Abang CEO

Abang CEO
Ketemu


__ADS_3

Pak Bambang mulai menjelaskan keuntungan kerjasama yang akan mereka jalin. Namun Ling terlihat tidak fokus, sampai beberapa kali Jalu menanyakan kepada Ling.


"bagaimana Nona?" tanya pak Bambang


"saya sudah percaya dengan Pak Bambang, karena tidak hanya sekali perusahaan kita bekerjasama. Dan harapan saya, bapak dan tim tidak mengecewakan kami. Untuk itu kami menerima tawaran bapak" jelas Ling yang sesekali melirik ke arah depannya.


"terimakasih Nona, kami akan berusaha semaksimal mungkin"


"terimakasih kembali pak, berhubung makanan sudah tersaji, bagaimana kalau kita lunch saja" Ling


Bagaimana aku bisa masuk ke dalam hatimu mas, kalau kamu masih saja nyaman dengan dia. Aku belum pernah melihat mu tertawa lepas seperti itu. Batin Ling melihat orang yang ada di depan sana


"baik, mari semua" kata Pak Bambang membuyarkan pikiran Ling.


Setelah beberapa saat Ling selesai dengan makanan yang hanya ia makan sedikit itu. Ia meminta ijin untuk ke toilet sebentar.


"meeting apa memang pergi berdua, kenapa gue jadi pengen marah" gumam Ling memandang wajahnya di pantulan kaca.


Dirasa hatinya sudah tenang, Ling melangkah keluar toilet. Ia sengaja lewat di samping meja makan Arlan.


"mbak maaf kacamata nya jatuh" kata Nisa mengulurkan kacamata yang ia ambil di dekatnya.


Perlahan Ling membalikkan badannya dan tersenyum ramah dengan Nisa. Ya walaupun hatinya ingin mencabik cabik Nisa.


"terimakasih" kata Ling melirik Arlan yang belum menyadari jika istrinya di depannya.


"ukhuk" Arlan tersedak minumannya saat melihat ke arah Ling, karena di rasa suaranya tidak asing


"mas, sayang kamu gak papa?" tanya Nisa langsung mengambilkan tisu untuk Arlan


APA MAS SAYANG. Batin Ling menjerit


"sa..... saya gak papa" jawab Arlan terbata.


"oh maaf saya menganggu, sekali lagi terimakasih dan permisi" kata Ling melangkah begitu saja dengan penuh pesona


Arlan Tidak berkedip saat melihat Ling pergi, dengan setelan jas yang pas di tubuhnya, di padukan dengan rok pendek di atas lutut, juga hills yang cantik, membuat Ling begitu menawan.


"cantik ya mas?" tanya Nisa saat Arlan masih melihat kemana Ling pergi


"mas" panggil Nisa lagi karena tidak mendapatkan jawaban


"eh iya" jawab Arlan


"cantik kan mas?" tanya Nisa lagi


"em "Arlan tersenyum kikuk.


Sedangkan Ling yang sudah selesai mengajak Jalu untuk pulang. Karena pintu keluar melewati meja Arlan, Ling cuek dan pura pura tidak melihat.


"Nona Ling" panggil pak Bambang dan terpaksa Ling berhenti di dekat meja Arlan


"iya pak?" tanya Ling ramah


"begini, minggu depan saya mengadakan acara syukuran anniversary. Saya ingin mengundang Nona dan keluarga untuk hadir di acara saya" Pak Bambang menyerahkan sebuah undangan


"terimakasih pak, nanti saya sampaikan Papi juga kakak saya" Ling


"Sekali lagi terimakasih Nona" pak Bambang


"sama sama pak, kalau gitu saya duluan" pamit Ling


"silahkan Nona" kata Pak Bambang.


Ling melangkah begitu saja di susul Jalu, bohong jika Arlan tidak mendengar percakapan Ling dan pak Bambang tadi. Di dalam hati Arlan, banyak sekali pertanyaan. Mungkin akan ia tanyakan setelah sampai rumah nanti.

__ADS_1


"mas, dia artis loh" kata Nisa menunjuk Ling dengan dagunya


"Artis?" tanya Arlan


"iya, dia Dj terkenal. Pantas saja aku tadi seperti tidak asing dengan nya. Ya walaupun tidak kenal, tapi siapa sih yang tidak tau Dj Ling" kata Nisa


"oh" jawab Arlan manggut-manggut


"makanya mas, lihat acara tv atau sosial media dong hehehe. Jangan kerja aja" kata Nisa meledek Arlan


"kamu...." Arlan mencubit gemas pipi Nisa


Apa dia seterkenal itu, kok saya tidak tau. Batin Arlan


.


.


.


.


Ling tidak langsung pulang melainkan ke apartemen Rico. Ia akan bertemu dengan Rita, sesuai dengan janjinya.


"kenapa asem banget muka lo?" tanya Rico


"gak, suruh Rita datang cepat" Ling


"iya sabar, dia baru pulang kuliah langsung ke sini"


Sedangkan disisi lain, Arlan sedang mengemudikan mobilnya. Ia terlihat banyak diam setelah kejadian tadi. Nisa yang bingung pun juga ikut diam. Sesampainya di kantor Arlan langsung masuk keruangan nya. Ia menyandarkan kepalanya di sofa.


Arlinka, kenapa dia bisa ada disana. Bagaimana ini?. Batin Arlan


"gak bisa kerja nih, saya harus pulang" gumam Arlan kemudian keluar ruangan.


"baik pak" Jawab Nisa dalam mode kerja


Yang ada dipikiran Arlan saat ini adalah, ingin segera bertemu dengan Ling. Tapi apa yang harus ia katakan, sebenarnya masih bingung juga. Sesampainya di rumah, Arlan mencari keberadaan Ling.


"belum pulang tuan" kata bibi saat di tanya Arlan


"pulang jam berapa bi?" tanya Arlan lagi


"saya kurang tau tuan, tadi cuma pamit mau ketemu rekan kerja papinya" jelas bibi


"ya sudah kalau gitu" jawab Arlan menuju ke kamarnya.


Tanpa terasa Arlan terlelap dengan baju dan sepatu yang masih ia kenakan. Ling yang baru pulang pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan Ling membuka sepatu Arlan, setelah itu ia pergi ke kamar mandi.


"kamu sudah pulang?" tanya Arlan yang sudah terbangun saat melihat Ling keluar kamar mandi. Hanya sebuah anggukan dan senyum tipis yang Ling berikan sebagai jawaban.


"Arlinka tadi..." kata Arlan


"sudah jam makan malam, abang mandi saja. Aku tunggu di bawah" kata Ling berlalu


Di meja makan pun mereka berdua masih tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Kalau sudah seperti ini, yang pastinya menelan makanan pun susah.


"Arlinka saya" kata Arlan setelah makan


"maaf bang aku buru buru harus kerja, aku ke atas dulu" Ling memotong omongan Arlan, entah apa yang sebenarnya ingin Arlan katakan. Ling belum mau membahas apapun dengan Arlan.


"dia menghindar?" gumam Arlan melihat punggung Ling yang semakin menjauh.


Tidak berapa lama, Ling turun dari kamar dengan celana jins dan Hoodie berwarna hitam. Ia menghampiri Arlan yang sedang duduk di ruang tengah.

__ADS_1


"aku berangkat dulu bang" Ling mengulurkan tangannya


"Ling,, bisa kita bicara?" Arlan menahan tangan Ling


drt drt drt


Dering ponsel Ling begitu nyaring, perlahan Ling merogoh tas yang ia selempang kan di samping.


"ya halo" jawab Ling


Udah gue tunggu di club


"oke siap, ini juga mau berangkat" kata Ling matikan sambungan telepon nya.


"maaf bang, aku sudah di tunggu manager di club"


"hhhhmmm ya sudah" jawab Arlan melepaskan tangannya


Ling pergi bersama dengan Tom dan Jerry, hari ini Ling pergi dengan motor sport nya. Kalau Ling naik motor sudah di pastikan kalau dirinya sedang suntuk dan banyak pikiran. Melampiaskan dengan mengendarai motor adalah salah satu cara Ling.


Mendengar suara motor di nyalakan, Arlan yang penasaran pun keluar rumah. Saat sampai di depan pintu ternyata Ling sudah sampai di gerbang, di susul dengan Tom dan Jerry.


"Arlinka? dia bisa naik motor?" gumam Arlan


"bi.....bibi" panggil Arlan sambil masuk rumah


"iya tuan"


"itu tadi Arlinka kok dapat motor?" tanya Arlan


"anu tuan, tadi ada yang ngantar ke sini. Katanya dari rumah Tuan Anggara" jelas bibi


"kok saya tidak tau"


"tadi pas tuan sedang tidur mungkin" bibi


"em, tolong buat kan saya kopi. Setelah itu bibi istirahat saja" Arlan


"baik tuan"


.


.


.


Ling yang sudah sampai club pun langsung menuju ke tempat managernya menunggu. Sudah hampir satu bulan, managernya ke luar kota. Dan mungkin baru hari ini dia kembali.


"bapak singa" sapa Ling


"hey anak singa" jawab Leo manager Ling


"kapan pulang kak?" tanya Ling setelah duduk di samping Leo


"baru tadi pagi, gue denger lo?" tanya Leo


"dari Rica?" tanya Ling


"yes, selebihnya lo cerita sendiri saja." saut Rico


"sory kak gue kemarin gak jujur" Ling


"gak masalah, memang siapa suami lo?" Leo


"pengusaha sih kak, mungkin kakak tau dia. Dia cukup terkenal di dunia bisnis"

__ADS_1


"oh ya? gue jadi penasaran"


"kapan kapan gue kenalin kak." Ling


__ADS_2