
Pak Delon yang sudah selesai membeli sarapan, segera kembali ke kamar Arlan.
"om Delon" panggil seseorang yang ada di hadapannya
"Leo" sapa papa dan tersenyum saat melihat wanita yang seumuran dengannya duduk di kursi roda.
"siapa yang sakit om?" tanya Leo
"Arlan, tadi pagi om bawa ke sini karena pingsan"
"Arlan pingsan? ma kita jenguk Arlan sebentar ya?"
"boleh pak Delon?" tanya mama Leo
"boleh, mari" kata papa berjalan lebih dulu
Sesampainya di ruangan Arlan, ternyata Arlan masih saja belum membuka mata. Kata mama dari tadi Arlan masih terus memanggil Arlinka.
"Ar, bangun, ini gue Leo" kata Leo mencoba membangunkan Arlan.
Mama menceritakan kepada bu Devi atau mama Leo, tentang Arlan yang bisa seperti ini. Bu Devi baru kali ini melihat Arlan seperti ini, bahkan jiwa keibuannya membuat bu Devi tidak tega melihat Arlan.
Flashback on
"Bu, tolong jangan beritahu siapapun kalau Ling yang membeli rumah ini" kata Ling pada Bu Devi
"kenapa sayang?" tanya bu Devi
"saya mau, kalau suatu saat saya ingin sendiri, saya bisa datang kesini bu"
"kamu yakin tidak mau merubah nama sertifikat rumah ini?"
"saya yakin bu, dan saya minta tolong ibu yang menyimpan sertifikat ini."
"tapi Ling"
"saya percaya sama bu Devi, saya bisa datang kesini setiap saat saya butuh aja sudah cukup bu."
"baik lah kalau begitu, terimakasih sekali lagi, kamu sudah mau membantu ibu" Kedua wanita beda usia itu berpelukan dengan erat.
flashback off.
Itu sebuah percakapan Bu devi dan Ling beberapa tahun yang lalu. Saat itu bu Devi membutuhkan biaya untuk pengobatan Melisa. Bu Devi tidak mau merepotkan Leo yang masih merintis usaha nya. Bahkan rumah yang di jual bu Devi itu adalah rumah hasil kredit nya waktu muda.
Bu Devi mencoba menghubungi seseorang, tidak lama kemudian panggilan nya di jawab oleh seseorang di seberang sana.
"pagi Sur, bagaimana kabarmu?" tanya bu Devi basa basi
"baik bu, ibu apa kabar?"
"baik, Sur saya mau tanya. Apa anak ibu ada di rumah?"
"ada bu, sepertinya mau satu minggu"
"Tolong kamu datang kerumah, ajak bicara anak ibu. Jangan sampai anak ibu tau kalau ibu telepon kamu. Biarkan sambungan telepon ini tetap nyala, saya ingin mendengar suara anak saya"
"baik tunggu sebentar bu"
Setelah beberapa saat Ibu Devi meminta Leo untuk mendekatkan ke Arlan. Delon dan Erni bingung dengan apa yang dilakukan oleh bu Devi, begitu juga dengan Leo.
"Ar, bangun. Kamu dengar ini" Bu Devi melouspiker ponselnya
__ADS_1
Disana terdengar sebuah obrolan Suryani dengan Ling. Suryani adalah orang yang menjaga dan membersihkan rumah Ling selama tidak di tempati. Suryani juga tidak tau kenapa Ling tiba tiba datang ke sana. Sebagai ART Suryani tidak mau bertanya lebih jauh, mungkin memang majikannya ingin berlibur di sana.
"Arlinka" sayup-sayup Arlan membuka matanya.
"ya itu suara Ling, dia baik baik saja. Kamu harus segera sehat" kata bu Devi
"dimana Ling?" tanya Arlan lemah
"ibu akan memberitahu kamu, tapi kamu pulihkan dulu kesehatan kamu"
"saya tidak apa apa, Bu Devi tolong katakan dimana Ling" Arlan lebih bersemangat
"dimana Ling ma, kok mama gak cerita sama Leo" Leo
"semua tenang dulu, saya juga baru ingat. Dulu Ling pernah berpesan sama saya untuk merahasiakan tempat itu. Dan saya juga baru tau kalau Ling ada di sana." jelas bu Devi
"dimana bu dimana?" Arlan berusaha bangun tapi badannya masih terasa lemas
"Arlan, kamu Istirahat dulu. Kamu harus makan dan minum obat" kata mama
"tidak ma, aku mau ketemu Ling" Arlan
"Ling baik baik saja, kamu pulihkan tenaga kamu dulu" Mama
"arrhh" Arlan begitu frustasi saat dirinya begitu lemah saat ini. Mau tidak mau ia harus memiliki tenaga untuk menyusul Ling.
"lo sabar dulu Ar, gue juga baru tau."
"ibu akan meminta Suryani mengawasi Ling. Jadi Ling tidak akan pergi jauh lagi" Devi
"memangnya dimana Ling bu?" Delon
"bali? kok mama bisa tau?" Leo
"Ling yang membeli rumah mama di bali, dan Ling tidak ingin ada yang tau kalau rumah itu sekarang menjadi milik Ling. Katanya ia akan datang di saat ingin sendiri." Devi
"aku harus susul Ling ma" Arlan
"kamu makan dulu, kita lihat beberapa jam ke depan. Kalau memungkinkan kamu boleh pergi" kata papa
.
.
.
.
Malam ini Ling berniat untuk mencari makan di luar. Sekalian menikmati keindahan malam di kota Bali. Sejak tadi pagi ia hanya ada di dalam rumah, perasaannya tidak tenang, entah apa sebabnya Ling juga tidak tau. Ling sudah melihat cctv di rumahnya, papinya baik baik saja, itu yang membuat Ling tenang.
Beberapa hari ia tinggal di sini tanpa tuntutan kerja dan di ganggu Rico ternyata menyenangkan. Menyenangkan jika Ling bisa jalan kemana saja dengan bebas, makan apa saja, dan melakukan apa yang ia inginkan. Ngomong ngomong tentang Rico, membuat Ling tersenyum.
"gue yakin lo pasti marah marah Ric, apalagi beban pekerjaan semua tanggungjawab lo. Tapi gue janji gue akan kasih bonus buat lo." gumam Ling
Ling melihat penampilan nya sekali lagi, celana jins panjang, dengan Hoodie berwarna marun. Ia juga menggunakan masker, dan kacamata biasa. Kalau pakai kacamata hitam sudah di pastikan , dia tidak bisa melihat 🤭. Ling menuruni tangga dari lantai dua.
tok tok tok
Ling diam untuk memastikan ada yang mengetuk pintu, padahal ia tidak memesan makanan, ataupun ada janji dengan orang.
"siapa ya? apa mungkin bi Sur" gumam Ling
__ADS_1
Dengan perlahan Ling menuju ke pintu utama, ia sempat melihat dari celah pintu. Ada seseorang yang sedang berdiri membelakangi pintu, Ling tidak tau siapa dia karena menggunakan topi jaketnya.
ceklek
Suara pintu terbuka, dan orang itu perlahan membalikkan badannya. Untuk beberapa saat Ling di buat terkejut dengan siapa yang ada dihadapannya. Berbeda dengan orang ini, dia terlihat lebih lega dan ingin memeluk Ling.
"abang" kaget Ling, ia menjauh saat akan di peluk Arlan
"saya sangat merindukan kamu Arlinka" Arlan yang mencoba mendekati Ling lagi
"maaf, kok abang disini" Ling masih menjaga jarak dengan Arlan
"saya mencari kamu, kenapa kamu menghindar?" Arlan merasa sedikit pusing dan ia berpegangan pada pintu
"buat apa abang mencari aku?" Ling
"saya...bruk" Arlan jatuh dan pingsan
Ling segera meminta bantuan, untungnya ada suami bi Sur dan beberapa bapak bapak di sana. Ling membawa Arlan ke kamar tamu, ia mencoba membangunkan Arlan dengan mengoleskan minyak di beberapa tempat.
drt drt drt
Dering ponsel Arlan berbunyi begitu nyaring, Ling mencari ponsel Arlan di saku jaketnya. Dilihatnya nama mama disana, Ling mengangkat panggilan dari mertuanya itu.
"halo" Ling
Ling, ini kamu nak? benar ini kamu Ling?
"iya mah, ini Ling"
mama sangat merindukan kamu Ling, kamu baik baik saja kan?
"Ling baik kok mah, maaf membuat mama dan semua khawatir"
Tidak ini bukan sa,lah kamu, Arlan sudah sampai Ling? dia baik baik saja kan?
"abang, baru sampai mah. Tapi....,"
Tapi apa Ling? dia bikin masalah lagi
"abang pingsan mah, ini Ling baru berusaha menyadarkan abang"
Astaga, anak itu keras kepala sekali. Arlan sedang sakit Ling, tadi pagi dia dirawat di rumah sakit. Begitu mendapat kabar tentang kamu, Arlan nekat nyusul kamu.
"abang sakit apa mah?" Ling menjadi khawatir
"Arlinka" panggil Arlan pelan
"abang sudah bangun, mah abang sudah sadar"
Syukur lah, Ling tolong dengarkan penjelasan Arlan. Dia sangat mengkhawatirkan kamu
"baik mah"
Setelah itu Ling menutup sambungan telepon nya, ia melihat Arlan yang berusaha untuk duduk.
"minum dulu" Ling memberikan segelas teh hangat
"saya hanya mau kamu Ling, tidak ada yang lebih penting daripada kamu" kata Arlan
Ling diam, ia mengingatkan betapa mudahnya ia menerima Nisa kembali. Ling takut kalau Arlan tidak tulus seperti yang ia harapkan.
__ADS_1