
Selesai mandi Arlan segera keluar dengan baju santai nya. Sedangkan Ling sedang membuka pesan dari managernya.
"kamu gak mandi?"
"mandi bang, sebentar lagi" kata Ling tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel
"capek juga" gumam Arlan sambil meregangkan otot-otot nya
"istirahat aja bang, atau mau aku bikin kan sesuatu?" tawar Ling
"enggak usah" jawab Arlan yang duduk di ranjang.
Ling yang sudah menyelesaikan urusannya, segera mandi. Takutnya dingin, karena cuaca di luar sedang hujan. Tidak berapa lama Ling sudah selesai mandi dan menggunakan baju tidur yang sopan. Sebenarnya ini bukan kebiasaan Ling, karena baru pertama ia akan tidur dengan laki laki, jadi ya cari aman dulu.
Dilihatnya Arlan sedang fokus dengan ponselnya. Entah apa yang membuat Arlan seserius itu, Ling bisa mendengar bunyi notifikasi yang ia yakini sebuah pesan masuk.
Apa dia chatan sama pacar nya? masa iya sih dia gak jujur sama pacarnya kalau sudah nikah? . Tanya Ling dalam hati
"kamu gak tidur, udah malam" kata Arlan
"hah iya nanti, belum ngantuk" kata Ling kemudian menuju ranjangnya
"tenang aja gak saya apa apain kok, tidur aja" kata Arlan
"maksudnya?" tanya Ling
"ya kan ini malam pertama kita, atau kamu mau melakukannya dengan saya malam ini?" tanya Arlan
"malam pertama?" Ling
"dasar gadis kecil, gitu aja gak tau" kata Arlan
"enak aja, aku udah besar ya bang" jawab Ling tidak terima
"memangnya saya abang tukang bakso apa" gerutu Arlan yang memang tidak suka dengan panggilan itu
"abang CEO" jawab Ling
"terserah kamu" kata Arlan menaruh ponselnya dan memposisikan diri untuk tidur
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ling masih terjaga, sedangkan Arlan sudah jauh ke alam mimpi.
**H**hhmm ganteng sih, tapi sayang belum bisa di genggam. Batin Ling sambil memandangi wajah suaminya itu
"ah susah ini, mending gue selesaikan tugas dari kakak aja." gumam Ling perlahan ia bangkit dari tempat tidur.
Ling berjalan mengambil laptop dan menuju e sofa. Kemarin Ling di tawari sebuah pekerjaan dari kakaknya, bayaran yang akan di terima juga lumayan. Ling juga sering membantu Papinya di kantor, Ling adalah orang yang bisa di andalkan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Arlan perlahan membuka matanya, ia melihat aneh di sekitarnya. Namun tidak berapa lama ia tersadar kalau dirinya sudah menikah kemarin.
Dimana gadis kecil itu, apa dia tidur di kamar lain?" tanya Arlan dalam batin
Karena ada sesuatu yang mendesak ingin di keluarkan, akhirnya Arlan berniat ke kamar mandi. Namun saat baru akan melangkah, ia melihat Ling yang fokus pada layar laptopnya.
"Arlinka" panggil Arlan namun Ling masih diam
"Ling" panggil Arlan lagi
"eh abang, kok bangun?" tanya Ling
"kamu kenapa tidak tidur?"
"belum ngantuk bang"
"ini udah jam 2 mau pagi, kamu mau tidur jam berapa?"
__ADS_1
Biasanya juga subuh bang.
"iya ini mau tidur" jawab Ling menutup laptopnya
"kamu ngapain sampai jam segini?"
"ada kerjaan yang harus aku selesaikan bang, abang mau kemana?"
"mau ke kamar mandi" jawab Arlan berlalu
Ling hanya mengangguk dan segera menuju ke ranjang nya. Setelah beberapa saat, Arlan kembali ke tempat tidur. Mereka berdua pun larut dalam mimpi masing-masing.
.
.
.
.
Pagi harinya Arlan terbangun lebih dulu, dilihatnya Ling masih tertidur.
Cantik, tapi apa aku bisa mencintai dia? sedangkan perasaan ku saja masih milik Nisa. Hampir enam tahun perasaan ini tidak berubah, bahkan dua tahun tidak ada kabar pun aku masih setia. Ling apa kamu mampu mengambil hatiku?. Batin Arlan
Arlan pun segera mandi, karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Selesai mandi Arlan duduk di meja rias Ling. Ling bisa merasakan aroma maskulin dari suaminya itu. Perlahan Ling membuka matanya, dilihatnya Arlan sedang menyisir rambut.
"kok abang gak bangunin aku" kata Ling
"memangnya kamu sudah mau bangun? bukannya tadi baru tidur jam dua"
"iya gak papa lah bang, udah biasa" kata Ling yang duduk bersandar di ranjang.
"pak Yuda sama Papi kira kira udah bangun belum?" tanya Arlan
"kalau gitu saya ke sana dulu"
"mau kopi, susu apa teh gak bang? aku belum tau kebiasaan kamu" kata Ling
"kopi hitam kalau ada, kamu mandi dulu gak papa" kata Arlan
"iya bang, jangan lupa kak Yuda bukan Pak" kata Ling menahan senyumnya
"namanya juga masih baru" kata Arlan menutup pintu kamar
Arlan berjalan ke bawah, ia akan mencari mertua juga kaka iparnya. Masa iya dirinya mau berdiam diri di kamar, ya itung-itung pendekatan dengan mereka. Saat sudah sampai di depan pintu kaca, Arlan bisa melihat mertuanya sedang duduk dengan membaca koran.
"Pagi pi" sapa Ling
"pagi Ar, sini duduk" Papi melipat korannya.
"Pak, em maksudnya Kak Yuda mana Pi?" tanya Arlan basa basi
"oh Yuda udah pulang pagi pagi tadi, soalnya ada acara di rumah mertuanya" kata papi
"saya kira kak Yuda tinggal di sini Pi"
"sebenarnya papi maunya begitu, tapi ya karena Yuda juga ingin mandiri, mau bagaimana lagi. Papi hanya bisa mendoakan, begitupun dengan Ling dan kamu. Pasti kamu juga akan membawa Ling, pesan papi sering sering nginep disini. Biar papi tidak kesepian."
"baik Pi" kata Arlan
"oh iya, Ling belum bangun?"
"sudah kok pi, tadi baru mandi"
"anak itu memang sering bangun siang Ar," kata papi
__ADS_1
"Hayo papi, pasti ngomongin Ling" kata Ling membawa secangkir kopi hitam
"iya kamu itu kalau tidur kaya kebo" kata papi
"bohong bang, ini kopinya" Ling meletakkan kopi itu di dekat Arlan.
"Ling, kamu harus nurut sama suami ya. Karena sekarang yang bertanggung jawab atas kamu adalah Arlan, suami kamu" Papi
"iya pi, papi jangan sedih dong. Masih pagi ini masak mau nangis nangisan" Ling
"Papi gak sedih, papi bahagia kamu sudah mendapatkan pendamping yang tepat. Untuk Arlan, papi titip Ling ya" pesan papi
"Baik pi, doakan kami" kata Arlan
"Ayo semua sarapan dulu" ajak bu Dyah yang menghampiri mereka
Dan mereka semua pun menuju ke meja makan. Hari ini di habiskan Arlan untuk pendekatan dengan keluarga Ling, ya walaupun pikiran nya terkadang masih memikirkan Nisa. Sore harinya Ling dan Arlan pamit untuk pulang ke rumah orang tua Arlan.
"Arlinka" panggil Arlan
"iya pak" jawab Ling melihat ke arah Arlan, sekarang mereka berdua sedang berada di mobil Ling
"kalau saya mengajak kamu untuk tinggal sendiri gimana?" tanya Arlan sesekali melirik Ling
"tinggal sendiri maksudnya, kita berdua?"
"iya, kita tinggal di apartemenku atau beli rumah gitu."
"memangnya kenapa kalau sama mama papa?"
"dasar anak anak kecil, gitu aja gak tau" kata Arlan
" iya anak kecil nikah sama bapak bapak, kan kasian anak kecil nya" Ling
"saya jelaskan ya Arlinka, kita sudah menikah sebisa mungkin kita juga harus mandiri. Masa iya kita mau bergantung pada orang tua terus"
"oh, aku sih terserah bapak aja" jawab Ling
"Arlinka.!" kata Arlan naik satu oktaf
"iya sayang" jawab Ling enteng dan membuat Arlan bungkam
Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Ling sempat meminta berhenti di sebuah toko kue, Ling ingin membawa kue untuk mertuanya. Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah keluarga Arlan, rumah yang tidak asing untuk Ling.
"Ling kamu sudah datang" kata mama Erni
"iya ma, mama baru masak?" tanya Ling
"bantuin bibi, mama bikin masakan kesukaan kamu"
"mama repot-repot sih"
"enggak, kamu kan anak mama, kamu istirahat di kamar dulu aja"
"Ling mau bantu mama aja"
"memangnya kamu gak capek?"
"enggak ma, orang dari tadi juga nganggur"
"ya sudah kalau gitu ayo"
"bang tolong bawain koper aku ya 😁" kata Ling nyengir
"hhhmm" jawaban dari Arlan
__ADS_1