
Pukul setengah lima pagi Arlan mendengar suara ketukan di pintu kamar nya, dengan malas Arlan beranjak untuk membuka pintu.
"apa sih ganggu aja" Kata Arlan melihat Yoga berdiri di depan kamarnya
"kita harus segera ke bandara, jam enam kita take off." Yoga
"jangan gila lo, masa pagi pagi banget kita harus pergi. Gue baru aja mau tidur"
"mau tidur? memangnya dari semalam lo gak tidur?" tanya Yoga melihat Arlan dengan tidak percaya. Dan saat itu Nisa keluar kamar dan bersiap pulang bersama Yoga dan Arlan
"jangan bilang lo?" tanya Yoga lagi, ia sempat mengintip ke dalam kamar, terlihat punggung Ling yang tidak tertutup selimut
"jaga mata lo, udah sana lo balik. Urus semua pekerjaan saya" Arlan
"ck, terus tiket lo gimana? lagian pekerjaan lo masih banyak"
"tiket gue batal itu tidak masalah, bukankah elo yang menyarankan gue buat honeymoon? jadi ya gue mau menikmati liburan gue" Arlan
"Ya bukan sekarang dong Ar, kan elo bisa atur buat minggu depan"
"gue bosnya Ga, lo gak tau sih gue beneran butuh waktu berdua dengan istri gue. Lo lihat sendiri kan Ling juga baru aja tidur setengah jam yang lalu. Gue gak bisa ninggalin dia, apalagi tidur sendiri seperti itu. Kan mubasir"
"gila, terus gimana dengan gue?"
"ya lo balik sama Nisa, urus kerjaan gue di kantor. Kalian boleh kerja setengah hari buat hari ini" Arlan
"gak tau lagi gue harus bilang apa, terserah elo deh" Yoga
"tinggal berangkat aja lo pakai ganggu." Arlan kembali masuk kedalam kamar dan menutup pintu
"dasar bos gila, ayo pulang Nis" Yoga
Tanpa menjawab Nisa melangkah terlebih dahulu, sakit hatinya mendengar Arlan berbicara seperti itu. Arlan itu sengaja atau memang ia tidak sadar kalau ada Nisa.
"kenapa lo?" tanya Yoga mensejajarkan jalannya dengan Nisa.
"enggak" Nisa
"Arlan?" tanya Yoga dan Nisa terdiam
"Nis, ingat lo udah punya suami dan anak. Biarkan Arlan bahagia"
"gue hanya butuh waktu," Nisa
"butuh waktu buat apa? elo punya kehidupan sendiri, sudahlah Nis"
"elo gak pernah tau apa yang gue rasakan Ga" Kata Nisa lemah
Setelah itu tidak ada pembicaraan antara mereka berdua, karena mereka harus segera ke bandara.
Sedangkan di dalam kamar Arlan, ia sedang memandangi Ling yang sedang tertidur pulas. Ia bahagia bisa menjadi suami yang seutuhnya untuk Ling. Karena rasa lelah dan mengantuk, Arlan pun segera tertidur dengan memeluk Ling.
.
.
.
.
Siang hari nya Ling terbangun karena suara dering ponselnya. Ia segera meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya.
"iya ma?" jawab Ling saat sudah menjawab panggilan Vidio dari mertuanya
__ADS_1
"Sayang kamu baru bangun? mamah ganggu ya?"
"gak papa ma, ini udah siang ya. Ling yang gak enak sama mama"
"mama tau kamu pasti capek, tadi malam habis kerja. Oh iya Ling, kamu tau Arlan dimana?"
"mama ganggu, aku dan Ling baru tidur, semalam aku habis buat cucu untuk mama" kata Arlan yang merebut ponsel Ling dan mengarahkan pada mereka berdua yang masih berbaring di tempat tidur
"eh maaf ma, abang ih...." Ling menyadari bahwa mereka sedang berpelukan dan masih dalam keadaan tanpa busana.
"ya ampun kalian sweet sekali, mama ganggu banget ya. Tadinya mama tuh khawatir dengan kalian berdua, karena tadi kalian tidak ada yang jawab telepon mama. Eh ternyata masih lelah buat cucu untuk mama. Kalau gitu kalian istirahat lagi aja"
"da....ma" Arlan mematikan sambungan vidio call nya dengan mama
"abang ih, malu tau" Ling
"kenapa harus malu, mama juga paham kok. Tidur lagi aja sayang kalau masih capek"
"em" jawab Ling dan kembali memejamkan matanya
Saat Ling mencoba untuk kembali tidur, ia merasakan tangan Arlan yang nakal di bawah selimut.
"abang" kata Ling
"ssstttt" Arlan memberikan interupsi Ling untuk diam.
Ling teringat kejadian tadi malam bersama Arlan, ia menyerahkan apa yang seharusnya Arlan dapatkan. Tapi ada yang mengganjal di hati Ling, bahkan ia ragu untuk bertanya kepada Arlan.
"kenapa? kamu gak nyaman?" tanya Arlan yang melihat Ling melamun
"apa bang?"
"kamu gak nyaman?" tanya Arlan melepaskan tangannya yang tadi nangkring di gundukan indah.
"terus? mau lagi?"
"abang ih," Ling membalikkan badannya membelakangi Arlan
"kok ngambek sih, aku kan menawarkan." Arlan memeluk Ling lagi
"aku takut bang"
"takut apa?"
"em aku takut abang kecewa" jujur Ling karena memang itu yang mengganjal di hatinya
"kecewa kenapa sayang? sini dong ngomong dulu. Biar gak jadi beban" Arlan berusaha membalikkan badan Ling
"katanya kalau pertama itu biasanya berdarah. Aku sepertinya enggak, aku gak bisa ngasih kamu yang terbaik ya bang?. Maafin aku bang, abang pasti kecewa, tapi jujur aku belum pernah melakukan dengan siapapun"
"hey kata siapa? kamu terbaik sayang. Aku sendiri yang merasakan, sama seperti kamu aku juga belum pernah melakukan dengan siapapun. Kamu tau sendiri kan berapa kali aku gagal masuk, aku juga baru belajar dan mengikuti naluri sebagai laki-laki. Jangan di ambil pusing, sayang kamu akan tau aku jujur atau bohong setelah kita sering melakukan."
"maksud abang?"
"kalau menurut kamu yang pertama harus berdarah itu salah, tidak semua perempuan seperti itu sayang. Kalau buat laki laki apa yang menjadikan sebuah patokan? menurut kamu pasti sama saja."
"aku tidak tau,"
"nanti aku jelaskan, ada perbedaan nya. Kamu bisa lihat sendiri nanti, atau mau sekarang?"
"apanya?"
"mandi ayo" Arlan bangkit dan membawa Ling ke kamar mandi.
__ADS_1
"abang aku bisa sendiri" kata Ling yang berusaha untuk turun dari gendongan Arlan
"nanti jatuh sayang, kamu nurut aja deh."
"tapi bang, aku bisa jalan sendiri"
"berdua lebih seru tau Ling, kita kan belum pernah"
"maksud abang?"
"nanti juga tau," Arlan mengunci pintu kamar mandi.
Acara mandi yang seharusnya bisa kurang dari setengah jam ternyata kini membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Kenapa? ya bisa di pastikan ulah Arlan. Ling yang menggerutu pun hanya di beri senyuman manis Arlan. Saat ini Ling sedang duduk di depan meja rias, badannya terasa lemas dan begitu lelah. Sedangkan Arlan sedang bersiul siul dan mengusap-usap rambut basah nya dengan handuk.
"kok gak ganti baju? sini aku bantu keringkan rambut nya" kata Arlan mengambil hairdryer di depan Ling
"aku baru ngerasain secapek ini bang"
"maaf ya sayang, dan makasih banget kamu udah ngijinin aku buat melakukan kewajiban ku sebagai suami."
"iya bang, aku lapar"
"kamu ganti baju dulu, aku pesan makanan aja" kata Arlan meletakkan hairdryer di meja.
Ling berdiri dan berniat untuk menuju ke kopernya, tidak mungkin ia menggunakan kimono mandi terus.
"awww" baru satu langkah Ling merasakan sakit dan ngilu di bagian tubuhnya
"kenapa sayang?" panik Arlan
"sakit banget bang buat jalan," Ling meringis dan kembali duduk
"makanya dari tadi aku gendong, biar aku yang ambil baju kamu"
Ternyata sakit juga, dari tadi aku tahan sekarang buat jalan lebih sakit. Batin Ling
"aku bantu ganti ya, disini aja" Arlan
"aku bisa bang, abang hadap sana aja" Ling menyuruh Arlan membelakanginya
"tapi nanti kamu kesusahan, biar aku bantu"
"abang aku malu, abang lihat sana aja"
"kok malu sih, aku udah lihat udah ngerasain juga."
"bang, besok-besok aku gak mau lagi kalau abang gitu"
"ya udah iya aku ngalah, tapi kalau gak bisa bilang aku siap bantu"
"iya bawel" Dengan perlahan Ling memakai baju yang di ambilkan suaminya itu.
Setelah itu mereka menunggu pesanan makanan, sudah siang bolong seperti ini mereka belum sarapan.
"Sayang, kita disini dulu beberapa hari ya? atau kita mau pindah ke mana gitu,?" tanya Arlan
"kenapa bang? bukannya hari ini kita balik?"
"aku masih mau sama kamu"
"kan di rumah juga sama sama bang,"
"tidak bisa di pastikan sayang, karena kita sibuk kerja"
__ADS_1