
Setelah adu pendapat dengan papinya, akhirnya Ling setuju menikah dengan Arlan. Tapi jika suatu saat nanti Ling merasa lelah berjuang, ia akan berhenti dan mundur. Papinya pun menyetujui apa mau Ling, dan sudah di sepakati dengan kedua orang tua Arlan. Dan Dua minggu setelah perbincangan itu, mereka mengadakan pertemuan di sebuah restoran.
Kembali ke sebuah restoran yang di gunakan mereka untuk makan siang. Setelah selesai makan siang papa Delon membuka suara.
"Arlan, sebenarnya pertemuan ini papa sepakati untuk melamar Ling" Delon
"melamar? papa mau menikah lagi?" tanya Arlan tidak percaya
"bukan buat papa, tapi buat kamu" Delon
"papa becanda kan? Arlan baru kenal tadi." Arlan masih tidak percaya
"tidak Arlan, ini serius" mama Erni
"papa dan mama tau kan kalau Arlan?" Arlan sedikit menajamkan matanya, agar orang tua nya paham. Tidak mungkin ia mengatakan punya kekasih di depan orang banyak
"maaf pak Delon, apa bapak dan keluarga butuh waktu? biar kita tunggu di luar dulu" kata papi Anggara
"tidak usah pak, maaf kami memang tidak memberi tau Arlan soal ini" Delon
"saya paham pak" Anggara
"pi, om, Ling ke permisi ke toilet sebentar" pamit Ling
"silahkan Ling" jawab Delon
Setelah kepergian Ling, Delon kembali menatap Arlan. Sedangkan Arlan wajahnya tidak bisa di tebak, antara kaget, marah, bingung dan entahlah wajahnya begitu dingin.
"Kamu harus mau menikah dengan Ling, bukanya kamu sudah setuju dengan apapun permintaan mama?" Delon
"Pa, tapi mama tidak mengatakan kalau Arlan harus menikah dengan Arlinka" Arlan
"Ar, mama mohon kamu menikah dengan Ling ya? mama ingin melihat kamu menikah" Erni
"kalau Arlan diminta untuk menikah, Arlan sudah memiliki calon ma" Arlan
"sampai kapanpun mama tidak setuju dengan perempuan itu" Erni
"ma, apa sih kurangnya Nisa?" Arlan
"apa kurangnya Ling?" Erni balik bertanya kepada Arlan
"Arlan baru kenal Ling ma, mana bisa Arlan menilai Ling" Arlan
"cukup Arlan, kamu harus menikah dengan Ling. Bukan keluarga pak Anggara yang mendesak papa. Tapi ini murni keinginan papa dan mama. Kami yang meminta Ling untuk kamu" Delon
Arlan terdiam, ia masih mencerna kata-kata papa nya. Bagaimana bisa ia menikahi gadis lain, kalau dirinya punya kekasih.
Sedangkan di toilet, Ling memandang wajahnya di pantulan kaca.
Yang benar saja aku di tolak sama si Arlan itu. Pengen aku cukur tuh brewok biar tau rasa. Lihat saja sekarang kamu boleh menolak aku, tapi nanti akan aku buat kamu yang akan mengejar aku. Ini akan menjadi semangat ku. Ayo Ling jangan lemah. Batin Ling
Setelah tenang Ling kembali ke meja makannya. Ia berjalan dengan mengangkat kepalanya, walaupun begitu Ling akan membalas sapaan orang di sekitarnya.
"beri satu alasan kenapa Arlan harus menikah dengan Ling" Arlan
"Ling gadis yang baik, di yang lebih tepat mendampingi kamu dari pada Nisa."
"pa, kenapa papa selalu tidak suka dengan Nisa? aku dan Nisa sudah bertahun-tahun bersama. Kenapa mama dan papa tidak bisa menerima itu"
"belum saatnya papa mengatakan alasan papa, sekarang kamu tunangan dengan Ling dan minggu depan kalian menikah" Delon
"pa...?!" Arlan semakin tidak habis pikir dengan semua ini
"tidak ada bantahan Arlan," Erni
"saya permisi," Arlan berdiri dari kursinya dan ingin meninggalkan tempat ini
__ADS_1
"selangkah saja kamu melangkah, papa pastikan anak cabang perusahaan kamu semua tutup." ucap Delon tegas, dan itu berhasil membuat Arlan mematung
"Kamu dengan mudahnya memberikan semuanya untuk perempuan itu? kamu belum mengenal dia (Nisa) Arlan. Kalau kamu mau hidup dengan nya silahkan, papa tidak akan membantu kamu dalam hal apapun" Delon
"Arlan, mama mohon" Erni sudah menangis melihat itu
Beberapa anak cabang Arlan memang sedang tidak baik baik saja. Dan entah apa sebabnya Arlan baru mencari tau. Bahkan sudah dua anak cabangnya tutup. Ini pasti ada persaingan dalam bisnis. Sampai sekarang Arlan masih tidak tau siapa dalang dari semua ini.
Ling bingung saat melihat Arlan berdiri di tempatnya, Ling sedikit menunduk dan segera duduk di kursinya. Arlan pun ikut duduk, ia memikirkan apa yang dikatakan sang papa. Memang beberapa kali Arlan meminta bantuan papa nya, tapi jawaban papanya adalah belum waktunya. Dan itu jawaban yang membuat Arlan bingung, apalagi papa nya selalu meminta Arlan sadar dan membuka mata.
"kita lanjutkan acara pertunangan ini?" tanya Delon pada Arlan, dan Arlan hanya mengangguk pasrah.
"terimakasih Ar, mama sangat bahagia" mama
Setelah Arlan memasangkan cincin di jari Ling dan begitu pula sebaliknya, kedua orang tua pun membahas tentang acara pernikahan mereka minggu depan. Ling sudah tidak terkejut dengan itu, karena memang ia sudah di beritahu sebelumnya.
"pa, om, Arlan ijin ngobrol dengan Ling berdua" Arlan
"ukhuk" Ling yang sedang minum pun tersedak.
"kamu gak papa sayang?" tanya Erni
"enggak tante" Ling
"panggil mama ya, kan kamu juga akan menjadi anak mama" Erni
"iya mama" kata Ling kikuk
"ayo Ling" Arlan
"Arlan, saya percayakan Ling padamu. Jangan sakiti dia" Anggara
"baik om" Arlan
"Ling, ikut dengan calon suamimu, papi akan pulang duluan" Anggara
.
.
.
.
"kamu mau minum apa?" tanya Arlan saat mereka duduk di ruang VIP yang lain.
"air putih saja" jawab Ling
"Air putih, dan kopi hitam mbak" kata Arlan pada pelayan yang berdiri di samping mereka.
"baik pak, mohon di tunggu sebentar" kata pelayan itu dan beranjak keluar
"apa yang mau bapak obrolkan?" tanya Ling yang melihat Arlan hanya sibuk dengan ponselnya
"saya bukan bapak kamu" kata Arlan dingin
"Om" Ling
"memangnya saya setua itu apa, saya dan kamu hanya selisih beberapa tahun"
"masa? kalau gitu mas" Ling
"mas mas, emangnya saya ojol" Arlan
"terus apa? masa iya mau panggil sayang. Baru juga tunangan" Ling
"sudahlah, saya hanya mau tanya kenapa kamu mau menikah dengan saya"
__ADS_1
"ya kalau aku suka sama bapak gimana?" tanya Ling
"gak mungkin," kata Arlan dengan senyum mengejek
"mungkin dong pak, bapak kan pengusaha, ganteng, masi muda, em apa lagi ya?" Ling
"jangan panggil saya bapak" Arlan
"masa iya aku panggil tuan, yang benar saja om" Ling
"kamu kan bisa panggil yang lebih tepat"
"Sayang" kata Ling, yang sejujurnya ia juga risi dengan itu. Mengingat kata Tia kaka iparnya, ia harus agresif yang membuat Arlan kangen.
"hufh,saya serius Arlinka."
"saya juga serius om Arlan. Kenapa om menolak aku? aku kan cantik"
"percaya diri sekali kamu. Saya sudah punya pacar" kata Arlan
"aku tau" jawab Ling dengan mantap
"tau?" tanya Arlan melihat Ling, untuk melihat bagaimana ekspresi gadis itu
"iya om" jawab Ling santai
"terus?"
"terus apa om?"
"kamu masih mau menikah dengan saya? kamu gak takut kalau saya mendua?"
"aku tau om butuh waktu kan, akan aku kasih waktu buat om menyelesaikan urusan om sama pacar om"
"maksud kamu?"
"aku akan diam kalau semua baik baik saja, jika suatu saat om atau pacar om berbuat yang melebihi batas aku akan bertindak"
"anak kecil yang sok bijak"
"sudah lah om, percuma kita berdebat. Aku juga sama, awalnya menolak pernikahan ini. Tapi ternyata tidak ada pilihan lain selain menikah dengan om."
"kamu punya pacar?"
"tidak" Ling
"katanya cantik tapi gak punya pacar"
"aku mau punya om om aja" Ling memajukan wajahnya di depan Arlan
"dasar gadis gila" kata Arlan membuang muka
"hahaha, sini ponselmu" pinta Ling
"buat apa?" tanya Arlan tak paham
"buat simpan nomorku lah, nanti kalau om kangen kan bisa menghubungi aku" kata Ling yang masih menengadahkan tangannya
"percaya dirimu tinggi sekali" Arlan memberikan ponselnya
"nih, namanya My Ling"
"terserah"
"om, aku pulang duluan ya. Atau kita mau jalan dulu?"
"saya mau ke kantor"
__ADS_1