Abang CEO

Abang CEO
Emosi


__ADS_3

Ling langsung pulang ke rumah, sebenarnya ia sangat lelah. Namun, pikiran yang membuatnya tidak bisa tertidur di dalam mobil.


"gimana laki lo?" tanya Rico


"gak tau gue, dia gak ngabarin" Ling


"ck, kalau gue jadi abang lo itu udah pasti kebakaran jenggot" Rico


"kalau di bakar pasti tambah ganteng abang gue" Ling


"maksud lo?"


"sekarang berjenggot aja ganteng, apa lagi mulus oh...." Ling


"halu lo, gue serius lo ngelawak" Rico


"hahaha, gue juga gak tau. Kalian langsung pulang istirahat. Gue masuk sendiri gak papa" kata Ling


"oke" jawab Rico.


Saat Ling memasuki rumah, ternyata televisi di ruang tengah masih menyala.


"abang, kok belum tidur?" tanya Ling setelah melihat Arlan yang duduk di sofa


"belum, saya sengaja menunggu kamu. Sekalian mau mengucapkan selamat" Arlan


"Selamat?" tanya Ling bingung


"selamat atas lamaran kamu dengan penyanyi itu. Romantis sekali ya" kata Arlan beranjak dan melangkah ke dekat Ling. Bahkan Arlan melipat tangannya di depan dadanya.


"ma....maaf bang" Kata Ling


"maaf? kenapa kamu minta maaf? bukankah ini hari bahagiamu?"


"bukan begitu bang" Ling


"bukan begitu apa? tanpa kamu jawab di depan umum seperti tadi, tapi bunga yang kamu bawa sudah bisa menjadi jawaban"


"in...ini" kata Ling bingung


"sudahlah Arlinka, mau di bawa kemana rumah tangga kita ini?"


"maksud abang?"


"ya kamu menerima lamaran orang lain, tapi kamu juga bersuami" Arlan


"cukup bang, aku tidak menerima lamaran Rasya. Aku juga tidak punya perasaan apapun sama dia. Bunga ini tidak berarti apa-apa, aku juga mengatakan kalau aku dan dia cukup menjadi seorang sahabat"


"sahabat? bukankah itu akan jauh lebih dekat daripada teman?"


"aku dan dia satu manajemen"


"alasan tidak masuk akal, semua itu tidak menutup kemungkinan kalau kalian akan jatuh cinta" Sinis Arlan


"memang tidak menutup kemungkinan, apalagi suamiku tidak menghargai kehadiranku, tidak mau belajar mencintai aku. Bahkan masih menjalin hubungan dengan wanita lain. Bukankah sekertaris juga bisa merangkap profesi sebagai pacar? istri orang, bahkan penjilat?" kata Ling yang mulai terpancing


"jaga ucapan mu, apa maksud kamu?" kata Arlan


"seharusnya abang jujur sama aku, tapi apa? abang tidak menjelaskan sedikit pun kan tentang pacar abang? tentang pertemuan yang tidak di sengaja waktu itu. Seharusnya aku yang tanya mau di bawa kemana rumah tangga kita?" Ling


"kenapa kamu memojokkan saya? jelas jelas bahkan hampir seluruh dunia tau kalau kamu di lamar penyanyi itu. Kamu tidak menghargai saya dan keluarga"


"memang nya abang menghargai aku? masalah keluarga itu urusanku dan akan aku selesaikan sendiri. Aku bisa menjelaskan dan memiliki bukti yang pasti." kata Ling berjalan menaiki tangga. Namun sebelum itu ia membuang buket bunga yang ia bawa di tempat sampah.

__ADS_1


"aaarrrhhhh, apa apaan gadis itu. Apa maksudnya,?" gumam Arlan.


Malam ini Ling tidak bisa tidur, ia memikirkan perkataan Arlan tadi. Entah kenapa Arlan belum juga masuk kamar. Entah sampai jam berapa Ling tertidur.


tok tok tok


Bibi mengetuk pintu kamar Ling dan Arlan, namun sampai beberapa saat Ling belum juga terbangun.


"ada apa bi" suara Arlan dari belakang bibi


"eh tuan, anu di bawah ada tuan dan nyonya besar" kata bibi


"nanti saya turun bi," kata Arlan berusaha membuka pintu kamar, karena memang tadi ia tidur di kamar sebelah.


"baik tuan"


Saat Arlan masuk kamar ternyata Ling masih tertidur, ia bahkan masih menggunakan baju yang sama saat pulang tadi. Arlan langsung menuju ke lemari untuk mencari baju ganti. Setelah rapi, Arlan turun untuk menemui orang tua nya.


"pa, ma" sapa Arlan dan duduk di kursi single.


"Ar, Papa tidak mau bertele-tele. Kamu harus mengambil keputusan yang tegas." kata papa


"maksud papa apa?" Arlan


"bagaimana bisa Ling di lamar di acara live seperti itu. Kamu itu suami Ling, seharusnya bisa menjaga dia" Papa


"Arlan tidak tau tentang rencana itu, Arlan juga sudah bilang sama Ling" Arlan


"Apa yang kamu bilang? apa kamu sudah bisa menjadi suami yang seutuhnya? Kalian ini menikah bukan main main" Papa


"pa, aku dan Ling tidak main-main" Arlan


"Kamu itu seharusnya sadar Ar, jangan kamu kira mama dan papa tidak tau kalau kamu masih menjalin hubungan dengan sekretaris kamu itu" saut mama


"ini tetap kamu yang salah Ar, kalau saja kamu bisa mencintai Ling. Semua ini tidak akan terjadi" Papa


"semua butuh proses pa" Arlan


"proses apa? bahkan kamu semakin terang terangan di depan istri mu sendiri. Apa kamu ada usaha untuk menjauhi perempuan itu?" papa


tak tak tak


Suara langkah kaki menuruni tangga, membuat papa dan mama mengalihkan pandangannya. Terlihat Ling yang baru saja bangun tidur, mungkin ia baru mencuci muka karena masih terlihat jelas ia belum mandi.


"mama, papa" sapa Ling


"sayang, sini" kata mama


"maaf baru bangun" kata Ling


"tidak papa, pasti kamu capek" kata mama


"papa dan mama sudah lama?" Ling


"belum, duduk Ling" pinta papa


"pa, ma, Ling mau minta maaf soal kejadian kemarin. Ling benar benar tidak tau kalau acaranya seperti itu" Ling


" kamu tidak salah Ling, tapi suami kamu yang salah" papa


"abang gak salah pa, Ling yang tidak bisa menjaga diri." Ling


"bagaimana kalau pernikahan kalian di umumkan, agar hal hal seperti ini tidak terjadi lagi" kata papa

__ADS_1


"Ling terserah abang saja pa," kata Ling menunduk.


Sebenarnya Ling khawatir, jika semua mengetahui pernikahan nya dengan Arlan bagaimana. Apalagi Arlan belum mencintai dirinya, belum lagi kalau Arlan terlihat jalan berdua dengan sekretaris nya itu.


"belum saatnya pa" kata Arlan


"kapan saatnya Ar? sampai kamu kehilangan Ling?" tanya papa


"pa sudah, kita hargai keputusan abang saja" Ling


"tidak bisa dong Ling, mau sampai kapan kalian seperti ini..!! papa malu sama orang tua kamu Ling" papa


"biar nanti Ling yang kasih pengertian ke papi, pa" Ling


"Papa gak mau tau, kamu harus segera mengumumkan pernikahan kalian Ar. Kalau sampai semua berantakan kamu yang akan menyesal" kata papa


"sabar pa, kita pulang saja" Mama


"Ling, Arlan. Kita pulang dulu, kalian pikirkan apa yang papa katakan ya" kata mama


"tidak sarapan dulu ma?"


"tidak usah, kita tadi sudah sarapan" kata mama


Ling mengantar mertuanya ke depan, ia meminta maaf sekali lagi atas kejadian kemarin.


"Ling, jangan tunda terlalu lama" kata papa pelan


"baik pa" Kata Ling yang tau maksud papa


Setelah melihat mobil mertuanya pergi, Ling masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak melihat Arlan ada di ruang tamu. Ling menuju ke meja makan, karena pasti Arlan disana.


"abang mau sarapan apa?" Ling


"apa saja terserah" kata Arlan, Ling mengambilkan nasi goreng untuk Arlan.


"bang, tolong tiga hari ke depan ikut aku kerja di club" Ling


"ukhuk" Arlan tersedak mendengar perkataan Ling


"cuma tiga hari, setelah itu aku tidak akan memaksa apa pun yang akan abang lakukan" Ling


"untuk apa?" Arlan


"untuk mengetahui sebuah jawaban. Setelah mendapat jawaban sebelum tiga hari, abang boleh berhenti ikut aku kerja"


"apa maksud kamu? jawaban apa?"


"nanti juga tau, aku mandi dulu bang" Ling beranjak pergi


Arlan menghabiskan sarapan nya sendiri, setelah itu ia berangkat ke kantor. Saat jam makam siang, Arlan baru sampai kantor. Banyak karyawan yang menyapa dirinya, tapi Arlan hanya mengangguk saja. Arlan masuk keruangan nya, namun ia kaget saat Nisa juga ikut masuk ke ruangannya.


"kamu gak makan siang?" tanya Arlan dan segera duduk di kursi kebesarannya


"Nanti aja, kok mas baru datang?" Nisa


"tadi ada urusan dengan mama dan papa" Arlan


"orang tua kamu, apa sama istrimu mas?"


"kenapa kamu tanya begitu?" Arlan menghentikan aktivitasnya membolak-balik dokumen


"ya kan kamu sudah menikah mas," Nisa menunduk

__ADS_1


__ADS_2