
Arlan dan Ling keluar dari ruangan, Ling berjalan di belakang Arlan. Sebelum pulang , Arlan menitipkan dokumen kepada Yoga. Sampai di lobby tidak ada sepatah kata dari mereka berdua, entah apa yang ada dipikiran masing-masing.
"kamu kenapa diam?" tanya Arlan setelah mereka masuk mobil
"abang juga diam kan" jawab Ling
Apa tidak ada niatan buat jujur sama aku bang, memangnya kalian masih berhubungan?. Kalau setiap hari ketemu bagaimana bisa melupakan satu dan yang lainnya. Aku harus gimana ini, masa iya baru hari ke dua aku harus nyerah?. Batin Ling yang masih memikirkan Arlan dan Nisa tadi
"Arlinka!" panggil Arlan
"apa sih" gerutu Ling pasalnya nada bicara Arlan tidak santai
"kamu mikirin apa sih, di tanya dari tadi gak jawab"
"mikirin kamu lah, apalagi memang nya" gumam Ling
"apa?" tanya Arlan
"ada kucing terbang tadi" kata Ling
"saya bukan anak kecil yang bisa kamu tipu ya Ling"
"bang udah tua jangan marah mulu" kata Ling membuang pandangannya pada kaca di sampingnya. Lebih baik melihat pemandangan di luar daripada harus berdebat dengan suaminya.
Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah baru dari papa. Mereka turun dan segera masuk untuk melihat dalamnya. Kalau dari depan sih, sesuai dengan keinginan mereka. Tidak terlalu besar, bernuansa elegan tapi mewah, di samping rumah juga taman, dan kolam renang.
Saat mereka masuk rumah, di lantai bawah ada ruang tamu, ruang keluarga, meja makan yang satu ruangan dan dapur. Selain itu ada dua kamar kosong, di halaman samping ada kolam renang. Di halaman belakang ada taman, juga sebuah ruangan khusus untuk alat dj Ling. Pak Delon sengaja memberikan tempat khusus untuk Ling, ia sudah tau kebiasaan menantunya yang butuh ruangan sendiri.
Sedangkan di lantai dua ada kamar utama, dua kamar tamu, ruang kerja Arlan, tempat untuk olahraga dan juga wardrobe milik Ling. Arlan tidak banyak tanya dengan isi rumahnya, yang penting nyaman untuk di tinggali bersama Ling nantinya.
"apa kita mau satu kamar?" tanya Arlan saat berada di kamar utama
"menurut abang?"
"saya....."
"bang, salah ART di rumah abang akan ikut kesini. Memangnya abang tidak takut apa ada laporan ke orang tua abang. Kalau aku sih gak masalah" Ling berjalan keluar kamar
"sssttt benar juga" gumam Arlan
Arlan ikut turun mencari Ling, namun di lantai bawah ia tidak menemukan Ling. Arlan di buat khawatir, saat ia berusaha menelfon Ling ternyata ponsel dan tasnya masih ada di ruang tengah.
"dimana sih dia" Arlan sedikit frustasi dan duduk di sofa
Tidak lama terdengar langkah kaki dari arah pintu utama. Ling berjalan dengan menenteng satu kantung plastik. Dengan santainya Ling berjalan menuju ke arah dapur.
"Arlinka" panggil Arlan
"hem" jawab Ling malas
"dari mana saja kamu,?"
"cari makan pak, saya tidak ingin mati konyol karena lapar" jawab Ling tanpa membalikkan badannya
Jawaban itu membuat Arlan kesal saja, apalagi Ling sudah berlalu ke meja makan.
Apa-apaan gadis itu, apakah sifat aslinya seperti itu? . Batin Arlan yang mengikuti Ling
Sedangkan di meja makan Ling sedang menikmati nasi padang. Sebenarnya hati Ling sedang berkobar, dari yang tadi melihat suami dan pacarnya makan bersama, di tambah pertanyaan Arlan tentang mau satu kamar tidak, sebenarnya di mana pikiran Arlan. Walaupun mereka belum punya perasaan, setidaknya kan bisa menjaga perasaan satu sama lain. Ling yang tidak bisa meluapkan emosinya pun memutuskan untuk makan saja yang banyak.
__ADS_1
"Arlinka, memangnya sifat aslimu seperti ini?" tanya Arlan duduk di depan Ling
"maksud bapak?" tanya Ling menghentikan mmakannya
"tidak menghargai pada orang"
"yang tidak menghargai saya atau bapak Arlan Givando?" tanya Ling
"maksud kamu apa Arlinka,?"
"sudahlah, bapak mau nasi Padang? biar saya suapi,?" tawar Ling
"saya sudah makan"
" oh maaf saya lupa, bukankah tadi sudah makan romantis dengan pacar?" sindir Ling
"ukhuk ukhuk" Arlan yang sedang minum tersedak
"kenapa bang?"
"kamu nyindir saya?" tanya Arlan
"memangnya abang merasa tersindir?"
"kamu bisa tidak kalau saya bertanya kamu jangan jawab dengan pertanyaan?"
"bisa" jawab Ling cepat
"kamu itu kenapa sih? heran saya" Arlan
"aku juga tidak tau" jawab Ling
Memangnya kamu gak merasa bersalah bang? atau setidaknya menjelaskan sama aku gitu. Dasar tidak peka. Batin Ling
"terserah abang" jawab Ling sambil membereskan bungkus nasinya.
Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang kerumah mama. Hari ini Ling banyak sekali diam, Arlan sebenarnya merasa tapi ia masih malas bertanya kepada Ling. Setelah makan malam, Ling memutuskan untuk langsung ke kamar. Sedangkan Arlan sedang berada di ruang kerja papa.
"bagaimana dengan hubunganmu dan Ling?" tanya Papa
"biasa saja pa"
"apa kamu tidak mau memulai kehidupan yang baru dengan Ling?"
"masih belum terbiasa pa"
"papa lihat Ling tidak seceria biasanya, ada masalah?"
"enggak, jadi Arlan kesini mau di tanya ini?" Arlan
"papa hanya ingin kalian menjalin hubungan yang normal, sudah sampai mana perkembangan perusahaan kamu?" tanya papa
"mengirim beberapa orang ke cabang pabrik pa, dan saya rasa masih lama progresnya pa"
"sebenarnya orang papa sudah tau inti dari semuanya, papa ingin kamu berjuang dan segera membuka mata"
"kenapa sih pa, ini sama saja papa tidak membatu Arlan"
"kata siapa, kalau papa tidak membantu kamu bagaimana bisa perusahaan mu ada kemajuan"
__ADS_1
"aku sudah menikah dengan Ling pa, sesuai dengan keinginan papa. Lalu mana janji papa?"
"kita lihat dalam tiga bulan ke depan, kalau kamu sudah bisa mencintai Ling, semuanya akan kamu dapatkan. Papa tau kamu masih berhubungan dengan sekertaris kamu itu kan"
"permainan apa lagi ini pa"
"papa tidak pernah bermain main sama kamu Arlan, papa hanya mengingatkan kalau kamu harus segera membuka mata. Sebelum semua terlambat."
"hufh" Arlan menyandarkan tubuhnya di kursi
"kamu tau perusahaan ini? papa butuh bantuan kamu" kata Papa yang memberikan sebuah berkas pada Arlan. Pasalnya papa baru mengurus kasus investasi bodong.
Kemudian mereka berdua pun larut membahas soal pekerjaan. Sampai tengah malam Arlan baru kembali ke kamar. Sama seperti malam sebelumnya, ia melihat Ling belum tertidur. Sebenarnya ingin sekali bertanya, tapi rasa gengsi nya membawa Arlan ke kamar mandi.
"bang besok aku ijin kerja, dan mungkin sudah aktif kerja lagi" kata Ling yang melihat Arlan menuju ke ranjang
"kamu bekerja di mana?" tanya Arlan
"memangnya abang tidak tau aku bekerja di mana?"
"tidak"
"ya sudah" jawab Ling
"ya sudah apa? kenapa kamu gak jawab pertanyaan saya?"
"saya seorang Dj" kata Ling dan melihat ke arah Arlan
"kamu seorang Dj?"
"iya, bukankah abang sudah tau"
"saya baru tau, yang benar saja papa menyuruhku menikahi kamu" gerutu Arlan yang masih tidak habis pikir.
"memangnya kenapa kalau aku seorang Dj?" tanya Ling yang masih bisa mendengar gerutuan suaminya
"tidurlah, saya ada perlu" Arlan meninggalkan kamar membuat Ling bengong
Arlan kembali turun ke bawah, berharap papanya masih ada di ruangan. Saat sudah sampai di dekat ruangan papanya, ternyata mama juga berada di depan pintu.
"kamu belum tidur Ar?" tanya mama
"papa mana ma?"
"masih di dalam," kata mama
"ayo masuk ma, ada yang mau aku tanya kan" kata Arlan.
"ada apa sih Ar? sudah malam ini?" tanya mama setelah duduk di depan papa
"papa dan mama tau tidak kalau Arlinka seorang Dj?" tanya Arlan
"memangnya kenapa?" tanya Papa
"papa tau tidak kalau dj itu gimana?"
"papa dan mama tau Ling seorang Dj dari dulu malah" kata papa
"kenapa di jodohkan sama Arlan, bukankah lebih baik Nisa sekertaris aku" Arlan mengusap rambut nya frustasi
__ADS_1
"Kenapa ada masalah dengan seorang Dj?" tanya mama
"tentu masalah dong ma, bagaimana sih pandangan terhadap wanita malam?" Arlan