
Ling membeku saat Arlan memeluk dan menatapnya dalam. Ini tatapan yang tidak seperti biasanya, entah kenapa jantung Ling berdebar kencang.
"kamu mau kan?" tanya Arlan lembut
"mak......maksud abang apa?"
"maksudnya kita nikmati malam ini berdua, tanpa ada yang menganggu. Aku kangen banget sama kamu sayang" bisik Arlan kemudian mengecup telinga Ling dan berpindah ke leher.
Kenapa tubuhku jadi begini rasanya, aaaaa mana merinding. huhf tenang Ling, tenang. Batin Ling
Arlan melihat Ling yang gugup, ia mendekat kan wajahnya ke wajah Ling. Arlan semakin mengikis jarak di antara mereka hingga akhirnya bibir mereka pun bertemu. Arlan dengan perlahan mel***t bibir Ling, dan tanpa sadar Ling juga melakukan hal yang sama dengan Arlan.
Arlan merasa senang karena Ling sudah ada kemajuan. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, sesekali ia juga membiarkan Ling bernafas.
"abang cukup" kata Ling menghalangi bibirnya dengan jari
"kenapa?" tanya Arlan dengan suara beratnya
"kita harus segera ke bawah bang,"
"tapi sayang" rengek Arlan
"sebenarnya abang mau apa,? em maksudnya kita ada acara loh sekarang"
Maaf bang, aku merasakan sesuatu yang berbeda di tubuh abang. Tapi ini bukan saatnya, mudah mudahan abang bisa tahan.
"Arlinka, ijinkan aku" kata Arlan menempelkan kening nya di kening Ling
"apa?"
"aku mau kamu, hanya kamu."
"kita pergi ke acara itu dulu, baru nanti kita bicarakan" kata Ling lembut
"aku mau kamu janji"
"em aku"
"malam ini saja, biarkan aku menjadi suami yang seutuhnya"
Sepertinya Abang benar benar menginginkan aku. Semoga keputusan yang aku ambil ini benar. Kalau pun setelah ini abang akan meninggalkan aku, aku percaya jika aku bisa melakukan apapun sendiri. Tanpa bergantung pada seorang laki-laki. Aku juga tidak mau menyiksa suamiku, apapun yang akan terjadi kedepannya, setidaknya aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Batin Ling
Ling melihat mata Arlan yang begitu tulus, dan akhirnya Ling mengangguk.
"beneran kan sayang?" tanya Arlan berubah menjadi bahagia.
"eemmm ayo kita ke acara" jawab Ling malu malu
"jawab dulu"
tok tok tok
"bang ada yang ketuk pintu, coba abang lihat"
"gak mau jawab dulu"
"tuh bang, Rico udah telfon aku. Udah ayo" Ling mengambil tasnya dan menggunakan sedikit parfum di tubuhnya
"sayang......" rengek Arlan yang melihat Ling berjalan ke pintu
"ayo bang, ini bukan saatnya"
"aku tau, tapi kamu janji dulu kalau nanti aku boleh....."
Ceklek
Ling membuka pintu kamar nya, dan ternyata sudah ada Yoga, Nisa, Rico dan pak Tom, pak Jerry.
"Arlinka" kata Arlan sedikit kesal
"maaf menunggu lama" kata Ling
"Astaga Ling, itu lipstik nya kok hancur gitu sih" Rico
"hah? masa?" tanya Ling meraba bibirnya
"kok bisa gitu, tadi aja cantik banget" Rico
"abang,.!" Ling melotot ke arah Arlan
__ADS_1
"biarin" jawab Arlan cuek
"masuk gue benerin" kata Rico
"awas ye kalau udah cantik jangan di ganggu dulu, kalau lagi pakai daster nah terserah mau abang apain" kata Rico saat melewati Arlan yang bersandar di pintu
"Ck, gue gak ikhlas istri gue cantik buat di lihat orang, ya lebih baik gue nikmati sendiri lah," gerutu Arlan
"hey bambang, kita nunggu lo hampir jamuran. Bisa bisanya lo enak enakan" Yoga
"belum jadi, baru juga pemanasan" gerutu Arlan
"gila lo," Yoga
Mas, bisa bisa kamu membahas ini, apa kamu tidak lihat aku disini. Nisa
Tidak lama, Ling kembali keluar bersama Rico. Mereka menuju ke lantai bawah di tempat acara itu berada. Arlan menggandeng tangan Ling saat berjalan. Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan gadis yang terlihat sedih di belakang mereka.
Sesampainya di tempat acara, Arlan banyak sekali di sapa oleh rekan bisnisnya. Begitu juga dengan rekan bisnis papi yang mengenal Ling. Untung nya tidak ada yang bertanya dengan hubungan Ling dan Arlan. Banyak yang belum tau tentang hubungan mereka, dan mungkin setelah ini mereka baru mengira kalau Ling dan Arlan adalah sepasang kekasih.
"Ar, Ling" panggil Leo
"Leo lo ada disini?" Arlan
"gue juga dapat undangan, kalian baru datang?" Leo
"iya, nunggu orang bucin dulu" saut Yoga
"siapa?" Leo
"temen lo nih, sama artis lo" Yoga
"Ar, nanti gue ada sesuatu buat lo" Leo
"apa?" Arlan
"nanti biar larut dulu, belum pantas kalau sekarang hahaha" Leo
"gue curiga sama lo," Yoga
"udah tenang aja, kalau lo mau boleh kok"
"urusan pria dewasa Ling" Leo
"ck, gak seru." Ling
Mereka masih asik ngobrol sambil berdiri, kecuali Ling yang hanya mendengar pembicaraan tiga laki laki yang bersahabat itu. Sedangkan Rico, Nisa dan Pak Tom Jerry sudah duduk sambil memperhatikan sekitar.
"Ling"panggil Rico dan Ling menoleh kebelakang di mana tempat duduk Rico
"apa?"
"gue fotoin, gaya dong"
Tanpa ragu Ling langsung berpose dengan bersandar di bahu kiri Arlan. Arlan yang tidak ingin Ling jauh darinya pun melingkar kan tangan kirinya di perut Ling, karena posisi mereka tidak berhadapan.
"oke good job" Rico
"sekali lagi" kata Rico dan tanpa sengaja Arlan mengecup kepala Ling, karena gemas dengan Ling
"tahan bang sebentar, sip bagus" Rico
"apa?" tanya Arlan menengok kebelakang.
"nanti juga tau" Rico
"bang, aku duduk sana ya sama Rica" Ling
"tapi sayang" Arlan
"aku gak kemana mana, mau duduk aja" Ling
"ya sudah, jangan pergi kemana mana" kata Arlan dan Ling mengangguk
Ling segera menghampiri Rico untuk melihat hasil fotonya.
"bagus, tidak kelihatan kalau ini abang" Komentar Ling
"iyalah orang cuma badan belakang nya aja." Rico
__ADS_1
"gue upload di sosmed ya?"
"ya suka suka lo, sepertinya itu aman dan tidak banyak yang tau kalau itu abang Arlan."
"bener juga"
Ling meng-upload fotonya dengan Arlan di sosial media, dengan caption Sama Abang. Tidak lama postingan Ling itu di banjiri komentar dari para fans dan juga akun gosip. Ling terlihat tersenyum saat membaca komentar di sosial media nya.
"tuh kan heboh, tapi pada gak tau dia siapa" Rico
"iya, lo baca deh ini." Ling menunjukkan ponselnya pada Rico
Abang siapa tuh,? mau dong punya abang yang punggung nya hot
*Gue kenal dia, sepertinya seorang pengusaha
Baru menghadiri acara di Bali ya?
Wah...ini alasannya menolak sang penyanyi Rasya?
Kasih tau dong siapa abangnya*?
Begitulah kiranya beberapa komentar yang mampir di postingan Ling. Ling hanya membalas komentar komentar itu dengan emoticon tersenyum.
"sayang, balik yuk" kata Arlan tiba tiba
"hah?" Ling
"ck, kamu gak lihat semua pada liatin kamu" Arlan
"kenapa kalau pada liat Ling? dia kan cantik jadi wajar dong bang" Rico
"gak wajar dia kan istriku bukan tontonan" Arlan
"nanti dulu bang, gak enak kita baru datang" Ling
"tau nih suami lo, buru buru amat, nih minum" kata Leo memberikan sebuah gelas berisi minuman
Arlan meneguk nya sedikit dan menawarkan kepada Ling.
"eh jangan.!" kata Leo yang melihat Ling akan menerima minuman Arlan
"KENAPA?" tanya Arlan dan Ling bersama
"em itu....." Leo
"ada racun nya bos?" tanya Rico
"bukan, Ling kamu minum yang lain aja. Itu khusus buat Arlan" Leo
"ada apa sih?" Arlan
"ck, yang gue bilang tadi di sana" Leo
"gue gak paham" Arlan menaruh gelasnya
"abisin bang, ada obat kuatnya itu" Rico
"apa?" Ling
"nah itu Ar, Rico aja tau masa elo gak paham" Leo
"kok lo tau?" Tanya Yoga pada Rico
"tau lah, orang gue tadi yang di suruh beli obat nya" Rico
"Gila kalian" Ling
"hahahaha" tawa Leo dan Yoga
"gue cukup kuat tanpa obat ini kali" Arlan
"masa? memangnya udah sering?" tanya Yoga dan membuat Ling menunduk
"Sayang, kamu jangan berfikir yang tidak benar. Aku belum pernah melakukan dengan siapapun kok, atau dengan masa lalu aku belum pernah." Arlan merasa tidak enak dengan Ling
"gue gak ikutan" Leo
"gue juga" Rico
__ADS_1
"gue tadi cuma nanya" Yoga