
Ling dan Arlan berjalan masuk ke dalam mall. Ini kali pertama mereka jalan berdua, Arlan menggenggam tangan Ling seperti pasangan yang sangat bahagia.
"bang, kita ke sana bagian sabun" kata Ling
"iya sayang, aku siap mengantar kamu kemana aja"
"ya sudah kamu ambil troli nya"
"kalau aku mendorong troli, bagaimana dengan ini?" Arlan mengangkat genggaman tangan mereka
"Astaga bang, kalau ini gak di lepas bagaimana aku bisa memilih barang yang aku mau?"
"hhmm seharusnya memang kita tadi ajak bibi,"
"sudahlah bang, kita kan kesini mau belanja. Udah ayo buruan" Ling
"Iya," Arlan melepaskan genggaman tangan nya dan membiarkan Ling memilih barang yang akan di beli.
Dengan cekatan Ling memilih barang yang ia butuhkan, sedangkan Arlan mengekor di belakang Ling. Sampai akhirnya semua kebutuhan yang Ling mau sudah ia ambil. Arlan membawa barang-barang itu ke kasir. Ia meminta tolong kepada seorang petugas mall untuk membawakan barang belanjaannya ke mobil. Setelah itu Arlan dan Ling kembali berjalan untuk mencari tempat makan.
"aku mau es krim bang" rengek Ling yang melihat penjual es krim
"dasar anak kecil" Arlan mencubit gemas pipi Ling
"ih memangnya hanya anak kecil aja yang boleh makan es krim?"
"tidak juga,"
"ya udah ayo"
Ling memilih es krim dengan rasa coklat vanila, dan juga beberapa toping yang menurut Ling sangat enak.
"abang gak mau?"
"aku gak tau yang enak"
"ya udah biar aku yang pilih buat abang"
Tidak berapa lama pesanan mereka datang, Ling dengan semangat menyendok es krim itu langsung melahapnya.
"hhhhmmm enak banget bang, cobain deh" Ling menyodorkan sesuap es krim kepada Arlan.
"manis" kata Arlan
"enak kan? coba punya abang" Ling
"biar aku suapi" Arlan menyendok es krim untuk Ling
Setelah makan es krim rasanya mood Ling menjadi lebih baik, dan ia kembali bersemangat.
"kemana kita bang?"
"terserah kamu, mau beli baju juga boleh, mungkin tas atau...?"
bruk
__ADS_1
"hua hua" suara anak kecil yang menangis di bawah kaki Ling, tadi ia sempat lari dan menabrak Ling.
"eh anak cantik, kamu gak papa kan sayang?" Ling menunduk dan menolong anak kecil itu
"hua atu mau es klim" kata anak itu yang masih menangis
"ngomong apa dia?" tanya Arlan
"mau es krim bang" kata Ling
"memangnya mama kamu mana? kamu kesini sendiri?" tanya Ling pada anak kecil yang masih menangis
"mama jahat, atu gak oyeh mam es klim (aku gak boleh makan es krim)"
"TANIA" suara seorang perempuan yang berlari dengan tergesa-gesa menghampi anak itu
"ya ampun sayang, kamu jangan lari lari. Mama khawatir sama kamu" kata ibu itu yang memeluk gadis kecil di hadapan Ling
"atu mau es klim mama" Tania
"nanti ya sayang kalau kamu sudah sembuh, mama janji akan membelikan es krim yang banyak buat kamu,"
"gak mau" Tania
"sayang, papa sudah menunggu kita. Papa akan membelikan boneka besar untuk kamu" bujuk ibunya.
"Nisa" kata Arlan yang melihat interaksi ibu dan anak itu. Mungkin Nisa tidak sadar kalau yang ada di hadapannya adalah Arlan, karena Arlan menggunakan masker
"mas Arlan?" Nisa langsung berdiri begitu juga dengan Ling
"siapa dia?" Arlan
"Dia Tania, anakku dan Nisa" jawab Bagas yang muncul di belakang
"elo?" Arlan
"bagaimana tuan Arlan? sudah kenal dengan istri dan anakku?" Bagas
Arlan tau kalau Bagas sedang mengejek dirinya, ia mengepalkan tangannya kuat. Ling yang tau pun segera mendekat dan mengelus lengan Arlan.
"bang kita pergi dari sini saja" Ling
"Dj Ling? wah ada apa gerangan?" Bagas bertepuk tangan
"ayo bang" kata Ling lagi yang melihat Arlan hanya diam saja
"tuan Arlan, saya dengar anda sudah menikah. Apa Dj cantik ini istri anda? atau mungkin anda masih mencintai istri saya? Arlan.... sudah pernah saya katakan, apa yang anda miliki saya juga bisa memiliki. Bisnis kita sama, bahkan pacar anda dan istri saya sama hahahha. Lucu bukan? tapi anda harus ingat, saya pemenangnya" Bagas
"Bagas cukup," Nisa
"sayang, ini saat yang aku tunggu. Melihat Arlan yang terpuruk seperti saat itu. Apa kamu juga masih mencintainya? silahkan aku tidak marah, tidak melarang kamu. Asalkan raga kamu milikku dan Tania" kata Bagas kepada Nisa
"saya tidak akan terpuruk hanya karena kalian berdua, Nisa saya ucapkan selamat atas semuanya, pernikahan kalian dan keluarga kalian. Saya juga berterima kasih pada kamu, karena telah membuat saya sadar, jika ada seseorang yang jauh lebih baik untuk di pertahankan. Dan kamu Bagas, saya rasa kamu harus belajar membahagiakan anak dan istri kamu. Memangnya rumah tangga kalian bahagia? saya tidak melihat itu di mata anak dan istrimu." Arlan
"kurang ajar" Bagas ingin memukul Arlan namun di cegah oleh Nisa
__ADS_1
"kenapa? kamu membela pacar kamu ini?" Bagas
"cukup Bagas, ada Tania. Dia baru keluar dari rumah sakit, kita kesini untuk membahagiakan Tania, bukan untuk melihat papanya berkelahi" Nisa
Gadis kecil yang tadinya menangis, perlahan menjadi takut dan memeluk kaki Nisa.
"ayo bang, tidak ada gunanya juga. Belum saatnya kita melawan mereka." Ling menarik tangan Arlan untuk menjauh dari sana.
Ling membawa Arlan ke mobil, di sepanjang mereka jalan, tidak ada obrolan dari mereka. Ling paham, ia juga ingin memberi waktu untuk Arlan.
"kita pulang, Abang bisa nyetir?" tanya Ling yang melihat Arlan masih sedikit bengong
"bisa, ayo masuk" Arlan
Arlan melajukan mobil nya dengan perlahan, belum ada yang bicara untuk memulai obrolan. Ini membuat Ling sangat canggung.
"abang" panggil Ling pelan
"iya?"
"abang masih memikirkan tadi?" tanya Ling dan Arlan diam, Ling paham dengan jawaban Arlan.
"abang mau dengar cerita tentang kehidupan mereka?"
"memangnya kamu tau?"
"sedikit banyak tau" kata Ling
"apa boleh aku mendengar nya,? maksudnya bukan apa apa, aku hanya penasaran saja"
"boleh, aku akan menceritakan yang aku tau, aku harap setelah ini abang tidak berubah pikiran. Untuk apa aku menyimpan nya sendirian, toh dulu aku menyelidiki dan mencari tau tentang Nisa itu untuk di bongkar di depan abang. Ya walaupun Papa yang memintaku melakukan itu."
"aku hanya ingin tau yang sebenarnya. Aku juga tidak berniat kembali dengan nya"
"baik lah, Nisa dan Bagas menikah dari lima tahun yang lalu. Lebih tepatnya saat abang di tinggal Nisa selama dua tahun." Ling melihat ke arah Arlan, dan Arlan masih dengan muka datarnya.
"mau lanjut?" tanya Ling dan Arlan mengangguk
"Bagas berhubungan baik dengan keluarga Nisa, ia sering membantu materi kepada keluarga Nisa. Jadi orang tua Nisa yang mendesak Nisa menikah dengan Bagas. Dan sampai akhirnya mereka nikah dan mempunyai anak. Sepertinya dalam pernikahan itu ada sebuah perjanjian, buktinya mereka tidak tinggal bersama. Hanya beberapa kali saja mungkin kalau Bagas butuh, ia akan ke tempat Nisa."
"kenapa aku tidak pernah lihat anak mereka?" Arlan
"anaknya di titipkan kepada orang tua Nisa, dia punya riwayat bronkitis. Biasa anak kecil seperti Tania masih suka penasaran dan sedikit sulit untuk di atur pola makannya, jadi ia sering kambuh. Dan mungkin ada alasan lain, karena rumah tangga Nisa dan Bagas tidak sehat"
"maksudnya?"
"kalau rumah tangga mereka sehat, mereka akan tinggal bersama, menjalani kehidupan mereka selayaknya keluarga. Tapi kamu bisa lihat, kalau Nisa masih mencintai kamu, sedangkan Bagas ia masih suka main di luar dengan wanita lain." Ling
Dan mungkin ada niat lain Nisa masih mempertahankan hubungan dengan mu bang, dan tidak mungkin seorang laki-laki normal mengijinkan istrinya memiliki kekasih. Itu sama sepertiku yang tidak rela abang menjalin hubungan dengan wanita lain. Itu tidak akan aku katakan sekarang bang, sebelum semua bukti terkumpul. Batin Ling melihat Arlan
"Arlinka...." panggil Arlan untuk yang ketiga kalinya
"iya bang?"
"kenapa kamu ngelamun?"
__ADS_1
"enggak, seperti itu bang cerita nya" Ling
"biarkan itu menjadi urusan mereka, aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita" Arlan menggenggam tangan Ling.