak tahu apakah engkau sengaja atau tidak, barangkali maksudmu melecut untamu?” kata Ukasyah.


Sontak, para sahabat pun kaget, Berdiri. Tidak menyangka akan ada sosok Ukasyah yang berani bertindak seperti itu. Berani-beraninya bertindak seperti itu pada Nabi ﷺ?


Mereka yakin Nabi ﷺ tidak sengaja. Apalagi terkena sabetan pecut ketika naik kuda atau unta adalah hal biasa.


Mereka marah pada Ukasyah, tapi Nabi ﷺ tidak. Justru Rasulullah ﷺ minta diambilkan cambuk miliknya.


Sebelumnya, para sahabat sudah minta izin untuk jadi ganti Rasulullah ﷺ. Mulai dari Abu, Bakar dan Umar bahkan bersiap diri untuk dicambuk, seberapa pun banyaknya, asal Rasulullah ﷺ tidak terkena cambukan.


Tapi, Rasulullah ﷺ menyuruh para sahabat untuk melihat saja. Karena ini merupakan kesalahan beliau.


Ukasyah terdiam, Rasulullah ﷺ tersenyum. “Ya Rasulullah, pada saat engkau memukulku, aku sedang tidak memakai baju.”


Para sahabat yang melihat dan mendengar itu menjadi sangat geram kepada Ukasyah.

__ADS_1


Rasulullah ﷺ mengerti. Lantas, Beliau membuka bajunya. Maka, para sahabat pun menangis. Tidak tega melihat Rasulullah ﷺ menyingkapkan baju atasnya dan akan menerima cambuk dari Ukasyah.


Setelah baju terbuka, Ukasyah mendekat. Para sahabat lain ingin menghadang Ukasyah yang sudah membawa cambuk. Namun Rasulullah ﷺ justru menyuruhnya lebih dekat, melarang para sahabat untuk menjegal Ukasyah.


Setelah dekat dan tangisan para sahabat kian memekakan telinga, Ukasyah justru melakukan hal yang tidak terduga.


Ia menghampiri dan memeluk Beliau, “Aku tebus engkau dengan jiwaku, Ya Rasulullah, siapa yang sanggup memukulmu? Aku hanya ingin menyentuh badan engkau yang dimuliakan oleh Allah dengan badanku. Dan Allah menjagaku dari neraka dengan kehormatanmu,” paparnya.


Rasulullah ﷺ tersenyum, lalu berkata, ”Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli surga, inilah orangnya.”


Seketika orang di sana ikut gembira dengan Ukasyah. Seorang pemuda yang alim dan begitu mencintai Rasulullah.


 


Wallahu a'lam.


Kisah ini dinukil dari kitab an-Nail al-Hatsîts fî Hikâyât al-Hadîts  karya As-Samarqandi, edisi Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Alvabet dengan judul 200 Motivasi Nabi & Kisah Inspiratif Pembangun Jiwa dan Sirah Nabawiyah Syafiyyurrahman Al-Mubarakfuri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2