
...Kisah Fitnah...
...Terhadap Aisyah رضي الله عنه...
Para istri Nabi Muhammad ﷺ merupakan perempuan-perempuan yang mulia. Kalangan sejarawan menjuluki mereka ummahatul mukminin atau ‘Bundanya orang-orang beriman.’
Di antara para istri Rasullullah ﷺ ialah Aisyah رضي الله عنه Ia merupakan putri Abu Bakar ash-Shiddiq رضي الله عنه, sahabat yang menemani Nabi ﷺ kala hijrah dari Makkah ke Madinah.
Dalam perjalanan hidupnya sebagai istri Rasul ﷺ, Aisyah رضي الله عنه mengalami suka-duka. Kedukaannya yang terekam sejarah ialah ketika dirinya diterpa fitnah.
Kisah ini dituturkan sendiri oleh Aisyah رضي الله عنه, seperti diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim sebagai berikut. Riwayat itu juga berkaitan dengan sebab turunnya surah an-Nuur ayat 11, sebagaimana dirangkum Jalaluddin al-Suyuthi dalam Luqaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul.
“Apabila Rasulullah hendak mengadakan perjalanan,” tutur Aisyah, maka Beliau (Rasullullah ﷺ) biasanya mengundi di antara para istrinya. Siapa yang namanya keluar, maka dialah yang ikut bersama Beliau ﷺ.
"Dalam suatu peperangan, Beliau mengundi kami. Karena nama saya yang keluar, saya pun ikut pergi bersama beliau. Peristiwa ini terjadi setelah turun wahyu yang mewajibkan hijab.
"Di sepanjang perjalanan itu, saya pun diangkut di atas tandu dan tetap tinggal di dalamnya.
"Ketika Rasulullah selesai dari peperangan, maka kami sedang dalam perjalanan pulang. Kami sudah dekat dengan Madinah.
"Pada suatu malam beliau mengumumkan hendak melanjutkan perjalanan. Ketika mereka mengumumkan keberangkatan, saya sedang pergi untuk menyelesaikan hajat.
"Setelah saya menyelesaikan hajat, saya pun hendak kembali ke tandu saya. Namun, saya menyadari, kalung saya yang buatan Azhfaar telah putus dan hilang. Maka saya pun kembali ke tempat semula (tempat buang hajat) untuk mencari benda itu.
"Saya masih mencari kalung itu di sana, sedangkan orang-orang yang mengangkut tandu saya sudah datang. Mereka pun mengangkat tandu itu ke atas unta. Mereka mengira, saya berada di dalam tandu itu.
(Memang, umumnya perempuan pada masa itu tubuhnya ringan. Mereka hanya makan sesuap sehingga jarang berbobot tubuh berat. Oleh karena itu, para pengangkut tandu itu tidak merasa heran dengan ringannya tandu ketika mereka mengangkatnya.)
"Mereka tuntun unta dengan tandu tersebut lalu berangkat. Sementara itu, saya baru menemukan kalung saya setelah pasukan itu pergi.
"Ketika saya tiba di tempat peristirahatan mereka tadi, tidak seorang pun kelihatan. Akhirnya, saya menuju tempat istirahat saya semula. Saya pikir, mereka akan menyadari, saya tidak bersama mereka sehingga mereka akan kembali untuk mencari saya. Ketika saya duduk di tempat saya, saya merasa mengantuk sehingga tertidur.
"Ketika itulah, Shafwan ibnul-Mu’aththal as-Sulami berjalan di belakang pasukan. Pagi hari itu, ia sampai di tempat saya.
"Ia melihat seseorang sedang tertidur. Segera ia mengenaliku begitu melihat saya.
__ADS_1
"Dia memang pernah melihat wajah saya sebelum diwajibkannya hijab. Saya terbangun mendengar suaranya yang mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun!’
"Saya pun buru-buru menutupi wajah dengan jilbab. Demi Allah, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada saya. Saya tidak mendengar sepatah kalimat pun keluar dari mulutnya selain ucapan innalillahi tadi.
"Ia hanya menundukkan untanya, menginjak kakinya, lalu saya pun menaikinya. Kemudian, dia berangkat menuntun unta itu sampai kami tiba di pasukan yang sedang berhenti untuk beristirahat di siang hari yang terik.
Aisyah melanjutkan kisah tentang fitnah yang pernah menerpanya pada masa Rasulullah SAW masih hidup. Istri Nabi Muhammad SAW itu mengungkapkan, kalangan munafik-lah yang begitu senang menyebarkan gosip bahwa dirinya berselingkuh.
“Orang yang paling getol dalam hal itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Aku tiba di Madinah, lalu selama sebulan aku jatuh sakit, sementara orang-orang menggunjingkan perkataan para penyebar gosip (ahlul-ifki). Waktu itu, aku belum menyadarinya sama sekali.
Barulah ketika aku agak sehat dan keluar bersama Ummu Misthah menuju Manaashi’ –yaitu tempat buang hajat kami–tiba-tiba Ummu Misthah terjatuh dan langsung mengatakan, ‘Celakalah si Misthah!’
"Aku berkata, ‘Buruk sekali ucapanmu! Mengapa engkau memaki orang yang pernah ikut Perang Badar?!’
Jawabnya, ‘Duhai anakku, apakah kamu belum mendengar apa yang ia katakan?’
Aku bertanya, ‘Apa yang ia katakan?’
Maka, Ummu Misthah memberitahukan kepadaku ihwal perkataan ahlul ifki. Sejak saat itu, penyakitku tambah parah.
Ketika Rasulullah masuk ke bilikku, aku meminta kepadanya, ‘Apakah engkau mengizinkan aku mengunjungi rumah orang tuaku?’
"Maka, aku mendatangi orang tuaku. Aku bertanya kepada ibuku, ‘Ibu, apa yang orang-orang di luar sana bincangkan?’
Ia menjawab, ‘Oh anakku, lapangkanlah hatimu. Demi Allah, kalau seorang perempuan sangat cantik dan dicintai suaminya serta dia punya madu, pasti madunya akan mengganggunya.’
"Hari itu, aku masih menangis. Air mataku tidak pernah berhenti menetes. Lalu, malam itu juga aku masih menangis, air mataku tidak pernah berhenti turun, dan aku tidak pernah tidur.
"Kedua orang tuaku mengira, tangis akan merusak liverku. Ketika mereka duduk di dekatku sementara aku menangis, tiba-tiba seorang wanita Anshar meminta izin masuk.
"Setelah kuizinkan, ia duduk dan menangis bersamaku. Kemudian Rasulullah ﷺ datang, mengucapkan salam, lalu Beliau ﷺ duduk.
"Sudah sebulan Beliau ﷺ tidak menerima wahyu mengenai urusanku. Beliau ﷺ mengucapkan syahadat lalu berkata, 'Amma ba’du. Aisyah, aku mendengar begini dan begitu tentang dirimu. Kalau kamu tidak bersalah, pasti Allah akan menyatakanmu tidak bersalah. Namun, kalau kamu telah melakukan suatu dosa, mintalah ampun kepada Allah dan bertobatlah. Sebab, kalau seorang hamba mengakui dosanya dan bertobat, Allah akan menerima tobatnya.'
"Usai mendengar Beliau ﷺ berkata demikian, aku katakan kepada ayahku, 'Tolong saya, wahai ayah, untuk menjawab Rasulullah!’
__ADS_1
"Ia (Abu Bakar) berkata, 'Demi Allah, aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan!’
"Lalu aku katakan hal yang sama kepada ibuku. Namun, ibuku juga berkata, ‘Demi Allah, aku tak tahu apa yang mesti kukatakan!’
"Akhirnya aku berkata , 'Sementara aku hanyalah seorang perempuan belia. Demi Allah, aku tahu kalian telah mendengar hal ini hingga perkataan ini mantap dalam hati kalian dan kalian membenarkannya. Kalau kukatakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah, dan Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah pasti kalian tidak akan percaya ucapanku.
"Dan demi Allah, aku tidak menemukan perumpamaan tentang aku dan kalian kecuali seperti perkataan ayahanda Yusuf (dalam surah Yusuf ayat 18), maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.'
"Lalu," kata Aisyah رضي الله عنه menuturkan, "aku kembali ke kamar dan berbaring di pembaringan. Demi Allah, Rasulullah belum meninggalkan tempat duduknya, dan belum keluar seorang pun dari dalam rumah ini.
"Akhirnya, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi ﷺ. Aku mengetahui ini karena (tampak) tubuh Beliau ﷺ bergetar. Begitulah keadaan Beliau ﷺ ketika menerima wahyu.
"Setelah selesai (menerima wahyu), perkataan pertama yang diucapkan beliau adalah, 'Bergembiralah wahai Aisyah! Allah telah menyatakan kamu tidak bersalah!’
"Maka ibuku segera menghampiriku dan berkata kepadaku, ‘Bangun dan hampirilah Rasulullah!’
"Aku berkata, “Demi Allah aku tidak mau menghampirinya. Aku hanya memuji Allah, sebab Dialah yang menurunkan pernyataan kesucianku.'"
Wahyu yang dimaksud adalah surah an-Nuur ayat 11-21. Inilah firman-Nya yang membebaskan Aisyah dari segala tuduhan dan fitnah keji.
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (Surat An-Nur ayat 11 sampai ayat 21).
Abu Bakar mengetahui, salah seorang yang menyebar fitnah terhadap putrinya adalah Misthah. Ia adalah pembantu rumah tangga Abu Bakar. Bahkan, sahabat Nabi SAW sudah merawatnya sejak lama lantaran keluarganya miskin.
Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak akan memberi Misthah nafkah lagi setelah ia mengatakan (berita bohong) tentang Aisyah!”
Kemudian turunlah wahyu di bawah ini,
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ Artinya,
“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Surat An-Nur ayat 22.)
“Demi Allah, aku sungguh ingin Allah mengampuniku.” Maka, ia pun kembali memberikan nafkah kepada Misthah sebagaimana semula.
.
__ADS_1
.
.