
Ling duduk di meja riasnya, biasa lah rutinitas sebelum tidur, ia menggunakan skincare dulu. Ia menggelung rambutnya menjadi satu, itu berhasil memperlihatkan sebagian bahu dan punggung belakang nya. Arlan di buat terbelalak saat melihat sesuatu di punggung Ling .
"Arlinka, apa yang ada di punggung tengahmu?" Arlan
"memangnya apa? aku tidak merasakan apa-apa?"
"Tato?"
"ah iya," Ling nyengir
"beneran tato?"
"iya abang"
"kok bisa? sini lihat" Arlan menyuruh Ling duduk di hadapannya
"hehehe, memangnya abang baru tau?"
"ya saya baru tau,." Arlan
Memang Arlan baru melihat tato Ling yang ada di punggungnya sekarang. Ling kalau Tidur tidak pernah mengikat rambut nya, atau terkadang juga tertutup selimut, mungkin itu sebabnya Arlan tidak tau. Arlan mengelus punggung Ling yang bertato, ada rasa tidak percaya kalau Ling memiliki tato.
"kapan kamu membuatnya?" tanya Arlan
"udah lama, dua tahun yang lalu kalau tidak salah"
"kok bisa sih, oh iya saya lupa. Coba lihat tangan kiri kamu"
"nah benar kan, saya seperti pernah lihat ini. Tapi saya kira bukan tato" kata Arlan setelah melihat tato dengan nama Arlinka
"ini baru bang, beberapa bulan lalu"
"kenapa?"
"ya gak kenapa kenapa bang, pengen aja"
"pengen kok tato, terus ada lagi?"
"rencananya mau disini, tapi belum kesampaian" jujur Ling yang menepuk dada nya sebelah kiri.
"kamu mau tato di situ?"
"iya pengennya" Ling nyengir lagi
"biar saya yang buat" kata Arlan
"memangnya abang bisa?"
"bisa saja, sini maju"
"alatnya mana?"
"ada, buka dikit boleh?" tanya Arlan dan Ling mengangguk.
Tidak butuh waktu lama, Arlan mendekatkan wajahnya di atas d*da kiri Ling. Ling yang tidak tau apa-apa hanya menurut saja, sebenarnya ia merasa aneh kalau Arlan bisa membuat Tato.
Arlan merangkul tubuh Ling agar tidak bergerak dengan satu tangan, sedangkan tangan yang satunya berada di lengan kiri Ling.
"abang" Panggil Ling yang merasakan detak jantung nya berdegup kencang.
"saya buatkan tato spesial buat kamu" kata Arlan, dan ia segera menempel bibirnya di tempat yang Ling mau.
Ling sempat kaget dengan apa yang di lakukan Arlan. Ling mencoba bergerak namun Arlan lebih kuat menahannya. Karena merasakan hal baru ia rasakan dan aneh, membuat Ling terdiam dan teringat sesuatu. Ia tau apa yang Arlan lakukan seperi drama yang pernah ia lihat.
Hah jantungku, ini abang aaaaa tidak aku ternodai. Tapi kok ada rasa senang, astaga otak. Ayo fokus. Batin Ling menahan panas dingin di tubuhnya
Beberapa saat, Arlan sudah selesai membuat tato. Arlan sedikit menjauhkan wajahnya, dan ia memandang Ling yang terlihat begitu grogi.
"sudah selesai" kata Arlan dengan senyum kemenangan
__ADS_1
Ling melihat ke arah dimana Arlan memberikan tato nya. Ling membelalakkan matanya saat mengetahui betapa merah kehitaman kulitnya saat ini. Ling memiliki kulit yang putih, jadi bisa di bayangkan kalau dengan mudahnya bisa meninggalkan bekas.
"bagus kan tato alami dari saya" Arlan
"abang kok bisa gini?" kata Ling yang syok melihatnya
"itu gratis sayang, kalau mau lagi aku juga mau. Di sini bisa (Menunjuk sebelah kanan) di sini bisa ( menunjuk leher Ling), di mana aja bisa." kata Arlan tanpa dosa
"abang...!!!! 😠" Ling mencubit perut Arlan
"aw aw sakit sayang, jangan gitu dong. Lepasin ya" Arlan
"biarin, terus ini gimana ngilangin nya" kata Ling dengan sedikit rengekan
"lepas dulu nanti saya kasih tau caranya" Arlan
"saya saya, dari tadi saya saya" Ling melepaskan tangannya dari perut Arlan
"maaf lupa, jangan marah dong sayang" Arlan
"gimana ini" kata Ling menunjuk dadanya
"besok hilang sendiri sayang, kalau perlu di tambah lagi, lebih bagus dan **** tau" Arlan
"dasar mesum" Ling merebahkan tubuhnya dan menutup dengan selimut.
Arlan tertawa melihat Ling seperti itu, rasanya bahagia bisa menjahili Ling. Kalau saja Ling tidak berhalangan, pasti Arlan ingin berlanjut. Arlan kemudian ikut tidur, dan memeluk Ling dari belakang.
Pagi harinya, Ling merasakan sedikit nyeri di dada sebelah kanan atasnya. Sebenarnya ia masih ngantuk dan malas membuka mata, karena ia berfikir masih di alam mimpi. Tapi kenapa rasanya semakin nyata, membuat Ling mau tidak mau membuka mata.
"selamat pagi sayang" Arlan
Ling hanya tersenyum, dan mulai melihat ke arah yang sakit.
"aku mandi dulu sayang. Cup" kata Arlan yang mencegah Ling saat akan menunduk. Ia mengecup sekilas kening Ling dan langsung lari ke kamar mandi.
"ABANG....!!!!!" teriak Ling saat melihat hasil karya Arlan lagi.
"sssttt biar seimbang" kata Arlan yang mengeluarkan kepalanya dari pintu.
"iiiihhh" Ling melempar bantal ke arah Arlan, namun tidak kena karena Arlan sudah menutup pintu lebih dulu.
Saat ini Ling dan Arlan sudah berada di meja makan. Ling masih saja terlihat cemberut, seharusnya dia kan bahagia. Tapi kenapa malah marah, atau mungkin Ling belum bisa menikmati.
"sayang, udah dong jangan cemberut gitu" kata Arlan menerima sepiring nasi dari Ling
"kamu sih"
"ya maaf, kan gak keliatan juga sayang"
"gak keliatan, tapi kan..."
"tapi kamu tidak ikhlas?"
"kok abang ngomongnya gitu?"
"ya mau bagaimana lagi, kamu ngambek berarti tidak ikhlas dong. Aku kan suami kamu, sah sah saja"
"bukan gitu maksudnya bang, aku ikhlas kok."
"ya udah kalau ikhlas senyum dong, kalau perlu nanti aku tambah lagi yang banyak" kata Arlan menaik turunkan alisnya
"isshh Abang, nanti aku ada job di club malam bang," Kata Ling mengganti topik pembicaraan
"jam berapa?"
"berangkat sore bang, soalnya agak jauh dari sini"
"nanti tunggu aku pulang, aku mau temenin kamu"
__ADS_1
"abang Yakin?"
"memangnya kamu gak mau aku temani?"
"ya mau, tapi abang gak capek?"
"enggak kalau buat kamu"
"gombal banget"
"serius sayang,"
"ya ya percaya bang."
Setelah sarapan Ling mengantar Arlan ke depan. Terlihat sebuah mobil memasuki halaman rumah Arlan dan Ling. Mobil yang asing bagi Arlan, namun tidak asing bagi Ling.
"Pagi semua" kata Yuda yang turun dari mobil.
"kakak?" Ling terlihat bahagia melihat kakaknya, ia langsung memeluk Yuda.
"ekhem" Arlan berdehem untuk menyadarkan Ling
"suami kamu cemburu" kata Yuda melepaskan pelukan Ling
"enggak, kan sama kakak sendiri, bukan laki laki lain" Ling
"ck, tetap saja. Dari mana aja sih kemarin? kakak juga bingung nyariin kamu. Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Yuda
"enggak ada, abang ngapain kesini?" tanya Ling
"mau minta bantuan dek, Papi kan sedang dinas di luar"
"pak Yuda ngobrol di dalam saja, saya mau berangkat ke kantor, ada meeting pagi"
"panggil kak, bang, jangan pak" Ling
"maksudnya kakak" kata Arlan Kikuk
"gak papa, nanti biar Ling ikut saya ke kantor" Yuda
" saya terserah Arlinka saja, maaf kak kalau saya tidak bisa menemani. Saya permisi dulu," Arlan menjabat tangan Yuda dengan sedikit membungkuk
"kamu hati hati, dan semoga sukses meeting nya " Yuda
"terimakasih kak" Arlan beralih ke Ling dan mengecup keningnya sebentar. Setelah Ling menyalami Arlan, Arlan kemudian menuju ke mobilnya.
"Tidak terlalu buruk" kata Yuda melihat Ling dan Arlan tadi
"maksud kakak?"
"perlakuan Arlan ke kamu sekarang"
"baru juga setelah Ling kembali kak, gak tau ke depannya gimana"
"ada kakak yang akan membantu kamu, tapi sekarang waktunya kamu bantu kakak"
"bantu apa sih kak, nanti malam aku ada job ini"
"kan nanti malam, ini masih pagi Arlinka, jangan banyak alasan"
"ck, ganti baju dulu" kata Ling yang masuk kedalam rumah di ikuti Yuda.
Baru kali ini Yuda mendatangi rumah Ling, ia melihat ke sekeliling sudut ruangan yang bisa ia lihat. Bagus, rapi, elegan namun barang barangnya bernilai wah.
"maaf tuan, mau saya buatkan kopi tau teh?" tanya bibi
"kopi saja bi" kata Yuda yang sebenarnya kaget dengan datangnya pembantu di rumah ini.
"tunggu sebentar tuan," Bibi segera pergi ke dapur.
__ADS_1