
Pagi ini Arlan masih berangkat ke kantor, padahal lusa ia akan melangsungkan pernikahan.
"tumben" gumam Arlan yang melihat ke meja Nisa
Biasanya Arlan akan di sambut dengan senyum ceria Nisa, tapi kali ini Nisa terlihat belum berangkat. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arlan memutuskan untuk makan siang diluar. Niat hati ingin bersama Nisa, tapi kenapa dia tidak ada.
"Ga, Nisa mana?" tanya Arlan yang masuk ke ruangan Yoga
"kan cuti" Yoga tidak melihat ke arah Arlan, tapi ponselnya
"cuti? kok saya gak tau?"
"kemarin bilang ke gue, dia mau pulang kampung"
"kenapa mendadak? berapa hari?"
"kurang tau gue, lagian besok juga weekend"
"ah kenapa lo kasih ijin sih"
"ya dia buru buru, kenapa sih?" tanya Yoga yang melihat Arlan kebingungan
" kenapa tidak bisa di hubungi sih," gerutu Arlan
"kenapa sih Ar?"
"gue harus bicara sama Nisa,"
"besok-besok kan bisa"
"gak bisa" kata Arlan
"emang mau bicara apa sih?"
"ah ini masalah penting banget, dan waktunya sudah mepet. Kamu tau dimana kampung Nisa?"
"ya enggak lah, elo kan pacarnya harusnya tau"
"gue gak pernah di kasih tau, kira kira kenapa Nisa pulang?"
"gue kemarin dengar kalau nyokap nya yang telfon, terus Nisa panik dan buru buru pulang."
"ada apa dengan keluarganya?"
"mana gue tau, udah ayo kita makan siang" ajak Yoga
Dengan malas Arlan pun berjalan keluar dengan Yoga, mungkin nanti Nisa bisa di hubungi lagi.
.
.
.
.
Sedangkan disisi lain, Ling sedang melakukan perawatan tubuhnya. Ia mengundang salon untuk datang ke rumahnya. Walaupun pernikahan mereka bukan di dasari oleh cinta, namun Ling juga ingin tampil lebih cantik.
"Ling, di depan ada Rico" kata Bu Dyah
"suruh nunggu dulu bu, sebentar lagi Ling selesai"
"ya sudah ibu turun dulu"
Setelah selesai perawatan tubuhnya Ling segera turun ke bawah. Ia menuju ke samping, disana ada sebuah ruangan yang terdapat dj set. Ling suka menghabiskan waktunya di sana. Ruangan itu menghadap ke kolam juga taman yang indah. Jadi suasana di sana sangat nyaman untuk bersantai.
"ngapain Ric?" tanya Ling pada Rico yang menunggu nya disana
"ngapain ngapain, bukanya you yang nyuruh gue kesini." Rico
" ah lupa Rica, maaf ya" Ling
"ngapain sih? ganggu Rica bobok deh"
"jadi gini, gue beberapa hari ke depan gak ke club dulu. Lo yang urus semua, gue terima laporan aja"
"kenapa?"
"gue mau married"
"hah? sumpeh tumpeh?" kata Rico yang di buat heboh
"em" kata Ling terlihat cuek
"hey you, gue serius ini"
"gue juga serius kali Rica....."
"oh my my my God. Gue mimpi apa ini" Rico
"sini ikut gue" kata Ling dan Rico menurut saja.
byur....
Suara sesuatu tercebur di kolam, dan itu membuat Ling tertawa.
__ADS_1
"astaga gila..... Ling Ling lo" Kata Rico sambil mencipratkan air kolam ke arah Ling.
"stop Rica stop" Kata Ling menghindar dari serangan Rico
"biar sama kaya gue" kata Rica
"niat gue kan bangunin lo dari mimpi" Ling
"gue gak mimpi Ling, tapi tunggu jadi lo tadi becanda apa gimana?" tanya Rico berjalan mendekati tepi kolam
"gue beneran mau married" Ling
"sama siapa?"
"ganti baju gih gue ceritain" Ling
"elo sih, ambilin baju gue di mobil" Rico
"ogah" Ling membuang muka dari Rico
byur
Ling dengan mudah nya di tarik Rico masuk ke dalam kolam.
"Rica.!!!! basah gue" kesal Ling
"biarin, buruan cerita"
"gak mau"
"gue panggil wartawan nih" ancam Rico
"jangan, iya gue cerita" Ling.
Ling menceritakan siapa calon suaminya, dan kenapa menikah secepat itu. Rico di buat syok dengan semua itu, bahkan saat Ling cerita ia selalu membuka mulutnya.
"oh no, jadi CEO Lando Grup?" tanya Rico
"iya, dan gue minta jangan bocor kemana mana."
"tapi gimana kalau wartawan tau? terus manager lo?"
"gue belum kasih tau," Jawab Ling
"ck, terus gimana dengan perjanjian manggung lo yang keliling dunia itu? jangan gila deh kalau suruh batalin." Rico pusing membayangkan itu.
"ya gue udah buat perjanjian sama calon mertua gue, buat menyelesaikan jadwal yang sudah ada ini. Selanjutnya kalau ada tawaran ya gue tanya Abang dulu" Ling
"abang?"
"ganteng ganteng di panggil abang" Rico tertawa renyah.
"biarin," kata Ling
"eh tapi Dia tau kan kalau lo seorang Dj terkenal.?"
"gak tau gue, dia gak pernah nanya"
"masa iya ada yang tidak tau seorang Dj sejuta pesona seperti lo" Rico
"jangan berlebihan deh"
"kata nitijen sama fans lo gitu" Rico
"terserah, intinya lo harus jaga rahasia ini dulu. Besok akan di langsungkan acara pernikahan gue secara tertutup. Jangan membuat wartawan curiga"
"oke siap beres" kata Rico dengan gerakan mengunci mulutnya.
"loh kalian kok basah basahan di pinggir kolam?" tanya bu Dyah yang menghampiri mereka
"iya bu, dia yang bikin aku tercebur" kata Rico manja
"Ling kamu ganti baju dulu, takut masuk angin" Ibu
"iya bu," Ling beranjak menuju kamar mandi di dekat sana.
"Rica juga ya bu" kata Rico
"iya, habis ini makan siang. Ibu tunggu"
"siap nyonya" Rico..
Setelah beberapa saat, Ling dan Rico yang sudah selesai pun menuju ke meja makan. Disana terlihat bu Dyah sedang menata piring.
"wah enak sekali" kata Rico
"ayo makan yang banyak. Kamu juga Ling" Bu Dyah
"iya bu," kata Ling
"Ling Minggu depan lo harus ke Bandung" kata Rico mengingat kan
"iya gue tau,"
"emang lo gak honeymoon?" Rico
__ADS_1
"ukhuk" Ling tersedak
"minum dulu Ling" Kata ibu menuangkan air putih
"makasih bu, elo kalau ngomong di saring" kata Ling
"gue tanya, kan biasanya gitu"
"gue gak biasa"
"belajar biasa dong, buat dia jatuh cinta sama lo" Rico
"nih nambah pete yang banyak. jangan ngomong mulu" Ling
"l like pete" Rico
.
.
.
.
Sampai malam hari Arlan tidak bisa menghubungi Nisa. Arlan terlihat begitu frustasi. Kemana? kenapa? hanya itu yang ada di pikiran Arlan tentang Nisa.
"Ar, mama masuk ya"
"iya ma" kata Arlan dari dalam
"kamu gak makan malam?" tanya mama
"enggak selera ma"
"kenapa?"
"entahlah ma"
"kamu mikirin Ling?"
"kenapa aku harus memikirkan Ling?" tanya Arlan
"ya siapa tau kamu grogi gitu" goda mama
"enggak ma"
"kamu sudah putus dengan pacar kamu kan?" tanya mama dan Arlan terdiam
"jawab mama Ar, jangan buat mama dan Ling kecewa"
"bagaimana bisa Arlan memutuskan Nisa begitu saja ma, Arlan mencintai Nisa sudah sejak dulu" kata Arlan
"tolong Ar, tinggal kan Nisa. Cintai Ling, dia lebih baik daripada Nisa. Mama tidak ingin kamu terpuruk lagi"
"mama tau kan bagaimana dulu Arlan mencoba mengikhlaskan Nisa? gak bisa ma"
"harus bisa, terima kehadiran Ling. Perlahan kalian akan saling mencintai."
"beri Arlan waktu ma"
"kami akan memberikan waktu untuk kamu, tapi kalau sampai kamu menyakiti Ling, Papa yang akan turun tangan" kata papa di ambang pintu dan kemudian berlalu
"ma" kata Arlan meminta bantuan mama nya
"tinggalkan Nisa dan hidup bahagia dengan Ling" kata mama meninggalkan Arlan.
"arrggghhh kenapa seperti ini" gumam Arlan
drt drt drt
Dering ponsel Arlan membuat si pemilik nya menoleh.
"Nisa" kata Arlan membaca nama di ponsel nya.
"Nisa, kamu dari mana aja?" kata Arlan
"Mas maaf ya baru bisa kasih kabar,"
"tidak apa, kamu kenapa pergi"
"Aku cuti mas, tidak pergi. Ada keluarga yang sakit dan harus di rawat di rumah sakit"
"siapa? kamu tidak bohong kan?"
"Tidak mas, aku benar benar sedang menunggu keluarga ku "
"Nisa apa kamu dalam ancaman?" tanya Arlan yang khawatir ini semua rencana orang tua nya
"Ancaman apa mas?"
"Jujur padaku Nis,
"jujur? aku sudah jujur padamu mas. Maaf mas kemarin aku tidak sempat pamit sama kamu. Aku minta ijin cuti beberapa hari"
"tapi Nis, lusa aku akan menikah"
__ADS_1