
Di sebuah restoran mewah yang tampak ramai, Ling turun dari mobil Range Rover miliknya. Ia melangkah menuju ke pintu masuk restoran ini.
"mbak reservasi atas nama Anggara di mana ya?" tanya Ling pada pelayan yang berdiri di depan pintu masuk.
"Sebelah sini kak, mari saya antar" kata pelayan itu ramah.
Mereka menuju ke sebuah ruangan VIP di restoran itu. Terlihat di sana sudah ada dua pria paruh baya, dua wanita paruh baya dan juga seorang lelaki tampan.
"maaf saya terlambat" kata Ling
"tidak apa nak, silahkan duduk" kata Tante Erni
Setelah menyalami semua yang ada di ruangan itu, Ling menarik kursi dan duduk di sebelah Tante Erni.
"Arlan, kenalin ini Arlinka panggil saja Ling" kata Erni
"Arlan" kata Arlan mengulurkan tangannya
"Arlinka" Ling juga mengulurkan tangannya.
"kita makan siang dulu ya, ini juga sudah siap" kata Anggara papi Ling
Di meja ini selain Ling ada Papi Anggara, ibu tiri Ling yang bernama Dyah, ada tante Erni mama Arlan, Om Delon papa Arlan, dan juga Arlan.
Mereka menikmati makan siang bersama, sesekali bertanya jawab. Sedikit cerita, makan siang ini di rencanakan untuk pertemuan Arlan juga Ling. Ling harus menyetujui permintaan tante Erni sabahat mendiang maminya.
Malam itu Ling di beri kabar kalau tante Erni masuk rumah sakit, karena kecelakaan. Dan saat itu Tante Erni dalam keadaan yang benar benar mengkhawatirkan. Ling yang saat itu akan berangkat kerja, memutuskan untuk ke rumah sakit.
Flashback on
"Tante, ini Ling tante. Tante bangun" kata Ling mengelus tangan yang terlihat lemah itu.
Perlahan wanita yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, juga bantuan oksigen di hidung nya itu pun membuka mata.
"Ling" panggil nya lemah dengan sedikit senyum di bibir pucatnya
"tante," Ling meneteskan air matanya. Ia mengingat dulu saat mendiang maminya juga lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"kamu jangan menangis, Tante pasti akan sembuh. Kamu apa kabar, lama gak main ke rumah tante" tanya Erni pelan
"Tante janji sama Ling ya akan sembuh, Ling mohon tante, setelah mami meninggal hanya tante yang mengerti Ling." Kata Ling yang malah tidak menjawab pertanyaan Erni
"Ling, Tante akan berusaha bertahan. Entah kenapa Tante di hantui rasa takut, Ling kamu tau kan tante sudah menganggap kamu anak sendiri?"
"iya Tante, Ling juga menganggap Tante seperti mami Ling sendiri. Apa yang ada di tante sama dengan apa ada di mami. Ling tidak mau kehilangan mami lagi."
"Ling, tante boleh meminta sesuatu?"
"apa tante? akan Ling usahakan"
"kamu menikah dengan anak tante Arlan ya, kalaupun umur tante tidak panjang. Tante ingin kamu mendapatkan orang yang tepat. Walaupun Arlan banyak kekurangan, tapi tante lebih tenang kamu bersama dengan nya" kata Erni
Ling terdiam mencerna permintaan tante Erni. Menikah? berkomunikasi lebih dekat dengan orang lain aja dirinya sedikit sulit.
"Ling" panggil tante Erni menyentuh tangan Ling yang ada di sampingnya
"kamu keberatan?" tanya Tante Erni
"gimana ya tante, Ling takut"
"Arlan baik kok Ling, hanya kurang perhatian saja"
"apa anak tante mau,? kita kan belum pernah ketemu"
"nanti semua bisa di atur, kalau kamu mau" Erni
__ADS_1
"Ling, mendiang mami kamu pernah berpesan sama tante untuk menjaga dan merawat kamu sampai menikah. Maaf kalau tante menyinggung kamu, apa kamu sudah punya pacar?" tanya Erni
"belum Tante" Ling
"Ling, usia kamu sudah dua puluh empat tahun. Tante rasa sudah saatnya kamu mencari pasangan hidup. Pasti papi kamu juga menginginkan hal yang sama"
"tante, boleh Ling pikir dulu?"
"boleh, jangan lama-lama. Tante harap kamu mau menikah dengan Arlan."
"terimakasih tante, besok Ling kasih tau jawabannya. Tante sekarang istirahat ya,"
"kamu mau kerja?"
"iya tante maaf"
"tidak apa Ling, kamu hati hati. Jaga diri baik baik ya?"
"terimakasih tante, Ling harap Tante besok sudah pulang dari sini" kata Ling
"doa kan saja Ling"
Sejak pulang dari rumah sakit, Ling selalu kepikiran dengan permintaan tante Erni. Hari berikutnya saat sarapan, di meja makan keluarga Anggara terlihat komplit.
"ada apa sih dek, tumben banget minta kakak sarapan di sini? Mendadak lagi bilangnya" tanya Yuda
"gini loh pi, kak. Semua tau kan kalau tante Erni masuk rumah sakit?" Ling
"tau" jawab Yuda dan papi hanya mengangguk
"nah, tadi malam Ling ke sana. Tante Erni meminta Ling untuk menikah dengan anaknya" Ling
"ukhuk" Yuda dan istrinya tersedak.
"kaget Ling" jawab Tia istri Yuda.
"kamu serius Ling?" Yuda
"iya kak, gimana dong. Bantu Ling pi" Ling
"kalau papi sih setuju kamu menikah, dengan Arlan kan?" tanya papi
"ya mana Ling tau pi, kenal aja enggak" Ling
"Arlan pemilik Lando Grup itu kan pi?" tanya Yuda
" iya, dia mendirikan perusahaan itu sendiri." Papi
"Dia orangnya dingin Ling, kamu yakin mau nikah sama dia?" Yuda
"memangnya kamu enggak dingin mas?" tanya Tia
"dulu, sekarang enggak" Yuda nyengir
"Ling, kamu harus belajar dari kaka ipar mu. Buat Arlan mencair setelah menikah dengan kamu" papi
"tapi Ling gak mau pi," Ling
"kamu harus terbuka dengan orang baru Ling" papi
"maksud Ling mengumpulkan semua disini itu untuk membantu Ling, supaya tidak menikah dengan si Arlan itu. Bukan mendukung menikah" Ling
"tapi papi juga berharap kamu menikah dengan Arlan. Kamu juga sudah berumur Ling"
"berumur? pi... Ling masih dua empat. Masih muda kali pi" kata Ling mengangkat jarinya dua dan empat
__ADS_1
"udah pas itu Ling kalau mau menikah, kak Tia aja dulu kakak nikahin umur dua empat" Yuda
"kok kak Yuda malah ikutan sih" Ling
"maksud kakak bukan ikutan, tapi cerita dek. Lagi pula kalau kamu menikah dengan siapapun itu, kakak pasti dukung asal dia baik" Yuda
"maaf Ling, apa kamu sudah punya pacar?" tanya bu Dyah lembut.
"belum sih bu," jawab Ling
"apa kamu gak mau mencoba berkenalan dulu sama si Arlan ya namanya?" bu Dyah
"iya bu, tapi Ling tidak berminat" Ling
"Sudahlah Ling, Arlan pasti orang yang bertanggung jawab. Papi juga akan lebih tenang saat kamu dan Arlan menikah" papi
"enggak pi" Ling
"nanti kita bicarakan lagi, ini sudah siang" papi
Setelah itu papi dan Yuda pergi ke kantor bersama. Sedangkan Tia dan Ling berada di ruang tengah. Mereka mengobrol tentang cara menaklukkan hati manusia sedingin es. Sebenarnya Ling tidak berminat, tapi memang kakak iparnya ini lebih banyak bicara. Sedangkan ibu Dyah sedang bermain dengan Asyla, anak Yuda dan Tia yang berusia dua tahun.
Sore harinya Ling yang sedang di belakang rumah dengan memangku laptop, di kaget kan oleh papi nya.
"papi bikin Ling kaget aja" Ling
"Ling, kamu tau?"
"enggak" jawab Ling langsung
"belum selesai papi ngomongnya" kata papi menutup laptop Ling
"iya pi"
"tadi siang, papi kedatangan tamu. Dan akhirnya papi sama kakak di ajak makan siang sama beliau. Beliau adalah pak Delon, papa Arlan." Papi
"Om Delon ngapain pi?"
"ya seperti yang kamu ceritakan tadi pagi. Beliau ingin kamu menikah dengan Arlan." Papi pun menceritakan apa saja yang tadi di bicarakan dengan Delon
"Pi, masa Ling menikah dengan pacar orang sih" Ling
"tidak masalah Ling, mereka masih pacaran bukan suami istri"
"tapi Pi...."
"ayolah Ling, papi juga takut kalau kamu nantinya...."
"nantinya apa Pi?"
"Papi takut kamu tidak mau dekat dengan laki laki lain."
"Ling..... belum minat pi" Ling menunduk
"Ling, sudah saatnya kamu memikirkan pendamping hidup. Bukan hanya mengejar karir saja. Apa yang masih kamu inginkan sih Ling. Apa perlu D'L papi tutup?"
"ya jangan lah Pi, itukan usaha Ling selama ini. Keringat Ling itu" Ling
"makanya, kamu mau ya nikah sama Arlan?"
"hhhmm apa dia mau Pi?"
"harus mau" papi
flashback off
__ADS_1