Abang CEO

Abang CEO
Pasrah


__ADS_3

Leo mengangguk sebagai jawaban, dan mereka pun kembali ngobrol tentang apa saja.


"hey bro" sapa seseorang yang menghampiri mereka


"eh Yoga, kok lo bisa masuk sini?" tanya Leo


"iya gue lihat lo dari sana, gila lo pulang gak nemuin kita" Yoga


"gue masih ada urusan tadi, besok kita kumpul"


"kak, gue ke sana dulu" kata Ling


"mau kemana, sini aja sama aa" Yoga


"jangan ganggu anak gue" Leo


"jodohin lah sama gue" Yoga


"udah ada jodohnya, " Leo


"permisi kak" kata Ling beranjak pergi


"pelit amat lo, bagi satu artis lo kek" Yoga


"emang permen bagi bagi" Leo


"gue beneran suka sama dia bro, bantuin kek" Yoga


"sory Ga, gak bisa"


"jangan bilang lo juga suka" tuduh Yoga


"gue sayang sama dia, dia udah kaya adik gue. Kalau masalah cinta, ya cinta sebagai kakak saja" Leo


"yakin?" Yoga


"lo gak percaya? gue masih setia sama Bela" Leo memperlihatkan cincin tunangan nya dengan Bela.


"ya ya ya" Yoga


.


.


.


.


Setelah sampai di rumah, Ling melihat Arlan yang tertidur di sofa. Bahkan laptop Arlan juga masih menyala. Apa itu tandanya Arlan belum lama tertidur? Perlahan Ling mendekati Arlan.


"bang" panggil Ling namun tidak ada sautan, hanya suara dengkuran halus yang Ling dengar.


"hhhmmm,, kamu lembur kerja bang,?" gumam Ling yang melihat laptop Arlan.


Ling menuju ke kamar tamu yang ada di bawah, ia mengambil sebuah selimut untuk menyelimuti Arlan. Sebenarnya Ling tidak tega melihat Arlan tidur di sofa, tapi mau bagaimana lagi Ling tidak kuat kalau harus memindahkan Arlan. Setelah menyelimuti Arlan, Ling meraih laptop Arlan dan mencoba meneruskan pekerjaan Arlan. Karena Ling termasuk orang yang pandai, pekerjaan Ling tidak di ragukan lagi. Mungkin Arlan saja yang belum tau kinerja Ling yang sebenernya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul Lima pagi. Ling yang baru menyelesaikan pekerjaan Arlan pun merenggangkan otot ototnya.


"Nona Ling" sapa bibi


"sssttt" Ling memberi isyarat agar bibi tidak terlalu keras berbicara.


"maaf, Nona sudah bangun?" tanya bibi berbisik


"tidur aja belum bi," kata Ling


"Non baru pulang?" tanya bibi


"udah dari tadi jam tiga bi,"


"oh, kalau gitu bibi buat sarapan dulu non. Kalau Non Ling mau apa apa ke dapur saja, biar saya siapkan" bibi

__ADS_1


"iya bi, terimakasih"


Ting


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Arlan. Ling melirik Arlan yang masih tertidur pulas, Ling meraih ponsel Arlan untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan.


*Mas udah bangun belum?, mau di bawakan sarapan gak?


Kebetulan aku mau masak ayam kampung kesukaan mas*.


Begitulah isi pesan singkat dari Nisa yang Ling baca tanpa membuka aplikasi pesan. Ling hanya melihat dari tampilan depan saja, jadi masih aman dan mungkin Arlan tidak menyadari nya. Ling kembali meletakkan ponsel Arlan dan menuju ke dapur. Setelah berbicara dengan bibi, Ling langsung ke kamar dan memutuskan untuk tidur saja.


Tepat pukul enam, alarm di ponsel Arlan berbunyi. Setelah berbunyi untuk yang ke tiga kali nya, Arlan baru bangun dan mematikan alarm nya.


"semalam aku ketiduran disini," gumam Arlan kemudian beranjak bangun


"tuan Arlan," panggil Bibi saat melihat Arlan menuang air putih di dapur.


"hm" jawab Arlan


"tadi non Ling titip pesan, kalau tuan sudah bangun, baju kerja sudah di siapkan di kamar. Sama non Ling minta maaf karena tidak bisa menemani tuan sarapan" bibi


"kenapa?" tanya Arlan


"Non Ling baru tidur jam lima tadi tuan"


"pulang jam lima?" tanya Arlan


"tidak tuan, katanya tadi pulang jam tiga. Terus nunggu tuan tidur" bibi


"maksudnya gimana?"


"tadi, non Ling nunggu tuan yang lagi tidur. Sambil kerja di depan laptop" jelas bibi


"ya sudah, saya ke atas dulu"


"baik tuan" bibi


Sesampainya di kamar, Arlan melihat Ling yang meringkuk di bawah selimut. Niat hati ingin mendekati Ling, namun sebuah pesan masuk di ponselnya membuat Arlan mengurungkan niatnya. Ia membuka pesan, yang ternyata dari Nisa lagi.


Terimakasih Nisa*


Begitulah isi balasan Arlan untuk Nisa, setelah itu ia bergegas untuk mandi. Selesai dengan ritualnya, Arlan segera berangkat ke kantor. Namun sebelum berangkat ia sempatkan untuk melihat Ling yang masih tertidur.


.


.


.


.


.


"Mas, aku siap kan sarapan nya ya?" tanya Nisa yang saat ini di ruangan kerja Arlan


"iya, karena setengah jam lagi saya mau meeting" kata Arlan yang membuka laptopnya.


"mana data saya kemarin ya? apa belum tersimpan" Arlan mengotak atik mencari data yang harus ia gunakan meeting untuk pagi ini


"cari apa mas?" tanya Nisa yang sudah duduk di samping Arlan


"ini data yang aku kerjakan semalam, kok gak ada. Padahal aku kerjain sampai hampir jam tiga" kata Arlan yang masih sibuk mencari


"coba di ingat dulu mas, ini sambil makan aku suapin" Nisa menyodorkan sesendok nasi, sayur dan lauk, Arlan dengan senang hati menerima perlakuan Nisa.


"itu folder baru apa mas?" tanya Nisa yang sedikit hafal dengan isi laptop Arlan


"folder baru?" gumam Arlan yang menyadari ada folder baru


Data Abang semalam

__ADS_1


Sebuah Folder dengan nama yang aneh menurut Arlan, karena penasaran dan merasa tidak membuat nya, Arlan membuka Folder itu.


"ukhuk" Arlan tersedak saat melihat isi folder itu


"pelan pelan mas, kamu gak papa kan?" Nisa


"enggak kok," Arlan kembali fokus melihat isi folder nya .


Perasaan tadi belum selesai, tapi ini kok udah rapi banget. Pekerjaan nya juga bagus sesuai yang aku mau, ini kan susah banget. Kok Arlinka bisa mengerjakan ini. batin Arlan


"mas.....mas....." panggil Nisa


"iya,"


"mau makan lagi gak?" tawar Nisa


"biar aku sendiri saja, ini sudah selesai kok kerjaan aku"


"yakin?"


"iya Nisa, terimakasih" Arlan


Arlan menghabiskan sarapan yang di bawakan. Tidak lama, Yoga datang untuk memberitahu Arlan. Kalau meeting pagi ini akan segera di mulai. Setelah membereskan semuanya Arlan dan Yoga menuju ke ruang meeting.


"emang lo gak sarapan sama istri lo?" tanya Yoga saat mereka berjalan berdua


"enggak" Arlan


"kenapa?"


"mau tau aja lo" kata Arlan nada tidak sukanya


"Ar Ar, kalau gue jadi elo, gue bakal buka hati buat istri sah. Lagian lebih menarik istri sendiri,"


"ck, kayak tau soal cinta saja"


"sebelum lo nyesel Ar, tinggalkan pacarmu itu" Yoga


"stop, kita akan meeting bukan membahas kehidupan gue" Arlan


"terserah lo" Yoga yang malas berdebat pun lebih memilih mengalah


Siang ini, Ling bangun tidur dengan sangat malas. Ia teringat tadi pagi saat membuka ponsel Arlan. Bahkan selama ini saja Arlan tidak pernah menghubungi nya, begitu pun dengan Ling. Bagaimana bisa berubah kalau seperti ini.


"apa yang harus aku lakukan?" gumam Ling melihat foto pernikahan nya dengan Arlan yang di pajang di dinding.


Menjalani apa adanya, dan bertahan sebisa mungkin itu mungkin lebih baik. Kalau meminta bantuan mama dan papa itu tidak mungkin. Batin Ling


Sore harinya, Arlan segera pulang kerumah. Niatnya ingin sekali bertemu dengan Ling. Namum saat sampai rumah, biasanya Ling akan menyambut nya. Tapi kali ini berbeda, Arlan bahkan tidak melihat Ling di kamar.


"bi, Arlinka mana?" tanya Arlan


"di samping rumah tuan, "


"oh" Arlan menuju ke samping rumah, untuk mencari keberadaan Ling.


Dan ternyata benar, Ling sedang fokus dengan laptopnya. Bahkan Arlan yang sudah duduk di samping nya beberapa saat pun, belum di sadari Ling.


Apa dia selalu sefokus ini saat bekerja, tapi dengan suasana tenang seperti ini membuat nyaman saat kerja. Batin Arlan melihat Ling


"ekhem" Arlan berdehem untuk memberi kode Ling


"abang," Ling menoleh dan mengulurkan tangannya


"kamu fokus banget" kata Arlan setelah Ling mencium tangannya


"iya bang maaf, udah lama bang?" tanya Ling


"belum sih, kamu ngerjain apa?"


"ini ngecek laporan keuangan perusahaan."

__ADS_1


"kamu bekerja di perusahaan juga?"


"kadang kadang sih bang, kalau papi dan kakak sibuk"


__ADS_2