
Arlan menatap lekat Ling, karena menunggu jawaban pertanyaan nya tadi.
"iya bang, ini pak Tom dan pak Jerry. Mereka body guard aku, dari papi." jawab Ling
"bodyguard?" tanya Arlan
"he.em. Dari dulu aku selalu di kawal mereka saat kerja, di luar kota pun juga sama mereka. Jadi aku aman bang,"
"Kok saya gak tau?"
"nanti tanya Papi aja kalau pengen tau, atau abang mau ikut ke tempat kerjaku?" tawar Ling
"kamu kerja dimana?"
"di club malam" jawab Ling
"APA?"
Kenapa Arlinka terlihat lebih cantik, di club malam kan pasti banyak cowok. Memangnya begitu pakaian kerjanya? atau jangan-jangan. Batin Arlan yang melihat Ling menggunakan celana panjang jeans, tangtop hitam, dan juga kemeja yang tidak di kancingkan.
"astaga bang, kan udah di bilang aku seorang Dj. Ya pasti banyak kerja di club malam" kata Ling
"aku tidak bisa membayangkan" Arlan mengacak rambutnya
"sudah bang, mau ikut gak? kalau gak mau ya udah aku pamit" kata Ling
"lain kali saja" kata Arlan
Setelah pamit dengan Arlan, Ling menuju ke mobil dan segera berangkat ke club malam. Ia tidak ambil pusing soal Arlan yang tidak mau ikut ke tempat kerjanya. Rasanya bahagia sekali bisa kembali kerja, libur seminggu membuatnya begitu pusing. Dari pola tidurnya, kegiatan di siang harinya membuat Ling bosan. Lebih baik bekerja bagai kuda, daripada berdiam diri di rumah. Melihat semua penggemar nya tersenyum, membuat Ling semakin semangat bekerja.
Tidak terasa Ling sudah sampai di club malam miliknya, seperti malam sebelumnya club malam ini selalu ramai. Ling langsung masuk dan menuju ruang pribadi nya. Malam ini Ling bekerja seperti biasanya, menghibur para pengunjung dan juga memeriksa laporan harian.
"Rica" panggil Ling
"yey gue datang, ada apa?" tanya Rico
"gimana Dj baru kita?" tanya Ling
"ada, mahasiswi yang skill nya oke"
"udah lo tawarin?"
"udah sih, kita liat dia aja gimana? sekarang di Black club" kata Rico
"jam berapa ini?"
"baru juga jam setengah satu, cus ayo deket sini juga kan"
"oke" Ling beranjak keluar club bersama Rico dan juga Tom, Jerry.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai ke tujuannya. Tidak seramai club malam miliknya, entah ini sudah dini hari atau memang seperti ini setiap hari nya. Ling menggunakan masker untuk kenyamanan dirinya.
"itu dia baru main" tunjuk Rico
"duduk sana dulu" ajak Ling
Walaupun Ling bersahabat dengan dunia malam, tapi ia tidak mengenal alkohol. Berbeda dengan Rico, dia terbiasa minum, tapi saat sedang bekerja dengan Ling dirinya tidak berani minum, begitu juga dengan pak Tom dan Jerry. Sebenarnya Ling tidak melarang, selain mereka menghargai Ling, mereka juga ingin menjalankan pekerjaannya dengan baik.
"bagus juga." komentar Ling saat melihat perform Dj di depan sana.
"namanya Rita, kuliah semester empat" kata Rico
"masih kecil juga" Ling
"memangnya lo enggak?" sindir Rico
"enggak lah, udah punya suami juga" kata Ling
__ADS_1
Ngomong ngomong suami, kira kira abang lagi ngapain. Apa abang udah tidur ya?. Batin Ling
"hey melamun aja" kata Rico
"enggak, minta dia turun" kata Ling
Dengan cekatan Rico menyalakan sebuah laser kecil di tangannya, ia mengarahkan kepada Rita. Rita yang paham dengan kode itupun segera turun dari panggung.
"malam kak" sapa Rita
"malam, bagus juga permainan kamu. Silahkan duduk" kata Ling
"terimakasih kak" jawab Rita yang duduk di depan mereka
"gimana soal tawaran saya kemarin,?" tanya Rico
"Boleh kak, sudah aku pikirkan" Rita
"tidak part time, tapi full time seperti yang saya jelaskan kemarin"
"baik kak, saya juga butuh buat biaya hidup, kuliah dan kos kosan" jelas Rita
"kamu ngekos?" Ling
"iya kak, saya dari kampung"
"gimana Ling?" tanya Rico
"boleh, besok siang kita ketemu buat bahas kelanjutannya. Biar Rico yang akan menghubungi kamu di mana tempatnya." jelas Ling
"baik kak" kata Rita dengan wajah yang berbinar
"kamu boleh lanjutkan" kata Rico
"siap kak, permisi" Rita
Semoga hari ini akan ada kemajuan dalam hubungan kita bang. Batin Ling kemudian ia memejamkan matanya
Ling langsung terlelap setelah itu, mungkin rasa capek yang membuat nya cepat tertidur. Sampai pagi hari pukul enam pagi, Arlan terbangun lebih dulu. Arlan sempat terkejut saat melihat Ling tidur di sampingnya.
"jam berapa dia pulang?" tanya Arlan entah pada siapa, karena memang ia seperti bergumam saja.
"lebih baik aku mandi, dan bersiap ke kantor" kata Arlan
Selesai mandi Arlan melihat baju kerja nya sudah tergantung di depan almari. Kemudian Arlan melirik Ling yang masih tertidur.
"apa dia yang menyiapkan bajuku? tapi kapan?" gumam Arlan sambil memegang bajunya.
"abang" panggil Ling dengan suara seraknya, sejujurnya diri nya masih sangat mengantuk
"kamu udah bangun?" tanya Arlan sambil menenteng bajunya
"baru aja bang, itu tadi aku udah siapin pas pulang kerja" Ling bersandar pada kepala ranjang
"em, kamu pulang jam berapa?"
"tiga hoammm" Ling menutup mulutnya
"kamu tidur aja kalau masih ngantuk" kata Arlan berlalu ke kamar mandi
Ling mengumpulkan semua nyawanya agar bisa bangun , masa iya suami mau kerja dirinya malah tidur. Setelah Arlan keluar dari kamar mandi, Ling menyibakkan selimutnya.
"Astaga" kaget Arlan dan menundukkan kepalanya
"kenapa bang?" tanya Ling tidak paham
"memangnya kamu tidak ada pakaian lain?"
__ADS_1
Ling melihat ke arah tubuhnya, ia menggunakan sport bra dan juga celana pendek.
"lupa bang, udah kebiasaan" jawab Ling santai dan menuju ke kamar mandi
"lupa? perasaan kemarin-kemarin saja enggak. Memangnya tidak takut aku tikam apa" gumam Arlan meninggalkan kamar.
.
.
.
.
Di meja makan Arlan menunggu Ling, sebenarnya ia masih canggung tapi mau bagaimana lagi.
"abang mau sarapan pakai apa?" tanya Ling dari belakang nya
"roti saja" jawab Arlan melirik Ling yang duduk di hadapannya
Cuma pakai kaos kebesaran, tapi ya lebih baik dari pada kaya tadi. Batin Arlan
"bang, nanti siang aku mau ijin keluar" kata Ling
"iya" jawab Arlan
Memangnya tidak ada jawaban lain apa? atau setidaknya bertanya kemana gitu. Batin Ling
"saya berangkat dulu"
"iya" jawab Ling sambil mengulurkan tangannya
Setelah Ling mencium tangannya, Arlan segera pergi begitu saja. Ling yang di tinggal pun hanya menggedikkan bahunya. Mungkin memang Arlan belum bisa berubah. Tidak mau ambil pusing, Ling menuju ke atas untuk melanjutkan tidurnya.
Siang harinya Ling sudah berada di sebuah mall, mulutnya komat kamit karena ulah kakaknya. Rencananya mau bertemu dengan Rita, akhirnya ia undur demi meeting dengan klien di kantor Papinya. Karena kakak dan Papinya masih berada di luar kota.
"Selamat siang Nona" Sapa Jalu asisten pribadi Yuda
"siang, sudah siap?" tanya Ling
"seperti nya mereka masih di jalan nona, kita tunggu di restoran saja?"
"Ayo" kata Ling berjalan terlebih dahulu di susul oleh Jalu
Andai bos gue seperti ini, betah banget dah di kantor. Udah cantik, pinter, sexy lagi. Jalu menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai kemana mana.
"Di mana meja kita?" tanya Ling
"sebelah sini Nona" Jalu mendahului Ling
Saat mereka berjalan menuju meja yang sudah di reservasi Jalu, Ling melihat orang yang tidak asing baginya. Ling membuka kacamata hitamnya untuk memastikan yang ia lihat tidak salah.
"silahkan Nona" kata Jalu
"Nona Ling?" panggil Jalu
"iya?"
"silahkan duduk" kata Jalu menunjuk sebuah sofa
"selamat siang Nona, maaf kami terlambat" sapa Pak Bambang yang baru datang
"oh tidak masalah pak, kami juga baru saja sampai. Mari silahkan duduk pak" kata Ling
"terimakasih Nona"
"gimana kalau kita langsung bahas saja pak? asisten saya sudah memesankan makanan" Ling
__ADS_1