Abang CEO

Abang CEO
First kiss


__ADS_3

Jarak wajah Ling dan Arlan sangat dekat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas yang menerpa wajah keduanya. Jantung Ling berdetak lebih kencang bahkan Arlan pun juga merasakan hal yang sama. Perlahan Arlan mengikis jarak di antara keduanya, sampai akhirnya bibir Arlan menyentuh bibir Ling. Ling pun memejamkan matanya, ini baru pertama kali ia seperti ini dengan seseorang. Untuk beberapa saat tidak ada pergerakan dari Arlan, saat Arlan mulai membuka mulutnya tiba tiba bianglala yang mereka tumpangi berhenti.


"abang" Ling yang kaget pun langsung memeluk Arlan


"kamu tenang dulu, sepertinya ada yang akan naik bianglala ini" kata Arlan memenangkan Ling,


Ini suara jantung abang? kok kenceng banget. Sama kaya jantung ku, tadi abang? aaaaaa itu kan first kiss gue. Tapi kok gitu doang .Batin Ling


"udah jalan lagi," kata Arlan


"iya bang maaf" kata Ling


"kamu takut? apa kita turun saja?"


"enggak bang, tadi aku kaget" kata Ling yang menjadi malu mengingat kejadian tadi


"hadap sini" kata Arlan yang ternyata mengarahkan ponsel untuk mengambil foto mereka.


"tadi di foto gak mau" kata Ling setelah Arlan mengambil beberapa gambar mereka


"kan kalau kita berdua gini, nanti saya juga bisa membuat viral nama kamu. Dj terkenal takut bianglala berhenti di atas" Arlan


"ih kok abang jahat sih" Ling


"biar impas, ayo turun" kata Arlan


Mereka pun turun dan jalan keliling pasar malam. Karena Ling sudah merasa capek dan juga sudah hampir larut, mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Ling segera membersihkan badannya dan bersantai di atas ranjang.


"kamu ke Bandung jam berapa?" tanya Arlan yang sudah menyusul Ling


"siang kok bang, acaranya malam"


"kamu pulang kan?" tanya Arlan


"kalau enggak gimana?" tanya Ling sengaja ingin tau respon Arlan


"ya kalau masih urusan pekerjaan gak masalah" Arlan dan Ling hanya manggut-manggut


"kamu gak bisa tidur?" tanya Arlan


"belum bisa bang"


"tapi saya sudah ngantuk, sebenarnya besok juga libur. Terus mau ngapain?" Arlan


"ngapain apa bang?"


"kita kalau tidak tidur mau ngapain?"


"ngapain? aku juga bingung" kata Ling


drt drt


Dering ponsel Arlan begitu menggema, namun saat Arlan melihat siapa yang menelepon wajahnya berubah sedikit panik. Sampai panggilan yang kedua Arlan hanya memandang ponselnya.


"angkat saja bang, siapa tau penting." kata Ling, Arlan hanya mengalihkan pandangannya pada Ling


"aku tidur duluan," kata Ling memposisikan dirinya membelakangi Arlan, ia juga menutup tubuhnya dengan selimut sebatas leher.


Kenapa Nisa telfon, kalau saya angkat nanti gimana dengan Arlinka. Sepertinya Arlinka bad mood lagi. Saya belum bisa melepas Nisa. Batin Arlan


Arlan mematikan ponselnya, kemudian ia ikut tidur di samping Ling. Perlahan Arlan memeluk Ling, dan berusaha untuk tidur.


Abang gak jadi angkat teleponnya, kenapa bang? kenapa abang belum menjelaskan apa pun sama aku. Apa abang tidak punya rasa bersalah?. Tanya Ling yang hanya diam di pelukan Arlan.


Lama dalam diam dan pelukan yang hangat, membuat keduanya tertidur. Sampai jam sembilan, Ling membuka matanya. Posisi nya saat ini sedang memeluk Arlan, ia sedikit menjauhkan tubuhnya karena kaget.


Perasaan tadi malam abang yang meluk aku. Batin Ling melihat Arlan


.


.


.


.

__ADS_1


Sedangkan di depan rumah Arlan, terlihat dua orang laki-laki sedang berdebat. Mereka mendebatkan kebenaran kalau rumah yang mereka datangi ini adalah benar.


"coba deh lo yang ketuk" kata Yoga


"gue takut lo aja, kok mobil si es gak ada" Leo


"iya juga ya," Yoga melihat ke sana kemari


"eh tapi gue kenal sama mobil dan motor itu, tapi gak mungkin deh" Leo


tok tok tok


Yoga memberanikan diri mengetuk pintu, tidak berapa lama pintu putih terbuka.


"pagi bi" sapa Yoga


"pagi tuan, mari masuk" kata bibi


"terimakasih bi," kata Yoga


"biar saya buatkan kopi dulu, kebetulan tuan muda belum keluar kamar." kata bibi


"tumben" Yoga


"saya kurang tau tuan," bibi


Selesai membuatkan kopi, bibi menuju ke lantai atas tepatnya di kamar Arlan.


tok tok tok


Ling yang masih memandang Arlan pun segera tersadar. Perlahan ia beranjak membukakan pintu.


"maaf non, dibawah ada teman nya tuan" kata bibi


"teman? tapi abang masih tidur" kata Ling


"biar saya sampaikan non" Bibi


"minta tunggu sebentar bi, biar saya yang temui" Ling


Saat Ling akan menuju ke kamar mandi, ternyata Arlan sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang.


"Siapa Ling?" tanya Arlan dengan suara seraknya


"temen abang kata bibi, abang mau duluan?" tanya Ling menunjuk kamar mandi


"kamu duluan gak papa, saya bisa di kamar sebelah" Arlan


Setelah selesai mandi, Arlan langsung turun ke bawah menemui tamu yang katanya temannya. Saat di ujung tangga paling bawah, Arlan sudah bisa menebak siapa yang datang.


"jam berapa kalian datang?" tanya Arlan setelah duduk di sofa single


"dari pagi nungguin orang ekhem ekhem" jawab Leo


"ekhem apa?" tanya Arlan


"ya elo lah, pengantin baru. Baru bangun tidur jam segini, keramas lagi. Dapat berapa ronde?" Leo


"ngawur lo, kok gak ngabarin gue sih" Arlan


"gue udah tau jadwal lo, jadi ya ngapain ngabarin" Saut Yoga


"istri lo mana Ar?" tanya Leo


"wah parah lo, tanyanya istri. Niat lo datang kesini cari siapa?" tanya Yoga


"ya gue kan belum kenal, lo pasti kenal kan?" Leo


"baru liat pas wedding, selebihnya selalu pakai masker" Yoga


"Nanti juga tau, ayo sarapan" kata Arlan


Mereka semua menuju ke meja makan, sebenarnya ini bukan waktunya sarapan. Tapi karena bangun kesiangan membuat tuan rumah ini baru mau sarapan.


"Selamat pagi" sapa Ling yang baru datang ke meja makan, tadi sebelum Arlan turun sudah berpesan agar Ling ikut sarapan bersama.

__ADS_1


"Dj Ling" Yoga


"anak singa" kata Leo yang berbarengan dengan Yoga


"KOK LO DISINI?" tanya Ling, Yoga dan Leo bersamaan


"kalian kenapa bisa bareng gitu, duduk sini" kata Arlan pada Ling


"tunggu dulu, Ling kenapa lo bisa disini?" Leo


"aku.....em ak...aku" jawab Ling terbata


"ini istriku, kamu kenal?" kata Arlan


"dia artis gue" Leo


"istri? kok gue gak tau?" Yoga


"gak tau gimana?" Arlan


"kok lo gak jujur sama gue sih Ar, lo kan tau gue suka sama dia" Yoga


"suka sama Arlinka?" Arlan


"ck, kenapa lo pura pura, lo kan tau" Yoga


"gue sama sekali gak tau Ga," Arlan


"jadi Arlan suami lo Ling? yang di jodohkan itu?" Leo


"iya kak" Ling


"lo gak nyakitin Ling kan Ar?" Leo


"enggak lah" jawab Arlan dan membuat Ling menunduk


"gue benar benar tidak habis pikir sama lo Ar," kata Yoga


"sudahlah Ga, orang Ling juga selalu nolak lo. Lebih baik kita doa kan Arlan dan Ling, semoga hubungan mereka langgeng dan bahagia" Leo


"jadi ini alasan lo selalu pakai masker?" tanya Yoga pada Ling


"iya salah satunya" Ling


"Sekarang kita sudah tau siapa Ling, gue minta tolong sama lo Ga, jaga rahasia ini." Leo


"kenapa?"


"hargai keputusan saya dan Arlinka, mungkin ini belum saatnya semua tau" Arlan


"terserah lah, gue hanya mau lo jangan buat Ling kecewa. Atau gue yang akan mengambil Ling dari lo" Yoga


"jaga bicaramu" Arlan


"sudah bang, ayo kita sarapan" Ling


"benar kata Ling, lo harus tenang" Leo


Mereka semua sarapan dengan sedikit canggung, hanya ada obrolan Ling dan Leo. Mungkin Yoga masih belum bisa menerima kenyataan ini, Yoga juga tau bagaimana hubungan Arlan dan Nisa. Ia mengkhawatirkan Ling.


"maaf nona, di depan ada tiga cowok yang mencari nona" kata bibi


"siapa bi?" tanya Ling


"em katanya mau jemput nona ke Bandung, saya kurang tau siapa non"


"Rico pasti Ling" Leo


"bisa jadi, bi tolong kalau Rico suruh kesini" kata Ling


"ukhuk" Arlan tersedak


"abang gak papa?" Ling


"Rico siapa?" Arlan

__ADS_1


__ADS_2