Abang CEO

Abang CEO
akhirnya


__ADS_3

Suasana menjadi sangat canggung karena candaan dari Yoga. Tidak lama seorang pengusaha yang menjadi koordinator acara ini naik ke sebuah panggung, ia memberikan sambutan dan juga mempromosikan beberapa perusahaan yang sedang berkembang.


"Ling lo gak ikut promosi?" Rico


"gak ah, males banget gue" Ling


"sayang maafin aku ya," kata Arlan memegang tangan Ling


"maaf kenapa sih bang, aku gak papa"


"tapi kamu kelihatan beda, biar nanti Yoga aku pecat"


"jangan, dia butuh makan"


"Ar, Ar, tega amat lo" Yoga


"lagian becanda lo gak lucu, " Arlan


"sorry sorry Ar, Ling tolongin gue lah. Angsuran gue masih banyak" Yoga


"ck, terus gue harus bantu bayar gitu? ogah banget" Ling


"ya bukan gitu, bilang ke suami lo biar gak pecat gue" Yoga


"gak mungkin" Ling


"tapi kalau sampai nanti gue gak dapat jatah mampus lo" bisik Arlan pada Yoga


"Tuh Ling, dia ngancam"


"kerja sama Rica besok kalau di pecat abang" Ling


"ide bagus, gue butuh tukang bersih-bersih club" Rico


"cocok itu, ingat Ga, kalau sampai gagal elo turun pangkat" Arlan


"ck, Nisa ilang kemana coba, siapa tau bisa nolongin gue" Yoga


"jangan mancing" Leo


"ah salah mulu, makan aja deh" Yoga


"HAHAHAHA" tawa Leo, Rico dan Arlan


Arlan melepaskan jasnya dan memakaikan untuk Ling, ia tidak ingin berbagi keindahan dengan banyak orang. Awalnya Ling menolak, karena Arlan memelototi nya, mau tidak mau Ling mengalah.


Mereka menikmati acara malam ini yang cukup meriah, bahkan Ling diminta untuk ikut memeriahkan acara malam ini. Awalnya Arlan melarang Ling untuk menghibur para hadirin, tapi mau bagaimana lagi kalau yang meminta bukan satu atau dua orang saja. Arlan kalah dan membiarkan Ling untuk bermain musik kesukaan nya. Selain itu Arlan juga membatasi waktu Ling bermain di depan sana, tidak lebih dari satu jam dan Ling menyetujui itu.


Setelah selesai Ling bermain untuk menghibur para tamu, Ling memutuskan kembali duduk di tempatnya.


"kita balik yuk" ajak Arlan


"belum tengah malam Ar" Leo

__ADS_1


"gue gak nunggu tengah malam, capek"


"ya udah ayo" kata Ling


"gue?" Rico


"terserah lo mau kemana, bilang ke pak Tom Jerry suruh istirahat gak papa. Tugasnya selesai" Ling


"siap bos" Rico


Ling dan Arlan segera kembali ke kamar, Nisa yang sudah kembali bergabung bersama mereka tadi pun juga segera meninggalkan tempat acara. Sepanjang jalan Arlan tidak melepaskan gandengan tangan nya pada Ling, sampai akhirnya mereka di dalam kamar.


"kenapa bang?" tanya Ling setelah Arlan melepaskan jas yang di pakai Ling, dan memeluknya erat. Bahkan Arlan menghirup aroma tubuh Ling yang menurutnya membuat candu.


"aku kangen banget sama kamu" Arlan


"kangen? kan dari tadi aku sama abang"


"jangan pernah pergi tanpa aku tau Ling, itu membuat aku takut"


"maaf bang, tapi abang tau kalau semua mendadak"


"jangan di ulangi lagi, aku benar benar tidak ingin kamu jauh dari aku. Katakan masih adakah job di luar kota?"


"sepertinya tidak ada, memangnya kenapa?"


"kalau bisa sudah jangan bekerja malam lagi, aku mau kita punya anak" kata Arlan membalikkan badan Ling.


"apa?"


"abang serius?"


"serius lah sayang, aku ingin kita menjalankan rumah tangga yang normal. Bahkan aku sudah bisa merasakan cinta sama kamu, tapi aku yakin kamu pasti belum percaya itu. Tapi aku akan buktikan kalau ucapan ku kali ini adalah tulus."


"aku tidak tau harus bagaimana bang, tapi aku akan mengikuti dan menjalankan peranku sebagai istri"


"terimakasih Ling kamu sudah mau kembali ke aku, aku janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini"


Ling mengangguk dan memberikan senyum manisnya. Arlan kembali membawa Ling kedalam pelukannya.


"sayang?" kata Arlan dengan wajah sedikit merahnya


"iya,"


"aku...." Arlan melepaskan pelukannya dan beralih memegang wajah Ling dengan kedua tangannya.


Kok wajah Abang beda, apa jangan-jangan abang......oh my God, abang cium gue. Aduh gue kok deg deg kan gini sih.


Arlan semakin memperdalam ciuman nya, dan membuat Ling kewalahan. Ling dibuat semakin membeku saat Arlan mengusap punggung dan juga bahu Ling yang terbuka. Perlahan Arlan menuntun Ling berjalan mundur sampai di sisi ranjang. Arlan masih mencium bibir Ling, bahkan tangan nya mulai nakal meraba salah satu bukit indah Ling.


Ling terdengar melenguh saat Arlan melakukan kegiatannya itu. Selain mencium bibir Ling, Arlan juga menciumi leher putih mulus Ling.


Rasa apa ini, gue benar benar baru merasakan nya. Bagaimana kalau abang meminta hak nya malam ini. Tapi tadi abang memintaku untuk berjanji memberikan nya. Ya ampun semoga gue tidak mengecewakan abang. Batin Ling

__ADS_1


Sepertinya Arlinka tidak menolak, maaf sayang tapi aku benar benar tidak kuat lagi. Setelah ini aku tidak akan melepaskan kamu sedikit pun, dan aku berharap kamu segera mengandung anakku . Batin Arlan dan perlahan ia menurunkan resleting gaun Ling


Perlahan Arlan menurunkan gaun Ling dan membuat Ling memeluknya erat.


"kenapa?" tanya Arlan


"aku malu" kata Ling menyembunyikan wajahnya di dada Arlan


Ingin sekali Arlan tertawa, tapi ia tidak mau merusak suasana ini. Bagaimana bisa Ling malu dengan dirinya, sedangkan setiap hari saja Ling tidur hanya menggunakan pakaian yang seperti itu.


"kenapa harus malu, aku suami kamu. Bukankah setiap malam kamu juga menggunakan baju seperti ini?"


"abang....." kata Ling dengan manja dan membuat Arlan gemas.


"sini lihat aku" kata Arlan agar Ling tidak menempel di tubuhnya


"kamu **** sekali" goda Arlan


"abang..iihh!!!! aku gak mau ah" kata Ling membelakangi Arlan.


Malu sekali kenapa coba suaminya harus ngomong seperti itu. Dan sejak kapan suaminya hobi menjahili Ling.


"hehehe maaf ya sayang, jangan ngambek dong." Arlan memeluk Ling dari belakang, ia menghirup aroma tubuh Ling. Sesekali Arlan juga mencium leher Ling, walaupun Ling berusaha menghindar.


"sayang....aku" kata Arlan dengan suara beratnya, ia sudah tidak bisa menahan lagi.


"lakukan bang" kata Ling yang tau dengan keinginan Arlan, bahkan ia juga sudah menginginkan hal yang sama, karena perlakuan Arlan.


Arlan segera membawa Ling ke tempat tidur dan kembali mencium bibir Ling. Arlan juga melakukan apapun demi memenuhi keinginannya. Terlihat nafas Ling mulai tak beraturan, mereka sudah menginginkan hal yang sama. Perlahan Arlan melepas kemeja yang masih menempel rapi di tubuhnya.


"kenapa?" tanya Arlan saat melihat Ling hanya diam saja


"eng.....enggak" kata Ling malu, sebenarnya Ling begitu terpesona dengan tubuh suaminya itu, bahwa ia baru melihatnya sedetail ini selama menikah.


"apa yang ada di diriku adalah milih kamu Ling. Jangan sungkan" Arlan


"iya abang"


"kalau kamu mau, tinggal bilang aja"


"mau apa?"


"mau aku menghangat kan kamu"


"itu mau abang"


"jadi kamu gak mau?" tanya Arlan dan ia mengambil kembali kemeja yang sudah dilepas


"eh mau kok" kata Ling agar Arlan tidak marah padanya, selain itu dia juga sudah menginginkan Arlan


"ya sudah mulai dari mana?"


"mana aja boleh, aku ikut abang aja" kata Ling dengan malu malu.

__ADS_1


Tanpa menunggu lebih lama lagi Arlan segera melakukan apa yang tadi sempat tertunda. Malam ini menjadi saksi sempurna nya hubungan mereka. Arlan merasa sangat bahagia dengan apa yang ia dapatkan, ternyata memang benar kalau Ling bukan perempuan yang tidak baik. Ling menjaga semuanya dengan baik, Arlan yang dulu sempat meragukan Ling pun sekarang merasa bersalah. Ternyata apa yang dikatakan mama dan papanya itu benar, ia tidak bisa menilai orang dari luarnya saja.


__ADS_2