Abang CEO

Abang CEO
Suka suka Arlan


__ADS_3

Melihat keseriusan di mata Arlan, membuat Ling ingin segera membantu Arlan keluar dari masalah perusahaannya.


"kita akan bicarakan di rumah, disini tidak aman bang"


"tapi sayang, aku hanya mau urusan lain kalau di rumah"


"urusan lain?"


"aku mau menikmati waktu bersama kamu, tidak mengurus pekerjaan. Kalau salah satu dari kita tidur, baru kita urus kerjaan masing-masing"


"aturan baru?"


"iya dong, kalau tidak seperti itu kita akan sibuk dengan urusan pekerjaan."


"baiklah, tapi aku tetap mau kita bicara di rumah saja bang" kata Ling yang akan beranjak dari pangkuan Arlan


"iiih mau kemana" Arlan menahan Ling dengan memeluknya erat.


"gak enak kalau ada yang masuk bang"


"gak ada yang berani masuk," kata Arlan yang tangan nya mulai nakal membuka kancing baju Ling


"kenapa? ini kan masih jam kerja. Kalau ada yang butuh abang bagaimana?"


"enggak, aku sudah memberikan tugas yang banyak untuk mereka. Minggir dulu" Arlan menyingkirkan tangan Ling yang menutupi da*anya.


"abang mau ngapain sih" kata Ling yang masih mempertahankan tangannya


"hhhhmm" Arlan menghembuskan nafas yang terlihat pasrah, bahkan ia memperlihatkan puppy eyes nya membuat Ling tidak tega.


cup


"nanti saja" Ling mengecup pipi Arlan untuk membujuk Arlan


"ya sudah" Arlan melepaskan tangannya dari pinggang Ling dan ia bersandar di sofa, bahkan Arlan membuang muka persis seperti anak kecil


Ling yang masih duduk di pangkuan Arlan pun menjadi bingung. Kenapa sepertinya Arlan merajuk, bagaimana ini? Ini kan di kantor, kalau ada yang melihat bagaimana? kalau sampai Arlan kebablasan gimana? Ling yang bingung pun mencoba memegang wajah Arlan untuk ia di arahkan melihat dirinya.


"abang, jangan gitu dong, ini bukan tempat yang pas" kata Ling dan Arlan masih diam


Ling yang tidak ingin suaminya marah pun, berusaha membujuk Arlan dengan mencium bibirnya. Pertama Arlan tidak membalasnya, tapi Ling mencoba lagi melakukan seperti yang Arlan lakukan saat mencium bibirnya. Perlahan Arlan membalas dan memegang kepala Ling untuk memperdalam ciumannya. Mereka berdua terhanyut dalam ciuman yang begitu penuh cinta.


Akhirnya. Batin Arlan tersenyum penuh kemenangan, perlahan Arlan mencium leher Ling dengan lembut.


Ling yang terbuai pun mulai kehilangan kesadaran, ia sesekali melenguh dengan apa yang di lakukan Arlan. Semakin turun Arlan mencium Ling, sampai akhirnya ia berhasil mengeluarkan salah satu sumber kehidupan bagi manusia. Ia begitu semangat menikmati sumber yang di pertahankan istrinya tadi. Bahkan sekarang Ling menekan kepala Arlan agar tetap berada di sana.


"aakkhh ssttt" gerutu seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu


Mendengar itu membuat Arlan menghentikan aktivitasnya dan melihat ke sumber suara. Saat melihat Yoga sedang berdiri di sana dengan memalingkan wajahnya, Arlan menarik Ling dalam pelukannya. Ia tidak ingin Yoga melihat baju Ling yang masih terbuka, dan yang pasti ia sempat melihat Ling yang panik.


"tidak papa," bisik Arlan di telinga Ling, bahkan Ling menyembunyikan wajahnya di dada Arlan, untungnya Ling membelakangi pintu, jadi ia tidak berani menoleh kebelakang.


"kenapa tidak di hotel sih bos, di kamar sana juga bisa. Masak mesum disini" Yoga


"mesum pala lo, ini istri gue, kantor gue, suka suka gue, ngapain sih lo kesini? ganggu aja" Arlan


"abang ih" kata Ling yang malu dengan kata kata Arlan


"gue mau kasih laporan, udah gue ketok pintu itu, ada kali seratus kali. Lo nya aja gak denger, malah asik menenggelamkan diri."

__ADS_1


"berisik lo, taruh meja dan keluar sana"


"ck, dasar bos gak ada akhlak, anak buah di suruh kerja keras bosnya asik iya iya" gerutu Yoga


"biarin, kalau pengen cari sendiri sana"


Yoga yang tidak mau menganggu bosnya pun segera pergi dari sana. Setelah itu Ling mencubit lengan Arlan.


"aawwwww, sakit Arlinka" kata Arlan


"biarin, kamu bisa gak sih tahan dulu, jangan aneh aneh dulu, ini masih di kantor. Bener ada yang liat kan, malu bang." omel Ling


"namanya juga khilaf"


"itu sengaja bang. udah ah, abang kerja aja" Ling berdiri dan membenarkan bajunya


"sayang jangan marah dong"


"malu aku bang"


"Yoga gak lihat"


"ck, tapi apa yang kita lakukan seharusnya tidak untuk dilihat orang"


"itu di luar kendali kita sayang"


"terserah abang, aku mau pulang aja"


"eh, nanti aja bareng. Sebentar lagi juga udah jam pulang"


"gak mau, nanti abang macem macem"


"enggak Arlinka, aku janji. Kamu duduk dulu ya, aku cek dokumen Yoga tadi" kata Arlan menarik Ling untuk duduk, sedangkan ia beranjak menuju mejanya.


Mau tidak mau Ling menuruti suaminya, sambil menunggu ia membuka tablet yang ia bawa. Keduanya sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing. Sampai waktunya Arlan mengajak Ling untuk pulang.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Arlan buru buru membukanya. Dilihatnya Papa yang sedang berdiri di depan kamar mereka.


"ssstttt...... papa ngapain?" tanya Arlan yang celingukan melihat ke arah dalam kamar


"apaan sih?" Papa yang penasaran ikut melihat ke arah dalam kamar.


"Ling tidur? kalian habis?" Papa bertanya sambil menaikkan alisnya, karena dilihatnya Ling yang tidur dengan ditutup selimut, sedangkan Arlan hanya menggunakan celana boxer.


"ada apa pa? nanti Ling bangun, capek capek aku buat Ling tidur." kata Arlan


"ck kamu itu, tadi papa udah janjian sama Ling buat meeting, itu si Bara udah di bawah. Belum lagi Tom Jerry juga udah nunggu Ling." jelas papa


Arlan diam mengingat sore tadi saat Ling merengek meminta ijin Arlan.


flashback on


"bang nanti aku mau ke club ya" kata Ling setelah mandi


"gak, katanya mau berhenti kerja"


"kok enggak sih bang, semua kan juga butuh proses. Pelan pelan aku akan meninggalkan semua, lagian aku juga belum dapat orang tambahan."

__ADS_1


"pokoknya enggak" kata Arlan menuju ke kamar mandi


Kalau abang gak ngijinin gimana nih. Gumam Ling.


Saat masih berfikir bagaimana caranya membujuk Arlan, Ling mendapatkan pesan singkat dari mertuanya. Isinya mengajak Ling untuk meeting seperti biasanya. Karena Ling berencana untuk ke club, jadi ia meminta nanti sebelum makan malam untuk memulai meeting nya. Papa pun menyanggupi itu, dan segera menghubungi Bara.


"abang, boleh ya nanti aku ke club?, kasian Rica sendiri" tanya Ling setelah melihat Arlan berdiri di belakangnya.


"bukannya udah biasa dia sendiri" jawab Arlan santai sambil menyisir rambutnya


"Bang, mau bagaimana pun club itu milik aku. Jadi aku harus ikut andil di sana" kata Ling sambil menatap Arlan dari pantulan kaca


"Kita siap siap pulang sekarang" kata Arlan


"kok pulang sih bang? aku ada janji sama papa dan Bara"


"sayang aku mau kita pulang, aku mau menikmati waktu sama kamu."


"tapi ijinkan aku ke club nanti"


"enggak"


"abang please" Ling memohon dengan begitu menggemaskan bagi Arlan


Kalau nunggu nanti sampai rumah rasanya aku tidak tahan, sial kenapa harus seimut sih kamu Ling, aku kan gak bisa tahan. Asal kamu tau, aku sudah susah payah menahannya dari tadi, jangan salahkan aku kalau ini akan terjadi sekarang. Batin Arlan


"bang" panggil Ling yang melihat Arlan bengong.


"itu bisa di atur nanti, yang terpenting sekarang kamu harus tanggung jawab dengan dia" Arlan menempelkan tubuhnya di punggung Ling yang duduk.


"maksud abang?"


"jangan sok polos kamu, kamu pasti sudah tau apa yang aku inginkan"


"tapi bang sebentar lagi aku mau meeting sama papa"


"makanya jangan buang buang waktu sayang," Arlan menuntun Ling untuk berdiri


"bang" Ling mencoba menahan Arlan


"aku sudah menahannya dari siang, aku mohon"


"tapi janji nanti aku boleh kerja"


"iya" kata Arlan karena sudah tidak sabar


Aku akan membuat kamu lelah dan melupakan rencana kerjamu itu. Batin Arlan


Flashback off


"Ar,?" panggil papa karena Arlan hanya tersenyum sendiri


"biar aku yang menemui Tom Jerry pa"


"terus meeting papa?"


"ya besok lah pa, kasihan Ling capek"


"kamu yang buat dia capek, kacau semua kan" gerutu papa

__ADS_1


"yang penting besok dapat cucu pa, jangan marah marah, nanti cucunya gak mau"


__ADS_2