Abang CEO

Abang CEO
Pergi


__ADS_3

Selesai meeting Arlan langsung menuju ke ruangannya. Ini sudah masuk jam makan siang, namun Nisa masih berada di mejanya.


"mas, bisa kita bicara sebentar" Kata Nisa yang mendekati Arlan


"kita memang harus bicara" jawab Arlan tanpa mengalihkan pandangannya, ia masuk ruangan di ikuti Nisa


Arlan melepaskan jasnya, entah kenapa ia merasa sangat sesak. Arlan duduk di sofa dengan raut yang sulit di tebak, sedangkan Nisa duduk di sampingnya.


"mas aku..." Nisa


"katakan yang sebenarnya Nis" Arlan


"aku memang sudah menikah mas" kata Nisa takut


"dengan Bagas?" tanya Arlan dan Nisa mengangguk


Arlan memberikan senyum miring untuk Nisa, marah, sungguh ingin sekali Arlan memaki Nisa. Orang yang ia cintai selama ini mengaku sudah menikah dengan temannya waktu di bangku SMA.


Sedikit cerita, dulu Arlan dan Bagas satu kelas saat masih SMA. Sebenarnya mereka tidak terlalu akrab, hanya saja gadis yang di sukai Bagas ternyata lebih menyukai Arlan. Dan sejak saat itu Bagas tidak suka dengan Arlan. Ia selalu mengusik Arlan. Sampai di bangku kuliah pun tanpa sengaja mereka satu kampus lagi. Saat itu Nisa dan Arlan sangat dekat, Nisa sebenarnya adalah mantan cinta pertama Bagas. Sejak bertemu Nisa lagi, Bagas kembali panas karena Nisa lebih memilih Arlan. Dan entah bagaimana ceritanya Bagas dan Nisa sampai menikah.


Saat ini Arlan mencondongkan badannya ke depan. Ia bingung dengan situasi saat ini.


"mas, maafin aku" kata Nisa yang mulai menangis karena ia tau Arlan begitu kecewa


"kamu tau kan Nis, aku selalu memaafkan kamu. Apapun itu kesalahan mu. Aku selalu lemah untuk tidak memaafkan kamu. Karena aku cinta sama kamu" kata Arlan yang menghadap ke Nisa


Tanpa mereka sadari Ling yang saat itu ingin mengajak Arlan untuk makan siang, mendengar pembicaraan itu. Hancur ia benar-benar tidak kuat lagi, Ling segera pergi dari sana.


"kamu mau memaafkan aku mas?" Nisa


"itu dulu Nis, sekarang entah lah. Ternyata kita sudah memiliki kehidupan sendiri sendiri. Seharusnya kamu mengatakan kalau kamu sudah menikah saat aku akan menikahi Arlinka. Mungkin tidak akan seperti ini jadinya." Arlan


"sekali lagi aku minta maaf mas" Nisa


"cukup sampai disini saja hubungan kita Nis, saya dan kamu hanya sebatas atasan dan sekretaris. Saya kecewa kamu bohongi, tapi saya juga tidak bisa melakukan apa apa. Kita bangun rumah tangga kita masing-masing. Kamu boleh keluar" Arlan


"tapi mas" Nisa semakin menangis mengingat kenangan nya bersama Arlan


"saya juga butuh waktu Nis, biarkan semua berakhir. Kita lupakan semua kenangan kita. Maaf kalau saya pernah menyakiti hati kamu, begitupun saya juga akan memaafkan kesalahan kamu." Arlan


"Ar, Ling kenapa?" tanya Yoga yang tiba-tiba datang


"Arlinka? " Arlan


"iya gue tadi liat Ling di bawah, dia kaya buru buru dan nangis" Yoga

__ADS_1


"sekarang dimana?" Arlan


"ya udah pergi, tadi gue kejar dia malah tancap gas. Bawa motor gede" Yoga


Arlan segera keluar ruangan, membuat Yoga bingung. Lebih bingung lagi saat Yoga melihat Nisa yang juga nangis.


"ada apa sih?" tanya Yoga pada Nisa


"gak tau" Nisa beranjak keluar ruangan Arlan


"lah gue di tinggal" Yoga


Sedangkan Ling ia mengendarai motor nya dengan sedikit cepat. Apa yang dia dengar membuatnya ingin pergi jauh dari sini. Bahkan Air matanya tidak berhenti menetes.


Secinta itu kah kamu sama Nisa bang?. Batin Ling


Ling mengingat sesuatu, ia mengarahkan motornya ke suatu tempat. Beberapa menit kemudian ia sudah sampai, ia membeli bunga dan juga air mawar. Ling menuju ke sebuah makam, makam yang akhir-akhir ini jarang Ling kunjungi.


"Melisa" ucap Ling sesenggukan mengusap pusara sahabatnya itu


"gue datang Mel, sory kalau kedatangan gue kali ini membawa kabar tidak menyenangkan. Lo tau Mel, gue udah nikah. Gue berharap pernikahan gue seperti pernikahan pada umumnya, tapi ternyata harapan gue salah Mel. Suami gue masih mencintai pacar nya, dan bahkan pacarnya juga sudah menikah. Betapa menyedihkan diriku Mel, gue ternyata capek, gue mengaku kalah sebelum berjuang lebih jauh. Mel, andai lo masih ada di sini, mungkin gue gak merasa sendiri seperti ini hiks hiks hiks." Ling menangis tersedu sedu mengingat betapa pernikahan nya tidak berjalan semestinya.


"Mel, gue pamit. Gue pengen pergi untuk menenangkan diri, gue ingat pesan lo untuk tidak menutup diri. Gue akan coba Mel, gue akan mencari ketenangan untuk sementara waktu. Gue berharap suatu saat gue kembali, gue akan membawa kabar bahagia." kata Ling dan ia segera beranjak dari makam itu.


Sedangkan Arlan yang mencoba untuk mencari Ling pun tidak ketemu. Saat akan menghubungi Ling, ternyata ponselnya ketinggalan di kantor. Akhirnya Arlan kembali kantor, ia terlihat begitu khawatir pada Ling. Entah kenapa ia lebih takut Ling kenapa kenapa dari pada memikirkan kandasnya hubungan dengan Nisa. Arlan berjalan cepat memasuki ruangan nya, bahkan Arlan menghiraukan sapaan beberapa karyawan nya.


"kenapa tidak di angkat sih telfonnya, belum sampai rumah pasti" Arlan


"eh Ga" panggil Arlan saat ia menutup pintu ruangan nya


"siap bos" kata Yoga berbalik saat ia di panggil Arlan, tadinya Yoga mau ke divisi keuangan


"tolong selesaikan semua pekerjaan saya hari ini, saya mau pulang" Arlan


"tapi saya mau meeting" Yoga


"setelah meeting, saya tinggal dulu" Arlan berlalu begitu saja, sedangkan Yoga terlihat kesal


"Nis, bantuin" kata Yoga


"saya juga pusing" Nisa


"ah semua gara gara cinta" Yoga berlalu


Sesampainya di rumah Arlan tidak melihat motor Ling, saat tanya bibi katanya ke kantor. Arlan kembali menghubungi Ling, namun saat ini ponsel Ling sudah tidak aktif. Arlan bertambah frustasi, ia duduk di sofa sambil mengacak rambutnya.

__ADS_1


"Arlan" sebuah suara menggema di ruang tengah rumah Arlan


"mama" gumam Arlan melihat ke sekelilingnya


"apa yang terjadi? dimana Ling?" tanya mama


"ma, aku juga tidak tau. Ini juga baru pulang" Arlan


"jangan bohong kamu"


"ya ampun ma, tanya aja bibi. Arlan juga mencari Ling, ini ponselnya gak bisa di hubungi" Arlan


"lalu apa yang terjadi?" tanya mama membuat Arlan kembali menyandarkan tubuhnya di sofa


"jawab mama.!" bentak mama Erni


"ma, aku juga tidak tau. Tiba tiba semalam Ling tidak pulang ke rumah, dan tadi ke kantor juga gak ngasih kabar" Arlan


"tidak mungkin Ling seperti itu kalau tidak ada sebabnya" mama


"hubunganku dan Nisa" jawab Arlan


"sudah berapa kali mama bilang, tinggalkan perempuan itu"


"sudah ma"


"sudah? baru tadi kan? memangnya kamu tidak memikirkan perasaan Ling?"


"ma cukup, Arlan juga bingung mau cari Ling di mana"


"mama gak mau tau, pokoknya kamu harus temukan Ling. Dan mama gak mau tau kalau sampai pernikahan kamu berantakan"


"makanya mama bantu Arlan, di mana Arlan harus mencari Ling" Arlan


"coba hubungi asistennya"


"gak punya nomornya" Arlan


"ih rasanya mama ingin mengembalikan kamu ke rahim Ar Ar." mama menggelengkan kepalanya


"Leo, coba Arlan hubungi dulu" Arlan mencoba menghubungi Leo.


Dan sama saja, Leo tidak tau keberadaan Ling. Leo memberikan nomor Rico kepada Arlan, siapa tau Ling ada di apartemen nya. Namun jawab yang Rico berikan juga nihil, tidak ada Ling di apartemen miliknya atau milik Ling.


Sekarang mau menghubungi orang tua Ling, Arlan juga merasa takut. Tidak menutup kemungkinan kalau dia akan di amuk oleh Papi juga kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2