
Saat ini Ling sudah berada disalah satu club malam yang terkenal di Lombok. Tadi setelah ia sampai di hotel, Ling segera bersiap berangkat ke club, alhasil ponselnya pun lupa di cas.
"Ling kenapa gak tenang gitu sih, alisnya miring nih" kata Rico
"ck, belum ada kabar dari abang"
"ya belum lah, hp lo aja belum hidup"
"masa???"
"coba aja lo cek"
"kok mati, perasaan tadi enggak. Elo kenapa gak nyalain sih" gerutu Ling
"ye,,gue tau mati makanya gue cas. Diem dulu sebentar lagi selesai ini" kata Rico yang masih memoles wajah Ling
Setelah menyelesaikan make up nya, Ling berusaha menghubungi Arlan.
"kenapa dari tadi gak aktif sih, apa dia sama Nisa? tapi mana mungkin?"
"kenapa lagi?" Rico
"abang kok gak aktif nomornya"
"coba tanya art lo" saran Rico tanpa menunggu lama Ling langsung menghubungi bibi di rumah.
Saat sambungan teleponnya di angkat oleh bibi, Ling langsung menanyakan keberadaan Arlan.
"tunggu sebentar non, tuan baru ada teman nya"
"siapa bi?"
Ada Tuan Yoga. Maaf tuan ini ada telepon dari nona Ling
"Arlinka? mana... sayang kamu dimana kok tinggalin aku" Arlan
"abang, aku kerja di Lombok. Dari tadi aku menghubungi abang tidak bisa." Ling mengubah panggilan nya menjadi panggilan vidio
Kamu mau kemana cantik banget
"manggung bang, sebentar lagi"
kenapa harus cantik seperti itu, aku susul kamu sekarang ya
Jangan gila lo, besok kita harus terbang ke Bali. (saut Yoga)
"abang mau ke Bali?"
Iya, ada kerjaan. Tadinya mau ajak kamu, besok kamu nyusul ya?
"maaf bang, sepertinya gak bisa. Besok pagi aku udah balik ke situ, ada pekerjaan penting kata kakak"
Tapi sayang, aku kangen banget sama kamu.
"memang nya abang berapa hari di Bali?"
Gak tau, aku juga malas sekali
Ling membujuk Arlan yang terlihat tidak bersemangat. Mau bagaimana pun Ling merasa tidak enak dengan Arlan. Meninggalkan suaminya tanpa bertemu terlebih dulu.
.
.
.
.
Pagi ini di sebuah bandara Arlan terlihat cemberut dan uring-uringan. Yoga yang tau alasan Arlan seperti itu pun hanya diam saja. Sedangkan Nisa terlihat bingung dengan sikap Arlan dan berusaha mendekati nya. Tapi Arlan sudah sangat beku dengan Nisa, ia bahkan tidak segan marah kepada Nisa saat Nisa berusaha membujuknya.
"sudahlah Nis, kamu urus saja pekerjaan kita nanti" Kata Arlan dan itu berhasil membuat Nisa diam.
__ADS_1
Sesampainya di Bali mereka langsung menuju ke sebuah hotel yang digunakan untuk meeting. Walaupun pikiran dan hati Arlan sedang tidak berada di tempat, namun Arlan tetap bisa membuat calon kliennya menandatangani surat kerja sama. Selesai meeting Arlan, Yoga dan Nisa menuju ke sebuah hotel terbesar di kota Bali. Hotel itu sudah di booking untuk acara malam nanti, acara yang akan di hadiri para pengusaha yang sukses dan terkenal.
Nisa memperhatikan sebuah undangan kepada resepsionis di hotel itu. Nisa mendapatkan kunci kamar yang akan mereka tempati.
"kok cuma dua?" tanya Yoga
"memang hanya dua kamar fasilitasnya" Nisa
"terus kenapa lo gak pesan satu kamar lagi?"
"em aku sudah pesan tapi tidak ada kamar lagi" Nisa berharap ia akan sekamar dengan Arlan, bahkan ia sudah merencanakan sesuatu
"masa iya gue mau tidur sama Arlan, kapok gue di peluk peluk dia" Yoga
"gue juga gak mau kali tidur sama lo," Arlan
"terus?" Yoga
"gue tau harus tidur dimana" Arlan menaik turunkan Alisnya dan tersenyum
"Lo mau tidur sama Nisa?" tanya Yoga yang melihat Arlan bertingkah aneh, melihat Nisa
"udah ayo, dimana kamar kalian" kata Arlan berjalan terlebih dulu
Apa? Arlan beneran mau tidur sama aku? tidak akan aku sia siakan malam ini mas. Batin Nisa bersorak dan segera melangkah menyusul Arlan dan Yoga
"Ar, lo jangan gila deh, ingat bini" Yoga
"gue gak gila, udah sono lo ke kamar" Arlan
"elo mau kemana sih" gerutu Yoga yang melihat Arlan berjalan cepat.
"pak Tom Jerry" Panggil Arlan
"Tom Jerry siapa?" tanya Yoga dan tidak di gubris Arlan yang sudah menjauh
"Tuan Arlan" Tom dan Jerry pun menghentikan langkahnya dan menunggu Arlan yang mendekati mereka
"Dimana Arlinka?" Arlan
"sendiri kan?"
"iya tuan, kami di kamar 22 dan Rico di kamar 24" Jelas Jerry
"oke" Arlan segera menuju ke kamar 23.
Sesampainya di depan kamar, Arlan menunggu Yoga dan juga Nisa.
"ini kuncinya mas" Nisa menyerahkan kunci yang ternyata nomor 28 yang letaknya pas di depan kamar 23
"Ar, lo tidur sama gue aja. Pasrah gue" Yoga
"ogah..!!!" Arlan
"tapi Ar...." Yoga
Arlan mengetuk pintu kamar Ling, dan Yoga masih tidak paham dengan apa yang dilakukan Arlan. Begitu juga dengan Nisa yang merasa bingung. Tidak lama pintu kamar Ling terbuka, menampakkan Ling dengan muka bantalnya.
"abang?" Ling mengucek matanya
"aku kangen banget sama kamu" Arlan langsung memeluk Ling erat
"Ling?" Yoga
Apa? kenapa ada dj Ling? jad.....jadi benar kalau Arlan menikah dengan dj Ling. Nisa
"kok abang disini?"
"iya ada undangan, ayo masuk" Kata Arlan yang masih memeluk Ling, bahkan Arlan menutup pintu dengan kakinya.
"gue mimpi gak sih? kok ada Ling?" tanya Yoga bingung
__ADS_1
"tau....!!!!!" Nisa yang kesal pun segera masuk kedalam kamar.
"lah gimana sih gue ditinggal" Yoga
Sedangkan di kamar Ling, ia masih saja di peluk Arlan. Kata rindu dan sebagainya masih saja Arlan ucapkan. Seperti sudah satu abad saja mereka tidak bertemu.
"abang stop, abang istirahat dulu pasti capek kan?" kata Ling
"tapi sayang,"
"bang, aku juga masih ngantuk. Nanti malam ada acara kan" Ling
"katanya kamu ada kerjaan di Jakarta?"
"kakak yang mendadak menyuruh aku gantiin undangan ini"
"tapi tidak masalah, aku senang ada kamu"
"ya udah istirahat dulu, aku baru tidur dua jam"
"baiklah sayang"
Selesai membersihkan diri, Arlan menyusul Ling yang sudah tidur di atas ranjang. Ia memeluk Ling agar tidurnya lebih nyaman.
Tidurlah sayang, karena malam nanti aku pastikan kamu tidak akan tidur hahaha. Batin Arlan dengan otak yang sudah traveling.
Sore harinya Arlan membukakan pintu kamar yang di ketuk. Sedangkan Ling sedang mandi dan entah kenapa lama sekali menurut Arlan.
"aaaaaa abang...." teriak Rico heboh
"apa sih berisik" .
"Ling mana? kok abang bisa disini" Rico menengok ke dalam kamar
"lagi mandi, ada apa ganggu aja"
"ini mau kasih gaun nya Ling, sama mau dandanin dia"
"masuk Ric" kata Ling yang baru keluar mandi
Rico langsung melenggang masuk, sedangkan Arlan menggeleng kan kepalanya. Arlan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi, sedangkan Ling duduk di depan meja rias. Tidak butuh waktu lama, Arlan sudah selesai mandi. Ia kembali membuat Rico heboh karena hanya menggunakan jubah mandi, dan memperlihatkan dadanya.
"aduh aduh sempurna" Rico
"ck diam lo, Arlinka bajuku mana?"
"di kasur bang," Ling
Arlan segera mengambil bajunya dan kembali masuk ke kamar mandi. Tidak lama Ling juga sudah menyelesaikan make up nya. Setelah Arlan keluar Ling bergantian masuk untuk ganti baju.
"ngapain kamu masih disini? pekerjaan kamu sudah selesai kan?" kata Arlan pada Rico
"mau lihat Ling"
"udah nanti juga lihat, sekarang lo kembali ke habitat lo sana,"
"ck, abang pelit banget sih, ganteng ganteng galak"
"biarin, sana keluar" kata Arlan dan Rico pun menuruti nya.
Ling keluar kamar mandi dengan gaun panjang berwarna hitam, terlihat begitu cantik dan mempesona.
(kira kira seperti itu gaun yang di pakai Ling.)
Arlan di buat bungkam dengan penampilan Ling yang terlihat berbeda. Rasanya ia tidak ikhlas kalau Ling pergi dengan seperti itu.
"abang aku jelek ya? kok abang lihatnya gitu?"
"kamu cantik, cantik banget. Ak.....aku tidak mau kamu keluar sana, bagaimana kalau kita disini saja" kata Arlan tanpa berkedip
__ADS_1
"kenapa disini? sebentar lagi acaranya mulai"
"kita nikmati malam ini berdua saja" kata Arlan sambil memeluk Ling erat