
Entah kenapa Ling yang tadinya membeku dengan perlakuan Arlan, perlahan Ling bisa tertidur pulas. Pagi harinya, Ling bangun terlebih dahulu. Dilihatnya tangan Arlan masih melingkar di perutnya. Ling berusaha untuk tidak membuat gerakan yang bisa membangun kan Arlan. Ternyata nyaman di peluk seperti ini, dulu ia sering tidur di pelukan maminya, tapi setelah maminya tidak ada hanya guling yang menemani Ling.
Perlahan Arlan membuka mata karena mendengar suara alarm di ponselnya. Ia meraih ponsel dan mematikannya, setelah itu ia kembali memeluk Ling.
"abang" panggil Ling pelan
"hm" jawaban Arlan hanya bergumam
"memangnya abang gak kerja?"
"sebentar lagi saya bangun"
"nyaman ya meluk aku" kata Ling malu dan menyembunyikan wajahnya
"hah?" Arlan segera bergeser dan melihat ke arah Ling
"maaf saya gak sengaja" kata Arlan
"gak sengaja apanya, orang tadi malam abang yang narik aku" kata Ling
"masa? kamu mimpi kali. Saya mandi dulu" Arlan beranjak bangun karena malu
"gak ngaku segala, tapi gak papa mudah mudahan perlahan kita bisa saling menerima bang" gumam Ling.
.
.
.
.
Setelah selesai sarapan, Ling dan Arlan berpamitan dengan mama dan papa. Sesampainya di parkiran , Ling mendekati Arlan.
"bang" Ling mengulurkan tangannya
Arlan meraih dompetnya dan memberikan salah satu kartu untuk Ling.
"pakai ini dulu, nanti saya buatkan untuk kamu pegang." kata Arlan
"tapi bang" Ling membolak-balik kartu itu karena bingung
"kurang? itu cukup buat beli mall dan seisinya" kata Arlan
"ish bukan itu, kalau kalau ini aku juga punya nih." Ling memperlihatkan dompet yang berisi kartu debit, kartu Kredit, KTP, SIM dan lainnya yang berbentuk kartu
"terus?" tanya Arlan
"salim bang, kan Abang mau berangkat kerja. Aku juga mau ketemu Rica" kata Ling
"oh, ya udah kamu pakai aja kartunya." kata Arlan mengulurkan tangannya.
Setelah itu, Ling dan Arlan memasuki mobil masing-masing. Ling melajukan mobilnya ke rumah sakit, ia akan menjenguk Daniel. Sesampainya di rumah sakit, Ling berjalan sendiri menuju ke ruangan Daniel.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban dari dalam, karena sudah beberapa kali mengetuk dan masih tidak di bukakan. Akhirnya Ling membuka pintu yang ternyata tidak di kunci itu.
"hey bangun" kata Ling yang lumayan keras
"apa sih ganggu" gumam Daniel
"bangun kalian, enak enakan tidur. Memangnya tidak ada dokter yang visit apa" kata Ling
"udah tadi, terus gue di kasih obat tidur. Biar gak berisik" kata Daniel
"bohong banget, nih sarapan dulu" Ling menyodorkan sebungkus nasi uduk yang ia beli di pinggir jalan
"eh mau kemana lo?" tanya Daniel melihat Ling melangkah
"tidur" jawab Ling
__ADS_1
"eh gue gimana makannya?"
"jangan manja, tangan kanan lo gak sakit kan," kata Ling
"bos gak perhatian lo"
"kalau gue gak perhatian, lo gue taruh di ruangan biasa sono." jawab Ling dan Daniel pun hanya bisa menggerutu
Pukul sepuluh pagi Rico terbangun dan melihat Ling tidur di sampingnya.
"kapan dia datang?" tanya Rico pada Daniel yang sedang main game di ponselnya
"tadi pagi, sarapan gih" kata Daniel
"mules gue" kata Rico beranjak
"jorok banget sih lo" kata Daniel namun tidak di gubris Rico.
Setelah Rico keluar kamar mandi, ia membangunkan Ling. Tidak butuh waktu lama, Ling pun segera bangun.
"sampai berapa ronde semalam?" goda Rico
"Ronde ronde apaan, biasanya jam segini gue tidur. Kalau di rumah mertua ya malu lah"
"mertua?" saut Daniel
"cerita nya panjang, kita bahas kerjaan dulu aja" kata Ling beranjak cuci muka
"lo mau berapa hari?" tanya Rico pada Daniel
"gue sih paling seminggu, badan gue sakit semua" Daniel
"gimana Ling?" tanya Rico
"Dj Talita gimana?" tanya Ling
"kasian dia kalau seminggu full" Rico
"siapa dong? Rico
"itu PR buat lo, gue tunggu satu minggu lagi harus ada. Untuk seminggu ke depan biar gue bantu Thalia" Ling
"puyeng deh eke" Rico
"job lo banyak Ling?" tanya Daniel
"gue udah nikah, dan kemungkinan suami gue akan melarang gue ngeDj lagi" kata Ling
"nikah? sama siapa? lo gak bohong kan?" Daniel
"enggak, udah hanya lo dan Rica yang tau. Gue harap lo bisa di percaya.Udah mau jam makan siang, gue cabut dulu" Ling
"kemana sih?" Rico
"ke kantor abang, ada janji" Ling beranjak untuk pergi
"abang siapa?" tanya Daniel pada Rico
"suaminya Ling. Gue juga cabut deh cari dj dulu" jawab Rico
"eh gue gimana?" Daniel
"terserah lo deh" Rico juga beranjak meninggalkan Daniel.
.
.
.
.
__ADS_1
Ling sudah berhenti di depan kantor Arlan, ia sedang berfikir. Akan bermasalah tidak jika dirinya langsung masuk dan mengatakan kalau istri dari CEO mereka. Kemungkinan ke dua, akan ada karyawan Arlan yang mungkin mengetahui Ling seorang dj. Ling adalah Dj yang cukup terkenal, bahkan honor Ling bisa mencapai ratusan juta sekali manggung.
Ling memikirkan karirnya dan juga nama baik Arlan. Dengan mantap Ling menggunakan masker juga kacamata hitamyanya untuk penyamaran. Saat sampai di lobby, otomatis Ling di cegat oleh security di sana . Saat di tanya Ling sedikit bingung untuk menjawab, namun beruntung nya ada yang bisa menyelamatkan Ling.
"Nona" sapa Bara menunduk hormat pada Ling
"pak Bara mau ke atas?" tanya Ling
"betul nona, mari silahkan nona" Bara mempersilahkan Ling berjalan duluan, karena ia tau Ling tadi akan ke ruangan Arlan tapi di cegah security
"maaf pak Bara, tapi tidak boleh sembarang orang masuk kedalam. Apalagi ke atas" kata security itu
"beliau majikan saya, anak pak Delon. Silahkan Nona" jelas Bara meninggalkan lobby bersama Ling
"terimakasih pak Bara, kenapa anda kesini?" tanya Ling di dalam Lift
"saya diminta pak Delon mengantarkan ini untuk tuan Arlan, atau saya bisa memberikan pada Nona saja?"
"ini kunci rumah baru Nona dan tuan" Sambung Bara
"kalau begitu biar sama saya saja pak"
"baik nona,"
Setelah memberikan kuncinya pada Ling, Bara mengantar Ling sampai ke depan ruangan Arlan. Karena bisa di pastikan akan ada banyak pertanyaan jika Ling datang sendiri.
"saya permisi Nona" pamit Bara
"terimakasih pak Bara" kata Ling
Tok tok tok
Ling mengetuk pintu ruangan Arlan, tidak lama terdengar suara yang memintanya masuk. Perlahan Ling membuka pintu, dan saat itu juga Ling di buat terkejut. Karena Arlan masih dengan posisi yang sama, Ling membuka kacamata hitam nya. Berharap Arlan sudah mengenal dirinya.
"Arlinka" kaget Arlan saat sudah tau siapa yang mendatangi nya, seharusnya Arlan juga sudah mengetahui kalau itu Ling, dari pakaian nya saja masih sama saat pagi tadi. Dengan segera ia melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Nisa, dan sedikit menjauh dari Nisa.
"abang ngapain sama mbak sekertaris kan?" tanya Ling setenang mungkin.
"i ...ini tadi" kata Arlan gugup
"makan bareng? padahal aku mau ngajak abang makan diluar, sekalian liat rumah" kata Ling
"em nanti kita makan di luar, kita tunggu Bara antar kunci" kata Arlan
"ini, tadi ketemu di bawah. Memangnya abang tidak mau mengenalkan aku ke sekertaris abang? bukankah acara makan bersama sudah selesai?" tanya Ling menyindir Nisa yang masih di posisi yang sama
"em Nisa ini Arlinka" kata Arlan, Nisa segera berdiri mendekati Ling
"saya Nisa " kata Nisa mengulurkan tangannya dengan takut
"Aku Arlinka, istrinya abang Arlan" kata Ling menjabat tangan Nisa
"kalau begitu saya permisi pak, bu" kata Nisa
"i.....iya" jawab Arlan yang masih bingung
Sabar Ling, jangan perlihatkan kemarahan kamu. Pura pura saja tidak tau, tunggu Arlan akan jujur atau tidak denganmu. Batin Ling.
"Arlinka ayo duduk dulu" ajak Arlan
"gak usah" jawab Ling
"mau berangkat sekarang?" tanya Arlan
"terserah"
"kamu kenapa?" tanya Arlan heran dengan sikap Ling
"pekerjaanmu sudah selesai? kita berangkat sekarang aja"
"ya sudah, biar aku bereskan dulu."
__ADS_1