Abang CEO

Abang CEO
Kepergok


__ADS_3

Yuda menunggu Ling hampir setengah jam, akhirnya Ling turun dengan setelan kantornya.


"lama amat sih" gerutu Yuda


"kaya gak pernah nunggu kak Tia dandan aja." jawab Ling


"ck, ayo kalau gitu. Kita ketemu klien dulu, baru ke kantor"


"terus aku di suruh ngapain?"


"ya kerja lah, nanti aku jelasin di jalan"


Ling hanya menurut saja, ia berada satu mobil dengan Yuda. Mereka berdua banyak berbicara tentang rumah tangga, Yuda memberikan wejangan juga pengalaman nya selama ini. Ling hanya mengangguk paham dengan apa yang di katakan Yuda.


"kalau soal kerjaan gimana bang? aku berguru rumah tangga besok lagi aja" Ling


"kakak yakin kamu juga sudah paham soal kantor, nanti cukup temani kakak meeting. Asisten kakak tidak berangkat,"


"hhmmm" jawab Ling malas


.


.


.


.


Arlan sejak sampai di kantor ia terlihat lebih segar, dari beberapa hari sebelumnya. Ia juga terlihat sedikit tersenyum saat di sapa karyawan nya.


"eh pak bos kaya senyum ya?" bisik karyawan perempuan


"iya, gak kaya kemarin, mau nyapa aja takut, apalagi gak di sapa" jawab temannya


"mudah mudahan selalu begini deh, biar kita tidak kena omel"


"bener banget, kira kira apa yang membuat ia berubah?"


"apapun itu yang penting bisa buat dia senang" mereka tertawa tanpa suara, takut kalau atasannya dengar.


Arlan langsung menuju ke ruang meeting, karena ia sudah di tunggu dari tiga menit yang lalu.


"maaf saya telat" kata Arlan


Semua yang ada di sana heran dengan Arlan yang meminta maaf karena telat. Sepertinya baru kali ini Arlan mengatakan maaf kalau terlambat. Karena tidak mau basa basi, jadi meeting kali ini langsung berjalan. Arlan terlihat lebih semangat dan memberikan masukan kepada bawahannya, jika di rasa kurang memuaskan bagi Arlan. Selesai meeting Arlan langsung masuk ke ruangannya di ikuti Yoga.


"udah dapat jatah lo?" Yoga


"maksudnya?" Arlan


"ya lo terlihat beda aja, tapi gue suka lo seperti ini"


"beda gimana? biasa aja kok" Arlan meraih ponselnya di saku jasnya.


"ya ya ya, sepertinya Ling sekarang menjadi mood booster lo"


"udah sono lo makan siang, gue mau vidio call sama Arlinka"


"ck, kaya siapa aja. Gue juga udah pernah lihat lo ciuman kali"


"sama siapa?" tanya Arlan


"tuh istri orang" kata Yuda kemudian beranjak pergi sebelum Arlan ngamuk

__ADS_1


"sialan lo" Kata Arlan


Nisa, kenapa gue bodoh sekali mencintai istri orang. Lagi pula, kalau di rasa rasa dulu gue gak seperti ini saat sama Nisa, kenapa saat sama Ling beda banget. Rasanya bahagia, kangen terus. Batin Arlan


Arlan mencoba menghubungi Ling, baru panggilan ke dua Ling mengangkat panggilan dari Arlan.


"dari mana aja sih sayang" kata Arlan setelah mendengar suara Ling


pyar


Suara gelas pecah di lantai, Arlan menengok ke sumber suara. Dilihatnya Nisa dengan wajah terkejut dan bingung.


"apa yang kamu lakukan?" tanya Arlan pada Nisa, ia menjauhkan ponselnya agar Ling tidak mendengar


"ma...maaf mas, aku..." Nisa


"tolong bersihkan" kata Arlan beranjak keluar ruangan


Kenapa mas, aku hanya ingin minta maaf. Kenapa sulit sekali ingin berbicara dengan kamu. Apa kamu sudah bahagia dengan istrimu? Tapi kenapa rasanya sakit sekali melihat seperti ini. Nisa


"maaf ya sayang, tadi ada gangguan. Kamu udah makan siang?" Arlan


"tadi sudah bang, ini habis meeting dari kafe."


"aku belum makan, maunya sama kamu" Arlan


Arlan sedang berada di dalam lift, dan di sana ada dua karyawan nya. Mereka tersenyum saat mendengar pembicaraan Arlan di telefon. Tapi yang mereka heran, dengan siapa sambungan telepon itu, sedangkan sudah bukan rahasia lagi kalau atasan mereka di gosipkan pacaran dengan sekretaris nya.


Setelah sampai di lantai bawah, Arlan segera meminta mobilnya untuk disiapkan.


"eh pak bos telepon sama siapa? bukannya bu Nisa ada di atas" Karyawan yang ada di lift yang sama dengan Arlan tadi


"ssstt kalian ngapain gosip aja. Aku bilangin ke pak bos loh" kata Marla resepsionis di kantor ini


"eh mbak, ini data nya yang mbak minta tadi." kata karyawan tadi


"mau tau aja apa mau tau banget?" Marla


"kita penasaran mbak,"


"besok besok kalian juga pasti tau" Marla


Arlan melajukan mobilnya menuju ke kantor mertuanya, karena memang Ling masih berada di kantor. Membutuhkan waktu dua puluh lima menit Arlan sampai.


"pak Arlan?" tanya seorang perempuan yang sedang berdiri di depan pintu masuk


"ya?". Arlan


"saya di minta nona Ling mengantarkan bapak keruangan nona." Arlan hanya mengangguk dan mengikuti kemana perempuan itu membawa nya.


Sesampainya di sebuah ruangan yang di tunjukkan perempuan itu, Arlan segera mengetuk pintu.


"masuk" suara dari dalam


Ling mendongakkan kepalanya saat pintu mulai terbuka. terlihat Arlan yang tersenyum dan melepaskan kacamata nya. Ling segera beranjak dan menghampiri Arlan.


"maaf ya bang tadi aku minta Siska buat antar kamu kesini, aku masih ngerjain tugas" Ling


"tidak masalah, kamu belum selesai?"


"sudah hampir selesai, kita duduk dulu" ajak Ling


Di sebuah meja ternyata sudah ada beberapa makanan, Ling memberikan Arlan sebotol air mineral.

__ADS_1


"abang mau makan sekarang?"


"suapi" Arlan


"kenapa jadi manja banget" Ling


"gak tau, yang pasti aku maunya sama kamu terus"


"ya udah ayo makan dulu, gombalnya nanti lagi" Ling menyiapkan makan siang dan menyiapkan untuk Arlan sampai habis.


Ling kembali mengerjakan tugas yang tadi ia tinggal. Sedangkan Arlan


sibuk dengan tabletnya. Sesekali Arlan melirik Ling yang masih fokus dengan laptopnya.


Ternyata kamu sudah masuk di dalam hati ku Arlinka. Saya tidak menyangka kalau akan secepat ini memiliki perasaan untuk kamu, walaupun Nisa terkadang masih hadir di dalam pikiran ku. Aku janji akan mencintai kamu dan melupakan Nisa, tidak akan lama lagi Ling, semoga kamu juga bisa segera mencintai dan memaafkan kesalahan aku. Arlan


"abang...?" Ling melambaikan tangannya di depan wajah Arlan yang memandangnya


Arlan tersenyum saat tersadar, ia bisa melihat Ling yang bingung dengan sikap nya. Perlahan Arlan mendekatkan wajahnya ke Ling, entah kenapa ia menjadi candu ingin sekali mengecup bibir tipis Ling. Ling tidak menolak dengan apa yang di lakukan Arlan, ia hanya memejamkan matanya.


"Oh tidak aku melihat itu" kata Yuda yang tiba tiba masuk kedalam ruangan Ling


Arlan segera menjauhkan wajahnya, dan segera menetralkan rasa terkejutnya. Sedangkan Ling membatu dan tidak berani menoleh ke belakang, karena ia tau itu adalah suara kakaknya.


"kakak" kata Arlan yang melihat Yuda membalikan badannya.


"maaf saya tidak sengaja, saya juga tidak tau kalau ada kamu di sini" Yuda


"kakak kok ke sini gak ketuk pintu dulu" gerutu Ling


"kan udah bilang gak tau kalau ada Arlan, udah selesai belum?" Yuda


"apanya?"


"ya tugas nya, masa iya ciuman nya." Yuda


"KAKAK.!!" Ling malu sekali, walaupun Yuda masih belum membalik badan.


"hahaha tidak masalah, sini berkasnya" Yuda


"di flashdisk ini" Kata Ling dan Yuda segera membalikkan badannya dan menuju ke Ling.


"lain kali kunci pintu dulu" bisik Yuda


"Ih kakak, udah sana pergi" kata Ling sedangkan Arlan hanya tersenyum.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Yuda segera meninggalkan ruangan Ling.


"abang ih" kata Ling menyalahkan Arlan atas kejadian tadi.


"maaf, kamu juga mau"


"ya mau gimana lagi, orang abang mendadak"


"masak saya harus laporan mau cium kamu gitu?"


"ya enggak juga,"


"udah gak papa, kan cuma ciuman bukan yang lain. Pasti kak Yuda juga paham"


"terserah abang deh," Ling beranjak membereskan meja kerjanya, setelah itu ia mengajak Arlan untuk pulang.


Ling harus siap siap untuk manggung di luar kota, karena ini sudah jam tiga sore. Seperti janjinya, Arlan akan menemani Ling bekerja.

__ADS_1


"abang udah selesai kerjaan nya?" tanya Ling saat mereka perjalanan pulang dari kantor


"anggap saja sudah, semua bisa di urus Yoga, aku mau ikut kamu aja"


__ADS_2