
Pagi ini Arlan bangun dan melihat ke samping tempat tidurnya. Ia sangat merindukan Ling, sudah beberapa hari ia masih belum bisa menemukan Ling. Melacak melalui ponsel ataupun kartu yang digunakan Ling pun percuma. Semua hasilnya nihil, entah bagaimana cara Ling hidup saat ini. Yang pasti, terakhir kali Ling transaksi pengambilan uang di kota Semarang. Setelah di cari, sampai sekarang anak buah Arlan masih belum menemukan Ling.
"Di mana kamu Arlinka, sepi sekali tanpa kamu. Maaf kan saya, maafkan semua kesalahan saya. Kalau kamu kembali saya berjanji akan berusaha mencintai kamu. Atau mungkin saya sudah ada perasaan sama kamu." kata Arlan, ia meraih ponsel dan berusaha menghubungi Ling. Namun sama saja masih tidak aktif.
.
.
.
.
.
Sedangkan di sebuah pantai yang masih sepi, Ling menatap jauh ke depan sana. Laut biru dengan ombak yang terbilang tenang, hamparan pasir putih yang bersih, membuat suasana hatinya lebih tenang. Ia hirup udara pagi ini dalam dalam.
Sudah hampir satu minggu bang, apa kamu mencari aku? Atau mungkin kamu sudah bahagia dengan Nisa. Semakin kesini entah kenapa semakin sulit buat aku melupakan kamu bang. Baru kali ini aku merasakan seperti ini, apa aku sudah jatuh cinta sama kamu bang? Batin Ling yang masih setia memandang lautan.
Tidak terasa matahari pun sudah mulai meninggi. Ling meninggalkan pantai dan beranjak mencari sarapan. Sarapan yang ia nikmati pun tidak seenak yang biasa ia makan, bukan masalah makanan nya, tapi hati dan suasana tempat tinggal Ling sangatlah sepi.
Ling tinggal di sebuah rumah yang ia beli beberapa bulan yang lalu. Hanya ada satu orang yang tau rumah Ling ini. Karena saat membeli rumah ini, pemilik nya sangat butuh biaya.
Sedangkan Arlan saat ini yang sudah sampai kantor, ia terlihat begitu kacau. Arlan tidak serapi biasanya, bahkan aura dingin dan galak yang terlihat saat ini. Sapaan demi sapaan karyawan nya, ia abaikan begitu saja.
"maaf pak sudah di tunggu di ruang meeting" kata Yoga
Tanpa menjawab Arlan langsung berjalan ke ruang meeting. Yoga hanya menggelengkan kepalanya melihat Arlan yang seperti itu. Meeting berlangsung pun, Arlan sama sekali tidak memperhatikan. Ini membuat pekerjaan Yoga bertambah berat. Bisa di pastikan kalau besok Arlan akan meminta penjelasan kembali pada Yoga. Selesai meeting Arlan langsung kembali ke ruangannya. Ia sibuk mengetukkan bolpoin ke meja.
"makan dulu" kata Yoga membawakan makan siang untuk Arlan
"gak perlu" Arlan
"Ar, lo harus makan, gue dengar lo juga jarang makan di rumah. Kalau lo sakit bagaimana dengan...." Omongan Yoga terhenti karena di potong Arlan
"dengan perusahaan? elo repot ngurus semua sendiri. Elo gue bayar buat bantu gue, selain itu gue bos di sini." kata Arlan
"ck, itu nomor duanya, yang paling penting gimana lo cari Ling kalau lo sendiri sakit." Kata Yoga yang tidak tersinggung dengan kata kata Arlan, ia paham kalau Arlan sedang tidak baik baik saja.
"sini" kata Arlan meminta nasi yang sudah di buka Yoga
"buka sendiri" kata Yoga mempertahankan nasinya
"gue pecat lo" Arlan
"manja amat" Yoga memberikan nasinya
"kangen di manja" Arlan
"dih tau gitu gue ogah kesini. Gue masih waras" Yoga
__ADS_1
"diem lo" Arlan.
Saat Arlan dan Yoga menikmati makan siangnya, tiba tiba Nisa masuk ke dalam ruangan Arlan.
"mas, aku bawakan makan siang" Nisa
"saya sudah makan" jawab Arlan cuek
"tapi ini kesukaan kamu mas"
"terimakasih, tapi tidak perlu merepotkan diri. Kamu bisa membawakan untuk suami kamu" Arlan
"mas, maafin aku. Aku hanya ingin kita seperti dulu" Nisa
"cukup Nisa, saya dan kamu hanya sebatas hubungan kerja. Sama seperti karyawan yang lainnya. Kalau kamu masih mau bekerja disini jaga sikap kamu," kata Arlan kemudian ia meninggalkan makanan nya.
"eh Ar kemana lo" kata Yoga dengan mulut penuh makanan
"yah... ngambek kan, elo sih. Gue susah susah bujuk dia, malah elo datang" kata Yoga menyalahkan Nisa
Nisa tidak peduli kata Yoga, ia langsung pergi begitu saja. Sedangkan Yoga melanjutkan makannya. Sebenarnya ia ingin mengejar Arlan, namun pekerjaan nya tidak bisa di tinggal.
Arlan mengendarai mobil nya menuju ke rumah mamanya. Setelah memarkirkan mobilnya, Arlan masuk kedalam rumah. Dilihatnya mama sedang membaca majalah di ruang tengah.
"Mah" panggil Arlan dengan lemas.
"mah, dimana Ling?" kata Arlan yang sudah tiduran di pangkuan mamanya
"memangnya belum ada kabar?"
"tolong mah, Arlan sangat merindukan Ling. Arlan ingin segera ketemu Ling. Jujur sama Arlan mah,"
"Ar, mamah benar benar tidak tau" kata mamah mengelus rambut Arlan
"harus kemana lagi Arlan cari Ling mah, harus berapa lama lagi Arlan menunggu" kata Arlan berkaca kaca
"Ar, mamah juga sudah berusaha. Bahkan keluarga Ling tidak tau dimana Ling sekarang" Mamah melihat penyesalan di mata Arlan.
Arlan pernah terpuruk seperti ini dulu, namun tidak separah ini. Mama tau kalau Arlan jarang makan, ia sering diam dan mengurung diri saat di rumah. Mama tau semua itu dari pembantu Arlan. Mamah sebenarnya sangat khawatir pada Arlan.
.
.
.
.
"Pa, sebenarnya dimana Ling?" tanya mama pada papa. Saat ini mereka sedang berada di kamar, setelah makan malam.
__ADS_1
"papa juga tidak tau ma, tidak ada titik terang"
"mama khawatir dengan Arlan pa, sepertinya dia benar-benar menyesal. Bahkan mungkin dia sudah ada perasaan untuk Ling"
"semoga seperti itu ma, besok papa coba datang ke tempat pak Anggara, siapa tau beliau sudah mendapatkan kabar dari Ling.
Pagi ini mama yang sudah menyiapkan sarapan, segera menuju ke kamar Arlan karena papa sudah bangun terlebih dulu. Mama mengetuk pintu kamar Arlan beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mama membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
"Ar, kok masih tidur? ini udah siang" kata mama mendekati Arlan
"Arlan" mama memegang pundak Arlan namun tidak ada pergerakan dari Arlan.
"Ar, Arlan" mama mencoba menggoyangkan badan Arlan
"pa.....papa......." teriak mama karena Arlan tidak bangun dan badannya panas.
"ada apa ma?" tanya Papa yang sudah datang
"Arlan sakit pa, ayo bawa ke rumah sakit. Arlan tidak sadar" panik mama
Papa segera memanggil beberapa orang yang bekerja di rumah ini, untuk membawa Arlan ke dalam mobil. Setelah itu papa, mama dan juga supir pribadi papa membawa Arlan ke rumah sakit. Arlan segera mendapatkan pertolongan pertama saat sampai di rumah sakit.
"tenang ma, Arlan pasti baik baik saja" kata papa menenangkan mama
"tapi Arlan tidak pernah seperti ini pa"
"kita berdoa saja ma,"
Setelah menunggu beberapa saat, dokter yang memeriksa Arlan keluar. Ia menjelaskan kepada mama dan papa kalau Arlan mengalami dehidrasi, asam lambung naik dan juga kurang istirahat. Mungkin beberapa hari ini Arlan tidak teratur makan dan istirahat. Sebegitu kah ia memikirkan Ling, dan kehilangan Ling. Bahkan dulu saat di tinggal Nisa, ia tidak sampai seperti ini.
"Ar, bangun nak" kata mama mengelus tangan Aroan,
"sabar ma, papa keluar sebentar ya cari sarapan buat mama" kata papa
"iy...." jawaban mama terputus saat mendengar Arlan bersuara
"Arlinka.... Arlinka" kata Arlan begitu lemah
"Arlan, ini mama, bangun Ar" kata mama
"Arlinka" kata Arlan lagi
"pa, papa dengarkan? bahkan sakit pun hanya Ling yang ada dipikiran Arlan. Tolong pa, carikan Ling" mama
"papa juga berusaha ma, mama tenangkan Arlan dulu" kata papa yang kemudian keluar dari ruang inap Arlan.
Sedangkan Ling yang sedang sarapan terbatuk beberapa kali. Perasaannya tiba tiba tidak enak.
"kenapa ini, semoga semua baik baik saja. Pi, Ling harap papi sehat selalu. Maafin Ling pi, Ling janji secepatnya akan pulang. Ling masih ingin sendiri Pi." gumam Ling yang mengingat Papinya. Ada rasa bersalah karena meninggalkan mereka semua, namun Ling juga butuh waktu untuk menjadi kuat.
__ADS_1