
Ling segera berangkat kerja karena sudah di jemput oleh dua pengawalnya. Sebenarnya ia sudah mencoba membangunkan Arlan, namun Arlan masih tidak bergeming.
"ma, pa, Ling berangkat dulu" pamit Ling pada mertuanya
"iya hati hati sayang" mama
"oh iya ma, nanti kalau abang bangun tolong sampaikan kalau Ling sudah berangkat. Tadi Ling coba bangunkan lagi tapi masih belum mau"
"anak itu, nanti kalau bangun mama sampaikan"
"makasih ma" kata Ling
.
.
.
.
Sesampainya di club, Ling langsung bersiap untuk menghibur para pengunjung.
"udah rapi, tumben amat sih telat" kata Rico yang sedang membenarkan rambut Ling
"gue dari rumah mertua, yang penting semua udah siap gue tinggal gas kan," Ling
"ya..... jangan sampai mengecewakan semua, bayaran lo mahal disini"
"siap, gue ke depan dulu"
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, semangat para pengunjung masih berkobar, bahkan mereka juga belum banyak menenggak minuman beralkohol. Suasana di club ini sangat meriah, antusias para pengunjung membuat Ling semakin semangat.
Sedangkan di sisi lain, Arlan mulai membuka matanya. Ia melihat ke sekeliling kamar yang terlihat sepi. Arlan duduk dan memanggil Ling, namun panggilan nya tidak dijawab. Perlahan Arlan bangun dan menuju ke kamar mandi, selesai mandi ia kembali mencari Ling di lantai bawah.
"ma" panggil Arlan yang melihat mamanya akan membuka pintu kamar
"kamu sudah bangun? mau makan?" mama
"Arlinka mana ma?"
"kerja, kamu di bangunin susah banget" mama
"kok mama biarin Ling kerja sih,"
"memangnya kenapa? bukannya udah ijin kamu?"
"ya udah, tapikan Ling pergi tanpa pamit"
"gimana mau pamit kalau kamu tidur" saut papa dari belakang Arlan
"capek tau pa" Arlan
"capek apanya? kamu di Bali kan liburan tidak kerja." Papa
"kerja siang malam pa, papa aja gak tau"
"kerja apa? kamu dapat klien baru?"
"ya enggak, tapi lagi kejar target"
"bukannya kemarin kamu sudah ekspor banyak barang? masih belum target,?"
"ah papa, aku tuh kejar target buat anak, biar papa mama punya cucu" kata Arlan kemudian melangkahkan pergi.
"kalau gitu seharusnya Ling yang capek bukan kamu" Mama
__ADS_1
"sama aja" kata Arlan menuju ke ruang tengah
"anak kamu mas, persis seperti kamu" kata mama
"apanya?" papa
"kelakuannya, semua mirip"
"namanya juga anak ma, udah biarin Arlan. Kita istirahat saja" kata papa
Arlan mencoba menghubungi Ling, namun tidak ada jawaban dari Ling. Itu membuat Arlan semakin tidak karuan.
"ah kemana sih gak di angkat, apa lagi joget sama cowok-cowok" gumam Arlan
"buang jauh-jauh pikiranmu itu Ar, Ling adalah gadis yang baik. Biasanya juga kamu tenang tenang aja tau Ling kerja" saut papa yang ikut duduk di samping Arlan
"itukan dulu pa, kalau sekarang beda"
"apa bedanya?"
"aku sudah mencintai Ling, aku tidak bisa jauh dari Ling"
"kamu cuma ditinggal kerja Ar, bukan di tinggal pergi. Lagian nanti juga pulang"
"nanti masih lama pa"
"apa kamu mau mengumumkan pernikahan mu dengan Ling?" pertanyaan papa membuat Arlan terdiam.
"bagaimana?" tanya papa lagi
"sebenarnya aku juga ingin mengumumkan kalau Ling adalah istriku. Tapi aku belum membicarakan ini dengan Ling."
"ya sudah itu keputusan kalian, papa hanya mendukung." papa menepuk pundak Arlan dan meninggalkan Arlan sendiri.
Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Ling sudah turun dari panggung. Ia langsung menuju ke tempat Rico yang sedang menunggu dirinya.
"bukannya udah habis dua botol lo" Rico memberikan air mineral untuk Ling
"mana ada? ponselku mana?" kata Ling
"banyak amat panggilan tak terjawab dari abang" gumam Ling
"gue gak denger," Rico
"udah selesai belum sih? pulang yuk" Ling
"emang lo gak capek?"
"justru gue capek pengen istirahat"
"ya udah cus kalau gitu, kita ketemu pemiliknya dulu" kata Rico bangkit dari duduknya.
Setelah itu mereka pun pulang, kali ini mereka berada di satu mobil yang sama.
"Ric gue mau pensiun" kata Ling
"what? lo yakin?" Rico
"yakin, Abang udah bawel banget. Gue juga tau kalau profesi ini harus segera berakhir buat gue. Cepat atau lambat gue akan hamil, di tambah gue adalah seorang istri. Mana mungkin suaminya ikhlas melihat istrinya menghibur banyak orang."
"lo masih muda Ling, karir lo masih panjang. Kasih pengertian buat suami lo. Lagian saat ini cinta lo baru membara, belum tentu kedepannya selalu seperti ini"
"doakan gue Ric, gue yakin lo juga mau punya pasangan hidup. Apapun yang akan terjadi itu adalah resiko yang harus gue hadapi. Saat ini gue hanya mau yang terbaik buat keluarga gue. Karena tidak hanya menyangkut gue dan abang saja, tapi ada keluarga mertua gue. Tidak mungkin gue akan terus bersembunyi dengan status pernikahan gue. Dan yang pasti akan ada komentar kalau seorang Arlan menikah dengan seorang Dj. Gue pasti di pandang buruk di mata orang yang tidak menyukai gue"
"gue paham Ling, lo udah bilang ke Leo?"
__ADS_1
"belum sih, tapi gue akan segera menemui kak Leo. Mau bagaimana pun gue juga ada ikatan kerja dengan dia."
"kalau lo pensiun bagaimana dengan club?"
"ya gak mungkin gue tutup Ric, lo tenang aja. Gue kan pensiun jadi Dj, bukan pensiun jadi pengusaha"
"gue doakan yang terbaik buat lo deh," kata Rico pasrah
"thanks Ric, gue akan cari Dj baru buat bantu di club"
"harus" kata Rico
Tidak terasa akhirnya Ling sampai di rumah, ia segera masuk ke dalam rumah. Suasana rumah begitu sepi, sudah di pastikan kalau kebanyakan penghuninya sudah tidur. Tapi saat Ling berjalan mendekati ruang tengah, samar samar ia mendengar suara keyboard laptop yang di pencet seseorang. Dan benar saja suaranya semakin jelas, walaupun pencahayaan nya redup, ia tau kalau suaminya lah yang masih terjaga.
"abang" panggil Ling
"Arlinka, kamu sudah pulang?" tanya Arlan dan Ling mengangguk
"kok abang belum tidur?" tanya Ling duduk di sebelah Arlan
"aku sudah pernah bilang, tolong pamit sebelum pergi"
"tapi abang tadi tidur, maaf bang"
"aku tuh khawatir sama kamu, apalagi kamu tidak balas pesan atau angkat telepon dari aku"
Ling hanya tertunduk, ia tidak mau melawan Arlan. Mau di jelaskan pun juga percuma, Arlan seperti nya sedang kecewa dengan nya. Arlan memeluk Ling yang terdiam.
"maaf, aku hanya tidak suka kamu tidak ada kabar"
"aku yang seharusnya minta maaf ke abang"
"sudah, kamu capek kan ayo kita istirahat"
"iya bang"
Mereka pun menuju ke kamar dan bersiap untuk tidur. Rasa lelah dan mengantuk yang membuat mereka segera ke alam mimpi. Pagi harinya, dering ponsel Arlan yang yang menggangu tidur mereka berdua. Ling yang terbangun pun mengangkat telepon masuk dari Yoga.
Lama amat sih lo, setengah jam lagi kita harus meeting. Lo dimana kok belum datang?. Yoga
"ck, berisik amat sih lo. Abang masih tidur" Ling
Astaga yang benar saja, bangun kan sekarang. Dia harus meeting penting.
"iya" Ling mematikan sambungan telepon nya.
Ling melihat Arlan yang masih tertidur nyenyak, rasanya ia tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tanggung jawab Arlan. Ling mencoba membangun Arlan, untungnya tidak butuh waktu lama Arlan segera bangun dan bergegas mandi. Sedangkan Ling, ia menyiapkan baju untuk Arlan dan segera turun untuk menyiapkan sarapan.
"pagi ma" sapa Ling
"pagi sayang, kamu mau sarapan?"
"buat abang ma, mau buru-buru ke kantor."
"kok buru buru?"
"iya kita kesiangan ma"
"mama paham kok, tadi mama sarapan duluan sama papa. Karena gak mau ganggu kalian"
"maaf ya ma Ling belum bisa jadi mantu yang baik. Tapi Ling janji, Ling akan segera meninggalkan pekerjaan Ling."
"kamu yakin?"
"yakin ma, kasian abang. Ling akan segera urus semuanya ma"
__ADS_1
"mama akan mendukung keputusan kamu. Kamu juga bisa kerja di kantor Arlan kalau memang kamu mau bekerja. Atau, di rumah saja seperti mama"
"Kamu di rumah saja, biar kamu selalu ada buat aku." saut Arlan