
Ling sudah sampai di sebuah club malam, ia bersiap untuk tampil. Sedangkan Arlan menunggu di sebuah meja yang bisa melihat langsung ke arah Ling.
"Selamat malam Hitam club" Ling
"gimana kabarnya? banyak yang stres tidak? hahaha" canda Ling dan di jawab antusias masing masing pengunjung.
"tenang, saya bantu obati. Kita party malam ini, no stres stres" kata Ling di jawab tepukan meriah dari mereka semua
Ling mulai memainkan sebuah musik yang di sambut bahagia semua pengunjung. Ia sebagi Joki harus membangun semangat mereka semua. Arlan yang melihat itu sebenarnya tidak rela, tapi mau bagaimana lagi ini adalah pekerjaan Ling.
"minum bang" kata Rico menyodorkan botol alkohol
"berapa lama Ling di atas sana?" Arlan
"tiga jam, nanti di selingi dengan Dj yang lain"
"lama amat"
"ck, namanya juga cari duit"
"memangnya berapa honor yang di dapat?"
"dua ratus juta"
"hah yang benar saja?"
"iya bang, abang tidak lihat pengunjungnya banyak gini"
"hebat juga" gumam Arlan
"begitulah Ling, kalau abang menyia-nyiakan Ling itu tidak ada ruginya bagi Ling. Apalagi dia bisa mencari uang sendiri." Rico
"lo nyindir gue"
"enggak, eke cuma ngomong aja bang,"
Setelah itu tidak ada obrolan lagi, Arlan menikmati musik yang Ling mainkan. Matanya tidak lepas dari semua pergerakan Ling. Sampai saatnya Ling sudah menyelesaikan pekerjaannya yang satu ini. Mereka bersiap untuk pulang. Saat Ling akan menuju mobilnya, ia bergandengan dengan Arlan.
"Dj Ling" panggil beberapa orang dari arah belakang mereka
"boleh minta waktunya sebentar" tanya salah satu wartawan yang mengikuti Ling
"sebentar saja, ini sudah pagi" kata Ling
"siapa yang di samping kamu?" tanya wartawan
"ini,, belum saatnya. Nanti kalian juga tau" Ling
"apa hubungan kalian?"
"kenapa tidak di kenalkan ke publik?"
"kak tolong buka maskernya dong" salah satu wartawan mendekati Arlan yang menggunakan masker
"semuanya maaf ya, ini sudah dini hari. Ling butuh istirahat, pasti kalian juga capek kan? mending kita pulang" Rico
"tolong jawab satu pertanyaan dari kami"
__ADS_1
"iya betul, siapa dia atau ada hubungan apa antara kalian?"
"nanti kalau sudah saatnya saya pasti akan bicara. ayo bang" kata Ling mengajak Arlan masuk mobil
Sebenarnya wartawan masih mencoba mengetuk kaca mobil Ling, namun hasilnya nihil. Mobil Ling sudah melaju meninggalkan area parkir.
"Ling, memang nya kamu sering di tanya wartawan, kok bisa sih mereka datang kesini" Arlan
"Aku juga tidak tau bang, maaf ya buat kamu risih"
"kenapa enggak kamu jelaskan kalau aku suami kamu?"
"memangnya abang sudah siap?"
"siap gimana?"
"siap dengan omongan orang orang, tentang hubungan kita"
"aku tidak peduli, kalau perlu biar seluruh dunia tau kalau kamu istri aku"
"besok kita pikir lagi bang, aku capek"
"ya udah sini" Arlan menepuk pundaknya, Ling yang paham pun menyandarkan kepalanya.
Rasanya bahagia sekali, di saat lelah seperti ini ada sandaran yang nyaman untuk Ling. Semoga selamanya akan seperti ini dan lebih baik lagi. Tanpa terasa Arlan juga ikut terlelap dengan memeluk Ling yang berada di sampingnya.
"maaf tuan sudah sampai" kata pak Tom yang mengemudi mobil
"ah sudah sampai" gumam Arlan melihat Ling.
Perlahan Arlan turun, kemudian ia menggendong Ling menuju ke kamar. Sesampainya di kamar Arlan segera membersihkan diri, tapi Ling masih menggunakan pakaian yang sama. Ingin rasanya ia membangunkan Ling untuk ganti baju, tapi ia juga tidak tega melihat Ling yang tertidur lelap.
"hhhmmm"
"kamu ganti baju dulu, kita sudah sampai" Arlan
"udah sampai?" Ling melihat ke sekeliling, dan ternyata ia sudah berada di kamar.
Ling yang yang ngantuk berat akhirnya hanya melepaskan baju yang ia pakai, ia menyisakan b*a dan juga celana pendek yang begitu minim. Setelah itu Ling membungkus dirinya dengan selimut. Arlan di buat cengo saat melihat itu semua.
"tidur bang," gumam Ling yang merasakan Arlan masih duduk di sebelahnya
"ah iya" Arlan memunguti baju Ling dan membawanya ke tempat baju kotor.
Bagaimana bisa dia tidur dengan aku dalam keadaan seperti itu, kalau aku khilaf siapa yang salah. Batin Arlan yang memposisikan diri di samping Ling
Arlan mencoba memejamkan matanya, namum sulit sekali tertidur karena pikirannya ada di Ling. Arlan melirik Ling yang tertidur pulas, ia memiringkan tubuhnya menghadap Ling.
"cantik, kenapa aku bisa seperti ini sama kamu. Padahal kehadiran mu baru saja satu bulan di hidupku, kamu bisa merubah segalanya Arlinka. Aku berharap semoga kita akan saling mencintai, dan entah kenapa perasaanku ke kamu sudah semakin dalam. Maafkan aku yang pernah menyakiti hatimu, aku janji akan menjaga dan mencintaimu" gumam Arlan sambil mengelus rambut Ling
Arlan kembali mencoba memejamkan matanya, ia memeluk Ling yang terbungkus selimut. Kalau tidak seperti itu bisa di pastikan bahaya akan mengancam Ling yang masih ting ting 🤭.
Pagi harinya, Ling bangun terlebih dahulu. Ia menggeliat pelan, dan merasakan seseorang masih memeluk nya. Ling mendongakkan kepalanya, dilihatnya Arlan masih tertidur di hadapannya. Tidak ingin membangunkan Arlan, perlahan Ling mencoba melepaskan diri dari pelukan Arlan. Namun Arlan malah mempererat pelukannya pada Ling. Ling bisa merasakan Arlan menyentuh kulit bagian punggung dan juga kakinya yang di tindih kaki Arlan.
Astaga, aku tidur dengan keadaan seperti ini semalam? Sama saja dengan aku telanjang dong, walaupun sudah biasa aku tidur dengan seperti ini, tapi kan apa yang aku pakai ini sebuah dalaman. Oh tidak bodohnya aku. Ling mengrutukki dirinya sendiri.
Perlahan Ling berusaha menyingkirkan tangan dan juga kaki Arlan. Setelah berhasil, Ling langsung lari ke kamar mandi dan segera mandi.
__ADS_1
"Arlinka" panggil Arlan yang sudah bangun dan mencari Ling di sampingnya
"kemana sih" gerutu Arlan, ia segera bangun dan menuju ke kamar mandi, karena memang ada sesuatu yang mendesak ingin di keluarkan.
Setelah mandi, Arlan turun ke bawah mencari keberadaan Ling. Ia melihat Ling sedang berkutat di dapur, entah apa yang di masak oleh Ling.
"abang,bikin kaget aja" kata Ling yang tiba tiba di peluk Arlan dari belakang
"kamu ninggalin aku"
"ninggalin kemana coba? aku dari tadi masak"
"ya ninggalin aku di kamar sendiri, gak bangunin aku"
"kamu masih tidur nyenyak banget tadi,"
"bibi kemana kok kamu yang masak?"
"beli udang di tukang sayur,"
"oh" Arlan memaksa Ling untuk menghadap padanya. Ling hanya menurut saja, dengan perlahan Arlan mendekatkan wajahnya.
cup
Sebuah ciuman mendarat di bibir Ling, Ling sedikit memundurkan tubuhnya karena kaget. Tapi Arlan dengan cekatan kembali memeluk Ling agar tidak lepas darinya.
"eh udang terbang" kata bibi yang baru datang dan kaget melihat majikan nya. Bahkan udang yang tadi ia bawa menjadi terjatuh di lantai
"eemm" Ling berusaha melepas ciuman Arlan
"abang ih" gerutu Ling
"morning kiss sayang" Arlan tanpa dosa
"maaf ya bi,?" kata Ling pada bibi, ia merasa tidak enak
"ti... tidak papa non, justru bibi yang harusnya minta maaf, sudah ganggu" bibi
"enggak kok bi" Ling
"mau kopi sayang" Arlan
"ya udah duduk dulu" Ling
Setelah membuatkan kopi untuk Arlan, Ling kembali membantu bibi memasak. Tidak lama kemudian masakan jadi dan segera dihilangkan.
"bang, hari ini aku mau belanja kebutuhan bulanan" kata Ling di sela makannya
"biar aku temani"
"aku sama bibi juga gak papa bang"
"bibi biar di rumah, aku juga libur,"
"ya udah nurut bos aja"
"habis ini kita siap siap, takutnya keburu siang nanti malah panas cuacanya"
__ADS_1
"siap bang"