Abang CEO

Abang CEO
Bicara


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, itu tandanya pernikahan Arlan dan Ling akan di laksanakan empat hari lagi. Selama itu Arlan sama sekali tidak menghubungi Ling, begitu juga sebaliknya. Ling sibuk mempersiapkan mentalnya dan berbagai kemungkinan buruk menikah dengan Arlan, sedangkan Arlan ia berusaha membujuk Nisa.


Arlan sudah mengatakan pada Nisa kalau ia tidak bisa merubah keputusan papa nya. Itu membuat Nisa marah dan menghindari Arlan.


"Tolong ke ruangan saya sebentar" kata Arlan pada Nisa, lewat sambungan telepon.


Tok tok tok


"masuk" Arlan


Setelah mendapat persetujuan, Nisa pun berjalan masuk. Ia melihat Arlan duduk di sofa, Nisa mendekati dan memposisikan berdiri di hadapan Arlan


"duduk sini Nis" kata Arlan lembut


"maaf pak, saya berdiri saja. Ada apa bapak memanggil saya?" Nisa


"Nis, tolong jangan seperti ini. Saya minta maaf, kita bicara sebentar" kata Arlan yang beranjak berdiri


"kalau bukan urusan pekerjaan, saya permisi" Nisa mulai melangkah


Hap


Arlan memeluk Nisa dari belakang, dan itu membuat Nisa berhenti di tempat


"Nisa tunggu, kamu jangan seperti ini. Saya sudah membujuk Papa, dan memang tidak bisa. Saya cinta sama kamu Nis." kata Arlan yang merebahkan kepalanya di pundak Nisa


"Kalau mas cinta aku, katakan ada harapan tidak untuk aku tetap di sampingmu?" kata Nisa yang mulai menangis


"mas, cepat atau lambat kalau kamu memilih menikah, hubungan kita pasti berakhir" kata Nisa lagi dengan terbata, sedangkan Arlan hanya mengeratkan pelukannya


"Sudahlah mas, mungkin kamu ingin mengatakan kalau sebaiknya kita berpisah saja kan?" Nisa


"bukan begitu Nisa" Arlan


"kalau mas tidak mengatakan itu lalu apa? mas mau kita tetap bersama dan memiliki istri gadis lain? mas yakin semua akan baik baik saja?"


"Apa saya egois?" tanya Arlan


"entahlah mas, bi...biar aku saja yang meng..mengakhiri semua" kata Nisa dengan sesenggukan


"tidak Nis," Arlan membalik tubuh Nisa yang menangis


"menikahlah mas, biarkan aku sendiri"


"kamu tidak percaya saya cinta sama kamu?" Arlan


"aku percaya mas, tapi apa bisa kita selalu seperti ini" Nisa memandang Arlan


"apa kamu akan menyakiti hatiku dan hatinya mas? mau bagaimana pun aku lah yang akan jadi gangguan di rumah tangga kalian" Nisa


"dia tidak mencintai saya, dan begitu pula saya" Arlan


"Tapi dia akan berusaha memisahkan kita mas," Nisa menangis tersedu sedu, membuat Arlan tidak tega. Arlan kembali merengkuh tubuh Nisa


"oh ssshh, salah masuk gue" kata Yoga asisten pribadi Arlan


"ada apa?" tanya Arlan mendongak, tapi tubuhnya masih memeluk Nisa yang sesenggukan.


"sepuluh menit lagi kita harus berangkat meeting." Yoga

__ADS_1


"tunggu di luar" kata Arlan


Setelah Yoga menutup pintu, Arlan mengurai pelukannya. Ditatapnya Nisa dengan begitu dalam. Gadis yang sangat ia cintai sejak di bangku kuliah, bisa di katakan lebih dari enam tahun yang lalu.


"Nisa nanti kita bicarakan lagi," Arlan mengusap pipi Nisa yang basah


"saya meeting dulu, saya cinta sama kamu. Jangan tinggalkan saya lagi" kata Arlan dan kemudian mengecup kening Nisa


Setelah lebih tenang, Nisa keluar bersama dengan Arlan. Nisa menuju mejanya kembali, dan Arlan menuju lobby untuk segera berangkat ke tempat meeting. Setelah pintu mobil di bukakan satpam, Arlan segera duduk di jok belakang.


"kok elo? pak Jar mana?" tanya Arlan yang melihat Yoga sudah duduk di kursi kemudi, sedangkan pak Jar sopir kantor mereka tidak ada.


"pak Jar ijin, anaknya masuk rumah sakit" jawab Yoga dan segera melajukan mobilnya


"kalian habis ngapain? tumben amat jam kerja berdua duan" tanya Yoga memecah keheningan di antara mereka


"gak papa" Arlan


"gak papa kok ceweknya nangis, habis lo apain?" tanya Yoga. Yoga adalah asisten pribadi juga sahabat Arlan dari kuliah. Mereka sebenarnya tiga sekawan, tapi yang satu punya bisnis sendiri.


"apain maksut lo apa?" tanya Arlan


"hahaha ya siapa tau lo ajak masuk ke kamar" Yoga


Dug


Sebuah tendangan di belakang kursi Yoga.


"Ar, kenapa lo gak coba selidiki Nisa sih?" tanya Yoga yang memang beberapa kali melihat Nisa bersama seorang laki-laki.


"apa sih lo, Nisa itu orang baik. Apa yang harus gue selidiki, lama lama lo kaya papa" Arlan


"udah, makanya lo cari pacar deh jangan cari hiburan" Arlan


"hiburan itu harus, lagian calon pacar gue ada di tempat hiburan" Yoga tersenyum saat mengingat seorang gadis yang membuatnya jatuh hati


"memangnya dipastikan ORI?"


"gue rasa ORI, dia susah banget di dekati" Yoga


"selidiki dulu Ga, nanti kecewa" Arlan membalikkan kata kata Yoga


"udah sampai, turun sendiri jangan manja" kata Yoga yang membuka pintu


Setelah itu mereka menuju tempat yang sudah di janjikan untuk meeting. Arlan dan Yoga berjalan beriringan memasuki mall di kota ini.


.


.


.


Sedangkan disisi lain, Ling baru saja membuka matanya. Ling segera mandi dan turun ke bawah.


"sudah bangun Ling?" tanya bu Dyah


"iya bu, ibu bikin apa?" tanya Ling yang melihat ibu tirinya berkutat di dapur


"ini papi kamu minta di bikinin garang asem, buat makan siang"

__ADS_1


"oh, ibu mau ke kantor?" Ling


"rencana nya begitu, kamu mau makan dulu?"


"makannya nanti aja bu, sepertinya itu sangat menggoda 😁" kata Ling nyengir


"kamu harus makan yang banyak nanti," kata bu Dyah


"pasti bu" kata Ling kemudian menuangkan air hangat di gelasnya


Ibu Dyah menjadi ibu tiri Ling sejak lima tahun yang lalu. Sebelumnya Ling sempat menolak, karena ia sangat menyayangi maminya. Tapi karena melihat papinya yang terkadang murung membuat Ling dan juga Yuda merasa kasihan. Bu Dyah bukan dari kalangan orang kaya, bu Dyah juga seorang janda yang tidak memiliki anak.


Mantan suami bu Dyah juga sudah meninggal karena kecelakaan, Bu Dyah hidup sendiri dengan mengandalkan toko bunganya. Karena Papi sering membeli bunga untuk mendiang maminya, membuat papi dan bu Dyah dekat. Dan itulah awal dari kisah papi dan bu Dyah.


"oh iya Ling, tadi mbak Erni telfon ibu. Katanya kamu di minta ke butik kebaya, alamat nya udah dikirim di ponselmu"


"Ling belum buka hp bu, memangnya jam berapa Ling harus ke sana?"


"ya sebisanya kamu, yang penting hari ini"


"nanti sama ibu aja ya, sekalian antar makan siang papi"


"boleh" kata Bu Dyah


Seperti yang di rencanakan tadi, Ling dan bu Dyah menuju ke kantor papi. Sesampainya di kantor mereka langsung menuju ke ruangan Papi.


"Ling, kamu ikut?" tanya Papi yang melihat Ling di samping istrinya


"iya Pi, nanti sekalian mau ke butik" jawab Ling


"oh, duduk dulu ayo" ajak Papi


"Pi, yang kemarin Ling kasih tau udah di selidiki belum?" tanya Ling dari meja kerja Papi


"udah, bisa kamu lihat sendiri kan. Sudah ada perubahan dari minimarket"


"coba besok Ling ke lapangan deh" Ling


"jangan pergi pergi dulu, sebentar lagi kamu menikah. Biarkan ini papi dan kakakmu yang urus. Papi tidak ingin kamu kenapa kenapa"


"ya sudah, akan Ling pantau saja Pi."


"iya Ling, papi seneng dan juga sedih kamu mau menikah Ling" Kata papi meletakkan piring nasinya


"kenapa Pi?" tanya Ling mendongak dari dokumen yang ia pegang


"rumah akan sepi, anak anak papi sudah menikah semua. Untung ada ibumu ini, kalau tidak bagaimana nasib papi"


"Pi, kalau gitu Ling nikahnya besok besok aja. Beberapa tahun lagi"


"jangan ngawur kamu, yang penting kamu punya anak banyak jadi papi tidak kesepian" kata papi


"ish nikah aja belum, minta kakak aja suruh kasih adek buat Syla" Ling kembali fokus pada berkasnya.


"ya kan kalau dapat cucu dari kamu juga, pasti Papi akan bahagia"


"pikir besok Pi" kata Ling


"Ling, papi ingin kamu dan Arlan bisa menerima satu sama lain ya. Papi hanya ingin kamu bahagia"

__ADS_1


"doakan saja Pi"


__ADS_2