Abang CEO

Abang CEO
Seorang Ling


__ADS_3

Arlan hanya bisa pasrah saat mendapatkan omelan dari mama nya. Ini baru mama, belum sang papa dan juga mertuanya. Sampai malam Arlan masih belum bisa menghubungi Ling. Dan malam ini Arlan di minta Papanya untuk datang ke rumah. Disini lah mereka sekarang, di ruang kerja sang papa.


"Arlan, sekarang kamu sudah tau kan bagaimana pacar kamu itu. Dan sekarang kamu juga kehilangan Ling. Orang yang sangat berpengaruh bagi papa. Papa sangat menyayangi Ling, dia gadis yang baik. Tega sekali kamu menyakiti hatinya" ujar papa


"pa, Arlan juga menyesal" kata Arlan


"penyesalan kamu itu telat, kalau sudah seperti ini kita mau apa?" Papa


"bantu Arlan mencari Ling pa, bukan menyudutkan Arlan" Arlan


"mau kemana kamu mencari Ling? bahkan kamu tidak tau kapan hari ulangtahun Ling. Bukankah itu menandakan kalau Ling adalah orang asing bagi kamu? lalu bagaimana kamu bisa mencari Ling" Papa


"Pa.." Kata Arlan


"Asal kamu tau Ar, papa sudah lebih dulu mengetahui kebusukan sekretaris kamu itu. Semua itu dari Ling" papa melempar sebuah amplop berisi foto foto


Arlan yang penasaran pun membuka amplop itu, terlihat ada sebuah foto pernikahan Nisa dan Kevin, foto kebersamaan Nisa dan Kevin. Tanpa sadar Arlan meremas foto itu.


"kamu tau tujuan Ling mengajak kamu ke tempat kerja?" tanya papa dan Arlan menggeleng


"tujuannya itu, memperlihatkan kamu kalau perempuan itu sudah menikah. Ling sudah tau terlebih dulu"


"tapi kenapa Arlinka tidak jujur?" Arlan


"memang nya kamu pernah jujur tentang hubunganmu dengan perempuan itu" kata papa membuat Arlan terdiam


"sebelum kamu menikah dengan Ling, papa sudah menyelidiki sekretaris kamu itu. Papa hanya tidak ingin kamu terpuruk lagi, dan papa menikah kan kamu agar perlahan melupakan perempuan itu." kata Papa


"asal kamu tau Ar, Ling tidak ingin kamu datang padanya saat kamu sakit hati seperti ini. Ia tidak mau menjadi pelampiasan semata. Ada sebuah perjanjian antara papa, Ling dan juga pak Anggara." sambung papa


"perjanjian?" tanya Arlan bingung


"iya perjanjian itu berisi, jika sampai tiga bulan kamu belum bisa mencintai dan menerima Ling, maka Ling akan mundur. Tapi kalau sebelum tiga bulan ternyata Ling sudah lelah berjuang ia mundur. Dan kamu seharusnya paham, kalau saat ini Ling sudah memiliki perasaan untuk kamu. Makanya ia memilih untuk pergi, karena kamu lebih memilih perempuan itu."


"pa, bukan seperti itu" Arlan


"lalu seperti apa? tanpa kamu tau Ling sudah tau semuanya. Pernikahan Nisa, hubungan kamu dan Nisa, bahkan siapa dalang di balik goyang nya perusahaan kamu Ling tau. Ling yang membantu papa, Ling yang membantu kebangkitan perusahaan kamu. Jack siapa bos besar kamu?" tanya Papa pada Jack yang memang ada di sana


"Nona Arlinka," jawab jack mantap


"kamu dengar kan Ar, tangan kanan Ling adalah Jack, ia terkenal sebagai detektif yang cerdik. Bahkan belum ada yang mengalahkan dia, apa kamu pernah dengar perusahaan Anggara down? tidak pernah kan? karena jantungnya adalah Ling. Begitu juga dengan papa, berapa banyak anak buah Jack. Tapi mereka tidak mengenal siapa bos besar mereka. Sekarang kamu harus paham, Ling orang yang pandai. Ia akan menutup semua akses yang bisa menemukan dia di mana." jelas papa


"maksud papa?" kata Arlan yang tidak begitu paham


"Ling seorang hacker, dia bisa menyelesaikan masalah dengan mudah dan cepat. Bahkan hacker di perusahaan kamu saja tidak ada apa apanya dengan Ling. Papa tidak memanfaatkan kelebihan Ling ini, karena papa sayang dengan Ling jadi papa ingin yang terbaik buat Ling. Berulangkali papa bilang jangan kecewakan Ling." papa


"tapi Arlan gak tau

__ADS_1


kenapa Ling harus pergi dari kantor. Aku dan Nisa sudah mengakhiri hubungan kita. Dan aku berjanji akan mencintai Ling pa, tapi malah seperti ini" Arlan


"papa tidak tau kamu jujur atau tidak Ar, yang terpenting papa sudah menyampaikan siapa Ling. Tidak mudah kita akan mencari Ling." papa


Arlan hanya diam saat mengetahui siapa Ling. Ia tidak pernah menyangka jika Ling ternyata orang yang begitu hebat, bahkan mungkin lebih pandai daripada dirinya.


"Ar di depan ada mertua kamu" kata mama membuyarkan lamunan Arlan.


"temui, tanggungjawab atas semua yang kamu perbuat" kata papa


"baik pa" Arlan beranjak keluar menemui Papi Anggara


Entah harus berbicara apa nanti saat Arlan ketemu dengan Papinya. Ia begitu bingung dengan keadaan saat ini.


"malam Pi" sapa Arlan kikuk


bug


Satu pukulan mendarat di pipi Arlan, ia tidak membalas karena mertuanya yang melakukan.


"Saya sudah peringatan kamu untuk tidak menyakiti Ling dan membuat Ling kecewa" Kata Papi


"maaf Pi" kata Arlan menunduk


"Pak anggara, silahkan duduk. Kita bicarakan baik baik" kata papa


"kenapa Ling bisa pergi?" tanya Papi


Arlan kemudian menjelaskan apa yang terjadi kemarin dan tadi di kantor. Dan kemungkinan Ling salah paham mendengar pembicaraan Arlan dan Nisa. Papi juga sudah menjelaskan kalau beliau sudah menghubungi beberapa tempat yang memungkinkan Ling akan ke sana. Namun tidak ada satu tempat tinggal keluarga Anggara yang di datangi oleh Ling.


.


.


.


Sedangkan di sebuah bus eksekutif, Ling duduk bersandarkan pada kursi. Ia menggunakan masker agar tidak begitu di kenali orang. Perjalanan nya menuju ke bandara yang ada di kota Semarang. Masih membutuhkan waktu beberapa jam lagi. Saat akan memejamkan mata, nyatanya Ling tidak bisa tertidur dengan pulas. Pikirannya hanya tertuju kepada Arlan.


Maafin aku bang, aku benar-benar tidak sanggup. Mungkin abang juga tidak peduli saat aku pergi. Mudah mudahan ini jalan yang terbaik untuk kita mengoreksi diri. Batin Ling


"mbak mau turun tidak? seperti nya bus ini mau istirahat sebentar" kata seorang wanita di samping Ling


"eh iya mbak saya lapar, mbak mau turun juga?" tanya Ling sopan


"saya mau cari udara segar mbak. Rasanya pengap. Mari mbak" kata wanita itu tersenyum


Ling turun dari bus dengan perlahan, ia melihat wanita di sampingnya tadi sedang meregangkan otot-otot tubuh nya. Saat di rest area Ling melihat ke sekeliling untuk mencari makan, saat sudah menemukan tempat yang pas, Ling segera ke sana.

__ADS_1


"mbak, kok makan disini?" tanya Ling mendekati wanita di sampingnya tadi


"iya mbak, ini masih ada sedikit nasi" kata wanita itu


"mbak ikut saya makan di dalam saja, itu pasti sudah kurang enak" kata Ling melihat Nasi yang ada di pangkuan wanita itu


"tidak apa mbak, saya sudah terbiasa"


"seperti nya mbak hamil, gak baik loh mbak makan seperti itu. Ayo mbak ikut saya saja, biar saya traktir" kata Ling


"tidak usah mbak, merepotkan"


"ayolah mbak, kita bisa kenalan di dalam. Saya maksa loh" Ling


"ya sudah, kalau begitu" Wanita itu pun kembali membungkus nasinya


"mbak itu di buang saja, sudah mau basi" Ling


"iya mbak" kata wanita itu.


"saya Arlinka mbak" kata Ling mengulurkan tangannya


"saya Juni, mbak Arlinka mau kemana?" tanya Juni


"saya mau ke.... jalan jalan mbak" kata Ling tersenyum kikuk


"sepertinya mbak bukan asli Jawa?" tanya Juni


"iya mbak, saya hanya mau liburan. Kalau mbak Juni mau kemana? kok sendiri?" Ling


"saya mau pulang kampung mbak, rencananya mau melahirkan di kampung saja."


"suami mbak?"


"sudah pulang duluan mbak, kemarin saya baru dapat cuti" Juni


"oh, sudah berapa bulan mbak kandungan nya?"


"ini sudah tujuh bulan, mbak Arlinka kerja apa kuliah?"


"saya sudah bekerja mbak," jawab Ling


"saya kira masih kuliah mbak, pasti banyak yang naksir. Semoga anak saya besok cantik seperti mbak Arlinka," Juni


"amin mbak, ayo makan" ajak Ling karena pesanan mereka sudah datang.


Ling menikmati makanan nya, sesekali ia mendengar cerita hidup Juni yang terbilang sulit. Di posisi masih kekurangan tapi suaminya begitu sayang dan cinta kepada Juni. Sedangkan Ling...? entahlah.

__ADS_1


__ADS_2