
Ling mendengar pertanyaan dari Arlan menjadi bingung sendiri.
"dia cowok yang selalu menemani Ling, dia pengertian, perhatian, sayang sama Ling. Dan yang pasti (👍)" kata Leo memberikan jempolnya pada Arlan
Terlihat Arlan sangat tidak nyaman dengan Leo yang memuji laki laki lain. Sedangkan Leo hanya tersenyum mengejek, ia paham bagaimana Ling berjuang mendapatkan hati Arlan. Leo juga tau hubungannya dengan Nisa.
"Arlinka" panggil Arlan
"iya bang" Ling
"pacar kamu?" tanya Arlan
"em...." jawab Ling seperti sedang berfikir.
"aaaaaa bapak singa" suara melengking dari Rico yang segera duduk di samping Ling
"Ric, dia cemburu sama lo" kata Leo menunjuk Arlan dengan dagunya
"hahahaha" suara tawa Yoga yang paham kalau Rico itu adalah asisten pribadi Ling
"jangan sembarangan lo" Arlan
"ah abang jangan gitu dong, kamu suka ya sama aku" kata Rico dengan suara menggoda
"jangan harap" Arlan
"bang, ini Rico asisten aku. Masa lupa" Ling
"kamu dulu bilangnya Rica bukan Rico" Arlan
"sama aja bang, dia minta di panggil Rica" Ling
"ya lah gue cantik gini, masa di panggil Rico. Abang mau kan jalan sama Rica" Goda Rico
"gak" Arlan
"ih abang ganteng deh kalau gitu. Cuek cuek dingin asik" Rico
"berhenti bicara atau Ling tidak saya ijinkan pergi" Arlan
"abang galak amat sih" Rico
"sudah, tolong siapkan keperluan gue di atas. Minta bibi anterin" kata Ling
"oke siap, bang nanti nyusul aku di kamar ya" Rico
Sontak semua yang ada di sana tertawa kecuali Arlan, mereka senang melihat Arlan yang bermuka kesal. Karena memang jarang sekali orang yang berani membuat Arlan marah.
"kakak gak ikut ke Bandung?" tanya Ling
"enggak, kalian baik baik di sana, gue ada urusan" Leo
"lo ikut Ar?" tanya Yoga
"ukhuk" Ling tersedak mendengar pertanyaan Yoga untuk Arlan
Sontak saja mereka bertiga menyodorkan air putih untuk Ling, membuat Ling bingung. Namum yang setelah kesadarannya kembali ia mengambil minuman dari Arlan.
"terimakasih, aku udah selesai bang. Aku siap siap dulu ya" kata Ling dan Arlan mengangguk
Setelah kepergian Ling, ketiga cowok itu juga menyudahi acara sarapannya. Mereka lanjut berbincang di ruang tengah, membahas pekerjaan, soal kehidupan dan kenangan masa dulu.
__ADS_1
"bang aku berangkat dulu ya" pamit Ling yang sudah rapi
"berangkat sekarang?" tanya Arlan
"iya bang, nanti ada GR (gladi resik) dan meeting dulu" Ling
"ya sudah kamu hati" kata Arlan
"iya bang" Ling mencium tangan Arlan.
"kak aku tinggal ya, mari tuan Yoga" Ling
"panggil Yoga" Arlan
"iya Yoga" kata Ling kemudian pergi dari sana.
"maunya di panggil mas" gerutu Yoga saat Ling sudah jauh.
"jangan mimpi lo, gue aja yang suaminya di panggil abang. Masa elo di panggil mas" Arlan
"hahaha gue juga heran, kok bisa Ling manggil lo abang. Gak pantes" Leo
"gue udah tegur, tapi dia gak mau" Arlan
"eh Ar, lo masih sama Nisa?" tanya Leo dan suasana berubah serius
"kenapa diam?" tanya Leo lagi pada Arlan. Karena tidak mendapat jawaban dari Arlan, Leo menatap Yoga berharap mendapat jawaban
"angkat tangan gue, tanya yang bersangkutan" Yoga
"Ar, bukan gue mau menasehati lo. Tapi lo harus tau, kalau Ling itu gadis yang baik. Dia gadis istimewa, gue sayang banget sama dia Ar. Dia gue anggap adik kandung, keluarga gue, bukan sekedar artis dan manager. Lo udah kenal Ling seberapa jauh?" Leo
"masa lalu Ling?" Leo
"gue gak tau, walaupun nyokap bokap gue kenal Ling dari kecil. Tapi gue gak kenal Arlinka sebelumnya" Arlan
"Ar...Ar. Lo suami Ling, seharusnya lo berusaha tau tentang Ling. Pesan gue, tolong jangan kembalikan Ling seperti dulu lagi. Kami lebih suka melihat Ling yang sekarang" Leo
"maksud lo apa?" Arlan
"Ling dulu orang yang sangat tertutup. Tidak banyak bicara, hanya iya dan tidak saja. Dia tidak mau bergaul dengan orang lain, bahkan teman sekolahnya. Dia selalu mengurung diri di kamar. Bahkan banyak yang tidak tau kalau pak Anggara itu memiliki seorang anak perempuan." Leo
"kok lo bisa tau?" sela Yoga
"gue sudah kenal Ling dari dulu, gue dan Yuda teman dari SMP. Jadi sering main kerumahnya Yuda." Leo
"tapi Arlinka terlihat tidak seperti itu" Arlan
"karena dia menjadi Ling yang bisa menikmati hidup. Dulu Ling pernah begitu terpuruk saat ibunya meninggal. Saat itu Ling baru kelas dua SMP, dia sangat kehilangan maminya. Mami yang selalu ada untuk dirinya, mami yang selalu menceritakan betapa indahnya dunia. Tapi saat itu dia harus kehilangan maminya. Ling sampai tidak mau bersekolah lagi setelah itu. Ia mengurung diri dan sulit untuk di bujuk." Leo
"bukankah Arlinka sarjana?" Arlan
"Iya memang sarjana, Ling orang yang sangat pintar. Selang satu tahun, ia berhasil di bujuk untuk ikut ujian sekolah di SMP nya dulu. Walaupun tidak mengikuti pelajaran kelas sembilan, tapi nilai Ling sangat bagus. Setelah itu ia mau melanjutkan ke SMA, dan di SMA itu dia bertemu dengan Melisa" Leo
"Melisa adik lo?" Yoga
"iya, dia yang bisa membujuk Ling" Leo
"saat Melisa meninggal?" Yoga
"Ling berjanji tidak akan terpuruk lagi. Ling berjanji akan menikmati hidupnya. Jadilah Ling yang sekarang ini, jadi tolong jangan buat Ling seperti dulu lagi." Leo
__ADS_1
"gue baru tau" Yoga
"gue juga" Arlan
"makanya Ar, kenali Ling lebih dalam lagi. Cintai dia, lo gak akan nyesel. Tapi kalau lo menyia-nyiakan Ling, lo sendiri yang rugi" Leo.
"Gue juga siap menghidupi Ling" Yoga
"jaga mulutmu" kata Arlan.
.
.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Ling yang sudah sampai di lokasi langsung menuju ke sebuah ruangan yang sudah di siapkan. Banyak artis yang juga akan menjadi bintang tamu di sana. Pukul tujuh malam acara baru di mulai. Ini adalah acara ulang tahun sebuah Chanel TV yang di rayakan di beberapa tempat.
Pembukaan acara ini di meriahkan oleh Ling dan berkolaborasi dengan beberapa penyanyi. Baru pembukaannya saja sudah sangat meriah, bagaimana dengan nanti. Penonton di sini sangat banyak, karena memang cuaca yang tidak hujan membuat penonton bersemangat. Setelah membawakan beberapa lagu, kini acara pembukaan sudah selesai.
"Beri tepuk tangan untuk Dj Ling, Rasya, Trio Angel, dan Beni Bear" kata pembawa acara perempuan.
"meriah sekali ya?, oke kita lanjut ke persembahan selanjutnya ya, ini sedikit menegangkan, kita akan bermain dengan.....pak Tarno" kata pembawa acara laki laki
Semua penonton tertawa dan bertepuk tangan. Karena permainan dari pak Tarno cenderung menghibur bukan menegangkan. Setelah sampai beberapa acara, kali ini Ling yang berada di ruangannya di minta ganti baju.
"kenapa mbak? bukannya tadi tidak ada di briefing?" Ling
"iya mbak, kita mau ada acara spesial. Lima belas menit lagi mbak masuk ya" kata salah satu crew yang bertugas.
"gimana Ric" tanya Ling
"udah gak papa, siapa tau memang acara potong tumpeng" Rico
"tapi rambut gue?" Ling
"nanti gue benerin, buruan ganti baju dulu" Rico
Ling menurut saja, ia segera ganti baju dan ternyata sebuah gaun. Gaun yang sangat pas di badan Ling.
"waw sini duduk sini" kata Rico
Rico mengubah tatanan rambut Ling, yang tadinya di ekor kuda sekarang di gerai begitu saja. Di tambahkan hiasan rambut yang membuat Ling jauh lebih cantik.
"so beautiful girl" kata Rico
"acara apaan sih tadi di GR juga gak ada" gumam Ling
"udah sana masuk, udah waktunya" kata Leo yang memperhatikan jam nya.
Saat Ling akan beranjak, ternyata seorang crew yang tadi memberikan gaun kepada Ling datang. Niatnya mau menjemput Ling. Setelah itu mereka menuju ke belakang panggung.
"mbak nanti masuk aja, dan tunggu di panggung" crew
"tapi yang lain ada kan?" Ling
"ada mbak tenang aja," kata Crew itu dan Ling mengangguk
__ADS_1