Abang CEO

Abang CEO
Memikirkan Ling


__ADS_3

Makan malam di keluarga Arlan terasa lengkap, apalagi di tambah dengan hadirnya Ling. Seringnya hanya ada Mama dan papa atau mama dan Arlan, dua laki laki itu terkadang lupa waktu saat bekerja.


"makan yang banyak dong Ling" kata mama


"iya ma, ini udah banyak"


"kamu besok udah kerja Ar?" tanya papa


"sudah pa"


"kenapa gak ambil cuti panjang aja sih, liburan dulu sama Ling" kata mama


"memang kamu mau liburan?" tanya Arlan pada Ling


"Aku sih terserah abang aja, pengen banget juga enggak" jawab Ling


"tuh ma, kan bisa kapan kapan" kata Arlan


"Mama hanya ingin kalian lebih dekat"


"kalau itu Arlan berencana mau tinggal sendiri dengan Ling ma, pa" jawab Arlan meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong.


"kalau itu papa sudah punya hadiah buat kalian" papa manarik amplop coklat dan memberikan kepada Arlan


"apa ini pa?"


"buka aja" jawab papa


"sertifikat rumah? atas nama Arlinka?" tanya Arlan yang membaca isi dokumen itu


"ya, papa kasih rumah itu untuk kalian. Tapi Atas nama Ling," jawab papa


"jadi papa mengijinkan kami hidup mandiri?" Arlan


"papa juga sama seperti mama, ingin kalian lebih dekat. Ini bukan berarti papa dan mama mengusir kalian, atau tidak suka kalian tinggal disini. Semua demi kalian, dan kami harap kalian segera menjalin hubungan layaknya suami istri." Jelas papa


"terimakasih pa" kata Arlan


"Ling besok ada salah satu bibi yang ikut kalian, mama tau kalian berdua sulit dekat dengan orang baru" kata mama


"iya ma terimakasih" kata Ling


Selesai makan malam Arlan pamit ke kamar, sedangkan Ling ikut mama di ruang tengah.


"selamat malam" sapa Bara


"malam, kamu cari bapak ya?" tanya mama


"iya Bu, tadi sudah menghubungi saya"


"Bar, kamu sudah lama?" tanya papa dari ruang kerjanya


"Baru saja pak" jawab Bara menunduk sebentar.


"kalau gitu kita diskusi di tempat biasa, kamu bisa Ling?" tanya papa


"bisa pa, biar Ling ambil laptop dulu" Ling beranjak menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Ling melihat Arlan yang sedang memangku laptop. Karena terlihat begitu serius Ling tidak berani menyapa. Perlahan Ling mendekati tas ransel yang ia bawa tadi. Mengambil tas laptop yang ada di sana, saat akan keluar Ling bingung antara pamit dengan Arlan atau langsung pergi begitu saja. Ling terdiam sejenak bersandar di meja rias.


"kenapa kamu?" tanya Arlan melirik Ling sebentar


"abang hehehe"


"ada yang kamu inginkan?" tanya Arlan lagi tanpa memandang Ling

__ADS_1


"eng....enggak sih, cuma mau bilang aku ke bawah dulu" kata Ling


"hhhmm kan tinggal ke bawah, bawa laptop,?"


"iya, takutnya abang kangen nyariin aku" kata Ling mulai melangkah


"dasar gadis kecil percaya diri sekali" gumam Arlan.


Ling menuju tempat biasa yang ia gunakan untuk berdiskusi dengan pak Delon dan juga Bara. Ling akan mendiskusikan masalah pekerjaan dengan mertuanya itu, tidak jarang Ling datang ke rumah ini, atau ke kantor pengacara milik pak Delon. Bahkan beberapa kali Pak Delon yang mendatangi club malam milik Ling. Kalau sudah seperti ini, mereka bertiga akan bermuka kaku. Tidak ada senyum dari mereka, yang ada hanya fokus dalam pekerjaan, bahkan mama pun tidak berani mendekati mereka.


Sudah pukul sebelas malam Ling belum juga kembali kemar. Arlan yang penasaran pun turun kebawah untuk mencari keberadaan Ling. Sampai di tangga bawah Arlan hanya melihat mamanya sedang melihat sinetron favoritnya.


"mama sendiri?" tanya Arlan mendekati mamanya. Terlalu gengsi lah kalau ia bertanya Ling dimana.


"Ling ada di gazebo belakang" jawab mama


"siapa yang cari Ling?" Arlan


"kamu lah, pasti mau cari Ling kan?" goda mama


"enggak, mau cari minum" Arlan berlalu ke dapur.


Setelah dari dapur, Arlan membawa sebotol air dingin menuju pintu belakang. Dilihatnya Ling dengan papa juga asisten papanya. Arlan baru pertama kali melihat ini, ia begitu penasaran dan mencoba mendekat.


"abang," sapa Ling yang melihat suaminya, padahal Arlan berusaha agar mereka tidak menyadari kehadirannya.


"em, kalian sedang apa?" tanya Arlan pura pura sok cool, agar tidak terlihat gugup di pergoki Ling.


"tadi aku diskusi tentang tuntutan sabotase dan juga pencuri dokumen" jawab Ling, yang pasti bukan itu tadi pembahasan Ling dan mertuanya.


"tuntutan untuk siapa?" tanya Arlan


"adalah besok juga tau, abang kangen sama aku?" tanya Ling mengalihkan pembicaraan


"kangen?" Arlan bingung dengan pertanyaan Ling


"hahahha papa juga pernah muda Ar, ya sudah sana, diskusi kita sampai disini aja Bar" kata papa


"apaan sih papa" gerutu Arlan


"pa, Ling ke kamar dulu ya. Ayo bang" pamit Ling dan mengaitkan tangannya di lengan Arlan.


"dasar gadis kecil"


Setelah sampai di kamar, Ling meletakkan laptop kemudian ke kamar mandi. Sedangkan Arlan duduk di tepi ranjang dengan kaki yang di lurus kan.


"Arlinka, gimana kalau besok kita lihat rumah pemberian papa" kata Arlan saat melihat Ling kembali


"aku terserah abang aja" jawab Ling memposisikan diri di samping Arlan


"ya sudah kalau begitu besok setelah makan siang kita ke sana. Istirahat lah" kata Arlan yang bersiap tidur


"bang" panggil Ling


"apa?"


"aku tidak bisa tidur"


"terus?"


"peluk" jawab Ling cepat dan membuat Arlan membuka mata seketika


"kenapa?" tanya Ling bingung melihat ekspresi Arlan


"kamu?" Arlan seperti tidak percaya dengan apa yang di katakan Ling,

__ADS_1


"aku gak serius bang,aku juga tau kamu belum mau kan sama aku." Ling beranjak bangun


"Arlinka"


"tidurlah bang, besok kamu kerja kan" Ling meraih laptop dan menuju ke pintu balkon


Apa dia marah ya? aku harus gimana. Batin Arlan melihat pintu balkon yang tertutup


Sudah hampir satu jam Arlan belum bisa tidur nyenyak, ia kepikiran dengan kata-kata Ling tadi. "belum mau sama aku" itu yang terngiang di telinga Arlan.


"kenapa dia belum balik, memangnya gak dingin di luar" gumam Arlan


"Arlinka" panggil Arlan yang berdiri bersandar di pintu


"ya" jawab Ling tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop


"kamu gak dingin?"


"enggak"


Kenapa dia jadi cuek gini. batin Arlan


"ngerjain apa?" tanya Arlan


"laporan keuangan" jawab Ling.


"laporan ke...."


"maaf bang aku angkat telepon dulu" kata Ling yang melihat Rico menghubunginya


"Ya Rica" jawab Ling


Daniel kecelakaan tadi saat berangkat ke club, jadi beberapa hari ke depan tidak ada yang nge Dj. Lo udah bisa masuk?


"kecelakaan? gimana kondisinya?"


Cuma keseleo butuh istirahat beberapa hari. Gimana lo bisa kan ngisi di club?


"minta yang lain aja, gue belum bisa. Besok kita ketemu sekalian jenguk Daniel"


Oke lah, semangat buat baby


"mulut lo" Ling mematikan sambungan telepon nya.


Ling memijat keningnya, ia harus memutar otak mencari pengganti Daniel sementara.


"kenapa?" tanya Arlan mengagetkan Ling


"abang" gerutu Ling yang baru ingat ada Arlan di sana


" kamu kenapa? ada masalah?"


"salah satu orang yang kerja sama aku kecelakaan, besok aku ijin jenguk dia ya bang?"


"iya, ya udah ayo masuk dingin"


Tanpa menjawab Ling menutup laptopnya dan segera beranjak masuk kamar. Sejujurnya Ling masih belum ngantuk sih, tapi mau bagaimana lagi. Arlan dan Ling sudah di atas tempat tidur, mereka sama sama memandang ke langit-langit kamar. Entah kemana mana pikiran mereka saat ini, dan yang pasti tidak ada obrolan di antara mereka. Perlahan Arlan memiringkan tubuhnya menghadap Ling, di pandangannya Ling yang masih dalam posisi terlentang.


Peluk, masa iya aku harus meluk dia. Nanti kalau dikira aku agresif gimana. Kalau dia nolak aku gimana? Kenapa aku jadi mikirin Arlinka, baru juga sehari jadi suami nya.


"Kamu mau tidur jam berapa?" tanya Arlan


"gak tau bang" jawab Ling melirik Arlan sebentar


Dengan perlahan Arlan meraih pinggang Ling, dan menariknya dalam pelukan. Ling sempat kaget, namum dia menurut saja.

__ADS_1


"tidurlah" Arlan


__ADS_2